Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Meja makan hening dalam sekejap. Ibu Kaivan sangat syok. Wajahnya langsung pucat. Sementara, Ayah Kaivan terlihat semakin marah. Dia menghampiri putranya sekali lagi.
Dan...
Plak.
Plak.
Plak.
Tangan tuanya langsung memukul wajah putranya bolak-balik.
"Kau... Kau benar-benar anak yang durhaka, Kaivan! Berani-beraninya, kau mencoreng arang di wajah kami."
Wirya sangat marah. Wajahnya memerah. Rahangnya mengeras.
"Ayah, aku bisa jelaskan..." Kaivan mencoba membela diri.
Namun, pukulan lagi-lagi datang ke arahnya. Kali ini, bukan dari sang Ayah melainkan dari sang Ibu.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Diani memukuli Kaivan dengan penuh amarah. Memang tidak terlalu sakit, namun hati Kaivan terasa hancur saat melihat air mata sang Ibu.
Di salah satu kursi, Seraphina masih duduk diam tanpa reaksi. Dia membiarkan Kaivan dipukuli karena memang itu tujuannya.
Seraphina tak mau mengotori tangan sendiri. Maka, dia meminjam kedua tangan orangtua Kaivan untuk melakukannya.
Ternyata, tak sia-sia dirinya menjadi menantu yang penurut selama ini. Hasilnya cukup membuat Seraphina merasa puas.
"Apa kamu selingkuh, Kaivan? Ayo jawab!" desak Diani.
"Berani-beraninya kamu melakukan itu pada Seraphina. Kurang baik apa dia selama ini padamu, hah? Kurang baik apa?"
Diani mulai menangis. Dadanya terasa sesak. Tapi kedua tangannya masih kuat memukuli putranya.
"Dia sudah menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik. Dia merawatmu, menjagamu, memastikan rumahmu bersih dan perutmu kenyang. Dia juga memperlakukan Ayah dan Ibu seperti orangtuanya sendiri. Saat Ibu sakit, siapa yang datang merawat Ibu, hah? Apa anak-anak Ibu? Bukan, Kaivan.Tapi, Seraphina. Satu-satunya menantu perempuan Ibu."
Hati Kaivan teriris perih. Kata-kata sang Ibu mengingatkan dirinya tentang ketulusan Seraphina selama ini. Dalam hal menjalankan kewajiban sebagai istri dan menantu, Seraphina berhak mendapatkan predikat sempurna.
Tapi, cinta Kaivan terhadap Kalani juga terlalu dalam. Selama ini, dia sudah mengorbankan banyak hal termasuk hatinya hanya demi Kalani.
Kini kesempatan untuk memiliki cinta sejatinya sudah tiba. Tapi, kenapa Kaivan tidak sebahagia itu? Kenapa semakin dekat acara pernikahan, semakin hampa pula hati Kaivan?
"Ibu, cukup!"
Seraphina akhirnya menangkap tangan perempuan paruh baya itu. Matanya terlihat sendu namun tersembunyi kekuatan didalam sana.
"Sera, kenapa kamu baru bilang sekarang, Nak? Kenapa tidak bilang dari awal?" tanya Diani.
Seraphina tersenyum. Dia mengusap air mata Ibu mertuanya.
"Karena aku tahu... Ayah dan Ibu pasti tidak akan setuju jika kami bercerai."
Wirya mendengkus kasar. Amarahnya masih belum reda.
"Kau memang tidak pandai bersyukur, Kaivan. Sudah dapat perempuan sesempurna Seraphina tapi kamu masih saja berani selingkuh. Sebenarnya, apa yang ada di dalam otakmu itu, hah?"
"Ayah..." panggil Seraphina. "Jangan salahkan Kaivan. Dia hanya mengikuti kemana hatinya berada."
"Kalian masih bisa kembali."
"Tidak, Ayah," geleng Seraphina. "Tidak ada kata kembali," lanjutnya. "Mungkin, lebih baik seperti ini. Lebih baik kami berpisah daripada tetap bersama tapi saling menyiksa. Kaivan tidak pernah mencintaiku. Dan, selamanya akan begitu."
Ada yang terasa mengganjal di hati Kaivan saat Seraphina mengatakan hal itu. Mulutnya seolah ingin membantah namun suaranya tak ingin keluar.
"Jadi, sekarang kami harus bagaimana? Apa yang harus kami lakukan untuk menebus kesalahan anak kami?"
Seraphina kembali tersenyum. Dia menggenggam tangan Ibu mertuanya dengan erat.
"Tolong restui pernikahan Kaivan dengan wanita yang dicintainya."
"Apa maksudmu, Seraphina? Memangnya, siapa wanita itu?"
"Kakakku. Kalani."
Dan, pukulan kembali Kaivan dapatkan dari sang Ayah. Pria tua itu benar-benar murka.
"Sera, tolong aku!" pinta Kaivan.
Namun, Seraphina tampak tak peduli. Wanita itu bahkan tersenyum miring, mengejek Kaivan.
*********
"Terimakasih atas bantuan mu, Sera. Orangtuaku akhirnya bersedia merestui pernikahan ku dengan Kalani."
Kaivan sesekali meringis. Wajannya dibuat babak belur oleh sang Ayah.
"Kamu yakin bisa memenuhi persyaratan yang orangtuamu berikan?" tanya Seraphina.
"Ya, aku yakin," angguk Kaivan. "Aku dan Lani jelas-jelas saling mencintai. Tentu saja, pernikahan kami akan langgeng. Jangankan sepuluh tahun, seumur hidup pun, pernikahan kami akan terus bertahan."
Kaivan tersenyum kecil. Mencoba menghibur diri.
"Tapi, aku yang ragu," lirih Seraphina.
"Kamu bilang apa?" tanya Kaivan.
Seraphina menoleh kemudian menggeleng. "Tidak. Bukan apa-apa."
Perempuan itu membuang pandangan ke luar kaca jendela mobil. Diam-diam, dia tersenyum senang.
"Kalani, kamu pikir akan bahagia jika menikah dengan Kaivan? Kita lihat saja, sampai kapan kamu sanggup bertahan hanya dengan mengandalkan gaji Kaivan yang tak seberapa."
Ya, orangtua Kaivan membuat sebuah perjanjian dengan putra mereka. Selama sepuluh tahun pertama pernikahan Kaivan dan Kalani, Kaivan tak boleh menggunakan harta keluarga sepeserpun.
Kaivan dan Kalani harus sanggup bertahan dengan gaji Kaivan yang masih cukup pas-pasan. Jika keduanya mampu melewati usia sepuluh tahun pernikahan dan tetap bersama, maka orangtua Kaivan baru akan mengakui Kalani dan mengembalikan hak Kaivan sebagai salah satu pewaris dalam keluarga.
"Sera, kamu tersenyum?" tegur Kaivan.
"Ya," jawab Sera tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan pepohonan yang tampak berlarian di luar kaca jendela mobil.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang menyenangkan yang kamu lihat?"
"Cuaca hari ini cerah."
Ternyata, bahagia Seraphina terlalu sederhana. Anehnya, Kaivan merasa terpukau dengan kesederhanaan itu.
Sesampainya di kediaman keluarga Maherza, Seraphina sudah ditunggu oleh Ayah, Ibu, kakak, serta mantan kakak iparnya.
Keempatnya langsung berdiri saat melihat Kaivan dan Seraphina tiba di rumah.
"Bagaimana?" tanya Kalani harap-harap cemas.
"Orangtuaku sudah menyetujui pernikahan kita. Hanya saja, mereka mungkin tidak akan hadir karena Ibuku harus kontrol ke Singapura pada hari itu."
"Tidak apa-apa," sahut Kalani. "Asal mereka merestui kita, itu sudah cukup."
Kalani memeluk Kaivan. Dia sengaja memamerkan kemesraan mereka didepan Seraphina yang sebenarnya tidak peduli sama sekali.
"Sera, sudah pulang?" Arsenio Malik mencoba untuk basa-basi.
Misinya adalah untuk memenangkan hati Seraphina kembali.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Seraphina.
"Aku kemari untuk membahas pernikahan kita. Kita belum memesan gaun pengantin. Sebaiknya..."
"Sudah ku bilang kalau aku tidak akan menikah denganmu," potong Seraphina.
Senyum di wajah Arsenio lenyap seketika.
"Sera, jangan bercanda! Kamu ingin mempermalukan keluarga kita?"
"Kalian sendiri yang ingin malu. Sudah tahu aku menolak, kenapa masih dipaksa?"
"Sera, kau..."
Romi mengangkat tangannya. Berniat untuk menampar putri bungsunya. Tapi, Selly dengan cepat menghalangi.
"Tidak. Jangan," kata Selly dengan sorot mata tajam.
Sang suami memilih mengalah. Aneh. Tapi, dia benar-benar merasa terintimidasi dengan tatapan tajam istrinya.
"Sera, jangan keras kepala! Ayah sudah mengatur pernikahan yang baik untukmu. Masa' kamu tega mengecewakan Ayah? Lagipula, keluarga dan seluruh teman dekat keluarga kita sudah tahu jika kita berdua akan menikah lagi. Apa kamu mau menjadikan Ayah seorang badut didepan mereka?"
"Aku... tidak akan menikah!" tegas Seraphina.
"Kamu boleh mengajukan syarat apapun, Sera! Tapi, tolong jangan batalkan pernikahan ini. Ibu mohon!"
Tangan Seraphina mengepal erat. Tiba-tiba, sebuah ide muncul didalam kepalanya.
"Baik. Aku akan menikah. Tapi..."
Ia menatap semua orang dengan nyalang.
"... aku akan menikah dengan pria pilihanku sendiri."
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭