Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persahabatan
"Kamu membela aku di depan keluargaku ... Terima kasih karena kamu memposisikan aku sebagai seorang suami," ucap Rayzan saat mereka dalam perjalanan.
"Aku nggak membela kamu, Rayzan. Aku cuma menirukan sikap kamu."
Sekilas Rayzan menoleh ke arah perempuan itu.
"Maksud kamu apa?"
"Bermuka dua. Kamu pikir aku benar-benar membela kamu? Kamu salah besar! Aku cuma mencoba mengamankan posisiku. Dengan bersikap seperti itu, orangtuamu akan menganggap aku wanita yang baik, sama seperti yang kamu lakukan di hadapan orangtuaku."
"Nggak apa-apa, sayang. Aku tetap bahagia," ucap Rayzan tanpa sedikit pun menunjukkan kesedihan. "Satu lagi, aku suka panggilan kamu tadi. 'Mas' ... Romantis."
"Ih." Nadira langsung memalingkan wajah.
"Selain cantik, kamu juga pintar, ya. Aku makin sayang sama kamu."
"Kamu pikir aku bakal termakan sama gombalan kamu? Jangan harap!"
"Ya ampun, kamu ini lucu banget. Itu bukan gombalan, sayang, tapi pujian dari suami untuk sang istri."
"Eummm ... Ka-kamu tahu dari mana aku nggak suci? Memangnya kamu punya bukti?"
"Aku nggak tahu. Aku cuma melindungi kehormatan istriku. Apa yang dituduhkan orang lain, aku nggak peduli. Aku tetap percaya sama kamu."
"Ta-tapi kalau misalnya aku benar-benar nggak suci, gimana?"
"Aku cari istri lagi," jawab Rayzan santai.
"Ya udah, mending kamu ceraikan aku sekarang."
"Kamu!" Rayzan menghentikan mobilnya. Kemudian, dia mendekat ke arah Nadira.
"Kamu mau aku melakukannya di mobil ini?"
"Ja-jangan kurang ajar, Rayzan."
"Melakukan hal itu kepada istri sendiri bukanlah sesuatu yang kurang ajar."
"Ta-tapi kalau dipaksa, berarti kamu udah zalim sama istrimu."
"Benar, 'kan, yang aku bilang? Istriku ini sangat-sangat pintar," ucap Rayzan sambil mengusap kepala Nadira.
"Nanti kita lakukan dengan cara baik-baik, ya."
Rayzan mengedipkan sebelah matanya.
"Ih ... Kamu apa-apaan, sih? Geli tau."
Rayzan terkekeh geli, kemudian melepaskan sabuk pengamannya.
"Kamu pulang sendiri, ya. Aku naik taksi aja."
"Lho, kenapa?"
"Ya ampun, istriku khawatir, ya?"
"Rayzan!" Nadira mulai kesal. "Kamu!"
"Eits!" Rayzan menahan tangan Nadira agar tidak jadi menampar wajahnya.
"Mau ngelus wajah suami, hm?"
Rayzan menuntun tangan Nadira dengan lembut ke arah wajahnya. Merasa mendapatkan kesempatan, Nadira akhirnya mencubit pipi lelaki itu.
"Na-Nadira!"
"Hahaha ... Rasain kamu," ucap Nadira.
"Selain cantik dan pintar, ternyata istriku ini suka iseng juga, ya," ujar Rayzan sambil mengusap pipinya.
Kemudian lelaki itu membuka pintu mobil.
"Aku pergi dulu. Aku mau ambil mobil kamu. Jadi, kamu langsung pulang aja."
"Tapi kunci mobil—"
"Ada, sayang. Suamimu ini perfeksionis. Perkara kunci aja nggak bakal ketinggalan. Apalagi soal istri. Cium dulu."
"Ih ... Mesum," gumam Nadira.
Rayzan akhirnya keluar dari mobil. Ada kebahagiaan tersendiri ketika dia berhasil mengerjai gadis itu. Rasanya, kemarahan Nadira bukanlah sesuatu yang mengerikan baginya, melainkan justru terasa seperti sesuatu yang romantis.
"Keputusanku untuk cerai sama dia udah bulat. Bisa-bisa aku gila setiap hari ketemu sama dia."
"Apalagi mendengar gombalannya."
Nadira menatap ke depan, memperhatikan Rayzan yang kini berdiri cukup jauh darinya sambil menahan teriknya matahari.
"Aku harus cerai sama dia."
"Dia orang baik ... Semua orang benar. Urusanku sama Daulat, bukan sama Rayzan."
"Tapi dia ngeselin banget. Makanya aku nggak segan-segan mencelakakan dia."
"Arghhh!!!"
Nadira pun berpindah posisi duduk di dalam mobil untuk pergi dari sana. Saat melewati suaminya, dia membuka kaca mobil.
"Hai, sayang. Panas, ya?"
"Kamu manggil aku sayang?"
"Iya ... Kasihan banget suamiku ini. Bye-bye. Semoga harimu susah terus." Nadira berlalu pergi begitu saja.
"Tanpa kamu sadari, 'sayang' yang kamu ucapkan itu akan menjadi nyata, Nadira. Kita lihat siapa yang akan kalah dalam pernikahan ini," ucap Rayzan.
[] [] []
Nadira tidak benar-benar pulang ke rumah. Dalam perjalanan, dia menghubungi seseorang agar mereka bisa bertemu.
"Rayzan benar-benar aneh. Bisa-bisanya dia bertingkah gila di depan aku."
"Seratus persen aku yakin. Rayzan itu memang sering main perempuan."
Nadira mengembuskan napas perlahan. Sesekali dia memperhatikan jalanan di depannya.
"Laki-laki mesum!"
Sudah puluhan menit Nadira berada di perjalanan. Sekarang dia sudah sampai di sebuah taman bunga. Bersamaan dengan itu, di samping tempatnya parkir, seorang wanita baru saja keluar dari dalam mobil.
"Lho ... Aku pikir kamu udah sampai tau," ucap Nadira sambil menghampiri Monic.
"Tadi aku beli camilan dulu, biar ngobrolnya seru," jawab perempuan itu.
"Eh ... Mobil baru?" tanya Monic. Dia mulai mendekat dan memperhatikan mobil tersebut. "Mewah banget ... Banyak uang, ya?"
"Ini mobil suami—Eh, Rayzan."
"Cieee ... Pasti udah ada rasa, makanya bawa mobil suami sendiri."
"Udah, ah. Ngeselin banget," ujar Nadira. "Ayo, ke sana."
Nadira mulai berjalan dan diikuti oleh Monic. Keduanya melangkah meninggalkan area parkiran sambil mencari tempat yang akan mereka duduki.
"Kamu tau nggak, Pak Revin nanya sesuatu sama aku tentang kamu."
"Dia tanya apa sama kamu?"
"Suami kamu lah ... Rayzan datang ke kantor kamu, ya?"
"Iya," jawab Nadira. "Ada urusan pekerjaan sama Pak Revin."
"Itu dia ... Pak Revin tanya kenapa suami kamu orang lain, bukan Daulat."
"Lho ... Memangnya Pak Revin tahu kalau aku nggak jadi nikah sama Daulat?"
Monic mengedikkan bahunya.
"Bisa aja suami kamu yang bilang."
Keduanya duduk di sebuah kursi yang ada di taman tersebut. Monic meletakkan beberapa camilan yang dibelinya di antara mereka.
Baik Monic maupun Nadira segera membuka camilan masing-masing.
"Dia itu laki-laki gila!" ucap Nadira setelah memasukkan camilan ke dalam mulutnya.
"Bayangin aja, dia godain aku, tahu. Mesum banget," ungkap Nadira. "Apalagi kalau kami lagi berdua. Pembahasannya dewasa terus."
"Kalian, 'kan memang udah dewasa. Terus suami istri lagi. Apa salahnya coba?"
"Aku takut tau. Dia gatel banget jadi cowok."
"Lho, kamu ini, ya." Monic tertawa mendengar curhatan rekan kerjanya itu. "Dia laki-laki yang udah punya istri. Wajar dia gatel sama kamu. Beda hal kalau dia gatel sama perempuan lain. Itu baru bandel dan jahat. Atau dia sama sekali nggak gatel sama kamu. Berarti dia belok di persimpangan."
"Ih, aku nggak peduli. Mau dia gay atau apa pun itu. Tapi selagi dia mesum, aku nggak suka."
Nadira menyeruput teh kotak yang ada di hadapan mereka.
"Kamu tau apa," ujar Monic sambil menatap ke depan. "Impian seorang wanita ketika udah menikah adalah memiliki bayi. Merasakan kehamilan dan melahirkan adalah anugerah paling besar. Ditambah lagi kalau mendapatkan suami yang baik."
"Aku tahu, Monic. Tapi aku akan hamil bukan karena lelaki itu. Aku benci dia."
"Coba kamu bayangin, Allah membatalkan pernikahan kamu dengan Daulat karena ada Rayzan yang lebih baik dan pantas untuk kamu."
"Coba kamu bayangin, aku cerai dan nikah sama Pak Revin. Dia, 'kan, suka sama aku. Jadi, kalau aku cerai nanti, aku akan menerima dia. Aku nggak mau berurusan dengan keluarga Daulat."
"Hati-hati, Nadira. Nanti benci kamu itu berubah menjadi sayang."
"Nggak akan!" ucap Nadira tegas. "Mana mungkin aku suka sama laki-laki seperti dia. Asal kamu tahu aja, dia rela berbohong supaya aku kasihan."
Nadira kembali memasukkan camilan ke dalam mulutnya.
"Masak dia bilang punya tumor. Bercandanya aneh banget, 'kan?"
"Aku rasa kamu nggak boleh begitu, deh. Harusnya kamu mikir, nggak mungkin dia bercanda tentang penyakit berbahaya seperti itu."
"Ya terus kamu mau gimana?" tanya Nadira. "Percaya begitu aja?"
"Iya lah. Dia 'kan suami kamu."
Nadira memutar bola matanya dengan malas.
"Iya, iya. Aku percaya!"