Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Nama Baru di Daftar Nama Kontak — Part 2
Arka mematung selama beberapa detik.
Bukan karena ia keberatan. Sama sekali bukan. Ia hanya sedikit shock karena omong kosong Rendy di kelas tadi sepuluh menit yang lalu kini benar-benar menjadi kenyataan.
Alya yang salah mengartikan diamnya Arka buru-buru menambahkan. "Kalau kamu ngerasa keganggu atau nggak nyaman, nggak apa-apa kok. Anggap aja—"
"Enggak."
Arka memotong ucapan itu dengan cepat. Ia merogoh saku jeans-nya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.
"Boleh. Berapa nomor kamu? Biar saya misscall."
Alya mengembuskan napas lega dan tersenyum cerah. Ia segera menyebutkan dua belas digit nomor telepon pribadinya.
Arka mengetikkannya dengan cepat, lalu menekan tombol panggil.
Ponsel di tangan Alya bergetar. Layarnya menyala menampilkan sederet nomor baru yang belum dikenal.
"Udah masuk," kata Arka.
Alya menatap layar ponselnya, langsung menekan opsi 'Save Contact'. Jarinya melayang di atas keyboard virtual selama beberapa saat.
"Saya simpan dengan nama apa?" tanya Alya.
Arka mengangkat bahu cuek. "Tulis 'Arka' saja."
"Cuma 'Arka'?"
"Iya. Mau apa lagi?"
Alya mengetuk dagunya pura-pura berpikir serius. "Gimana kalau 'Arka Kampus'?"
"Kesan kerjanya saya jadi satpam kampus. Jangan."
"'Arka Mahasiswa'?"
"Lebih jangan."
Alya tertawa lepas. "Baiklah."
Ia mengetik sesuatu dengan cepat, kemudian membalikkan layar ponselnya agar Arka bisa melihatnya.
Arka Pratama.
Arka mengangguk puas. "Sudah cukup. Sangat normal."
Kemudian Arka beralih mengetik di ponselnya sendiri. Alya yang mendadak diserang rasa ingin tahu mencondongkan badannya sedikit.
"Kamu simpan nama saya apa?"
Arka membalik layarnya tanpa ragu.
Alya Renata.
Tidak ada tanda bintang favorit. Tidak ada emotikon. Tidak ada embel-embel "Artis" atau "Bintang Film". Hanya dua kata itu.
Alya menatap layar tersebut selama beberapa detik. "Kamu enggak tambahin tulisan 'Alya Artis' atau apa gitu?"
Arka mengernyitkan dahi. "Buat apa nambahin kerjaan ngetik? Lagian nama kamu emang Alya Renata, kan?"
Alya tersenyum simpul. "Iya, sih."
Ia kembali menatap layar ponselnya sendiri. Nama Arka Pratama terpampang di daftar kontaknya.
Entah kenapa, nama itu terlihat sangat kontras dan istimewa dibandingkan deretan nama sutradara, produser, dan sesama artis di daftar ponselnya. Tidak ada jabatan yang menempel. Tidak ada embel-embel pekerjaan. Tidak ada label bisnis.
Hanya nama seorang mahasiswa. Seseorang yang mengenalnya sebelum ia dituntut untuk mengenakan topeng kesempurnaan.
Alya memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Terima kasih nomornya, Arka."
"Sama-sama."
"Kalau tiba-tiba saya chat nanya soal kopi, jangan kaget ya."
Arka membalas dengan santai. "Memangnya saya harus kaget kenapa? Paling juga isinya nanya menu."
Alya tersenyum lebar.
Mereka berdiri canggung selama beberapa detik. Skenario bertukar nomor sudah selesai, namun perpisahan selalu terasa canggung.
"Sepertinya saya harus balik ke mobil sekarang," ucap Alya akhirnya.
Arka mengangguk pelan. "Semoga proyek film terbarunya sukses di pasaran."
"Amin. Terima kasih."
Alya mulai berbalik dan melangkah pergi.
Namun baru lima langkah menjauh, ia berhenti dan menoleh lewat bahunya.
"Arka."
"Ya?"
"Kalau kamu nanti malam jadi nonton film saya..."
Arka mengangkat alis, menunggu kelanjutannya.
"Tolong kasih tahu pendapat jujurmu ya ke nomor tadi."
Arka tersenyum usil. "Beneran minta yang jujur?"
"Iya, jujur."
"Kalau filmnya ternyata jelek menurut saya?"
Alya tertawa pelan. "Kalau jelek... ya jangan terlalu jujur-jujur amat."
Arka ikut tertawa. "Oke, siap."
Alya membalas senyumnya sekali lagi, lalu benar-benar melangkah pergi menembus lorong kampus menuju tempat penjemputannya.
Kali ini, Arka tidak langsung berbalik mencari kantin. Ia berdiri bersandar di pilar, membuka kunci layar ponselnya, dan menatap satu nama yang baru saja ditambahkan di aplikasi kontaknya.
Alya Renata.
Arka mengunci layar ponselnya, lalu tersenyum sangat tipis.
"Teman baru."
Sesederhana itu, setidaknya dari sudut pandangnya.
Di luar gedung, Alya masuk ke dalam kabin MPV hitamnya. Ia duduk santai di kursi belakang, menyilangkan kaki, lalu kembali menghidupkan layar ponselnya.
Halaman profil kontak Arka Pratama masih terbuka. Alya menatap nama itu sambil tersenyum kecil tanpa sadar.
Asistennya yang duduk di kursi depan mengamatinya melalui kaca spion tengah dengan pandangan menyelidik.
"Kak Alya?"
"Hm?" Alya merespons ringan.
"Kelihatannya lagi seneng banget? Habis dapet kabar bagus?"
Alya sedikit tersentak dari lamunannya. "Eh? Kenapa tanya begitu?"
"Enggak tahu. Aura Kak Alya kelihatannya jauh lebih santai dibanding pagi tadi pas mau mulai take."
Alya memalingkan wajah, melihat keluar jendela.
Mungkin asistennya benar. Hari ini secara fisik sangat menguras energi. Jadwal padat, banyak revisi take, tekanan konstan. Tapi anehnya, beban di hatinya tidak terasa seberat hari-hari syuting biasanya.
Ia melirik layar ponselnya lagi. Ruang obrolan dengan Arka masih kosong melompong. Belum ada satu pun balon teks di sana.
Alya buru-buru mematikan layar dan memasukkannya ke tas.
"Enggak ada apa-apa kok," kilahnya pelan.
Mobil produksi itu mulai bergerak lambat membelah jalanan kampus, mengantarkan Alya menjauh dari Universitas Bina Bangsa, meninggalkan lokasi yang selama beberapa hari terakhir tanpa sadar menjadi begitu berkesan baginya.
Namun baru lima menit mobil itu melaju, ponsel di dalam tas Alya bergetar pelan.
Satu notifikasi pesan masuk.
Alya segera merogoh tasnya. Matanya membulat saat membaca nama pengirimnya.
Dari Arka.
Alya buru-buru menggeser layarnya.
Arka: Payungnya udah selamat mendarat di tas saya. Makasih udah repot-repot mampir ngembaliin ke kampus.
Alya membaca pesan singkat itu, lalu tertawa kecil membacanya. Jemarinya dengan cepat mengetikkan balasan.
Alya: Harusnya saya yang bilang makasih karena kemarin udah dipinjemin.
Beberapa detik kemudian, tanda "typing..." muncul, disusul balasan singkat dari pria itu.
Arka: Kalau gitu kita impas.
Alya menatap layar ponselnya cukup lama. Senyumnya perlahan mengembang.
Entah kenapa, percakapan sesingkat dan sereceh itu sukses membuat perjalanan pulangnya yang macet terasa jauh lebih menyenangkan.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Alya menyadari satu hal yang menghangatkan dadanya.
Sekarang ada satu nama di buku kontaknya yang bisa ia hubungi kapan saja.
Bukan sebagai rekan bisnis. Bukan sebagai sutradara. Bukan sebagai penggemar. Bukan pula sebagai orang dalam industri hiburan.
Hanya... Arka. Seseorang yang mengenalnya sebagai wanita biasa.
Sementara itu, di kampus yang mulai sepi, Arka berjalan santai dengan tangan di saku menuju kantin fakultas, bersiap menghadapi interogasi dari Rendy.
Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa sejak siang itu, poros hubungan mereka telah bergeser.
Mungkin tidak besar. Mungkin tidak dramatis.
Hanya sekadar sebuah nomor yang saling tersimpan.
Namun sejarah selalu membuktikan, bahwa sesuatu yang besar dan mengubah hidup, sering kali memang selalu diawali dari satu langkah yang sangat sederhana.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!