Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Part 11
"Cio, kita pergi saja dari sini," pinta Amanda memohon yang lagi-lagi ditanggapi tatapan tak percaya oleh Cio yang belum sepenuhnya mengerti kenapa Amanda masih bersikap lemah setelah apa yang sudah terjadi di antara mereka.
"Aku tidak mau." Cio menolak marah, tatapannya masih menyulutkan api kemarahan akan Farel yang berani-beraninya bersikap pengecut dengan menyerangnya di saat lengah.
"CIO," teriak Alex dari arah kejauhan, yang baru datang dan melihat keramaian orang-orang.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya khawatir setelah berada di hadapan temannya itu.
"Alex, tolong kita bawa saja Cio dari sini, aku tidak mau melihat mereka bertengkar dan membuat kegaduhan di kampus." Amanda menatap ke arah Alex dengan tatapan memohonnya. Meskipun tidak tahu apa yang sudah terjadi, yang Alex lakukan hanya mengangguk setuju, tanpa memperhatikan bagaimana Farel keheranan kenapa Alex bisa kenal dengan lelaki yang bersama Amanda. Jujur saja, Farel tidak terlalu memperhatikan temannya Alex kemarin, namun Alex sempat memanggilnya dengan sebutan Cio, mungkin lelaki yang baru ditinjunya itu adalah temannya Alex, pikir Farel mulai mengerti.
"Lepaskan aku! Akan aku hajar dia." Cio berteriak kesetanan namun Amanda dan Alex terus membawanya pergi dari sana, tanpa memperdulikan bagaimana orang-orang menatapnya. Begitupun dengan Vanessa yang sedari tadi hanya memperhatikan dengan penuh keanggunan, kini kakinya melangkah lalu merekuh lengan Farel dengan kasih sayang.
"Bagus, Sayang," ujarnya terdengar manis sembari tersenyum genit ke arah Farel yang mengangguk.
***
Di taman, Alex dan Amanda mengarahkan Cio untuk duduk di bangku besi bercat putih. Keduanya terlihat khawatir melihat bibir Cio yang membiru dengan sedikit darah di sana. Namun empunya justru masih terlihat marah, tanpa mau mempedulikan luka di bibirnya.
"Aku akan mengambil obat di ruang kesehatan." Amanda berpamitan cepat lalu berlari tanpa mau menunggu persetujuan mereka.
"Sebenarnya ada apa ini, Cio? Kenapa kamu membuat kegaduhan di kampus padahal kamu masih mahasiswa baru?" Alex bertanya tak percaya dengan apa yang dilakukan temannya itu.
"Tadinya aku masih bersikap tenang saat bertemu dengan lelaki yang sudah mempermalukan Amanda itu, tapi sikapnya dengan kekasihnya itu begitu menyebalkan, sampai aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menghajarnya. Aku menantangnya, tapi Amanda malah menghentikan aku. Dan kamu tahu apa yang selanjutnya terjadi?" Cio bertanya menggebu-gebu yang ditatap tanya oleh Alex.
"Dengan sikap pengecutnya itu, temanmu memukulku saat aku masih memperhatikan Amanda. Dasar bajingan, bagaimana mungkin dia bisa bersikap sepengecut itu? Aku benar-benar sangat membencinya."
"Aku akan berbicara dengan Farel, kamu tidak perlu repot-repot memikirkan hal ini. Untung saja masalah ini tidak terlalu membesar sampai didengar oleh Papamu, kalau beliau tahu masalah ini, aku sangat yakin, kamu tidak akan dibiarkan kembali ke tempat ini atau yang lebih buruknya lagi, Farel akan dikeluarkan dari kampus." Cio seketika terdiam setelah mendengar ucapan Alex yang ada dibenarnya.
"Aku yakin, Papamu tidak akan benar-benar melepasmu seperti ini. Beliau pasti masih menyuruh orang-orangnya untuk mengawasimu, jadi bersikaplah baik atau kamu akan dipaksa untuk kembali pulang!" ujar Alex lagi, yang lagi-lagi berhasil membuat Cio terdiam memikirkannya. Papanya adalah orang keras kepala dan memiliki temperamen yang tinggi, mana mungkin papanya akan membiarkan orang berani memukulnya, ya seharusnya ia bisa membaca hal itu, pikir Cio mulai frustrasi.
Tak lama, Amanda datang membawa obat di tangannya, meski tatapannya terlihat ragu melihat Alex dan Cio terdiam seolah tengah memikirkan sesuatu hal yang rumit.
"Kalian kenapa?"
"Tidak ada. Kamu obati saja luka Cio, aku mau pergi dulu ke suatu tempat." Alex menjawab tenang lalu pergi begitu saja, sedangkan Amanda hanya mengangguk samar meski ia sendiri tidak tahu apa yang sudah dibicarakan antara Alex dan Cio. Sampai saat Amanda sadar bila ia harus mengobati luka Cio, dengan cepat Amanda mendudukkan tubuhnya di samping lelaki itu dan memulai pengobatannya.
"Aku akan mengobatimu," ujar Amanda pelan dengan menunjukkan kapas yang sudah dicampuri alkohol.
"Terserah," jawab Cio tak acuh.
"Kamu marah?"
"Tidak tahu."
Amanda hanya bisa menghela nafasnya, lalu melakukan tugasnya untuk mengobati Cio. Di tengah acara membersihkan lukanya, lelaki itu justru terlihat biasa saja tanpa meringis kesakitan atau semacamnya. Membuat Amanda merasa penasaran dengan keadaan lelaki itu, merasa ingin tahu apa yang dilakukannya itu menyakitinya atau tidak, setidaknya Amanda akan lebih berhati-hati lagi saat mengobatinya.
"Apa ini tidak sakit?" tanyanya sembari terus membersihkan luka Cio yang masih membiru.
"Tidak akan sesakit saat kamu menghentikan aku hanya untuk melindungi lelaki itu." Cio menjawab datar tepatnya merasa sebal bila mengingat bagaimana dirinya ditonjok karena lengah.
"Aku minta maaf, aku hanya tidak mau membuatmu mendapatkan masalah hanya karena aku." Amanda menjawab lirih meski jari-jarinya masih mengobati luka Cio, di mana empunya terdiam dengan menatap ke arahnya.
"Kamu belum makan kan?" tanya Amanda sembari menempelkan plester kecil di samping bibir Cio, yang lagi-lagi ditanggapi kediaman oleh empunya.
"Di mana bekal yang tadi aku berikan untukmu?" Amanda kembali bertanya setelah mengobati luka Cio yang saat ini empunya masih terlihat cemberut.
"Di tas. Kenapa?"
"Kamu harus memakannya." Amanda mengambil tas Cio tanpa permisi lalu membukanya dan mengambil kotak makannya yang baru tadi pagi diberikannya.
"Ini, makanlah!" Cio terlihat kian cemberut seolah apa yang Amanda berikan tak membuatnya berminat.
"Suapi!"
"Yang terluka itu bibirmu, bukan tanganmu. Jadi, makanlah sendiri!" Amanda meletakkannya di atas paha Cio, tanpa mau menuruti keinginan konyol lelaki itu.
"He, aku terluka karena ingin membelamu."
"Aku tidak memintanya."
"Aku juga tidak akan melakukannya, kalau kamu bisa melawan mereka, bukan cuma diam saja dan menangis. Jadi, sekarang kamu harus menyuapiku, aku tidak mau tahu." Cio menyilangkan kedua lengannya tanpa mau mendengar ucapan apapun dari Amanda yang mungkin akan kian menolak keinginannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, gadis itu mengambil kotak bekal makanannya lalu membukanya dan menyiuapkannya ke Cio yang terdiam, merasa sedikit tidak percaya bila Amanda mau melakukannya.
"Buka mulutmu!" Dengan cengiran khasnya, Cio tersenyum lalu membuka mulutnya.
"Enak tidak?"
"Selalu enak, kamu memang cocok jadi calon istriku." Cio menjawab ngawur seperti biasa, membuat Amanda lelah bila harus mendengarnya lagi.
"Makan sendiri sana, aku mau pergi." Dengan kasar, Amanda memberikan bekal itu kembali ke Cio yang langsung dicengiri oleh lelaki itu.
"Bercanda kok, suapi lagi ya?" mohonnya yang sebenarnya membuat Amanda ingin menolaknya, namun bila mengingat apa yang sudah terjadi dengan Cio itu karena dirinya, rasanya juga tidak mungkin Amanda tega menolak.
"Iya," jawabnya malas dengan kembali menyuapi Cio yang kegirangan, tanpa menyadari bagaimana Amanda tersenyum sangat tipis di balik tundukkan wajahnya.