Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 11
“Kamu dimana, Janti? Dosa hukumnya kalau keluar rumah tanpa seizin suami!” suaranya jelas terdengar tengah marah.
“Lagi di mal, mau beli emas yang semalam aku bilang ke mas Herlan,” lembut dia menjawab.
“Kenapa gak izin dulu?” nada Herlan masih sama. Menggeram menusuk hati.
Jika itu sebelum Janti merasakan bagaimana rasanya berbagi suami, maka dia langsung memohon maaf. Merasa bersalah karena sudah membuat suaminya marah.
Namun, lain halnya dengan sekarang. Herlan lupa ulang tahun pernikahan mereka, dan dia menikah lagi tepat di tanggal selalu disukai Janti. Maka, rasa kecewa sedikit demi sedikit mengikis rasa hormat kepada sang suami.
“Aku sudah pamit sama Bapak dan Ibumu, sama saja, kan? Soalnya selama ini kalau butuh apa-apa harus seizin mereka dulu,” sarkasnya sengaja.
Ya, Janti dilarang memanggil mama dan Papa teruntuk orang tuanya Herlan. Yang melarang adalah Darti.
Diingatkan akan fungsinya sebagai seorang suami masih condong ke orang tua, bahkan mengambil keputusan pun harus seizin papa dan mamanya, Herlan kebingungan mencairkan suasana tegang ini.
“Sayang, bukan maksud Mas mau membatasi ruang gerak kamu, tapi harus izin dulu, biar Mas gak khawatir, kepikiran terus,” Herlan pintar mencari celah demi menutupi kekurangannya.
‘Bohong! Saat ini saja kamu sedang memanjakan Saila di spa,’ sembari berbincang dengan suaminya, Janti memeriksa akun media Saila yang baru saja mengunggah banyak foto honeymoonnya.
“Janti paham, Mas,” jawabnya malas-malasan. Kembali menggeser potret demi gambar seraya membaca caption sang madu.
Mendengar nada tak bersemangat istri pertama, Herlan pun kembali melancarkan perhatian bak suami penuh cinta. “Sudah beli emasnya, Sayang?”
Janti menghentikan memutar malas bola matanya. “Uang sepuluh juta dapat apa sih, Mas? Harga emas sekarang satu gram nya hampir 2,5 juta. Mau beli kalung ya nanggung. Mas Herlan niat gak sih ngasih aku duit?”
“Ya niat banget, Janti. Tapi kan ini udah masuk akhir bulan, Mas gak bisa sembarangan mengeluarkan uang sebelum perhitungan keuntungan toko,” masih sama alasannya. Laba toko.
“Ya sudah, aku beli emasnya awal bulan saja bareng kamu, biar lebih leluasa milih model dan beratnya tanpa harus menghitung cukup tidak uang sepuluh juta itu,” sindirnya balik.
"Iya, iya," ia sampai menjawab ulang, seakan tidak mempercayai kalimatnya sendiri.
“Terus uang yang Mas transfer semalam untuk apa kalau bukan buat beli emas?” Herlan menuntut sebuah penjelasan. Merasa perubahan istrinya begitu kentara.
“Tampil maksimal itu bukan cuma butuh mengenakan perhiasan, tapi juga penunjang lainnya seperti pakaian bermerek. Terus, aku mau ganti produk skincare, perawatan kulit sama rambut. Hitung-hitung nyenengin diri, mau bilang makasih ke tubuhku yang kuat setiap hari gendong ibu mertua demi menunjukkan bakti,” suaranya memang pelan, namun kalimat keluar dari bibir berlipstik natural itu bak silet tajamnya.
Herlan terbelalak. Punggungnya langsung tegak saat mendengar sindiran menohok hati itu.
“Jangan semua-semua dihitung, dinilai dari segi materi, Janti. Ingat kalau pahala merawat orang tua itu jauh lebih berharga dan mulia,” jawabnya sesaat seusai terdiam.
"Jangan lupakan juga kalau mulut ibumu bak petasan banting, Mas! Sudah hati-hati, penuh perasaan aku merawatnya, tetap saja salah, dicela," ucapnya sedikit emosi sampai meremas tali tas.
"Namanya juga orang tua, Janti. Kebanyakan kalau sudah seumuran Mama, sifat dan sikap mereka kembali seperti anak-anak, butuh kesabaran ekstra dalam merawatnya. Makanya Mas enggan menyewa jasa perawat lansia, takut mereka bekerja tidak menggunakan hati berujung sering emosi. Lain sama kamu yang penyabar, penyayang," dibalik pujian, terdapat kecerdikan. Jiwa pelit sang ibu melekat padanya.
“Suamiku sungguh bijaksana, makanya dia berani berpoligami karena merasa sudah berlaku adil, bukan begitu, Mas?”
Herlan merasa tidak nyaman akan pergantian topik pembicaraan yang sangat tiba-tiba ini, dia sampai menarik kaki dari dalam kolam renang. Di seberang sana, pada bangunan gazebo, Saila tengah menikmati pijatan seorang terapis spa.
“Benar. Kalau belum yakin bisa berlaku adil, mana berani Mas nikah lagi, Sayang,” hatinya tak tenang, dan jawaban tadi bukan karena keinginan namun keadaan mendesak.
Arjanti mengangguk sopan pada pelayan yang menyajikan menu pesanannya. Lalu dia kembali berbicara dengan sang suami. “Ngomong-ngomong — biaya pijat di spa, sewa kamar hotel vip, dinner romantis di restoran mewah, tiket pesawat kelas bisnis, bayar pemandu wisata, terus harga paket lengkap skincare SK-II, totalnya semua berapa rupiah, Mas?”
.
.
Bersambung.
memilih hidup bermartabat daripada hidup yang terjajah dan selalu direndahkan
👍💪
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti