Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Terminal Keberangkatan Internasional Bandara Jiangcheng dipenuhi oleh hiruk-pikuk ribuan penumpang. Di antara kerumunan yang sibuk tersebut, seorang wanita dengan kacamata hitam besar berjalan setengah berlari sambil menarik koper Louis Vuitton. Napasnya terengah-engah, namun langkahnya tidak melambat sedikit pun hingga dia tiba di depan konter pelayanan VVIP Maskapai Global Jiangcheng.
Wanita itu adalah Lin Yueran.
Dia melempar paspor dan setumpuk uang tunai ke atas meja konter.
"Satu tiket kelas satu penerbangan paling cepat menuju Paris. Berangkat hari ini juga, jam berapa pun. Aku tidak peduli harganya," ucap Lin Yueran dengan nada mendesak.
Staf konter melirik setumpuk uang tunai itu, lalu dengan cekatan memproses tiketnya.
"Penerbangan tercepat menuju Paris akan berangkat dalam waktu empat puluh lima menit, Nona. Ini tiket Anda. Silakan menunggu di Ruang Tunggu VVIP Berlian di ujung lorong."
Lin Yueran merampas tiket itu dan setengah berlari menuju ruang tunggu yang ditunjuk. Begitu pintu kaca otomatis ruang VVIP tertutup di belakangnya, mengisolasi suara bising dari luar, Lin Yueran akhirnya bisa menghela napas panjang. Kakinya yang sedari tadi gemetar karena ketakutan perlahan mulai mendapatkan kekuatannya kembali.
Ruang tunggu itu sangat mewah dan sepi, hanya ada beberapa pengusaha asing yang sedang membaca koran. Lin Yueran menjatuhkan dirinya di sofa kulit yang empuk. Seorang pelayan datang membawakan segelas sampanye dingin.
Lin Yueran meneguk sampanye itu. Rasa dingin dan manis yang mengalir di tenggorokannya seolah mencuci semua teror yang dia rasakan sejak semalam.
"Zhao Qiming bodoh. Tuan Besar Lei bodoh," batin Lin Yueran sambil tersenyum sinis. "Kalian semua bisa mati di tangan Jiang Muchen. Tapi aku? Aku sudah lolos. Begitu pesawat ini lepas landas, aku akan berada di benua lain. Jiang Muchen mungkin punya uang di Jiangcheng, tapi tangannya tidak akan sampai ke Eropa. Aku punya koper berisi perhiasan jutaan Yuan. Aku bisa memulai hidup baru yang mewah di sana."
Senyum di wajah Lin Yueran semakin lebar. Dia membayangkan kehidupannya berbelanja di Paris, mencari pria kaya baru yang tidak memiliki masalah dengan masa lalunya. Dia merasa dirinya adalah wanita paling cerdas karena melompat dari kapal Keluarga Zhao sebelum benar-benar tenggelam.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Teng tong.
Sebuah suara pengumuman dari pengeras suara di ruang VVIP memecah keheningan.
"Perhatian kepada seluruh penumpang Maskapai Global Jiangcheng. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Atas perintah langsung dari Dewan Direksi dan Pemilik Mayoritas yang baru, seluruh penerbangan internasional dari dan menuju Jiangcheng dihentikan operasionalnya mulai detik ini hingga pemberitahuan lebih lanjut. Mohon menuju konter utama untuk proses pengembalian dana."
Lin Yueran membeku. Gelas sampanye di tangannya miring, menumpahkan cairan keemasan itu ke atas gaun mahalnya.
"Apa-apaan ini?!"
Lin Yueran melompat dari sofa dan berteriak marah. Dia menghampiri Manajer Ruang VVIP yang sedang berdiri dengan wajah pucat sambil memegang alat komunikasi.
"Hei! Apa maksud pengumuman itu? Pesawatku ke Paris berangkat setengah jam lagi! Aku sudah membayar tiket kelas satu! Kalian tidak bisa seenaknya membatalkan penerbanganku!" bentak Lin Yueran histeris.
Manajer itu menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Lin Yueran.
"M-mohon maaf, Nona. Ini bukan masalah tiket. Pemilik baru maskapai kami baru saja mengambil alih seratus persen saham secara tunai lima belas menit yang lalu. Beliau memberikan instruksi mutlak untuk mengunci seluruh jalur udara maskapai ini. Tidak ada satu pun pesawat yang diizinkan lepas landas."
"Siapa pemilik baru yang gila itu?! Panggil dia ke sini! Berani-beraninya dia menghancurkan jadwalku!" jerit Lin Yueran, rasa panik mulai merayap kembali ke dalam dadanya. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang sangat salah.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki yang tenang dan berirama terdengar dari arah pintu masuk ruang VVIP.
Dua barisan petugas keamanan bandara berseragam hitam masuk lebih dulu, berdiri berjejer membentuk barikade yang mengusir penumpang lain keluar dari ruangan. Di belakang mereka, Direktur Utama Bandara Jiangcheng berjalan dengan punggung membungkuk, memberikan jalan bagi seorang pria yang melangkah dengan wibawa seorang kaisar.
Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana. Postur tubuhnya tegap sempurna, wajahnya setajam pahatan, dan matanya memancarkan Ketenangan Mutlak yang terasa seperti ujung pedang es.
Prang.
Gelas sampanye di tangan Lin Yueran merosot dan jatuh hancur berkeping-keping di atas lantai marmer.
Lutut Lin Yueran kehilangan seluruh tenaganya. Dia jatuh terduduk di lantai, menatap pria yang baru saja masuk itu dengan mata terbelalak penuh horor, seolah sedang melihat hantu.
"J-Jiang... Muchen..." suara Lin Yueran keluar seperti cicitan tikus yang tercekik.
Jiang Muchen berhenti tepat tiga langkah di depan Lin Yueran. Dia menatap wanita yang sedang gemetar di lantai itu dengan tatapan kosong, tanpa kebencian, tanpa cinta, hanya kekosongan absolut yang menganggap wanita itu tidak lebih dari debu.
"Kau bilang ingin memanggil pemilik baru maskapai ini?" tanya Jiang Muchen datar. Suaranya menggema di ruang VVIP yang kini sangat sunyi.
Air mata langsung membanjiri wajah Lin Yueran. Delusinya tentang Paris, tentang hidup mewah, hancur berkeping-keping. Dia akhirnya sadar bahwa dirinya tidak pernah melarikan diri selangkah pun dari telapak tangan pria ini. Jiang Muchen membiarkannya sampai ke bandara hanya untuk menghancurkan harapannya tepat di garis akhir.
"Muchen... Muchen, tolong ampuni aku!"
Lin Yueran merangkak maju, mencoba meraih ujung sepatu Jiang Muchen, namun salah satu petugas keamanan langsung menendang tangannya dengan kasar hingga dia tersungkur mundur.
"Tuan Jiang adalah pemilik maskapai ini! Jangan sentuh beliau dengan tangan kotormu!" bentak petugas keamanan itu.