NovelToon NovelToon
The Actress Who Fell For A Hidden Heir

The Actress Who Fell For A Hidden Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Duniahiburan
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.

Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.

Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.

Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.

Arka bukan sekadar mahasiswa.

Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.

Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.

Karena mencintai seseorang ternyata mudah.

Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebetulan yang Terlalu Sering

Pukul sepuluh lewat tiga puluh pagi.

Arka Pratama menatap layar laptopnya dengan wajah lelah.

Satu paragraf. Ia sudah menatap deretan kalimat yang sama di bab metodologi itu selama hampir sepuluh menit. Tidak ada satu pun kata yang berhasil masuk ke kepalanya.

Arka membuang napas kasar dan menutup laptop perlahan.

"Break."

Ia berdiri dari kursi perpustakaan kampus yang dingin dan memasukkan laptop ke dalam tas ranselnya. Hari ini memang tidak ada jadwal kelas, tapi bukan berarti ia bisa bersantai. Revisi skripsi dari Pak Hermawan kemarin masih menunggunya dengan setia.

Justru karena tidak ada kelas, Arka memutuskan mencari tempat pelarian yang lebih manusiawi. Sebuah kedai kopi bernuansa industrial tidak jauh dari kampus menjadi pilihannya. Tempat itu biasanya tidak terlalu ramai pada pagi hari menjelang siang. Ada Wi-Fi yang stabil, banyak colokan listrik, dan yang paling penting... kopinya cukup pantas untuk dinikmati.

Arka berjalan kaki beberapa blok sampai akhirnya melihat papan nama kayu kedai tersebut. Ia mendorong pintu kaca. Bel kecil di atas pintu berdenting pelan.

Ting.

Aroma pekat kopi roastery lokal dan mentega hangat dari panggangan pastry langsung menyambut penciumannya.

Suasana kedai cukup lengang. Ada sekelompok mahasiswa yang sibuk mengetik dengan wajah tegang, seorang pekerja kantoran yang menelepon dengan suara tertahan, dan dua orang yang asyik mengobrol pelan di sudut ruangan.

Arka memilih meja kecil di dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan. Ia meletakkan tasnya, lalu berjalan menuju meja kasir.

"Americano satu."

"Hot atau iced, Kak?" tanya barista dengan ramah.

"Hot."

"Ada tambahan untuk makanannya?"

Arka melirik etalase kaca sebentar. "Croissant butter satu."

"Siap. Atas nama siapa, Kak?"

"Arka."

Setelah membayar, ia kembali ke mejanya. Laptop dibuka. Dokumen skripsi yang menyebalkan itu kembali muncul di layar. Arka menatapnya lurus. Tangannya mulai mengetik.

Lima menit. Sepuluh menit.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia berhasil merampungkan satu paragraf utuh tanpa menghapusnya lagi.

"Yes," gumamnya pelan sambil menyandarkan punggung ke kursi.

Tidak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan pesanannya. Arka mengucapkan terima kasih dan baru saja akan menyeruput kopi panasnya, ketika suara decit kaki kursi terdengar dari meja yang jaraknya hanya terhalang satu meja kosong darinya.

Seseorang baru saja duduk membelakanginya.

Arka tidak terlalu memperhatikan, sampai suara wanita itu terdengar saat memesan kepada pelayan yang kebetulan masih berdiri di sana.

"Americano dingin satu. Gula pisah."

Arka membeku di tempat.

Suara itu...

Ia menoleh perlahan melewati bahunya. Seorang wanita mengenakan sweater rajut oversized, masker medis hitam, dan topi bisbol polos sedang duduk menunduk menatap layar tabletnya.

Kening Arka berkerut. Ia mengenali gaya berpakaian "buronan" itu.

"Jangan-jangan..." batinnya.

Seolah merasa diperhatikan, wanita itu menoleh sedikit. Ia menurunkan maskernya sebatas dagu untuk mengambil napas.

Arka akhirnya yakin seratus persen.

Alya. Alya Renata.

Aktris papan atas yang dua hari lalu kehujanan di minimarket dan menuduhnya sebagai penguntit.

Arka segera membuang muka dan kembali menatap laptopnya, tidak ingin membuat suasana menjadi canggung atau membuat wanita itu merasa privasinya terganggu. Namun, beberapa detik kemudian, Alya justru memutar kepalanya sepenuhnya ke arah Arka.

Mata mereka bertemu secara tidak sengaja.

Keduanya terdiam. Alya terlihat membelalak kaget, sementara Arka hanya mengerjapkan mata beberapa kali.

Karena sudah ketahuan, Arka akhirnya menyerah. Ia mengangkat tangan kanannya sedikit dan tersenyum tipis. "Hai."

Alya mengerjap, pundaknya yang sempat menegang kembali rileks. Ia membalas dengan anggukan kecil yang canggung. "Hai."

Alya menoleh ke sekeliling kedai, menatap jalanan di luar jendela, lalu kembali menatap Arka dengan tatapan menyelidik. "Kamu?"

Arka menunjuk dadanya sendiri dengan telunjuk. "Saya?"

Alya tertawa pelan, suaranya tertahan di balik masker yang kembali ia naikkan. "Di sini juga?"

Arka bersandar di kursinya, mengabaikan laptopnya sejenak. "Iya. Saya biasanya melarikan diri ke sini kalau udah mentok ngerjain tugas di kampus."

Alya terdiam sejenak. "Kamu sering ke sini?"

"Lumayan."

"Oh." Alya mengangguk-angguk kecil. Ia tersenyum di balik maskernya sampai matanya menyipit.

Entah kenapa, kali ini interaksi mereka tidak terasa setegang dan secanggung pertemuan kedua. Mungkin karena batas perkenalan awal sudah terlewati. Atau mungkin, karena secara tidak sadar, Alya sudah tahu bahwa mahasiswa di depannya ini bukanlah sasaeng fans atau orang yang berniat memanfaatkan namanya.

Beberapa menit kemudian, kopi es Americano milik Alya datang. Wanita itu meletakkan sebuah naskah tebal bersampul biru di atas meja. Ia sebenarnya datang ke tempat ini untuk mencari ketenangan demi mendalami karakter barunya. Namun sekarang, fokusnya justru terbagi.

Diam-diam, dari balik layar tabletnya, ia melirik Arka.

Mahasiswa itu sedang mengetik dengan wajah luar biasa serius. Alisnya bertaut. Sesekali ia menekan tombol backspace berulang kali dengan frustrasi, mengusap wajahnya, lalu mulai mengetik lagi.

Alya memperhatikannya selama hampir dua menit penuh tanpa sadar.

"Arka."

Nama itu meluncur begitu saja dari mulut Alya. Ia sendiri sedikit terkejut mendengarnya.

Arka langsung menghentikan ketikannya dan mengangkat kepala. "Ya?"

"Kalau boleh tanya..." Alya menunjuk laptop pria itu menggunakan ujung pulpennya. "Kamu lagi ngerjain apa dari tadi? Kelihatan serius banget."

"Oh, ini." Arka memutar layar laptopnya sedikit agar Alya bisa melihat kilasan teks penuh huruf tebal dan tabel. "Skripsi."

"Oh." Alya mengangguk paham. "Tingkat akhir?"

"Iya."

"Jurusan apa?"

Arka menyebutkan jurusannya dengan santai.

Alya terlihat berpikir sejenak, mengingat-ingat. "Berarti sebentar lagi lulus, dong?"

"Kalau semuanya lancar." Arka tersenyum getir. "Tapi melihat coretan dosen pembimbing saya kemarin... sepertinya belum akan lancar dalam waktu dekat."

Alya tertawa kecil mendengar nada pasrah pria itu. "Kenapa?"

"Revisi." Arka menunjuk buku catatan kecilnya yang penuh coretan tinta merah di samping laptop. "Banyak."

Alya melongok sedikit. Ia tentu saja tidak memahami isi tulisan akademik tersebut. Namun melihat tumpukan buku tebal, jurnal yang dicetak berantakan, dan wajah lelah Arka, sudah cukup untuk mendeskripsikan betapa menyiksanya proses itu.

"Kelihatannya melelahkan," komentar Alya bersimpati.

"Memang." Arka menyeruput Americano hangatnya. "Tapi mau nggak mau harus selesai."

Alya mengangguk memberikan dorongan moral. "Semangat kalau gitu."

"Terima kasih."

Hening kembali turun di antara meja mereka. Namun kali ini, rasanya tidak menyiksa. Alya mulai mencoret-coret naskahnya dengan stabilo, sementara Arka kembali berperang dengan keyboard-nya.

Mereka duduk berdekatan, berada di ruangan yang sama, namun hidup di dunia yang sangat berbeda. Tetap saja, entah mengapa... atmosfer di antara mereka terasa sangat nyaman.

Hampir setengah jam berlalu dengan damai. Alya meletakkan pulpennya. Ia menyesap kopinya, lalu menatap Arka yang sedang meregangkan otot leher.

"Kamu..." Alya memulai dengan nada sedikit ragu.

Arka menoleh. "Ya?"

"Kamu nggak ngerasa... aneh?"

Kening Arka berkerut. "Aneh apanya?"

Alya mengetukkan jari lentiknya perlahan ke meja, mencari kata-kata yang tepat. "Maksudku... setelah kamu tahu aku siapa."

Arka terdiam selama beberapa detik. Ia menatap mata Alya lekat-lekat, menyadari bahwa wanita ini pasti sudah menonton infotainment atau menyadari eksistensi billboard-nya.

Kemudian, Arka tersenyum tipis. "Oh."

Ia akhirnya mengerti arah pembicaraan ini.

"Kenapa emangnya?" balas Arka santai.

Alya mengangkat sebelah bahunya. "Nggak tahu. Biasanya, sikap orang langsung berubah kalau tahu profesiku."

Arka kembali memutar tubuhnya menghadap laptop, berbicara tanpa menatap Alya secara langsung agar wanita itu tidak merasa diintimidasi. "Ya, menurut saya biasa aja, sih."

"Biasa aja?" Alya mengulang kata itu seolah tidak percaya.

"Iya." Arka memutar kursinya sedikit, melipat tangan di dada. "Kamu tetap manusia yang butuh minum kopi, kan?"

Alya terdiam kaku.

Kalimat itu sangat sederhana. Tidak puitis. Tidak dramatis. Tapi entah kenapa, kalimat itu menghantam ulu hatinya dengan cara yang berbeda.

Arka melanjutkan ucapannya dengan nada santai, seolah sedang membahas cuaca. "Kalau saya kebetulan ketemu orang terkenal, ya... paling cuma oh, ternyata dia artis. Selesai. Nggak berarti saya harus tiba-tiba jadi gugup, minta tanda tangan, atau berubah sikap jadi bodyguard dadakan, kan?"

Alya menatap pria itu tanpa berkedip. "Biasanya orang justru bereaksi berlebihan."

"Mungkin saya yang kurang peka sama hal-hal kayak gitu."

Alya tak bisa menahannya lagi. Ia tertawa renyah. Suaranya terdengar sangat lepas, murni tanpa dibuat-buat. "Kamu memang aneh, Arka."

Arka ikut tersenyum. "Sudah terlalu sering dibilang begitu sama teman saya."

Mereka kembali tenggelam dalam hening. Namun kali ini, senyum di bibir Alya bertahan lebih lama.

Sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada seseorang yang berbicara kepadanya sebebas ini. Tidak ada pujian berlebihan. Tidak ada tatapan memuja. Tidak ada basa-basi palsu khas orang industri hiburan yang mencoba mendekat hanya karena ia memiliki power dan status.

Arka memperlakukannya dengan porsi yang sangat pas. Hanya sebagai seorang wanita biasa yang duduk di kedai kopi.

Dan hal yang paling mengejutkan bagi Alya adalah... ia sangat menyukai perlakuan itu.

Satu jam kemudian, Arka akhirnya menutup laptopnya dengan bunyi klik pelan.

"Sudah?"

Alya yang sedang menghafal dialog otomatis menoleh.

"Udah mentok," jawab Arka sambil meringis kecil. Ia memasukkan laptop dan kabel charger-nya ke dalam tas. "Saya balik ke kampus dulu. Ada urusan."

Alya mengangguk. "Oke. Hati-hati."

Arka berdiri, menyampirkan tas di satu bahu. Ia baru akan melangkah, namun berhenti sejenak. "Kamu masih mau di sini?"

"Iya, aku masih mau nyelesaiin baca naskah ini dulu."

"Hari ini ada syuting?"

Alya mengangguk kecil. "Sebentar lagi jalan ke lokasi."

"Kalau begitu, semoga syutingnya lancar."

"Terima kasih, Arka."

Arka mengangkat tangannya sekilas. "Mari."

"Ya."

Arka melangkah keluar. Bel kecil di atas pintu kembali berdenting pelan.

Ting.

Pintu tertutup rapat.

Alya menurunkan naskahnya, menatap kosong ke arah pintu kaca tempat bayangan Arka perlahan menghilang membelah trotoar. Ia terdiam selama beberapa detik.

Ia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu membuang napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Kenapa bisa ketemu terus, ya?" bisiknya pada diri sendiri.

Pertemuan pertama di tengah hujan lebat di depan minimarket. Pertemuan kedua yang diwarnai tuduhan konyol soal buronan. Dan sekarang, pertemuan ketiga di sebuah kedai kopi yang sepi.

Tiga kali. Dalam waktu yang sangat berdekatan.

Alya menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Ini masih bisa dibilang kebetulan?"

Ia tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya. "Ah, mungkin memang dunia ini sesempit itu."

Namun, semakin ia mencoba merasionalisasi kejadian ini, sebuah pertanyaan kecil justru semakin kuat mengetuk-ngetuk pikirannya.

Kalau besok kami tanpa sengaja bertemu lagi... apakah itu masih pantas disebut kebetulan?

Di luar kedai kopi, langkah Arka memelan saat ia berjalan menuju halte bus. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ada pesan masuk dari Rendy.

Rendy: Bro, nanti sore balik ke kampus lagi nggak?

Arka mengetik balasan dengan satu tangan.

Arka: Kayaknya iya. Gue mau ke perpus lagi nyari jurnal.

Ia baru saja hendak memasukkan ponselnya, ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Americano dingin. Gula pisah.

Arka tersenyum kecil menatap layar ponselnya yang menggelap. "Ternyata selera kopinya lumayan juga."

Tidak lebih dari itu. Bagi Arka, pertemuan tadi hanyalah selingan yang menyenangkan di sela-sela penderitaan skripsinya.

Namun, bagi Alya yang masih duduk diam di dalam kedai kopi... pertemuan siang ini terasa sangat berbeda.

Karena untuk pertama kalinya, ia tidak lagi sekadar mengingat Arka sebagai mahasiswa asing yang meminjamkan payung di tengah hujan.

Ia mulai mengingat cara Arka berbicara. Nada suaranya yang dalam dan santai. Caranya tertawa pelan saat dikatai aneh. Dan yang paling penting... cara pria itu memperlakukannya seperti manusia biasa yang setara.

Dan tanpa Alya sadari, jauh di sudut hatinya yang lelah oleh kepalsuan dunia hiburan... ia mulai menantikan satu hal.

Pertemuan mereka berikutnya.

Bukan karena tuntutan pekerjaan. Bukan karena kebetulan.

Hanya karena ia sangat ingin tahu, apakah rasa nyaman ini akan tetap ada jika "kebetulan" itu terjadi lagi.

Bersambung...

1
joikendil joikendil
Gokil sih kak, bab ini definisi "kamu boleh masuk ke duniaku, tapi duniaku juga bakal ngebongkar duniamu". Alya pulang happy bawa definisi kampus = liburan, Arka ditinggal sama berita nasional nama lengkap + wajah HD. Jurnalisnya udah mulai ngetik Skysea Group. Gak sabar bom kebohongan besar Arka meledak.
joikendil joikendil
Jujur awalnya agak takut baca age gap karena biasanya cringe, tapi di sini age gap nya justru bikin nyaman.

Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.

Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!

Semangat kak, ditunggu update-nya!
sphinxeditz77: Wah, makasih banyak kak sudah kasih 5⭐ dan review sepanjang ini 😭🙏 Senang banget bacanya, apalagi karena kakak sampai nangkep detail tentang Arka yang protective tapi tetap kasih Alya ruang untuk berkarier.

Aku memang pengin hubungan mereka terasa seperti dua orang yang saling menghargai, bukan sekadar trope age gap. Jadi komentar seperti ini jujur bikin semangat banget buat lanjut nulis 😂🔥

Semoga bab-bab berikutnya tetap bikin kakak betah ngikutin Arka dan Alya. 🙏
total 1 replies
joikendil joikendil
Alya: "Besok datang lagi kan Ka?"

Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"

AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭

Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
joikendil joikendil
Bab ini definisi "respect" kak. Arka yang awalnya mikir akting itu cuma hafal dialog + akting manis, sekarang lihat sendiri harus inget blocking, ekspresi, nada suara, arah kamera, vas bunga kesenggol aja harus ulang. Diulang 7x tanpa ngeluh. Terus Arka bilang "Aku respect sama kamu, Al" - bukan "cantik" bukan "akting bagus" yang klise. Alya aja kaget karena jarang ada yang ngomong gitu. Suka banget pergeseran Arka dari lihat Alya sebagai artis terkenal, jadi lihat Alya sebagai manusia pekerja keras. Tapi nomor portal gosip itu masih neror ya? Takut!
sphinxeditz77: Nahhh ini dia 😂🙏 Aku memang pengin momen itu jadi titik perubahan cara Arka melihat Alya. Bukan lagi sekadar “aktris terkenal”, tapi seseorang yang benar-benar bekerja keras di balik kamera. Dan setelah lihat take berkali-kali, menurut Arka kata “respect” jauh lebih tepat daripada sekadar bilang “cantik” atau “aktingmu bagus.” 😭🔥
total 1 replies
joikendil joikendil
Jujur nangis baca part ini kak. Arka gak muji gaun mahal, gak muji cantik, gak muji akting. Dia cuma bilang "Ngerti alasan logis kenapa tiap kita ketemu mata kamu selalu kelihatan sangat capek". ITU DALEM BANGET.

Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
sphinxeditz77: Waduh sampai nangis 😭😂 makasih banyak kak! Bagian Arka melihat rasa capek Alya sebagai manusia memang penting banget buat perkembangan hubungan mereka. Tapi soal “Selamat sore Mas Arka Pratama?”... wkwkwk mulai masuk wilayah berbahaya itu 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Akhirnya! Arka diajak lihat syuting langsung. Suka detailnya kak, bangunan heritage disulap jadi rumah mewah, kabel seukuran lengan, lampu HMI raksasa, take diulang 7 kali cuma gara-gara bayangan mic bocor.

Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
sphinxeditz77: Wkwkwk makasih kak 😂 Aku memang sengaja masukin detail-detail kecil di lokasi syuting supaya Arka dan pembaca sama-sama bisa melihat kalau dunia Alya ternyata nggak sesederhana “datang, cantik, lalu akting” 🤣 Dan 2 es kopi itu memang bentuk perhatian Arka yang paling sederhana 😂
total 1 replies
joikendil joikendil
Arka: "Punya foto kamu bukan keharusan buatku"

Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya

Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!
joikendil joikendil
Bab ini favorit aku sejauh ini kak! Alya yang biasanya dipuja-puja, histeris dimintain foto, tiba-tiba ketemu Arka yang cuma bilang "Oh." doang pas tau dia Alya Renata. No pansos, no minta tanda tangan. Justru itu yang bikin Alya insecure: "Apa muka aku biasa aja kalau tanpa makeup?" Padahal dia kangen diperlakukan normal. Psikologisnya dapet banget! Dan plot foto buram jaket denim di grup WA angkatan udah mulai nyebar, duhhh...
sphinxeditz77: Wkwkwk ini salah satu bagian yang paling aku suka juga 😂 Karena Alya sebenarnya bukan butuh orang yang terus-terusan mengaguminya, tapi orang yang bisa memperlakukannya sebagai Alya biasa. Dan Arka malah “Oh.” doang pas tahu dia Alya Renata 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Kak ini bab paling tegang sejauh ini! Dari Alya nge-remas gelas kopi sampe plastiknya bunyi, terus Arka yang langsung "Ikut ke belakang. Percaya sama aku" - itu keren banget, gak banyak cing-cong. Tapi endingnya... ya ampun 😭 yang moto dari balkon lantai 2 fakultas itu siapa?? Foto Alya senyum-senyum sama Arka udah kesebar kayak virus katanya. Plis jangan cliffhanger lama kak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!