Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Interogasi
Di kantor pusat konsorsium Prakasa, sore itu sibuk seperti biasa. Hendra sedang berdiri di depan meja kerja Aris, melaporkan jadwal kunjungan inspeksi proyek perumahan baru di pinggir kota.
Aris duduk di kursi kebesarannya, tampak jauh lebih tenang dibanding minggu-minggu sebelumnya. Sejak keputusannya untuk membuka lembaran baru bersama Raya dan merawat wanita itu dengan tulus, beban mental di dadanya sedikit terangkat.
Meskipun bayangan malam kecelakaan itu masih sering menghantuinya dalam mimpi buruk, ia bertekad untuk melindungi kebahagiaan kecilnya dengan segala cara.
Tiba-tiba, ponsel pribadi di atas meja Aris berdering.
Aris melirik layar ponselnya. Nama yang tertera di sana membuat seluruh gerakan tangannya terhenti seketika: "Papa"
Hendra yang sangat mengenal dinamika keluarga atasannya, langsung terdiam dan memasang sikap siaga. Ia tahu betul panggilan dari kediaman utama tidak pernah berarti hal yang biasa.
Aris mengangkat panggilan tersebut dengan napas yang sedikit tertahan. "Halo, Pa..."
"Aris, malam ini pukul delapan, suruh Hendra datang ke kediaman utama," suara Pak Baskoro terdengar dingin dan tegas dari seberang sambungan. "Ada beberapa dokumen penting perusahaan yang harus dia laporkan secara langsung padaku dan Mamamu. Jangan ada alasan untuk menolak."
Klik.
Panggilan langsung ditutup tanpa memberikan kesempatan bagi Aris untuk menjawab.
Jantung Aris berdegup kencang. Ia menurunkan ponselnya perlahan, dan menatap layar yang kini sudah gelap. Keringat dingin mendadak merayap di tengkuknya. Kenapa orang tuanya memanggil Hendra secara khusus ke kediaman utama malam-malam begini? Apakah mereka mulai mencurigai sesuatu tentang latar belakang Raya?
"Ada apa, Pak Aris?" tanya Hendra cemas saat melihat perubahan drastis pada raut wajah atasannya.
Aris mendongak, dan menatap Hendra dengan sorot mata penuh peringatan dan kecemasan
"Ayahku memanggilmu malam ini ke kediaman utama, Hendra," bisik Aris tegang. "Mereka minta kamu datang sendirian pukul delapan."
Hendra tertegun sejenak, namun ia langsung mengangguk paham. Sebagai orang kepercayaan yang telah mendampingi Aris selama bertahun-tahun, Hendra tahu betul seberapa besar kekuasaan dan pengaruh keluarga Prakasa. "Baik, Pak. Saya akan datang."
"Hendra..." Aris mencengkeram tepi meja kerjanya. Suaranya bergetar pelan dan berkata. "Kamu tahu apa yang harus kamu katakan jika mereka bertanya tentang Raya dan masa lalunya, kan? Lindungi rahasia itu... demi aku, demi keselamatan Raya."
Hendra menatap Aris lekat-lekat. Ada kilatan keraguan dan rasa berat yang melintas di matanya, namun ia menundukkan kepala dengan hormat. "Saya mengerti, Pak Aris. Saya akan lakukan yang terbaik."
Pukul delapan malam tepat, sebuah sedan hitam berlogo perusahaan memasuki gerbang megah Kediaman Utama Keluarga Prakasa. Hendra turun dari mobil, merapikan jas formalnya, lalu melangkah memasuki pintu utama yang langsung disambut oleh kepala pelayan senior.
Ia digiring bukan ke ruang tamu biasa, melainkan langsung menuju ruang kerja pribadi Pak Baskoro di lantai dua, sebuah kehormatan sekaligus tekanan psikologis yang luar biasa bagi siapa pun karyawan di bawah keluarga Prakasa.
Begitu pintu kayu jati besar dibuka, Hendra melangkah masuk dengan postur tubuh tegap dan penuh rasa hormat. Di dalam ruangan tersebut, Pak Baskoro duduk di kursi kerjanya, sementara Lidya berdiri tegak di dekat jendela dengan segelas teh chamomile di tangannya.
"Selamat malam, Bapak... Selamat malam, Ibu," sapa Hendra membungkuk dalam-dalam.
Pak Baskoro tidak langsung menjawab. Ia menatap Hendra dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik yang tajam, seolah sedang membaca setiap inci riwayat hidup pemuda di hadapannya itu.
"Duduklah, Hendra," titah Pak Baskoro dengan nada bass yang tenang namun terasa menekan.
Hendra menarik kursi di depan meja kerja, lalu duduk dengan posisi tegap dan tangan terlipat di atas pangkuan.
"Kamu tahu kenapa kami memanggilmu malam ini ke sini, Hendra?" tanya Lidya tanpa basa-basi, seraya meletakkan gelas tehnya di atas meja kecil dengan bunyi berdenting pelan
Hendra menarik napas pendek, dan menjaga agar suaranya tetap stabil. "Saya menduga pemanggilan ini berkaitan dengan kondisi Pak Aris dan... situasi di rumah pribadinya saat ini, Bu."
Pak Baskoro bersandar di kursinya, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Bagus kalau kamu sadar. Sebagai orang yang paling dipercaya oleh Aris, kamu pasti tahu segalanya tentang apa yang sedang terjadi. Kamu tahu alasan kenapa Aris tiba-tiba mengurung diri di rumah itu, kamu tahu asal-usul wanita amnesia bernama Raya itu, dan kamu pasti tahu kebenaran di balik anak kecil yang mereka sebut sebagai anak angkat."
Hendra terdiam. Suasana di dalam ruang kerja itu mendadak menjadi sangat senyap, hanya diiringi suara detik jam dinding antik berlapis emas di sudut ruangan.
Melihat Hendra terdiam cukup lama, Lidya melangkah mendekati meja kerja suaminya. Ia menatap Hendra dengan sorot mata penuh permohonan seorang ibu yang putus asa, namun dibalut dengan otoritas keluarga bangsawan bisnis.
"Hendra..." suara Lidya melunak, namun justru terasa jauh lebih menusuk. "Dengarkan saya. Kami tidak sedang berniat menghancurkan kebahagiaan Aris. Kami adalah orang tuanya. Kami melahirkan, membesarkan, dan memberikan segalanya untuk anak itu. Tapi kamu juga tahu betul betapa beratnya tanggung jawab yang diemban Aris di pundaknya sebagai pewaris tunggal keluarga Prakasa."
Lidya meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja kerja, dan mencondongkan tubuhnya ke arah Hendra. "Jika wanita itu, yang entah dari mana datangnya dan tidak memiliki latar belakang keluarga yang jelas, membawa potensi ancaman, skandal hukum, atau bahaya bagi masa depan Aris di masa depan, maka kami harus mengetahuinya sekarang sebelum semuanya terlambat. Tolong... katakan yang sebenarnya pada kami. Siapa sebenarnya Raya?"
Bersambung...