Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Tiga Hadiah dan Satu Labu
Meja makan rumah deret pagi itu menyisakan semangkuk bubur setengah habis, dua cawan teh melati, dan sebuah tablet yang berdiri di antara tumpukan surat kabar, menampilkan aula kampus yang sedang menggelar kuliah hukum daring. Puspita duduk di kursi ujung dengan dagu bertumpu pada telapak tangan, mengunyah sisa buburnya perlahan-lahan sambil mengikuti layar.
Tari baru saja mengangkat mangkuk bubur ketika layar tablet itu menampilkan wajah dosen hukum yang sedang membuka kuliah pagi, dan Puspita melambaikan tangan sekali tanpa menoleh sebagai isyarat agar pelayan itu tidak perlu menunggu lebih lama.
Pagi itu ia mengirim tiga hadiah virtual beruntun ke siaran tersebut, dan efek emas yang muncul menutupi wajah Profesor Guntara Prasetya sejenak. Ruang obrolan kampus langsung riuh dalam hitungan detik. Para mahasiswa yang tadinya hanya mendengarkan dosen mereka kini mengetik dengan kecepatan yang sama sekali tidak mencerminkan minat mereka pada ilmu hukum.
[Aku nomor satu, kan?]
[Wah, bos besar sudah datang.]
[Sudah kuduga, pasti perempuan kaya yang menopang Profesor Guntara!]
[Kak, delapan ratus itu sama sekali tidak cukup untuk menopang Profesor Guntara.]
Puspita menyeruput tehnya, lalu mengetik satu baris dengan tenang.
[Puspita800]: Oh, warisanku hanya Rp 84 triliun.
[???]
[Ada berapa nol di kalimat barusan?]
[Aku salah baca atau dia yang salah ketik?]
Profesor Guntara sudah mengenal nama akun itu sejak siaran pertama yang hanya punya satu orang penonton, dan setiap kemunculannya selalu menandakan bahwa kuliah pagi itu tidak akan berjalan sesuai rencana.
Profesor Guntara yang sedang menyalakan papan tulis digital di depan aula menoleh ke layar komputernya setelah notifikasi hadiah muncul untuk kesekian kalinya. Sudut mulutnya berkedut sekali.
"Tolong jangan mengirim komentar di luar topik," katanya dengan suara datar.
"Atau akan kublokir."
[Baik.]
[Suamiku.]
[Diterima dari suamiku.]
[Guru besar mana yang mau jadi suami pemberi hadiah itu?]
[Jangan dibalas. Nanti dia benar-benar memblokir akun itu, kita tidak bisa lihat wajah suami lagi.]
Ia menambah satu kalimat lagi tanpa mengubah suara sedikit pun.
"Tolong jangan memanggilku begitu. Atau akan kublokir."
[Sungguh galak.]
[Galak begitu, tapi justru kusukai.]
[Kau hanya mengancam, kan?]
Profesor Guntara memilih mengabaikan akun bernomor delapan ratus itu, sama seperti ia mengabaikan seluruh gangguan lain yang biasa muncul di ruang kelas. Sayangnya, ruang kelas kali ini sudah tidak bisa kembali tenang.
[Puspita800]: Kau tahu aku nomor satu?
[Puspita800]: Pembawa siaran lain malah sujud ke daftar pemberi hadiah.
Pria di depan papan tulis digital itu berhenti sejenak, lalu mendekat ke kamera dengan tangan bertumpu di tepi meja. Wajahnya yang anggun serta bersahaja membesar di layar aula sampai seluruh ruang obrolan histeris dalam sekejap.
[Wajahnya mendekat sekali!]
[Suami ganteng sekali.]
"Nona Puspita." Suaranya keluar sedikit lebih rendah dari biasanya.
"Hadiahmu bisa kukembalikan."
[Puspita800]: Mau menipuku lewat aplikasi pesan?
[Puspita800]: Hehe, aku tidak akan membiarkanmu berhasil.
[Hahaha, Nona, mau membuatku tertawa sampai mati?]
[Aku juga mau punya perempuan kaya yang rajin mengirim pesan.]
[Baru kutahu, perut Profesor Guntara tidak enak. Karena itu ia ingin menumpang hidup pada perempuan kaya.]
"Sudah, jangan melenceng." Ia menekan pelipisnya dengan ujung jari dan kembali ke tempatnya.
Sebelum akun Puspita800 muncul, penonton kuliahnya selalu tertib. Mereka hanya bertanya sedikit hal dasar tentang hukum, lalu menutup layar masing-masing. Kini ruang obrolan itu terasa lebih ramai dari kantin kampus pada jam istirahat.
Puspita tidak menunggu suasana kembali pulih. Jari-jarinya mengetik tiga baris berurutan tanpa jeda.
[Puspita800]: Kakekku pernah menanam sebuah labu.
[Puspita800]: Labunya berubah jadi tujuh bayi.
[Puspita800]: Apakah kau punya kewajiban mengasuh mereka?
[Puspita800]: Guntara, kenapa kau diam?
[Puspita800]: Apa kau tidak tahu?
[Puspita800]: Ini Fakultas Hukum Universitas Bhinneka, kan?
Profesor Guntara menarik napas panjang sekali sebelum menjawab, dan ketika suaranya keluar lagi, nada pengajarnya sudah kembali utuh.
"Dalam penentuan kewajiban mengasuh, hukum hanya melihat dua hal." Ia mengetuk papan tulis digital dengan ujung pena.
"Ikatan darah atau hubungan adopsi. Adopsi harus melalui prosedur resmi karena prosedur itu menentukan status hukum anak yang diadopsi. Tidak sembarang orang boleh mengadopsi anak."
"Kita anggap saja begitu," lanjutnya ketika kolom komentar kembali dipenuhi tanda tanya.
"Kalau seseorang mengadopsi anak tanpa proses hukum, lalu memberinya makan, pakaian, dan pendidikan, maka ia wajib mengasuh anak itu sampai tuntas."
[Puspita800]: Bagaimana kalau setengah jalan si anak kembali berubah jadi labu?
"Kalau kau bisa membuktikan labu itu tertukar dengan bayimu, kepemilikannya kembali kepadamu." Suaranya tetap datar, seolah ia sedang membacakan pasal di hadapan ruang sidang.
"Sekalipun orang lain mengambil labumu, kau tetap berhak menuntutnya kembali."
[Siapa aku? Di mana aku? Apa yang sedang kudengar?]
[Hahaha, kenapa dijawab dengan sangat serius?]
[Tiba-tiba rasanya kuliah Profesor Guntara jadi menarik sekali!]
Di meja makan rumah deret, Puspita menatap jawaban panjang itu sampai habis, lalu mengetuk layar dua kali dengan ujung jari. Ia tidak buru-buru mengetik balasan. Orang di balik layar itu memang selalu menjawab hal yang tidak masuk akal dengan cara yang justru sangat masuk akal, dan kebiasaan itu mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama tidak ia temui secara langsung.
[Puspita800]: Kalau begitu, labunya kutitipkan pada Profesor Guntara.
Sepanjang sisa waktu kuliah, ruang obrolan tidak pernah kembali sepi. Setiap kali Profesor Guntara menutup satu pasal, seseorang mengetik pertanyaan baru, dan setiap kali notifikasi hadiah muncul, layar aula kembali tertutup cahaya keemasan sesaat.
Pada akhir siaran hari itu, jumlah penonton yang tadinya hanya beberapa ratus perlahan naik sampai menembus angka lebih dari dua ribu. Di pojok ruang persiapan, Profesor Bagus memandang seluruh proses itu dengan senyum yang lega sekali.
"Bagus sekali, Profesor Guntara. Pertanyaan di daftar pemberi hadiah itu memang aneh, tetapi mahasiswa suka mendengarnya."
"Ya." Guntara menjawab singkat sambil menutup papan tulis digitalnya.
Di rumah deret, Puspita menutup tablet setelah memastikan siaran benar-benar usai, lalu bangkit dari meja makan tanpa terburu-buru. Hari itu tidak ada satu pun urusan yang mendesak, dan itulah satu-satunya alasan ia repot mengirim hadiah sejak pagi.
Setelah keluar dari ruang kelas, Guntara berjalan ke sudut lorong yang sepi dan mengeluarkan ponselnya. Panggilan tersambung pada ketukan kedua.
"Sampaikan padanya agar tidak mengirim hadiah lagi." Suaranya keluar tanpa basa-basi.
"Itu pemborosan."
"Di siaran langsung, maksud Nona?" Suara Yusuf di ujung sana terdengar sedang menahan sesuatu.
"Ya."
"Tapi Nona bilang seru sekali memakai dompet suami untuk mendukung pria lain."
"..."
"Siapa lagi yang ingin didukungnya?"
Yusuf menatap ponsel yang sudah menunjukkan panggilan selesai itu sebentar, lalu mendongak menatap langit-langit lorong kantor dengan napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan kata-kata itu secara langsung, melainkan mengirimkannya lewat pesan tertulis, suatu hari nanti, ketika suasana hati orang di ujung sana sedang dalam keadaan yang lebih aman.