NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Di dalam taksi yang melaju kencang membelah kemacetan sore menuju DeGla Cafe, Gladys memeluk dirinya sendiri.

Air matanya pecah, mengalir deras membasahi pipinya yang memerah.

Tangannya yang gemetar menutupi mulutnya agar suara tangis sesenggukan itu tidak terdengar oleh pengemudi taksi.

Ya Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? batin Gladys menjerit pilu.

Rasa penyesalan dan kehampaan luar biasa menghantam dadanya tanpa ampun.

Seharusnya pagi tadi aku tidak membalas ciuman Praduta.

Seharusnya aku tidak pernah membiarkan pria itu masuk lebih jauh ke dalam hidupku.

Setengah jam kemudian, taksi yang ditumpanginya akhirnya berhenti di area parkir DeGla Cafe.

Gladys buru-buru menyapu air matanya, merapikan rambutnya yang agak berantakan, dan mencoba mengendalikan napasnya agar tampak wajar.

Namun, begitu ia keluar dari mobil, tubuh Gladys seketika membeku.

Di sana, di dekat pintu masuk kafe, Raka sudah berdiri menunggunya dengan jas yang terpasang rapi dan raut wajah cemas.

Pria itu langsung melangkah mendekat saat melihat Gladys turun dari taksi.

"Dari mana, Gladys?" tanya Raka pelan, matanya menatap tajam namun sarat akan kebingungan melihat raut sembap di wajah istrinya.

Gladys menelan ludah susah payah, menghindari kontak mata langsung dengan suaminya. Pikirannya mendadak kacau mencari alasan.

"A-aku, baru saja dari apotek, Mas," alibi Gladys terbata-bata, suaranya terdengar bergetar hebat.

Raka mengerutkan keningnya, melirik taksi yang baru saja berlalu meninggalkan area kafe, lalu kembali menatap Gladys dengan tatapan penuh selidik.

"Apotek?" ulang Raka penuh tanya.

"Bukankah di seberang kafe ini ada apotek yang sangat dekat? Kenapa kamu harus pergi sejauh itu sampai naik taksi?"

Tubuh Gladys langsung menegang kaku mendengar pertanyaan beruntun dari Raka.

Pertanyaan sederhana itu terasa seperti jerat tali yang semakin mengikat lehernya.

Otaknya berputar panik, mencari-cari alasan logis untuk menutupi kebohongan besar yang baru saja ia ucapkan.

"Obat yang aku cari tidak ada di apotek seberang, Mas. Apotek itu bilang stoknya kosong, jadi aku harus cari ke cabang yang agak jauh," jawab Gladys terbata-bata, mencoba menatap lurus ke mata suaminya meski dadanya bergemuruh hebat karena takut ketahuan.

Raka terdiam sesaat. Ia mengamati gerak-gerik Gladys yang terlihat gelisah, raut wajahnya yang pucat, serta sisa-sisa sembap di sekitar matanya.

Sebagai pria yang terbiasa membaca situasi dan gelagat orang di dunia bisnis, Raka tentu bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya.

Namun, melihat betapa kacaunya kondisi Gladys saat ini, Raka memilih untuk menahan diri.

Ia tidak ingin mendesak Gladys dan membuat tembok di antara mereka semakin tinggi.

Raka mengembuskan napas perlahan, lalu mengulurkan tangannya untuk menyelipkan beberapa helai rambut Gladys yang berantakan ke belakang telinganya dengan lembut.

"Kamu sakit, Gladys? Kalau tidak enak badan, kenapa tidak bilang dari tadi? Kita bisa langsung pulang ke rumah dan istirahat," ucap Raka dengan nada suara yang sarat akan kekhawatiran tulus, sama sekali tidak menunjukkan kemarahan.

Perlakuan lembut itu justru membuat hati Gladys semakin dicabik-cabik oleh rasa bersalah yang teramat sangat.

Di satu sisi, Raka berusaha memperlakukannya dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Namun di sisi lain, tubuhnya baru saja hampir menyerah pada pelukan pria lain—pada pelukan Praduta.

"A-aku tidak apa-apa, Mas. Cuma pusing sedikit," cicit Gladys pelan, menundukkan pandangannya, tidak sanggup berlama-lama menatap sorot mata suaminya yang penuh cinta.

"Ya sudah, kalau begitu kita langsung pulang sekarang. Jangan paksakan diri untuk bekerja seharian penuh kalau badanmu tidak fit," ucap Raka sambil merangkul pelan bahu istrinya, membimbing Gladys menuju mobil sedannya yang terparkir tidak jauh dari sana.

Gladys membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam mobil. Namun, sebelum pria itu ikut masuk ke kursi pengemudi, Raka mendadak menghentikan langkahnya.

"Sebentar, aku ke Kirana dulu," ujar Raka.

"Mau apa, Mas?" tanya Gladys heran dari balik kaca mobil.

Raka tidak menjawab dan melangkah kembali ke dalam kafe menghampiri Kirana.

Ia memberikan instruksi tegas namun tenang kepada staf muda itu untuk segera mencari dua orang karyawan baru guna meringankan beban kerja istrinya di kafe.

Kirana menganggukkan kepalanya cepat, merasa takjub sekaligus segan atas perhatian tak biasa yang ditunjukkan bos besar itu.

Setelah berpamitan singkat pada Kirana, Raka kembali keluar dan masuk ke dalam mobil sedannya, lalu segera menyalakan mesin untuk meluncur menuju kediaman Devandra.

"Aku tadi minta Kirana untuk mencari dua karyawan lagi. Agar kamu tidak kelelahan mengurus semuanya sendirian," ucap Raka sewaktu mobil mulai melaju di jalanan sore.

Gladys hanya menganggukkan kepalanya kaku, menelan rasa sesak di tenggorokannya tanpa mampu melontarkan ucapan terima kasih.

Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman Devandra, pikiran Gladys terus berkecamuk hebat, terjebak di antara bayangan hitam Praduta yang menuntut pengakuan dan kebaikan tulus Raka yang terasa begitu berat untuk ia khianati.

Tak lama kemudian, Raka menghentikan laju mobilnya di tepi jalan, tepat di depan sebuah warung sate yang cukup terkenal ramai dan harum mengepul di udara sore.

"Kita cari makan malam dulu ya. Kamu duduk di mobil saja, biar aku yang memesankan," kata Raka penuh pengertian.

Raka keluar dari mobil dan menghampiri gerobak sate, memesan beberapa porsi sate ayam dan sate kambing lengkap dengan lontong serta dua cangkir teh manis hangat.

"Saya tunggu di mobil ya, Bang," ucap Raka kepada penjual sate sembari menunggu pesanannya disiapkan, sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kabin mobil untuk menemani istrinya yang termenung sunyi.

Raka menutup pintu mobil dengan pelan. Keheningan dalam kabin terasa kian pekat, dinaungi remang cahaya lampu jalanan yang mulai menyala di luar.

Pria itu terdiam sejenak, kedua tangannya memegang kemudi sebelum akhirnya ia menghembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa ego dan gengsi yang selama ini membelenggunya.

Raka memutar tubuhnya sedikit, menatap wajah Gladys dengan sorot mata yang jujur dan seraut penyesalan yang mendalam.

"Gladys, aku minta maaf soal perkataanku di malam pernikahan kita," ucap Raka lirih, suaranya sarat akan kerapuhan yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun sebelumnya.

"Tidak seharusnya aku bersikap seburuk dan sekejam itu padamu."

Gladys terpaku, tangannya di atas pangkuan meremas kain roknya dengan kencang.

Ia tidak menyangka Raka akan mengungkit kembali luka lama yang menjadi awal muasal kehancuran hati dan benteng pertahanannya.

"Kamu boleh meminta berpisah seperti katamu tadi pagi, Gladys. Atau memberi kesempatan kedua pada pernikahan ini," lanjut Raka dengan nada pasrah namun penuh ketulusan.

"Aku akan setuju dan menerima apa pun keputusanmu."

Deg!

Kata-kata itu menghujam tepat di dada Gladys. Ia menoleh perlahan ke arah suaminya, menatap manik mata Raka yang menampakkan kesungguhan tanpa kepalsuan.

Di saat Raka memberikan kebebasan mutlak dan kepasrahan atas takdir pernikahan mereka, hati Gladys justru makin tercabik-cabik oleh bayangan dosa kepalsuannya bersama Praduta sore tadi.

Belum sempat bibir Gladys terbuka untuk menguntai kata, suara ketukan pelan di kaca jendela mobil memecah ketegangan yang membeku di antara mereka.

Tok! Tok! Tok!

"Ini pesanan Anda, Pak," ucap penjual sate ramah dari luar jendela sambil menyodorkan bungkusan plastik berisi sate, lontong, dan dua poci teh hangat.

Raka menerima bungkusan sate tersebut, memberikan uang pembayaran, lalu menutup kembali kaca jendela mobil.

Aroma gurih bumbu kacang dan asap bakaran sate yang khas seketika memenuhi kabin mobil yang hangat.

Raka membuka salah satu bungkusan dengan cermat, mengambil satu tusuk sate ayam yang masih mengepul, lalu mengarahkannya ke depan bibir Gladys dengan gerakan yang sangat hati-hati.

"Makanlah sedikit," bisik Raka lembut.

Gladys menatap tusukan sate itu, lalu beralih menatap Raka.

Ada canggung yang menyeruak, namun perlahan Gladys membuka mulutnya dan menerima suapan tersebut.

Raka tersenyum tipis, merapikan bungkusan di pangkuannya sembari mengusap sudut bibirnya sendiri dengan canggung.

"Maaf ya, aku masih sedikit kaku," ucap Raka jujur, menyadari betapa janggalnya ia memerankan sosok suami yang penuh perhatian setelah sekian lama bersikap dingin.

Melihat ekspresi serba salah di wajah Raka yang biasanya selalu angkuh dan kaku, sudut bibir Gladys yang tadinya tegang perlahan terangkat..

Tanpa diduga, Gladys mencelupkan jemarinya ke sisa bumbu kacang di bungkusan, lalu dengan cepat mengoleskannya tepat di pipi kanan Raka.

Raka tersentak kaget, matanya membelalak menatap istrinya.

"Gladys?"

Tawa Gladys yang sudah lama tenggelam mendadak pecah.

Suara tawa renyah itu memenuhi kabin mobil, membuat Raka yang awalnya tertegun ikut terkekeh melihat kepuasan di wajah istrinya.

Kebekuan dan ketegangan yang melapisi mereka sepanjang hari itu seolah mencair begitu saja dalam momen sederhana tersebut.

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, saling melempar pandang tanpa beban untuk pertama kalinya.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!