Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 KITA SEMUA PUNYA LUKA
Hujan turun rintik-rintik membasahi halaman asrama, membuat kegiatan luar dibatalkan. Di dalam Kamar 203, keempat penghuninya duduk dalam keheningan yang hangat. Zain menatap satu per satu wajah teman-temannya, Rian yang biasanya paling ceria, Bima yang selalu tenang, dan Dimas yang senyumnya selalu tulus. Tiba-tiba rasa ingin tahu yang dalam muncul di hatinya, selama ini hanya ceritanya yang sering dibahas, padahal mereka ada di sini juga karena suatu alasan.
"Maaf kalau aku lancang" Ucap Zain memecah keheningan pelan.
"Tapi aku penasaran, kenapa kalian dikirim ke sini ?" Tanya Zain
Rian tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding. Tatapannya menerawang ke arah jendela yang berkabut.
"Ayahku seorang pebisnis yang sangat sukses, Zain. Di mata orang-orang, keluargaku adalah contoh keluarga yang sempurna, kaya, terpandang, dan dihormati. Tapi di dalam rumah kami sendiri, suasananya jauh berbeda. Ayah dan ibu jarang sekali berbicara kecuali soal urusan bisnis, mereka tidur di kamar yang berbeda, makan di waktu yang berbeda, dan bahkan saat aku sakit berat, hanya satu orang dari mereka yang bisa hadir” Jawab Rian
“Suatu hari di sekolah, ada teman yang mengejek keluargaku yang hancur. Aku marah, lalu terjadilah perkelahian. Ayah tidak memarahiku saat itu, dia hanya berkata dengan suara yang datar 'Lebih baik kamu tinggal di asrama saja, di sana terjamin pendidikannya'. Sejak itu, aku pulang ke rumah hanya saat libur panjang. Dan anehnya, justru di sini, di kamar kecil ini, untuk pertama kalinya aku merasa punya keluarga. Rumah bukan soal seberapa megah bangunannya, kan ?" Lanjut Rian
Suasana hening sejenak, tak lama kemudian Bima menarik napas dalam, lalu berbicara dengan suara yang lembut namun bergetar.
"Aku dikirim ke sini karena... aku pernah menyakiti diriku sendiri" Ucap Bima pelan, menunduk menatap telapak tangannya.
"Orang tuaku orang yang sangat baik, mereka bekerja keras agar aku tidak kekurangan apa pun. Tapi kesibukan mereka membuatku sering sendirian di rumah yang besar dan sepi, lama-kelamaan aku merasa tidak berharga. Aku ingin diperhatikan, ingin ditanya apakah aku baik-baik saja. Karena itu aku melakukan hal-hal bodoh dan aku tahu itu salah, tapi itu satu-satunya cara yang aku tahu agar mereka menyadari keberadaanku” Tambah Bima
“Saat mereka menemukanku, aku melihat air mata yang belum pernah kulihat sebelumnya di wajah mereka. Mereka mengirimku ke sini bukan untuk membuangku, tapi karena mereka takut kehilangan aku. Setiap akhir pekan mereka selalu datang menjemput, dan perlahan kami belajar untuk kembali dekat. Asrama ini adalah tempat istirahatku, tempat aku belajar mencintai diriku sendiri sebelum pulang ke rumah yang sedang kami perbaiki bersama-sama" Lanjut Bima
Mata Zain terasa panas, ia tidak pernah menyangka di balik ketenangan Bima ada pertempuran yang begitu berat yang ia jalani sendirian. Terakhir, Dimas menyentuh foto kecil yang selalu ia simpan di dalam dompetnya, senyum tipis terukir di bibirnya yang penuh rindu namun juga penuh syukur.
"Aku tidak pernah mengenal orang tuaku yang melahirkanku" Ucap Dimas jujur.
"Aku ditemukan di depan pintu sebuah rumah sakit saat masih bayi, keluarga angkatku merawatku dengan kasih sayang yang tulus sampai aku berusia sepuluh tahun. Namun saat mereka harus pindah ke luar negeri, aturan membuat aku tidak bisa ikut bersama mereka. Aku tinggal sementara di rumah kerabat jauh, dan di sana aku merasa seperti tamu yang keberatan. Aku merasa tidak punya tempat yang benar-benar milikku, jadi aku mulai tidak peduli pada apa pun termasuk sekolah” Ujar Dimas
“Setelah melewati masa di panti asuhan, aku akhirnya mendapat beasiswa di sini. Di sini aku belajar satu hal yang penting keluarga bukan selalu tentang darah, keluarga adalah orang-orang yang menanyakan kabarmu sebelum tidur, yang tertawa bersamamu saat kamu bahagia, dan yang tetap ada saat kamu merasa tak berharga. Dan siapa tahu, mungkin di masa depan, aku bisa membangun keluargaku sendiri yang utuh dan tidak terpisahkan." Lanjut Dimas
Air mata menetes di pipi Dimas, namun ia segera menyekanya sambil tersenyum malu.
"Maaf jadi sedih begini ya" Kata Dimas sambil terkawa pelan.
Zain menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih sudah percaya sama aku, selama ini aku merasa sendirian dengan masalahku. Ternyata kita semua sama punya luka, bukan ?" Ujar Zain
Rian menepuk bahunya pelan.
"Kita semua dikirim ke sini dengan alasan yang berbeda, Zain. Tapi mungkin tujuan kita sama untuk sembuh, dan untuk menyadari bahwa meski kita belum pulang ke rumah masing-masing, di sini kita sudah punya tempat untuk pulang" Ucap Rian
Malam itu hujan turun semakin deras di luar, namun di dalam kamar itu terasa lebih hangat dari biasanya. Mereka bukan lagi empat orang asing yang kebetulan menempati satu kamar, mereka adalah empat hati yang sedang berusaha sembuh bersama dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...