Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Paket Logistik
Aroma sup sarang burung walet yang dipadukan dengan cumi-cumi segar dan potongan brokoli impor pagi itu mendadak memenuhi area meja konter perawat Unit Gawat Darurat (UGD).
Suara benturan kotak makan siang berlapis baja antikarat premium berwarna hitam metalik terdengar berdentang halus di atas permukaan meja kayu yang biasanya hanya dihiasi tumpukan status pasien, botol hand sanitizer, dan robekan kertas resep.
Lentera, yang saat itu baru saja selesai membersihkan stetoskop kesayangannya menggunakan tisu alkohol, menatap tumpukan wadah makanan itu dengan kelopak mata yang berkedut menahan gemas.
Lembaran tisu di tangannya bahkan sampai teremas tanpa sadar,.di hadapannya, berdiri seorang pria berjas hitam tanpa cela dengan potongan rambut cepak rapi.
Pria itu adalah salah satu ajudan pribadi garis depan dari tim internal Sean Eagle Nugraha—sang penguasa lantai teratas rumah sakit ini.
"Selamat pagi, Dokter Lentera," sapa pria berjas hitam itu sambil membungkuk hormat hampir sembilan puluh derajat.
Gerakan formal yang terlalu kaku itu sontak menarik perhatian tiga orang perawat jaga yang langsung menghentikan aktivitas jemari mereka di atas papan tik komputer.
"Ini kiriman logistik nutrisi berkala tahap pertama dari Tuan Sean Eagle Nugraha untuk mendukung performa klinis Anda hari ini. Menu pagi ini adalah sup sarang burung walet herbal, potongan daging sapi wagyu panggang saus jamur, dan jus buah beri biru organik yang dipetik langsung dari perkebunan pribadi keluarga Nugraha di Lembang."
Tera melipat kedua tangannya di depan dada jas dokternya. Matanya menyipit, menatap tumpukan wadah makanan mewah yang tingginya sudah menyamai tinggi monitor komputer konter.
UGD baru saja melewati malam yang panjang dengan rentetan pasien kecelakaan lalu lintas, dan sekarang, di jam tujuh pagi yang krusial ini, dia justru dihadapkan pada pameran kemewahan yang tidak pada tempatnya.
"Logistik nutrisi berkala?" Tera mengulang kalimat itu dengan nada sarkasme yang kental.
"Mas, tolong sampaikan pada bos kalian itu, kapasitas lambung saya ini cuma berukuran lokal, bukan ukuran lambung korporat multinasional! Ini makanan mewah sebanyak ini bisa dipakai untuk memberi makan seluruh penghuni panti asuhan di ujung jalan! Kenapa dia hobi sekali mengirimkan katering skala besar setiap jam tujuh pagi? Apa dia pikir saya ini sedang bersiap-siap menghadapi musim kemarau panjang?"
Ajudan itu tidak goyah. Wajahnya tetap lempeng, seperti robot yang diprogram hanya untuk patuh. "Mohon maaf, Dokter Tera. Tugas saya hanya mengantarkan sampai ke tangan Anda dengan selamat. Tuan Sean juga berpesan, jika makanan ini tidak dihabiskan oleh Anda, maka tim manajemen kafetaria eksekutif di lantai dua puluh akan dievaluasi kinerjanya bulan ini. Beberapa dari mereka mungkin akan kehilangan bonus triwulan."
Tera membelalakkan matanya.
"Evaluasi kinerja? Bonus triwulan? Dasar monster kapitalis menyebalkan! Dia selalu menggunakan ancaman pekerjaan orang lain sebagai senjata!" gerutu Tera sambil menepuk dahinya dengan frustrasi.
Sebelum Tera sempat melayangkan protes lebih lanjut, ajudan itu kembali membungkuk hormat, berjalan mundur tiga langkah dengan presisi militer, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan area UGD yang mulai ramai.
Suster Sinta, kepala perawat jaga yang sejak tadi matanya sudah berbinar-binar menatap kilauan wadah baja premium itu, langsung mendekat dengan langkah kaki yang disengaja seringan mungkin.
Bau harum saus truffle yang menguar dari celah wadah tampaknya memiliki daya pikat magis yang luar biasa.
"Wah, Dokter Tera, Tuan Besar Sean benar-benar perhatian tingkat dewa ya," bisik Suster Sinta sambil menopang dagunya. "Ini kalau dihitung-hitung menggunakan kalkulator gaji saya, harga satu porsi sup sarang burung walet ini saja bisa dipakai untuk membayar uang sewa kontrakan saya dua bulan penuh, Dok. Plus uang listriknya."
Tera melirik Suster Sinta dan dua perawat muda lainnya, Suster Nisa dan Suster Dini, yang mulai berkumpul di dekat meja seperti anak-anak ayam yang kelaparan namun takut-takut.
Mereka menatap tumpukan wadah itu seolah-olah itu adalah harta karun purbakala yang baru ditemukan.
Tera menghela napas panjang. Jiwa sosialnya jelas tidak akan membiarkan makanan mewah ini terbuang percuma atau hanya membusuk di loker dokter. Ia mendorong tumpukan wadah hitam mewah itu ke tengah-tengah meja konter.
"Sudah, jangan cuma ditatap sampai berliur begitu. Suster Sinta, Suster Nisa, Dini, ambil sendok kalian masing-masing di ruang istirahat sekarang juga! Kita lakukan operasi pembagian logistik darurat!" perintah Tera dengan gaya ceplas-ceplosnya yang khas, sambil melambaikan tangan memberi isyarat serbu.
"Eh? Beneran, Dok? Ini kan kiriman khusus dari Tuan Muda Sean untuk Dokter?" tanya Suster Nisa dengan mata membelalak ragu. Namun, bertolak belakang dengan ucapannya, tangannya sudah bergerak secepat kilat membuka laci untuk mencari sendok plastik cadangan.
"Kalau aku menghabiskan seluruh wagyu dan sup walet ini sendirian, besok pagi kalian tidak akan melihatku memakai jas dokter ini lagi dengan gagah," cetus Tera heboh, mengibaskan tangan kirinya ke udara.
"Melainkan kalian akan melihatku terbaring lemah di ruang rawat intensif karena serangan kolesterol akut dan obesitas stadium lanjut! Ayo cepat bagi-bagi! Sisakan sedikit saja daging sapi dan jus berinya di wadah kecil untukku. Sisanya, babat habis sampai bersih!"
Dalam hitungan menit, suasana konter UGD bawah yang biasanya tegang dan kaku berubah total menjadi ajang pesta kuliner kelas VVIP yang dipenuhi bumbu kekonyolan.
Suster Sinta mengunyah potongan daging wagyu pertama dengan mata terpejam, wajahnya menunjukkan ekspresi seolah-olah dia baru saja melihat gerbang surga medis terbuka lebar.
"Dokter Tera, demi apa pun, ini daging sapinya meleleh di lidah! Sepertinya sapinya dulu waktu hidup tidak pernah stres. Mungkin sering dipijat dan didengarkan musik klasik Mozart sebelum tidur," seloroh Suster Rian yang baru saja keluar dari ruang resusitasi dan langsung ikut mencomot potongan daging dengan garpu instan.
Tera yang hanya memakan beberapa suap nasi putih dengan potongan kecil daging sapi di sudut meja hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terkekeh geli.
"Sapinya mungkin tidak cuma mendengarkan musik klasik, Rian, tapi punya saham gabungan di bank Swiss dan kartu keanggotaan golf eksklusif. Sudah, cepat kunyah yang bersih sebelum Tuan Kaku itu tiba-tiba turun melakukan inspeksi mendadak dan melihat aset kulinernya dijarah oleh pasukan UGD bawah."
Meskipun mulutnya terus menggerutu tentang tingkah laku Sean yang berlebihan, arogan, dan tidak merakyat, Tera tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri.
Saat seteguk jus beri biru yang segar dan dingin itu mengalir melewati tenggorokannya, ada sebersit rasa hangat yang aneh yang mulai menggelitik dinding hatinya.
Perhatian pria berusia tiga puluh lima tahun itu—meskipun selalu dikemas dengan cara kemewahan yang konyol dan intimidatif—selalu berhasil membuat hari-hari melelahkannya di rumah sakit terasa sedikit lebih hidup.
Di tengah kerasnya tekanan profesi dan penatnya kota besar, Sean Eagle Nugraha, dengan segala keanehan metodenya, telah menjadi warna baru yang tak bisa ia abaikan lagi.
Tera tersenyum tipis menatap para perawatnya yang tertawa bahagia pagi itu. Di dalam hati, ia merancang strategi balas dendam pada Sean yang sudah membuat guncangan di UGD.
Yuk mana komennya, jangan lupa like dan hadiahnya.
sean anaknya siapa ini?