Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kecurigaan Gadiza
Setelah tamu menyalami pasangan pengantin mengucapkan selamat kepada mereka berdua, satu per satu mulai meninggalkan mesjid.
"Alvin, Mama bangga padamu mendapat ibu yang baik bagi Keanu. Kenapa mesti dirahasiakan segala dari kami?" tanya Nyonya Ratih, ibu Alvin.
"Ehem ... Aku hanya ingin menunjukkan kepada kalian, bahwa aku juga bisa memilih pasangan tanpa campur tangan siapa-siapa," ucap Alvin, sembari melirik Anugrah yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Tante, sekarang Tante cantik sekali." Tiba-tiba, Liam telah memeluk tangan Cynara.
Cynara menurunkan pandangan menatap putra Danisha yang matanya berkaca-kaca. Cynara mengusap rambut Liam dengan lembut.
"Makasi Liam, kamu juga tampan sekali."
Melihat Cynara mengusap rambut anak yang tak dikenal, Keanu menyipitkan matanya. "Kamu siapa?" tanyanya dengan nada ketus.
Alvin menatap putranya itu. Dia sudah sangat mengenal tabiat anaknya. Dari suara, jelas terdengar Keanu tak menyukai orang lain ikut mendapat kasih sayang mama barunya itu.
Liam mendengkus dan memeluk Cynara dengan terang-terangan. "Ini Tante aku!" jawabnya."
Cynara tertawa melihat reaksi bocah-bocah ini. Sementara Danisha mengernyit melihat tingkah putranya itu.
Keanu mencoba mendorong Liam dari pelukan Cynara. Namun apa daya, Keanu lebih kecil dibanding Liam. Jangankan beranjak, melepaskan pelukan Liam dari Cynara saja, Keanu tak bisa.
Naren mengetuk pundak Keanu dengan pelan beberapa kali. "Kenyu, gapapa. Katanya dia kakak Nalen," ucap bocah itu polos.
Sementara melihat tingkah ketiga bocah itu, membuat Gadiza semakin heran. "Loh? Bahkan Liam juga mengenal Kak Ipar? Terus Naren bilang Liam itu kakaknya?"
Anugrah mengernyitkan dahi.
"Mas, tolong jelaskan sekarang juga! Sebenarnya siapa mereka!" Gadiza berjalan cepat menarik Naren.
Cynara melihat kelakuan Gadiza pada putranya, dengan cepat menahan pergelangan tangan adik iparnya itu. "Maaf, kamu mau apa sama Naren?"
"Sebentar, Kak ... Aku hanya mau memastikan sesuatu. Pinjam Naren sebentar." Lalu, Gadiza menatap Naren sejenak.
"Naren mau ikut Tante sebentar?"
Bocah polos bermata jernih itu menatap Gadiza dengan wajah penuh tanda tanya. Lalu ia berputar kepala menatap Cynara.
Akhirnya ia memutar kepala kembali. "Cebental aja ya?" ucapnya ringan.
"Iya, Sayang ... Sebentar kok." Lalu ia menggenggam tangan kecil Naren dan berjalan ke arah Anugrah yang menggeleng dan mundur.
"A-apa yang mau kamu lakukan?" tanyanya gugup.
"Jangan bergerak!" ucap Gadiza dingin.
Lalu, Anugrah mematung dan mengajak Naren kembali melangkah. Setelah itu, ia memutar Naren hingga bisa dilihat oleh semua orang.
"Kalian semua sadar nggak? Naren ini sangat mirip dengan suamiku?"
Lalu Nyonya Ratih dan Tuan Jaya Mahendra mengamati bocah itu dengan seksama. Hal yang sama dilakukan Ibu Anugrah dan Kakaknya Danisha.
"Mirip banget sama Om," gumam Liam.
"Nah, kan?" sambut Gadiza setuju dengan pernyataan Liam.
"Engga ... Nalen milipnya cama Mamah," ucapnya polos.
Gadiza menatap mertuanya. "Bu, jujur lah padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Keanu melihat Naren yang tampak terpojok, dengan berani berjalan ke arah Naren. Ia menarik Naren kembali dan mengajaknya berjalan mendekati papa dan mamanya.
"Kalian tak boleh jahat sama Naren. Dia temanku!" ucapnya menatap Gadiza dan Anugrah dengan tajam. Lalu ia merangkul pundak Naren dari belakang.
Cynara yang sedari tadi hanya diam, sekarang dia berusaha menahan senyum. Ia melihat jiwa pemberani di dalam diri Keanu dan mengusap kepala mereka berdua.
Sementara Alvin yang berdiri di sampingnya langsung memasang muka datarnya.
“Gadiza.”
Satu panggilan saja membuat perempuan itu terdiam.
Alvin menatap adiknya dengan tajam. “Jangan mengganggu acara sakralku.”
Gadiza tampak terkejut. “Tapi, Kak…”
“Apa pun masalahmu dengan suamimu, selesaikan setelah acara ini selesai.”
Alvin melangkah sedikit ke depan, seolah sengaja menjadi penghalang antara Gadiza dan Cynara.
“Jangan libatkan istriku.”
Tatapannya kemudian berpindah kepada Anugrah.
“Dan jangan libatkan anak-anak kami.”
Anugrah langsung membeku.
Alvin tidak memberi kesempatan siapa pun untuk menyela. “Hari ini saya baru menikah dengan Cynara.”
Ia menggenggam tangan istrinya. “Ini hari yang seharusnya kami rayakan bersama keluarga dan orang-orang yang kami sayangi.”
Suaranya tetap tenang, tetapi ketegasannya membuat tidak ada yang berani membantah.
“Jadi, saya tidak ingin ada pertengkaran di acara pernikahan saya.”
Gadiza menggigit bibir.
“Tapi, Kak, aku hanya ingin tahu—”
“Jangan di sini!” potong Alvin “Kalau kamu ingin bertanya kepada suamimu tentang masa lalunya, silakan lakukan di tempat lain!”
Tatapan Gadiza perlahan beralih kepada Anugrah. Pria itu justru semakin gugup.
Alvin kembali menatap adiknya. “Jangan menjadikan istri dan anak-anakku sebagai bagian dari masalah rumah tanggamu.”
Ucapan Alvin membuat Cynara menoleh. 'Istri dan anak-anakku.'
Entah mengapa, mendengar Alvin mengatakannya dengan begitu tegas membuat dadanya semakin hangat.
Alvin kemudian tersenyum tipis.
“Kami sedang berbahagia dan kamu jangan mengusik kebahagiaan kami!"
Ia mengangkat tangan Cynara sedikit, hingga cincin yang baru saja tersemat di jari mereka kembali terlihat dengan nyata.
“Karena setelah ini, kami akan pergi bulan madu.”
Cynara menahan senyum.
Alvin melanjutkan, “Kami akan pergi ke Jepang.”
“Jepang?” Danisha yang sejak tadi diam langsung bersuara.
Alvin menoleh sekilas, tetapi hanya menatap dengan muka datar. Ia kembali menatap Cynara.
“Aku akan membawa istriku ke Jepang.”
Cynara tak tau harus bereaksi seperti apa. “Mas Alvin…?”
Namun, di balik itu semua Ibu Anugrah menatap Danisha. “Kita saja belum pernah ke Jepang.”
Danisha langsung menatap ibunya. “Kenapa dia malah lebih dulu ke sana?” Bibirnya sedikit maju, rasa iri dalam jiwanya meronta.
Anugrah tidak ikut bicara. Ia hanya berdiri dalam diam. )Namun kalimat bulan madu ke Jepang terus berulang di kepalanya.
Dulu, ketika ia menikahi Cynara... mereka bahkan tidak pergi ke mana-mana.
Tidak ada hotel mewah. Hanya ada jalan berlumpur, di tengah lembah perbukitan.
Setelah akad, ia langsung memboyong Cynara ke ibu kota, rumah orang tuanya.
Saat itu, Anugrah belum mendapatkan pekerjaan.
Padahal, Cynara telah bekerja setelah menyelesaikan kompre. Namun, setelah menikah ia meminta perempuan itu tinggal di rumah.
“Biar aku yang mencari pekerjaan.” Itulah yang pernah dikatakannya. “Kamu tidak perlu bekerja.”
Waktu itu, Cynara hanya menurut dan mengorbankan kesempatan yang dimilikinya.
Kini, perempuan yang dahulu ia minta untuk tinggal di rumah itu... akan pergi bulan madu dengan pernikahan barunya.
Gadiza mendekati Naren kembali. "Maaf ya, Naren ... Tante sudah mengganggumu." Ia memeluk Naren, tetapi satu tangannya menarik rambut bocah itu.
"Auuw," jerit Naren kaget.
Gadiza segera menyelipkan rambut itu ke tisu lalu memasukannya ke dalam tas.
*bersambung*
Hari ini, pekerjaan di RL authornya banyak banget... Tapi Author usahakan up minimal 3 bab. Mohon dukungannya yah... Makasi buat Kakak-Kakak Readers yang menemani Cynara sampai hari ini. ❤️
terimakasih sudah update mskipun kondisi tidak fit