NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Balkon kecil itu menghadap taman belakang gedung, dan lampu-lampu hias yang digantung di pepohonan memberi cahaya kuning yang lembut. Musik dari ballroom terdengar teredam di balik pintu kaca, bercampur dengan tawa orang yang sedang bercakap-cakap. Elang menurunkan tangannya dari pagar dan berbalik sepenuhnya menghadap Intan.

"Sesuatu yang kubutuhkan," ulangnya tanpa nada. "Kau tidak tahu apa yang kubutuhkan."

"Mungkin tidak." Intan menutup pintu balkon di belakangnya dengan hati-hati, lalu berdiri dengan kedua tangan di depan tubuh. Gaunnya sederhana, dan wajahnya lebih pucat dari yang Elang ingat. "Tapi aku tahu apa yang Ray tidak mau kau temukan."

Ia membuka tas kecil di tangannya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tipis. Tangannya sempat gemetar sebelum ia mengulurkannya. Elang memperhatikan amplop itu tanpa mengambilnya.

"Itu salinan perjanjian antara Ray dan Karang Dasa Mineral," kata Intan. "Bukan yang di tambang. Yang itu hanya laporan operasional. Ini kontrak pembagian dana, lengkap dengan tanda tangan ayahnya dan dua saksi."

"Dari mana kau mendapatkannya?"

"Ray menyimpannya di laci ruang kerjanya. Dia tidak mengira aku pernah membukanya." Intan tersenyum samar tanpa gembira. "Selama tiga bulan aku diam-diam memotret halaman demi halaman. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya waktu itu. Mungkin karena aku merasa suatu hari akan butuh."

Elang mengambil amplop itu dan membukanya dengan satu tangan. Di dalamnya ada sepuluh lembar foto yang dicetak, tulisannya miring tetapi masih terbaca jelas. Ia membaca dua halaman pertama dengan tenang. Nama yang tertera di sana sama dengan yang ia temukan di tambang, tetapi kali ini lengkap dengan angka dan tanggal yang menghubungkan semuanya.

"Kenapa kau memberikannya padaku?" tanyanya, tanpa mengangkat kepala.

Intan menarik napas panjang. "Karena aku tidak ingin menjadi bagian dari ini lagi."

Elang menatapnya. Tatapannya datar, bukan marah dan bukan iba.

"Kau mencium Ray di taman," katanya. "Kau berkata di depan semua orang bahwa kau mencintainya. Aku masih ingat bunyi kalimatnya."

"Aku tahu." Wajah Intan tidak berubah, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. "Dan itu bohong, Elang. Atau setidaknya sebagian."

"Sebagian."

"Ayahku berutang pada Nugroho Corp sejak empat tahun lalu." Suara Intan terdengar tipis dan stabil, seperti seseorang yang sudah berlatih mengucapkan kalimat itu berkali-kali di depan cermin. "Utangnya bukan yang bisa dilunasi dengan menjual rumah. Ray yang menawarkan penundaan, dan syaratnya tidak pernah ia sebut langsung. Aku yang mengerti sendiri. Aku mendekatinya karena aku tidak punya pilihan lain."

Elang tidak menjawab. Angin malam bergerak pelan di antara pepohonan, dan salah satu lampu hias berkedip di dahan paling dekat.

"Aku tidak minta kau memaafkanku," lanjut Intan. "Aku hanya ingin kau tahu. Dan aku ingin sesuatu dari tindakan ini menjadi benar."

Elang melipat kembali foto-foto itu dan memasukkannya ke saku dalam jasnya. Ia berdiri diam beberapa saat, kemudian berbicara dengan nada yang tenang dan tanpa celah.

"Terima kasih atas dokumennya," katanya. "Itu berguna."

Intan menunggu. Ketika Elang tidak melanjutkan, bahunya turun sedikit. "Itu saja?"

"Aku tidak punya dendam khusus padamu, Intan." Elang menatap lurus ke wajahnya. "Aku sudah menutup bab itu sejak malam aku keluar dari rumah Nugroho. Tapi aku juga tidak punya ruang untukmu. Kau tidak akan menemukan kemarahan di sini, dan kau juga tidak akan menemukan maaf."

Kalimat itu tidak diucapkan dengan kejam. Justru karena itu, Intan menunduk lebih dalam dari yang ia inginkan. Ia mengangguk perlahan, menyeka sudut matanya dengan punggung tangan, dan mengatur napas.

"Itu lebih jujur dari yang kuharapkan," katanya.

"Aku memang tidak pernah pandai berbohong."

Intan tersenyum samar, dan untuk pertama kalinya malam itu ia tampak lebih tenang. Ia berbalik menuju pintu balkon. Tangannya sudah menyentuh gagang ketika Elang berbicara lagi.

"Intan."

"Ya?"

"Kalau Ray tahu kau memberiku ini, kau tidak akan aman." Elang menatap pagar balkon, bukan wajahnya. "Aku tidak bisa menjamin apa pun. Tapi aku akan memastikan namamu tidak muncul."

Intan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali, membuka pintu, dan masuk kembali ke ballroom dengan langkah pelan. Pintu kaca menutup di belakangnya, dan musik terdengar sedikit lebih jelas lalu teredam lagi.

Elang berdiri sendirian di balkon, kedua tangan di saku.

Lalu tengkuknya berdenyut.

Insting Dewa menyala tanpa peringatan, seperti air dingin yang dituang ke punggungnya. Rasanya lebih tajam dan lebih berat daripada yang ia rasakan di tambang. Ia mendongak ke arah lantai atas gedung, tempat balkon besar menghadap ballroom dari ketinggian, dan di sana, di balik tirai tebal yang bergoyang pelan, ada seseorang yang sedang mengarahkan sesuatu ke bawah.

Elang tidak menunggu lagi. Ia sudah bergerak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!