NovelToon NovelToon
Cinta Kedua Di Atas Luka

Cinta Kedua Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.

Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.

Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Beberapa minggu telah berlalu sejak kecelakaan tragis yang mengubah kehidupan banyak orang. Kondisi kesehatan Jovan kini telah pulih sepenuhnya.

Luka di kepalanya telah sembuh. Tidak ada lagi rasa pusing maupun gangguan yang sebelumnya ia rasakan akibat zat yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuhnya. Kini waktunya kembali ke lintasan.

Jovan harus terbang ke Australia untuk menghadapi pertandingan Formula One yang sudah menantinya.

Pagi itu, ia kembali menjalani latihan terakhir di sirkuit sebelum keberangkatannya. Suara mesin mobil balap meraung memenuhi lintasan. Setelah menyelesaikan beberapa putaran, Jovan akhirnya masuk ke area pit. Ia membuka helm dan menyerahkan kepada mekaniknya.

Leo yang berdiri tidak jauh darinya langsung tersenyum jahil.

"Cie..."

Jovan menoleh. "Apa?"

Leo menyilangkan kedua tangannya di dada. "Lo sekarang udah kayak nemuin anak sendiri, Jo."

Jovan mengerutkan kening. "Maksud lo?"

Leo tertawa. "Setiap latihan selesai, yang lo tanyain Farel. Lagi apa, sudah makan belum, suka mainan apa, makanan kesukaannya apa..." Ia menunjuk Jovan sambil terkekeh. "Tapi jujur, ye. Elo udah pantes menyandang gelar Daddy!"

Jovan malah tersenyum mendengar ejekan tersebut.

"Sudah, jangan kebanyakan omong." Ia berjalan menuju ruang ganti.

"Abis latihan ini selesai, gue mau ke kontrakannya Serina."

Leo mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Gue kangen sama Farel."

Leo langsung tertawa. "Kangen sama Farel atau sama ibunya nih?"

Jovan berhenti sejenak. Ia menoleh dengan tatapan datar. "Leo..."

"Hehehe... iya, iya."

Jovan menggeleng. Tak ingin meladeni ejekan asistennya, ia masuk ke ruang ganti. Pakaian balap yang melekat di tubuhnya segera ia ganti dengan kaus sederhana, jaket tipis, celana jeans, dan sepatu kasual. Ia tidak ingin datang ke rumah Serina dengan pakaian yang terlalu mencolok. Baginya, ia hanya ingin menemui Farel sebentar sebelum meninggalkan Indonesia.

*

*

Di tempat lain, suasana pabrik tempat Serina bekerja jauh lebih ramai. Suara mesin jahit terdengar hampir tanpa henti. Serina duduk di depan mesin jahit dengan konsentrasi penuh.

Tangannya bergerak mengikuti pola kain yang sedang dikerjakannya.

Beberapa hari terakhir, ia mulai terbiasa dengan ritme pekerjaan tersebut. Bahkan target produksi yang diberikan kepadanya berhasil ia capai.

"Serina."

Seorang rekan kerja menghampirinya.

"Targetmu hari ini sudah selesai."

Serina tersenyum lega. "Syukurlah."

"Kerjamu cepat juga."

Serina tertawa kecil. "Mungkin karena dulu saya pernah kursus menjahit."

"Pantas."

Setelah pekerjaannya selesai, Serina merapikan meja.

Di dalam hati, ia tersenyum bahagia. Tidak terasa sebentar lagi gajian. Ia membayangkan wajahnya Farel. Kalau nanti sudah menerima gaji, aku ingin mengajak Farel belanja. Mungkin membeli beberapa pakaian baru. Mungkin membeli sepatu. Atau sekadar mengajaknya makan makanan kesukaannya. Serina tersenyum sendiri. Yang penting Farel senang. Pikiran itu membuatnya semakin bersemangat untuk bekerja.

Ia ingin memberikan kehidupan yang lebih baik kepada putranya.

Sementara itu, Jovan akhirnya tiba di kawasan rumah kontrakan Serina. Ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah tersebut. Sebelum turun, Jovan sempat memeriksa penampilannya melalui kaca spion. Tidak ada pakaian balap. Tidak ada atribut pembalap. Hanya seorang pria muda biasa.

Jovan turun dari mobil. Namun baru beberapa langkah, ia melihat sesuatu yang membuat senyumnya langsung mengembang.

Di teras rumah, Farel sedang bermain. Bocah itu tampak asyik mengendalikan mobil remote control yang pernah diberikan Jovan. Di sampingnya duduk seorang wanita paruh baya. Jovan bergegas melangkah ke arahnya. Jovan mendekat.

"Permisi."

Bu Aida menoleh.

"Oh..."

Wanita itu tersenyum.

"Jovan, ya?"

Jovan sedikit terkejut.

"Ibu tahu nama saya?"

Bu Aida tertawa. "Serina pernah cerita sedikit."

Jovan mengangguk sopan. "Saya Jovan."

"Ibu Aida." Bu Aida kemudian tersenyum ramah. "Ibu sudah sering dengar tentang kamu."

Jovan sedikit canggung. "Semoga yang Ibu dengar bukan yang aneh-aneh."

Bu Aida tertawa kecil. "Tenang saja."

Belum sempat berbicara lebih jauh, Farel tiba-tiba menyadari kehadiran Jovan. Bocah itu langsung berdiri.

"Om Jovan...!" panggilnya dengan Matanya yang berbinar.

Jovan tersenyum lebar. "Hai, Farel!"

Farel berlari menghampirinya. Jovan langsung berjongkok dan membuka kedua tangannya.

Farel memeluknya. "Om datang lagi!"

"Iya." Jovan mengusap rambutnya Farel.

"Om datang karena sebentar lagi harus pergi."

"Pergi ke mana?"

"Australia."

Farel mengerutkan keningnya bingung.

"Jauh?"

"Jauh."

"Naik pesawat?"

Jovan mengangguk. "Iya."

Farel kemudian memandangnya dengan wajah sedikit kecewa.

"Om lama?"

Jovan tersenyum. "Om usahakan cepat pulang."

Bu Aida yang melihat kedekatan mereka tersenyum.

Namun ia tetap terlihat sedikit ragu ketika Jovan tiba-tiba berkata,

"Bu Aida..."

"Iya?"

"Kalau boleh, saya ingin mengajak Farel jalan-jalan sebentar."

Bu Aida terdiam. "Mau dibawa ke mana?"

"Belum tahu. Mungkin makan dan membeli sesuatu."

Jovan segera menambahkan, "Saya tidak akan membawanya jauh-jauh. Saya akan menjaganya baik-baik dan mengantarnya pulang sebelum Serina selesai bekerja."

Bu Aida masih tampak ragu. "Serina tahu?"

Jovan menggeleng. "Saya belum sempat memberi tahu."

Bu Aida menarik napas. "Sebenarnya Ibu tidak keberatan. Tapi Farel tetap tanggung jawab Serina."

"Saya mengerti." Jovan mengangguk.

"Kalau Ibu tidak mengizinkan, saya tidak akan memaksa."

Ia menatap Farel.

"Saya hanya ingin menghabiskan sedikit waktu bersama dia sebelum berangkat ke Australia."

Farel langsung menarik tangan Bu Aida.

"Nenek... boleh, ya?"

Bu Aida tertawa. "Ibu bukan nenekmu."

Farel terkikik.

"Tapi boleh?"

Bu Aida memandang Jovan. Pria itu terlihat begitu sungguh-sungguh.

Akhirnya Bu Aida mengangguk. "Baiklah."

Matanya Farel langsung berbinar.

"Yeay!"

Jovan tersenyum. "Terima kasih, Bu."

"Tapi satu syarat."

"Apa, Bu?"

"Jangan terlalu lama."

"Siap."

"Dan jangan bawa Farel ke tempat yang berbahaya."

Jovan mengangguk mantap. "Tentu."

Bu Aida kemudian berjongkok di depan Farel. "Farel, jangan nakal sama Om Jovan."

"Iya!"

"Kalau capek, bilang."

"Iya!"

Jovan tertawa kecil. "Tenang, Bu. Saya akan menjaga Farel." Ia kemudian mengulurkan tangannya kepada Farel. "Ayo."

Farel langsung menggenggam tangan Jovan. Namun sebelum pergi, Jovan menatap rumah kontrakan tersebut.

Ia tahu Serina mungkin tidak akan senang mengetahui dirinya membawa Farel pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Karena itu, ia berniat tidak menyembunyikan apa pun.

Ia akan segera menghubungi Serina. Jovan mengambil ponselnya.

Namun sebelum sempat menelepon, Farel sudah menarik tangannya.

"Om!"

"Hm?"

"Kita mau beli robot lagi?"

Jovan tertawa.

"Kenapa? Farel mau robot baru?"

Farel mengangguk cepat.

Jovan mengacak rambutnya. "Oke. Kita lihat nanti."

Mereka pun berjalan menuju mobil. Sementara Bu Aida berdiri di teras, memperhatikan keduanya.

Ia tersenyum kecil. Ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa kedekatan antara Jovan dan Farel bukan sekadar kebetulan.

Namun Bu Aida juga sadar...

Serina mungkin membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk menerima pria tersebut.

Dan ia tidak tahu bahwa kepergian Jovan ke Australia kali ini akan menjadi awal dari sebuah kerinduan baru, bukan hanya bagi Jovan, tetapi juga bagi seorang bocah kecil bernama Farel.

Bersambung...

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Marcella siluman ular... 😡😡
fatmawati (pipit)
apakah kau marcella yang sudah membunuh mama kandung jovan🤔🤔🤔
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih banyak rahasia yg belum terungkap ya kak☺️
total 1 replies
fatmawati (pipit)
jangan lupa jovan undangan disebar lalu untuk darren berbesarlah hati mu karna cinta pertamamu akan menikahi adik kamu💪💪💪💪
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Bahagia selalu untuk kalian ya 🥰🥰🥰
Teh Yen
aku ragu kalau Marcella bisa berubah sih 🤔
Teh Yen
ternyata dalangnya ibunya Darren sendiri yah
Nar Sih
semagat serina ,alm suami mu sdh memberi izin padamu ,jemput bahagia mu dan farel bersama jovan
Teh Yen
siapa lagi orang yg ingin menghancurkan hidup Jovan yah
Teh Yen
wah farel sudha mengagumi om Jovan yah ,,kl ibunya gmn tuh??? 😁
fatmawati (pipit)
jovan udah ada bibit jatuh cinta nih, tinggal perjuangan jovan untuk membuka hati serina untuk menerima dirinya (jovan)
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
fatmawati (pipit): /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Serina, bukalah hatimu untuk Jovan, demi Farel 🥰🥰
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Syukurlah ngga sampai nikah paksa saat itu juga. Yawda Jovan, kamu harus cepat pulang ya... besok apel lagi 😅
Nar Sih
untung nya pejelasan mu berhasil diterima warga dan pk rt ya jovan,dan ngk jdi di nikahin dadakan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: selamet mereka berdua🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
nah kan pasti bntr lgi di nikahin dadakan
fatmawati (pipit)
jovan harus tegas dong sama orang orang yg suka julid jangan sampai farel mendengar omongan yg tidak baik.....
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
fatmawati (pipit)
itu ada tetangga julidnya seharusnya pak RT tegas kepada warga jangan hanya dengar dari desas desus gosip murahan dong kayak serina itu apa. bapak Rt gk pernah tahu apa yg dialami serina, farel dan jovan setelah riki meninggalkan jadi coba pikir bagaimana serina ingin memberikan terbaik buat farel
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
kebiasaan bgt asal labrak,bisa mikir dlu ngk sih sebelum bertindak,pantesan ngk maju2 pemikirannya pada kuno
fatmawati (pipit)
jovan ingin mengungkapkan perasaan kepada serina namun dia masih bergelut dengan luka yang ditinggal riki.
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Abang adik jadi saingan nih untuk dapatkan Serina
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Hadir disini Thor 👍🥰
Awal cerita sudah sedih .... 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!