NovelToon NovelToon
OVER THE AGE

OVER THE AGE

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: siput

Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg

Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.

Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

Sentuhan jemarinya di sekitar kerah kemejaku mengirim sengatan ganjil yang membuat otot leherku menegang seketika. Aroma lembut dari helaian rambutnya menguar, bertabrakan dengan dinginnya hawa pagi dan kepulan asap knalpot van klinik yang perlahan menjauh. Aku menelan ludah susah payah, berusaha keras mengunci ekspresi congkak agar rona panas di pangkal telingaku tidak terbongkar.

"Bawel,"

dengusku pelan, menepis lembut pergelangan tangannya begitu ia selesai menarik simpul kain hitam itu. Sudut bibirku berkedut sinis menyamarkan debaran dada yang mendadak tak keruan.

"Siapa bilang gue pelayan lo sampai harus bawain sarapan segala? Manja."

Tanpa menunggu sahutan lagi, kutarik helm dari spion lalu kupasangkan kasar ke kepalanya, mengabaikan gerutuannya sambil memastikan pengaitnya terkunci rapat dengan bunyi klik yang tegas. Aku berbalik, melompat ke atas jok motor dengan satu gerakan lugas, lantas menyalakan starter hingga getaran mesin menderu mantap di bawah telapak kakiku.

"Nanti di kantin belakang sekolah gue beliin batagor kuah,"

gumamku datar sambil meliriknya dari kaca spion, menepuk jok penumpang dengan punggung tangan.

"Sekarang buruan naik. Ban lengan seksi penertiban gerbang nggak bakal peduli lo perawat atau bukan kalau sampai gue telat."

Eca segera naik motor theo dan berangkat bersama, sesampainya di sekolah eca bergegas menuju ke rombongan RS berkumpul. Ia berlari sambil sedikit tersandung karna segerombolan anak SMA yang berlalu lalang.

"Oke, sudah sampai gue langsung bareng yang lainnya dulu ya"

"Lo jangan lupa nanti ikut periksa kesehatan di aula sekolah, awas sampai nggak hadir gue bakal ngambek sih ya...hehe"

"See you theo"

Langkah cerobohnya yang hampir tersandung di antara kerumunan murid berseragam putih abu-abu sontak membuat tanganku bergerak refleks ingin menahannya. Namun, sosok itu sudah lebih dulu melenggang pergi tanpa menoleh lagi.

Peringatan konyolnya tentang aula sekolah berdengung di telinga, memancing geraman rendah di tenggorokanku. Mengancam akan merajuk? Siapa yang peduli dengan rajukan perawat manja sepertinya.

Aku melepaskan helm, menyugar rambut hitamku yang berantakan tertiup angin jalanan, lalu melangkah santai menyusuri koridor parkiran yang mulai bising oleh bisik-bisik murid lain. Tatapan mereka yang tertuju padaku kuabaikan begitu saja.

Beberapa anggota geng motor yang sedang berkumpul di bangku dekat gerbang sempat menyapa, namun fokusku sudah terpecah sepenuhnya ke arah gedung serbaguna di ujung lapangan.

"Bisa-bisanya lari nggak lihat jalan,"

gumamku sinis, memasukkan kedua belah tangan ke saku celana seragam seraya melangkah mantap menuju aula utama.

"Kalau sampai kakinya lecet gara-gara kesandung anak-anak tadi, awas saja."

Gemuruh suara berkumpul siswa siswi dan guru di aula untuk pemeriksaan.

"Ahaha...remaja jaman sekarang pada pintar-pintar merayu yah jadi malu saya"

Beberapa murid cowok menggoda eca yang sedang memeriksanya, begitu juga guru cowok yang masih muda ingin meminta berkenalan dengannya.

"Bapak ibu gurunya juga lucu-lucu"

"Berikutnya tolong..antri dengan tertib ya adik-adik"

Telingaku terasa panas mendengar tawa renyahnya yang meladeni celotehan centil para murid ingusan dan guru muda tak tahu malu itu.

Rahangku mengeras. Kerumunan yang tadinya berdesakan sontak terbelah saat langkah lebarku membelah antrean tanpa peduli aturan. Beberapa siswa yang mengenali seragam awut-awutanku langsung mundur teratur, menyadari hawa permusuhan pekat yang kubawa masuk.

Aku menarik kursi lipat kosong dengan decitan kasar di lantai keramik, lalu mendudukinya tepat di hadapannya. Satu tanganku terhempas santai ke atas meja, menggulung lengan kemeja seragam hingga ke siku, memamerkan urat-urat lengan yang menegang kaku. Mataku menatap tajam ke arah guru muda di samping meja sebelum mengunci pandangan perempuan sok ramah itu tanpa berkedip.

"Bisa fokus kerja, Suster?"

desisku dingin, nada suaraku sarat peringatan yang menusuk.

"Gue ke sini bukan buat nonton lo tebar pesona sama seisi sekolah. Pasang alatnya sekarang, tensi gue lagi naik gara-gara ngeliat kelakuan lo."

...****************...

1
Mawarresa
eca berani bangett🤣
Renjana
tinggalin jejak dulu,
hadir kak, mampir juga ya😊
Siput: thank u udh mampir kak
total 1 replies
atikah@72
sama-sama kak, sukses selalu🫰
atikah@72
ceritanya bagus lanjutkan Thor. jgn lupa mampir ya di aku buat silaturahmi. makasih 🫰
Siput: trimakasih kak support sistemnya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!