"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.Ancaman Pemecatan
"Lepaskan aku, Aksa!" desis Naya tajam. Ia menghempaskan dada bidang pria itu sekuat tenaga, membebaskan diri dari kurungan lengan yang menguncinya.
Napas Aksa berembus kasar menerpa wajah Naya. Pria itu menatapnya dengan kilat mata yang sulit diartikan, perpaduan antara kebencian dan hasrat yang tertahan.
Sesaat, Aksa hanya diam mematung, rahangnya mengetat melihat bibir Naya yang memucat. Lalu, dengan gerakan menyentak, Aksa memalingkan wajahnya dan melangkah mundur memutus kontak fisik di antara mereka sepenuhnya.
"Kembali bekerja. Jangan buat aku harus memecatmu hanya karena kamu kolaps mengotori lantai rumah sakitku," ucap Aksa dingin. Pria itu berbalik, melangkah menjauh meninggalkan Naya yang langsung merosot berpegangan pada dinding, meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menenangkan jantungnya.
Naya memejamkan mata rapat-rapat, menekan dadanya yang bergemuruh gila. Ia menelan ludah, memaksa kakinya kembali berdiri tegak. Pantang baginya terlihat hancur di depan Aksa. Ia berjalan gontai menuju ruang perawat di bangsal bedah, berniat memeriksa laporan pasien pasca-operasi.
Namun, baru saja ujung sepatunya melewati pintu bangsal, suara bentakan keras terdengar menggelegar dari arah ruang jaga dokter muda.
"Kamu lulusan mana? Kesalahan bodoh seperti ini bisa membunuh nyawa orang!"
Naya terkesiap. Itu suara Aksa. Ia langsung berlari-lari kecil menuju sumber keributan. Di dalam ruangan itu, Aksa berdiri menjulang dengan wajah murka, membanting sebuah papan rekam medis ke atas meja hingga bunyinya menggema memekakkan telinga.
Di hadapan sang CEO, Dokter Rian—salah satu dokter bedah junior di tim Naya—menunduk pucat pasi, bahunya gemetar hebat ketakutan. Suster Rina dan beberapa staf lain hanya berani menonton dari luar pintu tanpa berani bernapas.
"Ada apa ini?" potong Naya cepat, menerobos masuk dan langsung pasang badan menghalangi tubuh Dokter Rian dari tatapan mematikan Aksa.
Aksa melipat kedua tangan di dada, menatap Naya dengan seringai meremehkan. "Bagus. Kepala Bedahnya sudah datang untuk membela. Lihat kelakuan anak buahmu ini, Naya. Dia meresepkan obat pereda nyeri lambung dengan dosis yang salah untuk pasien VVIP kita. Apa begini standar kerja departemen kebanggaanmu?"
Naya merebut papan rekam medis itu, membaca catatannya dengan cepat. Ia menghela napas panjang menahan emosi. "Ini cuma selisih dosis kecil, Aksa. Rian menulis dua ratus miligram, padahal aturannya seratus lima puluh. Itu pun belum diberikan kepada pasien karena apotek rumah sakit punya sistem pengecekan silang. Ini bukan obat bius fatal."
"Kesalahan tetap kesalahan!" bentak Aksa keras, menepis kertas itu dari tangan Naya. "Hari ini salah dosis pereda nyeri, operasi berikutnya dia bisa salah memotong urat nadi orang! Aku tidak mau ambil risiko menampung dokter ceroboh di rumah sakitku. Kemasi barang-barangmu, Dokter Rian. Kamu dipecat detik ini juga."
"Pak Aksa, saya mohon maaf," suara Rian bergetar parah, matanya berkaca-kaca menahan tangis putus asa. "Saya kelelahan karena jaga tiga puluh jam non-stop di IGD dan ruang bedah. Saya janji tidak akan ceroboh lagi."
"Aku bayar gajimu bukan untuk mendengar keluhan capek. Keluar dari rumah sakitku!" usir Aksa tanpa belas kasihan.
"Cukup, Aksa!" Naya memukul meja kerja keras-keras, menantang pria itu dengan amarah yang mendidih hingga ubun-ubun. "Kamu tidak bisa seenaknya memecat staf medis! Kesalahan ini murni terjadi karena timku kelelahan parah. Kamu yang seenaknya memotong jumlah asisten bedah, kamu yang memaksa kami bekerja dengan jadwal gila di luar nalar! Kalau ada yang harus disalahkan atas turunnya konsentrasi dokter di sini, itu adalah kebijakanmu yang brengsek!"
Mata Aksa menyipit berbahaya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak hingga Naya bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tatapannya.
"Oh, jadi sekarang kamu mau menyalahkan atasanmu? Berani sekali. Kalau kamu mau bertingkah seperti malaikat pelindung untuk timmu, mari kita buat kesepakatan yang adil, Dokter Naya."
Naya menelan ludah kasar. Firasat buruk langsung mencekik lehernya. "Apa maumu?"
"Dokter Rian tetap di sini. Tidak jadi kupecat," ucap Aksa dengan senyum licik yang mematikan. "Tapi sebagai gantinya, kamu yang harus memikul semua hukumannya. Gaji bulan ini dan bulan depan aku potong lima puluh persen. Dan semua jadwal jaga malam Rian selama dua minggu penuh ke depan, kamu yang ambil alih. Tanpa libur."
Seluruh orang di ruangan itu menahan napas horor. Suster Rina bahkan menutup mulutnya saking terkejutnya. Menambah jadwal jaga malam penuh di atas rentetan operasi trauma harian yang mematikan sama saja dengan membunuh tubuh Naya perlahan-lahan.
"Dokter Naya, jangan," bisik Rian dengan wajah hancur dipenuhi rasa bersalah. "Biar saya saja yang pergi dari sini."
"Diam, Rian," potong Naya tegas tanpa menoleh. Matanya terus terkunci pada manik gelap Aksa. Ia tahu Aksa sengaja menjebaknya. Pria ini tahu persis kelemahan terbesar Naya adalah rasa tanggung jawabnya yang tinggi pada pasien dan rekan kerjanya. Aksa memakai hal itu untuk menyiksanya.
"Baik. Aku terima syaratmu," desis Naya mantap, suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Potong gajiku. Berikan semua jadwal jaga malamnya padaku."
Aksa mendengus pelan, menikmati kemenangannya melihat wanita itu mengorbankan diri. Pria itu merapikan kerah jas mahalnya dengan gaya santai. "Keputusan yang sangat heroik. Aku tunggu slip jadwal barumu di mejaku untuk kutandatangani sekarang juga. Jangan berani kabur dariku."
Tanpa mempedulikan bantahan siapa pun, Aksa berbalik dan melangkah angkuh keluar ruangan, membelah kerumunan perawat yang langsung menyingkir ketakutan memberi jalan.
Naya sama sekali tidak membuang waktu. Ia berjalan cepat ke arah komputer staf, mengabaikan tatapan iba dari rekan-rekannya. Jari-jarinya yang masih terasa kram mengetik perubahan jadwal sistem, memindahkan semua beban kerja malam Rian ke atas namanya. Ia mencetak selembar kertas yang kini didominasi blok warna merah tanda jaga darurat.
Ia menarik napas panjang, meremas ujung kertas itu kuat-kuat. Dengan langkah berderap cepat memendam amarah, Naya berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja CEO di lantai atas. Ia mengabaikan sekretaris di depan pintu dan langsung mendorong pintu kayu mahoni itu hingga terbuka lebar.
Aksa baru saja duduk bersandar di kursi kebesarannya saat Naya masuk bagai badai.
Naya melempar slip jadwal gilanya ke meja Aksa, menatap pria itu tajam. "Lakukan sesukamu padaku, tapi jangan sentuh timku!"
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak