Diandra, gadis cantik yang dibesarkan di panti asuhan. Balas budi membawanya pada perjodohan, yang tidak diharapkan oleh suaminya.
Mampukah Diandra menaklukkan sang suami yang hatinya telah dipenuhi oleh dendam pada wanita karena sebuah perselingkuhan?
Simak, perjalanan cinta Diandra yang diwarnai tawa dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke Panti
Diandra kini tengah dalam perjalanan pulang menuju panti asuhan milik bu Rahma tempat dia tinggal selama ini, dia diantar oleh Angga yang di sepanjang perjalanan terus saja manyun karena dipaksa oleh sang ibu.
"Kak, kata ibu Didi kalau orang suka marah dan cemberut terus nanti cepat tua loh,,," ucap Diandra sambil menoleh kearah Angga yang masih cemberut saja.
Tapi bukan Angga nama nya jika langsung merespon perkataan gadis cantik di samping nya, Angga tetap fokus dengan kemudi nya dan bahkan sama sekali tak melirik Diandra.
Diandra tak kurang akal, dia terus mencoba mengajak bicara Angga. Ada saja yang ditanyakan Diandra, dari mulai makanan kesukaan Angga, hobi, ukuran baju, genre musik yang di gemari hingga tempat favorit yang sering dikunjungi oleh Angga.
Namun tak satupun dari puluhan pertanyaan yang Diandra lontarkan tersebut mendapat tanggapan dari pria super dingin itu, hingga kemudian Diandra mengeluarkan ponsel nya. "Kak, kita foto yuk,," ucap Diandra seraya mendekatkan kepala nya kepada Angga.
Cekrek..
Diandra tersenyum melihat foto hasil jepretan nya, "not bad," ucap nya menanggapi foto Selfi mereka berdua barusan, Diandra yang tersenyum manis dengan mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V dan Angga yang tanpa ekspresi sedang memegang kemudi.
Angga hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis di samping nya.
"Didi kirim ke nomor kakak ya,, nomor kakak berapa?" Tanya Diandra dengan masih fokus ke layar ponsel baru nya.
Lama tak ada jawaban, kembali Diandra bertanya, "kak Angga sayang,, nomor kakak berapa? Mau Didi save, boleh kan?" Pinta nya dengan melembutkan suara nya sambil menoleh kearah pria dewasa di samping nya.
"Lihat aja di panggilan keluar," jawab Angga dingin.
"Oh, ini.." ucap Didi yang sedang memainkan ponsel nya. "Mau di save dengan nama kesayangan apa kak?" Tanya Diandra sambil tersenyum menggoda pada manusia robot di samping nya.
Angga mendesah kasar, "terserah!" Jawab nya singkat dan ketus.
Diandra memanyunkan bibir nya, dan sejenak terpaku pada layar ponsel milik nya. "Calon suami ganteng," ucap Diandra sambil mengetik di layar ponsel, "Didi kasih nama itu ya kak," sambil menoleh ke Angga meminta persetujuan.
Kembali Angga tak merespon nya,
"Kalau nomor Didi, di save kakak enggak?" Tanya nya memastikan.
Angga menggelengkan kepala nya.
"Kenapa enggak di save? Didi bantuin save ya?" Pinta nya sambil menengadahkan tangan.
Sekilas Angga melirik, kemudian mengambil ponsel dari saku baju nya dan memberikan nya pada Diandra.
Dengan senyum lebar Diandra menerima ponsel Angga dan mulai membuka layar nya, "kasih nama kesayangan apa kak?" Tanya Diandra sambil sibuk membuka-buka ponsel milik Angga.
"Gadis ingusan!" Jawab Angga pendek, dalam hati dia tersenyum.
Didi mengerucutkan bibir, "setelah kita nikah, Didi akan buktikan pada kakak kalau Didi bukan anak ingusan," balas Didi dengan sewot.
Kemudian terlihat Diandra mengetik kan sesuatu di layar ponsel milik Angga, "calon istri cantik," ucap nya lirih sambil tersenyum, Diandra kemudian membuka gambar yang tadi dia kirimkan dan mengganti wallpaper ponsel Angga dengan gambar tersebut. Diandra terkekeh pelan, sambil menutup mulut nya sendiri.
Setelah menutup layar ponsel milik Angga, Diandra segera mengembalikan nya, "nih, udah Didi save," ucap nya sambil menyodorkan ponsel kepada pemilik nya.
Angga menerima ponsel nya kembali tanpa ekspresi, dan segera mengantonginya. Tak ada lagi suara Diandra, hingga mobil yang dikendarai Angga berbelok menuju gang sempit dimana panti asuhan tempat Diandra lahir dan dibesarkan berada.
Mobil terparkir dengan sempurna di halaman panti asuhan yang cukup luas, kedua nya kemudian turun bersamaan. Diandra segera mempercepat langkah nya masuk kedalam rumah, "assalamu'alaikum," ucap nya memberi salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab bu Rahma dari dalam rumah, dan kemudian terlihat beliau muncul dari balik pintu dengan memakai mukena.
Diandra segera menghampiri sang ibu, mencium punggung tangan nya dan kemudian memeluk nya, "ibu sehat?" Tanya Diandra yang nampak khawatir, padahal mereka hanya berpisah selama dua hari.
"Ibu sehat nak,," ucap sang ibu seraya mengelus rambut hitam nan panjang dengan gelombang di ujungnya yang terlihat cantik itu.
"Kamu baik-baik saja kan nak?" Tanya bu Rahma sambil tersenyum hangat, "kamu diantar siapa nak?" Kembali sang ibu bertanya.
Diandra menoleh kebelakang dan celingukan mencari sosok Angga, Diandra menepuk jidat nya, "Didi lupa bu, enggak ngajak kak Angga untuk masuk," ucap nya sambil berlalu keluar menuju halaman.
Di sana Diandra melihat Angga sedang berdiri bersedekap, sambil bersandar pada pintu mobil.
"Kak, maaf... kirain tadi kakak berjalan di belakang Didi, yuk masuk," ucap Didi sambil cengengesan dan menarik tangan Angga.
"Aku bukan anak kecil, aku bisa jalan sendiri," tolak Angga sambil mengibaskan tangan Diandra.
Diandra hanya mengedikkan bahu nya, dan kemudian meneruskan langkah nya masuk kembali kedalam, sedangkan Angga berjalan mengekor di belakang nya.
Setibanya di ruang tamu, bu Rahma sudah menyambut kehadiran Angga disana. "Nak Angga, terimakasih sudah mengantar putri ibu," ucap bu Rahma tulus sambil menyalami Angga.
Angga menyambut jabat tangan bu Rahma dan mencium punggung tangan wanita yang lebih tua usianya beberapa tahun dari mama nya itu, "sama-sama bu," jawab Angga sopan.
"Silahkan duduk nak Angga," titah bu Rahma mempersilahkan tamu nya.
"Baik bu," balas Angga dan kemudian segera duduk di kursi tamu itu.
"Di, tolong buatin tamu kita minum," titah bu Rahma pada putri nya.
"Iya bu," jawab Diandra dan segera bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman.
Tak berapa lama, Diandra kembali ke ruang tamu dengan membawa baki yang berisi dua gelas teh hangat beserta setoples camilan.
"Silahkan di minum teh nya kak Angga, selagi masih hangat," ucap nya sambil meletakkan segelas teh di hadapan Angga, dan segelas lagi di hadapan ibu nya.
"Kok cuma dua nak, untuk mu mana?" Tanya sang ibu pada putri nya.
"Didi tadi udah ngeteh sama mama Dewi bu," jawab Diandra jujur.
"Mama Dewi?" Bu Rahma mengernyit.
"Iya bu, mama Dewi yang meminta Didi untuk memanggilnya demikian," balas Diandra dengan tersipu malu.
Bu Rahma mengangguk-angguk dan tersenyum lebar, dalam hati dia bersyukur karena putri nya diterima baik oleh calon mertua nya dan terlihat bu Dewi juga sangat menyayangi Diandra.
Sejenak suasana menjadi hening.
"Oh ya nak, gimana dengan ayah mu? Apa kalian bisa menemukan nya?" Tanya bu Rahma menatap kedua nya bergantian.
Diandra menggeleng lemah, dan wajah nya mulai terlihat sendu.
Angga yang dapat menangkap kesedihan di wajah Diandra, kemudian menceritakan semua nya pada bu Rahma, bahwa mereka belum berhasil menemukan ayah Diandra.
Bu Rahma menarik nafas panjang dan kemudian menghembus nya perlahan, "pasti sangat berat bagi ayah mu itu Di, mendengar kabar bahwa istri yang sangat dicintainya dan juga anak yang di tunggu-tunggu kelahiran nya itu meninggal bersama dengan cara yang tragis menurut nya. Hingga ayah mu mengalami depresi seperti yang mereka bilang," ucap bu Rahma mengenang kembali cerita dari Diana bahwa suami nya sangat mencitai nya dan menanti-nanti kehadiran sang putri.
Angga juga nampak sedih mendengar penuturan bu Rahma, hatinya ikut tercubit.
"Bahkan ayah mu lah yang telah memberi kan nama Diandra kepada mu, setelah dia tahu bahwa jenis kelamin anak dalam kandungan istri nya adalah perempuan," lanjut bu Rahma sambil menitikkan air mata, setiap kali mengenang Diana bu Rahma pasti akan kembali bersedih.
Diandra menatap ibu yang telah mengasuh nya semenjak baru lahir, "benarkah?" Tanya Diandra dengan netra berkaca-kaca.
Bu Rahma mengangguk, "Sabar ya nak,, jika Allah berkehendak tak ada yang tak mungkin di dunia ini," ucap bu Rahma sambil mengelus punggung putri nya. "Yakinlah, suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kalian.. dan terus lah berprasangka baik pada Nya, karena Allah akan mengikuti prasangka hamba nya." Lanjut bu Rahma menasehati putri kesayangan nya.
.tp ak ky blum bca yng ini ap sudh lupa soalny..hp kmren rusk.ini hp bru jd crta yng sudh prnh ak bca mlah d ulang tp klo dh inget crtanya ak lwti..tp klo kluarga alamsyah smua sudh ak bca..