NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:277.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 23

PLAK!

Bukan Papa Bagas, bukan pula Aidil. Kali ini Mama Hana yang bangkit dari lantai dan mendaratkan tamparan keras ke wajah Stela. Sudut bibir Stela tersungkur menghantam lemari.

"Jaga mulutmu, iblis!" raung Mama Hana dengan suara yang melengking pecah.

"Kamu sudah merusak hidup anakku, kamu mengotori rumah ini, dan sekarang kamu masih berani menghina Zivana?! Kamu bukan manusia, Stela!"

Stela memegangi pipinya yang panas, membelalakkan mata tak percaya. "Tante menampar saya?! Demi wanita asing ini?!"

"Dia bukan wanita asing! Dia putriku! Dia ibu dari cucu-cucuku!" bentak Mama Hana Histeris.

"Sedangkan kamu... kamu cuma sampah yang tak tahu diri!"

Stela menggeram murka. Ia menoleh pada Aidil yang masih berlutut membeku.

"Aidil! Lihat ibumu! Kenapa kau diam saja?! Usir mereka! Ini rumahmu! Usir wanita kampungan ini dan orang tuamu!"

"DIAM, STELA!"

Sebuah teriakan yang sangat keras akhirnya keluar dari tenggorokan Aidil. Suaranya bergema begitu dalam, penuh dengan keputusasaan, kemurkaan, dan rasa jijik yang luar biasa pada dirinya sendiri dan pada Stela. Aidil mendongak, matanya merah menyala menatap Stela.

"Cukup... Cukup, Stela! Aku membencimu... Demi Allah, aku sangat membencimu!"

Stela tertawa sumbang, matanya menyipit sinis. "Membenciku? Setelah apa yang kita lakukan barusan? Setelah semua desahanmu menyebut namaku?! Kau tidak bisa membenciku, Aidil. Kau ketagihan padaku!"

"AKU CUMA TERPEDAYA IBLIS SEPERTIMU!" amuk Aidil. Pria itu bangkit berdiri, meraih baju di lantai dengan tangan gemetar, lalu menunjuk ke arah pintu luar.

"Keluar kau dari rumahku! KELUAR! Jangan pernah menampakkan mukamu di depanku atau anak-anakku lagi!"

"Kau mengusirku?!" Stela tertawa semakin keras, suara tawa gila yang mengerikan.

"Kau pikir setelah kau mencampakkan Zivana dan menghancurkan keluargamu, kau bisa membuangku begitu saja? Kau sudah masuk ke perangkapku, Aidil! Kau milikku!"

"AKU BILANG KELUAR!"

Aidil meraih lengan Stela dengan kasar, menyeret wanita itu keluar dari kamar utama menuju koridor tangga. Stela memberontak, mencakar lengan dan dada Aidil hingga berdarah, namun Aidil yang diliputi kemurkaan puncak tak merasakan sakit sedikit pun. Ia mendorong Stela hingga wanita itu jatuh terduduk di anak tangga atas.

"Pergi..." bisik Aidil parau dengan dada naik turun.

"Sebelum aku hilang kendali dan membunuhmu..."

Stela menatap Aidil dengan napas memburu, merapikan gaunnya yang kusut. Matanya beralih menatap Zivana yang berdiri tenang di ambang pintu kamar, lalu pada Papa Bagas dan Mama Hana.

"Kalian akan menyesal!" racau Stela seraya bangkit berdiri, menyapu air mata kemarahannya.

"Kalian semua akan merangkak padaku! Aidil, kau akan mohon-mohon agar aku kembali padamu saat perusahaanmu hancur!"

Stela meludah ke lantai marmer, lalu berlari menuruni tangga dengan hentakan kaki yang kasar. Suara pintu depan yang didobrak dan deru mesin mobil yang dipacu kencang menandai kepergian wanita itu dari rumah.

Keheningan kembali melingkupi koridor lantai atas.

Aidil berdiri gemetar, menyandarkan dahi ke dinding dingin, meraung menahan rasa sakit di dadanya. Pria itu perlahan berbalik, melangkah terhuyung-huyung mendekati Zivana yang sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.

"Ziva..." Aidil berlutut kembali di depan Zivana, menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

"Wanita itu sudah pergi... Dia sudah pergi, Ziva... Aku mohon..."

Zivana menatap Aidil dari ketinggian posisinya. Tatapan mata Zivana begitu jernih, begitu dingin, tanpa ada sisa rasa benci maupun cinta.

"Talak aku sekarang, Mas," bisik Zivana pelan.

"Ini kesempatan terakhirmu untuk menyisakan sedikit saja harga dirimu di hadapan anak-anak dan orang tuamu."

Aidil menatap Zivana dengan mata berkaca-kaca, dadanya serasa dihantam ribuan jarum. Ia melihat ke arah Papa Bagas yang menatapnya dengan pandangan mengancam, dan Mama Hana yang memalingkan wajah tak sudi melihatnya.

Aidil tahu, tidak ada lagi jalan pulang. Rumah tangganya yang hangat, kehidupannya yang sempurna bersama Zivana dan anak-anak, telah hancur berkeping-keping akibat kebodohannya sendiri.

Dengan bibir yang bergetar hebat dan napas yang tertahan di tenggorokan, Aidil akhirnya membuka mulutnya.

"Aaku..." Air mata Aidil menetes deras membasahi tangannya. "Aku... menjatuhkan... talak satu padamu, Zivana..."

Kalimat itu terucap. Sebuah kalimat pendek yang meruntuhkan ikatan pernikahan mereka selamanya.

Zivana menghembuskan napas panjang. Sebuah beban berat yang menghimpit dadanya selama sebulan terakhir mendadak terangkat. Ia memejamkan mata sejenak, meresapi rasa lega yang menyusup ke dalam jiwanya.

"Terima kasih, Mas Aidil, aku terima talakmu, sekarang segala yang ada padaku sudah haram untukmu. Semoga setelah ini kamu bahagia bersama dengan Stela, wania yang kamu cintai." ucap Zivana tenang dan teramat anggun.

Aidil masih bersimpuh di lantai dengan segala penyesalannya yang sudah terlambat. Sedangkan Zivana yang hatinya sudah terlampau sakit juga karena dia sudah mati rasa kepada Aidil membalikkan badan ke arah kedua orang mertuanya yang menangis.

"Mama, papa... Maafkan Zivana tak bisa mengurus Khiasar dan Amora sampai mereka dewasa dan menjadi anak-anak yang sukses. Ziva mohon maaf jika selama menjadi menantu banyak sekali kesalahan dan kekurangan yang sudah Ziva lakukan,"

"Tidak nak... Justru kamu sudah menjadi istri, menantu dan ibu yang luar biasa untuk kami semua. Hanya saja anak kami yang tak pernah bersyukur dan buta dengan iblis betina itu. Biarkan dia menyesal dan kembali kepada iblis itu, agar kembali merasakan sakitnya hati kamu. Mama benar-benar kecewa dan tak tahu harus berkata apa," Mama Hana menangis sambil memeluk Zivana.

"Papa, apa boleh Ziva memohon satu permohonan terakhir?"

"Apa nak?"

Tolong bantu urus perceraian Ziva dengan Mas Aidil," ucap Zivana tegas.

Papa Bagas mengusap air matanya dengan kasar. Tatapan matanya yang tajam sempat melirik sinis ke arah Aidil yang masih terisak meratapi kebodohannya di lantai, sebelum akhirnya beralih mengusap lembut kepala Zivana.

"Tanpa kamu minta pun, Papa sendiri yang akan mengurus semuanya sampai tuntas, Ziva," kata Papa Bagas dengan suara berat dan berwibawa, meski menyisakan getaran kekecewaan mendalam.

"Papa akan siapkan pengacara terbaik besok pagi. Kamu tidak perlu bertatap muka lagi dengan laki-laki tidak tahu diri ini di pengadilan nanti."

"Terima kasih, Pa," sahut Zivana pelan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang bebas dari rasa amarah, namun dipenuhi ketegasan yang mutlak.

"Ziva... tidak..." Aidil merangkak mendekati kaki Zivana, mencoba meraih ujung gaun wanita itu.

"Jangan lakukan ini, Ziva! Jangan bawa pengacara... Kita bisa bicara baik-baik, aku mohon! Aku khilaf, Ziva! Aku dijebak Stela!"

"CUKUP, AIDIL!" bentak Papa Bagas seraya berdiri pasang badan memblokir jalan anak kandungnya sendiri.

1
Dewa Nara
kok sutet Thor, sutil kali 🤭🤭🤭
Mety Haula
padahalnga usah diundang dtang jeperkumpulan krluarga udah aja yg fiundang itu anaknya kakek subroto aja nga usah dua2nyaduduhdayangkangdaj betcerai ini
Mety Haula
aah ziva kenapa fiterima talak dayu bukan srkalian talak 3 aja jadi bebas cari pasangan kalau talak satu dgn ucap rujuk bisa bslik lg
Desifa Juni Raya
laki² pengecut aidil ni
Mursidahamien
Stela itu hamil anak org lain dan Aidil bodoh yg diminta pertanggung jawaban
Dewi Yanti
bukannha orag tua aidil udh janji sm zivana kalo mereka yg akan mengurus langsung cucu" nya.. tp ko malah di biarin tinggal di rmh aidil sih
Dewi 1234
Aidil laki2banciii
PNC
bisa ngurus perceraian anaknya pake pengacara
masak ngerebut hak cucunya dr ibu gila ga bisa

aneh kakek neneknya ini
PNC
kok nganu ya
si kakek ma neneknya kok ga itu
PNC
kok ga kepikiran utk diselidiki ya
tinggal jjr Ama orangtuanya klo dia diancam dan mohon bantuan Ama orangtuanya utk cari jalan keluar
si Bapak jg kok diam aza ga dibuka kedok si perempuan iblisnya
Rina Arie
good
Dewi 1234
anak2pintar...👍
Ma Em
Akhirnya cerita Zivana berakhir juga dgn happy ending bahagia bersama Melvin yg sangat mencintai dan menyayangi Zivana , terima kasih Thor semoga othor selalu sehat bahagia dan sukses dgn karya karyanya 🤲🤲.
nely_48
hapy ending, terimakasih atas cerita novel mu kk outhor
sukses untuk semua cerita² novel baru mu yg lain nya kk outhor favorit ku 🥰🥰🥰🥰🥰
nely_48
semangat berbenah para hama n membukanlahan baru ya Melvin n zivana
Yul Kin
terimakasih kak, sukses terus ya😍💪
Fitria Syafei
kk cantik terimakasih 😍 terimakasih 😍 sukses yaa 😘
Yam_zhie: kak 😘
total 1 replies
Sri Angga
sebagai pasangan ,sebagai tim yg solid.💪👍
Yam_zhie: betul akk 💃
total 1 replies
nely_48
kata nya s Siska bukan ibu kandung Melvin
Fitria Syafei
wow Marvin kereen 👌 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!