NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

‎Alina berdiri di depan meja dapur, mengenakan celemek linen berwarna krem yang diikat longgar di atas gaun santainya. Rambutnya dicepol naik rapi, wajahnya tampak jauh lebih segar dan tenang dibanding hari-hari sebelumnya.

‎‎Di atas piring putih besar, croissant mengembang sempurna dengan warna keemasan yang menggugah selera. Di wajan kecil, telur orak-arik diaduk perlahan dengan api sangat kecil, lembut, berkilau, hampir selembut krim. Di sampingnya tertata roti panggang dengan gulungan salmon asap, roti panggang manis yang disiram sedikit sirup maple, dan segelas kopi susu dingin di mana es batunya sudah perlahan mencair.

‎‎Bi Hani masuk dari arah halaman belakang sambil membawa keranjang berisi pakaian bersih. Ia tertegun sejenak melihat pemandangan di dapur itu.

‎‎"Loh, Nyonya? Jam segini sudah sibuk di dapur?" tanyanya lembut sambil tersenyum.

‎‎Alina menoleh, senyum kecil namun tulus tersungging di bibirnya. "Iya, Bi. Tadi iseng nonton acara masak di televisi, jadi ingin coba sendiri."

‎‎Bi Hani melangkah mendekat, menatap hidangan di atas meja dengan kagum.

‎"Wah, telurnya kok bisa sehalus ini, Nyonya? Kelihatannya lembut sekali."

‎‎Alina tersenyum lebih lebar, mengaduk telur itu pelan dengan sendok kayu. ‎"Kuncinya apinya harus kecil, Bi, dan jangan lupa tambahkan sedikit mentega di akhir. Coba saja, Bi."

‎‎Bi Hani mengambil sedikit dengan ujung garpu, lalu menyuapkannya ke mulutnya. Matanya terbelalak takjub. "Ya ampun... lumer di mulut, Nyonya. Enak sekali, rasanya mewah banget."

‎‎Alina tertawa kecil, suara tawanya terdengar ringan dan menenangkan. "Iya, enak kan Bi."

‎‎Bi Hani mengangguk pelan, matanya masih tak lepas dari hidangan yang tertata cantik di meja itu. Ia meletakkan keranjang pakaian bersihnya di atas kursi dekat pintu, lalu kembali menatap Alina.

‎‎"Tapi ini banyak sekali, Nyonya. Semua ini mau dimakan sekarang?"

‎‎Alina memutar tombol kompor hingga apinya mati, lalu meletakkan sendok kayu di tepi wajan perlahan. Pandangannya jatuh pada makanan yang baru saja ia siapkan, sejenak terhenti, lalu ia berbicara dengan suara lembut namun jelas.

‎‎"Boleh tolong dibungkuskan, Bi?"

‎‎Bi Hani tersenyum mengerti, matanya berbinar hangat. ‎"Ah, mau dibawakan untuk Tuan Rafael, ya? Baik, baik, Bibi bantu bungkuskan."

Alina tidak menjawab, kotak bekal itu memang akan ia bawa ke kantor, tapi bukan untuk Rafael, melainkan untuk Revan.

‎‎Bi Hani mengambil kotak bekal berwarna cokelat keemasan yang permukaannya halus berkilau. Dengan telaten, ia memindahkan croissant yang masih terasa hangat ke ruang pertama, lalu roti panggang manis dengan taburan buah beri segar ke ruang tengah, dan roti dengan salmon serta irisan alpukat yang tipis ke ruang terakhir. Dua toples kecil berisi sirup dan madu diletakkannya rapi di samping kotak.

‎‎Sementara Bi Hani sibuk menata bekal itu dengan hati-hati, Alina berjalan perlahan menuju tangga, menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai dua untuk bersiap.

-

-

-

Suara tawa kecil terdengar dari ruang kerja yang terbuka. Kayla berdiri di samping meja besar Rafael, bersandar ringan pada tepiannya sambil menatap kakaknya dengan senyum memohon yang khas.

‎‎"Yah, Kak Rafael... ayolah," bujuknya lembut, tangan kanannya menepuk-nepuk pelan lengan pria itu. "Aku cuma ingin mengajak kak Revan keluar. Cuma makan siang sebentar, tidak akan lama kok."

‎‎Rafael meletakkan pena di tangannya, lalu menghela napas sambil menatap adik bungsunya itu. Wajahnya tampak tidak setuju, tapi ia tahu betul sifat Kayla yang tidak akan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi.

‎‎"Revan itu bukan teman mainmu, Kayla. Dia bekerja di sini," jawab Rafael dengan nada yang tetap tenang namun tegas.

‎‎Kayla tersenyum lebih lebar, sedikit memajukan wajahnya. "Tapi Papa sudah menjodohkan aku dengannya. Jadi apa salahnya kalau aku melakukan pendekatan dengannya."

‎‎"Tapi Kakak belum sepenuhnya setuju soal perjodohan itu," potong Rafael. "Kamu baru dua puluh satu tahun, tidak perlu memikirkan soal perjodohan apalagi pernikahan."

‎‎Kayla melipat kedua tangannya di depan dada, bibirnya sedikit mengerucut namun senyum masih tersisa di sudut bibirnya.

‎‎"Umur dua puluh satu itu bukan anak-anak lagi, Kak. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu siapa yang baik dan tidak untukku. Dan aku suka Revan. Dia tenang, sopan, dan bertanggung jawab. Papa bilang dia pria yang tepat untukku."

‎‎Rafael berdiri perlahan, menatap lurus ke mata adiknya.

‎‎"Kamu belum benar-benar mengenalnya, Kayla. Kita bahkan tidak tahu latar belakangnya, siapa keluarganya dan..."

‎‎Kalimat itu menggantung di udara, Rafael memijat pelipisnya sejenak lalu menatap Kayla kembali. "Sudahlah, intinya Kakak belum setuju dengan perjodohan yang Papa atur untuk kamu."

‎‎Baru saja Kayla hendak membuka mulut untuk memprotes, terdengar ketukan pelan di pintu ruangan terbuka itu, Revan melangkah masuk membawa selembar dokumen di tangannya.

‎‎Wajah Kayla seketika berbinar cerah. Ia langsung melangkah cepat, hampir berlari kecil mendekati pria itu.

‎‎"Kak Revan!" serunya riang, senyumnya melebar sempurna. "Kak, ayo kita keluar makan siang bareng."

‎‎Revan berhenti satu langkah di ambang pintu. Matanya sekilas melirik Kayla yang berdiri terlalu dekat, lalu segera beralih ke arah Rafael di balik meja. Wajahnya tetap tenang, tidak ada yang berubah, tidak terkejut, tidak juga canggung.

‎‎"Maaf," ucapnya rendah dan sopan. Ia melangkah mendekat ke arah meja dan mengulurkan dokumen ke arah Rafael. "Laporan yang kemarin diminta, Tuan. Sudah selesai."

‎‎Rafael menerima berkas itu, menatap Revan sekilas, lalu meletakkannya di meja tanpa membukanya dulu.

‎‎"Terima kasih, Revan."

‎‎Kayla tidak menyerah. Ia melangkah lebih dekat lagi, jari-jemarinya menyentuh pelan ujung lengan kemeja Revan.

‎‎"Kak Revan belum makan siang, kan? Aku juga belum. Ayo kita keluar sebentar, cari makan siang. Kak Rafael sudah izinkan, kok. Iya kan, Kak?"

‎‎Ia menoleh menatap kakaknya, matanya memohon.

‎‎Rafael menghela napas panjang, jari-jemarinya memijat pelipisnya perlahan. Ia tahu ia sudah terjebak. Kalau ia menolak sekarang, Kayla pasti akan ngambek dan terus mendesaknya. Kalau ia setuju, ada rasa tidak nyaman yang menggelisahkan hatinya.

‎‎"Baiklah, kita keluar makan siang bertiga."

‎‎Kalimat itu langsung membuat senyum Kayla memudar. Ia mengernyit, matanya beralih dari kakaknya ke Revan dan kembali lagi.

‎‎"Bertiga?" suaranya terdengar jelas kecewa. "Tapi Kak... aku kan mau ngobrol berdua saja dengan Kak Revan."

‎‎Rafael berdiri perlahan, meraih jas yang tergantung di sandaran kursinya dan memakainya dengan gerakan tenang namun tegas.

‎‎"Bertiga. Aku juga belum makan siang. Lagipula ada beberapa hal penting yang perlu aku bahas dengan Revan soal laporan ini. Sekalian saja sambil makan."

‎‎Itu alasan yang tak terbantahkan, urusan pekerjaan. Kayla terdiam, tahu tidak bisa menolak.

‎‎Revan yang sedari tadi berdiri tegak dan diam, akhirnya menatap Rafael. Di permukaan wajahnya tidak terlihat apa-apa, tapi ada jeda singkat, sepersekian detik yang nyaris tak terlihat, sebelum ia mengangguk pelan.

‎‎"Baik, Tuan."

‎‎Kayla menghela napas panjang, lalu mencoba tersenyum kembali. Bertiga pun tidak apa-apa, pikirnya. Setidaknya dia bisa duduk di sebelah Revan.

‎‎"Ya sudah, bertiga saja! Ayo Kak Revan, ayo!"

‎‎Mereka berjalan beriringan menuju lift. Kayla berjalan paling depan dengan langkah riang, sementara di belakangnya, Rafael berjalan di sisi kanan dan Revan sedikit ke belakang di sisi kiri. Pintu lift terbuka, mereka bertiga masuk. Ruang sempit itu tiba-tiba terasa lebih sempit dari seharusnya. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara tombol yang ditekan dan deru mesin yang menurun perlahan.

‎‎Denting halus terdengar. Pintu lift terbuka perlahan, menyambut mereka dengan cahaya terang dan hiruk-pikuk siang hari yang kontras dengan keheningan di dalam lift tadi.

‎‎Amara baru saja melangkah keluar dari pintu toilet lobi, ia berhenti sejenak sambil merapikan rambutnya. Saat menengok ke depan, langkahnya terhenti. Dari kejauhan ia melihat ketiga orang itu keluar dari lift.

‎‎Amara segera memalingkan wajah, mundur sedikit ke balik pilar besar, tak berani melangkah mendekat. Ia hanya menunggu dari jauh, menatap punggung mereka yang berjalan menuju pintu utama.

‎‎Saat mereka baru saja melangkah keluar menuju halaman, sebuah mobil merah meluncur pelan dan berhenti tepat di depan pintu utama kantor. Alina yang duduk di kursi kemudi terkejut saat melihat ketiganya, ia menoleh melihat ke arah kotak bekal yang dibungkus rapi di jok sebelahnya, lalu menoleh kembali ke tiga orang yang berdiri didepan sana.

‎‎"Kenapa mereka bisa muncul bersamaan?" bisiknya dalam hati. "Sekarang... Bagaimana caranya aku memberikan kotak bekal ini pada Revan?"

-

-

-

Bersambung...

1
Mia Camelia
ayo revan rebut Alina yukk🤣🤣🤣
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!