Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUASANA RUMAH YANG HENING
Sisa-sisa air jernih yang membasahi lantai keramik dapur perlahan surut menuju lubang pembuangan, menyisakan lapisan basah tipis dan jejak kaki yang samar. Enzo menggerakkan kain pel karet beragang aluminium dengan ketukan yang teratur, mendorong genangan air ke sudut ruangan agar tidak merembet makin jauh menuju karpet ruang keluarga.
Di sampingnya, Tante Rika membungkuk canggung, mencoba menyeka bagian bawah lemari jati dengan selembar kain lap kusam. Wajah wanita empat puluh dua tahun itu masih agak pucat, dan napasnya sesekali terdengar berat akibat ketegangan yang baru saja lewat.
"Nggak usah ikut bungkuk, Tante," tahan Enzo seraya menghentikan gerakan pelnya, menatap jemari Tante Rika yang tampak gemetar pelan. "Biar saya aja yang selesaikan sekalian. Nanti pinggang Tante malah sakit kalau nunduk-nunduk begini."
Tante Rika menengadah, menatap Enzo dengan mata yang berkedip canggung. "Aduh, Enzo... Tante jadi makin nggak enak," bisik Tante Rika seraya menarik tangannya perlahan. "Kamu kan baru pulang kerja lepas, pasti capek banget. Malah Tante suruh ngerjain hal begini."
"Cuma dorong air pakai pel kok, Tante, nggak sampai sepuluh menit juga kelar," sahut Enzo tenang seraya kembali menggerakkan pel karetnya dengan mantap.
Enzo menyapu sisa air di sekitar kaki meja makan granit yang tebal, lalu memeras ujung pel ke dalam ember plastik kecil. Suara kecipak air di dalam ember itu terasa bergema sangat nyaring, memecah kesunyian tebal yang sejak tadi mengendap di dalam rumah permanen berlantai dua tersebut.
Saat menyapu area batas antara dapur dan ruang tengah, Enzo baru benar-benar menyadari betapa besarnya ukuran rumah ini. Plafon rumah dibuat sangat tinggi dengan lampu gantung kristal yang dibiarkan mati gelap. Hanya ada satu lampu dinding berdaya rendah yang menyala di sudut ruangan, memancarkan cahaya kuning temaram yang mempertegas kesan dingin pada dinding berbatu alam di balik sofa kulit mahal.
Di tembok utama ruang keluarga, sebuah pigura foto berbingkai kayu ukir tergantung kaku. Foto itu menampilkan Pak Hendra yang mengenakan kemeja batik resmi dengan ekspresi wajah yang datar dan kaku, berdiri di samping Tante Rika yang tersenyum formal. Di depan mereka berdua, seorang anak laki-laki berseragam SMA duduk tegak tanpa lipatan senyum di bibirnya.
"Itu foto tiga tahun lalu," ucap Tante Rika pelan dari balik meja pantry.
Enzo menoleh singkat, menyadari bahwa Tante Rika memperhatikan arah pandangannya. "Foto keluarga ya, Tante?" tanya Enzo polos seraya menyandarkan gagang pel pada dinding.
"Iya, waktu Bapak baru resmi diangkat jadi kepala dinas," sahut Tante Rika seraya mengambil sebuah gelas kaca dari dalam rak gantung. "Bapak sengaja sewa fotografer profesional buat datang ke rumah. Katanya buat pajangan kalau ada tamu penting yang mampir."
Tante Rika menyeduh air hangat dari dispenser, lalu melangkah perlahan mendekati Enzo dan menyodorkan gelas itu. "Minum dulu, Enzo. Tenggorokan kamu pasti kering dari tadi."
"Terima kasih, Tante," ucap Enzo seraya menerima gelas kaca itu dengan kedua tangannya.
Cairan hangat itu menyapu tenggorokan Enzo yang terasa kering setelah berurusan dengan kran berkarat. Sambil memegangi gelas, Enzo mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah yang luas. Perabotan di rumah ini tampak sangat mahal—mulai dari sofa kulit impor, meja kayu jati utuh, hingga lemari kaca berisi pajangan keramik tua. Namun, tidak ada satu pun barang yang menandakan keberadaan aktivitas harian yang hangat. Tidak ada majalah yang berserakan, tidak ada cangkir kopi bekas, dan tidak ada suara pendingin udara yang berderum.
Rumah sebesar ini terasa seperti museum pribadi yang tak pernah dikunjungi orang.
"Pak Hendra sering dinas luar kota ya, Tante?" pancing Enzo pelan, berusaha mencairkan keheningan canggung yang kembali merayap di antara mereka.
Tante Rika menyandarkan punggungnya pada tepi meja granit, meremas pelan kedua telapak tangannya di balik daster batiknya. "Dinas luar kota cuma seminggu sekali, Enzo," jawab Tante Rika dengan nada suara yang sangat halus, hampir tenggelam dalam keheningan ruangan. "Tapi walau lagi nggak dinas luar, Bapak tetap jarang di rumah."
"Banyak rapat malam, Tante?"
Tante Rika menyunggingkan senyum tipis yang agak pahit, menatap lurus ke arah pigura foto di dinding. "Katanya sih begitu. Jam pulang Bapak paling cepat jam sebelas malam. Kalaupun pulang lebih awal, Bapak biasanya langsung masuk ke ruang kerja di lantai atas, ngunci pintu, terus ketiduran di sana sampai pagi."
Enzo tidak langsung membalas. Ia menyesap kembali air hangatnya, membiarkan Tante Rika mengurai kata-katanya tanpa merasa diinterogasi. Dari nada suaranya, Enzo bisa merasakan ada tumpukan kesepian yang sudah bertahun-tahun mengendap di dalam dada wanita itu—kesepian yang tidak pernah terucapkan karena status sosial suaminya sebagai pejabat yang terpandang di mata warga sekitar.
"Anak Tante yang di foto itu sekarang di mana?" tanya Enzo lagi dengan nada netral.
"Di Bandung, kuliah semester akhir," jawab Tante Rika dengan binar mata yang sedikit meredup. "Anak Tante itu persis kaya bapaknya. Pendiam, susah diajak ngobrol, dan lebih suka mengurung diri di kamar. Sejak dia pindah kost ke Bandung dua tahun lalu, rumah ini bener-bener sepi banget."
Tante Rika tertawa kecil—sebuah tawa singkat yang terdengar hampa tanpa rasa bahagia sedikit pun.
"Kamu tahu, Enzo?" bisik Tante Rika seraya menoleh menatap mata Enzo. "Kadang Tante sengaja menyalakan televisi di ruang tamu dari pagi sampai malam. Gambarnya nggak Tante tonton, suaranya Tante besarkan sedikit cuma supaya rumah ini ada suara orang ngomongnya. Biar Tante nggak ngerasa kaya tinggal di dalam kuburan."
Pengakuan polos itu meluncur begitu saja dari bibir Tante Rika, polos dan penuh kepahitan yang jujur. Wanita itu tampaknya sudah sangat lelah berpura-pura bahwa kehidupannya yang bergelimang kemewahan ini baik-baik saja. Di hadapan Enzo—seorang pemuda kontrakan yang pakaiannya masih basah oleh air kran—Tante Rika justru menemukan ruang kecil untuk meluapkan apa yang selama ini ia sembunyikan di balik pagar besi rumah mewahnya.
Enzo memandangi gelas kaca di tangannya sejenak sebelum menatap Tante Rika dengan pandangan lurus. "Kamar kontrakan saya di sebelah kecil banget, Tante," kata Enzo dengan suara rendah yang membumi. "Ukuran tiga kali tiga meter, dindingnya cuma tembok tipis. Suara Bu Salmah marahin kucingnya atau suara orang jalan di lorong pasti kedengaran jelas."
Tante Rika agak tertegun mendengarkan ucapan Enzo.
"Dulu saya sering mengeluh karena kamar saya terlalu bising dan sempit," sambung Enzo jujur. "Tapi malam ini saya baru sadar... tinggal di rumah seindah ini kalau isinya cuma keheningan tebal kaya gini, ternyata rasanya jauh lebih menakutkan."
Tante Rika terpaku di tempatnya berdiri. Jemarinya yang memegangi tepi meja granit berhenti bergerak. Kata-kata Enzo tidak mengandung belas kasihan palsu atau kalimat penghiburan yang manis, melainkan sebuah pengakuan jujur yang tepat mengenai dasar lukanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang tidak silau oleh jabatan suaminya atau kemewahan rumahnya, melainkan benar-benar melihat betapa hampanya kehidupan yang ia jalani.
"Enzo..." bisik Tante Rika pelan, suaranya agak bergetar di tenggorokan.
"Sudah malam, Tante," potong Enzo halus seraya meletakkan gelas kosongnya di atas meja pantry. "Pekerjaan kran sudah selesai, airnya juga sudah kering. Tante istirahat aja, pintu sampingnya jangan lupa dikunci rapat."
Enzo menyambar kunci inggris dan tang jepitnya dari atas tempat cuci piring. Ia menyunggingkan senyum tipis yang ramah pada Tante Rika, lalu melangkah mundur menuju pintu samping yang terbuka.
"Terima kasih banyak ya, Enzo..." ucap Tante Rika seraya mengantarkan Enzo sampai ke ambang pintu. Matanya menatap pemuda itu dengan binar hangat yang berbeda dari saat ia mengetuk pintu kontrakan tadi.
"Sama-sama, Tante. Selamat malam," balas Enzo seraya melangkah keluar menuju lorong kontrakan yang dingin.
Begitu kakinya menapak di atas semen lorong yang basah oleh embun malam, ponsel tua di saku celana jinsnya bergetar pelan dua kali. Enzo merogoh benda itu, melirik layar retak yang menyala redup di tengah kegelapan.
[Pembaruan Analisis Psikologis Target: Tante Rika]
[Fenomena Sangkar Emas: Kemewahan materi yang tidak mampu menggantikan rasa kesepian dan kehampaan emosional.]
[Tingkat Keterikatan Tante Rika Meningkat: 8% -> 14%]
[Catatan Sistem: Target mulai memandang Anda sebagai sosok pendengar yang aman dan tidak menghakimi.]
Enzo menghembuskan napas panjang, mematikan layar ponselnya tanpa bersuara. Ia memutar selot besi pintu kamarnya, melangkah masuk ke dalam ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter yang kini terasa jauh lebih hangat dibanding ruang tamu mewah di sebalik tembok kamarnya.