Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Jiwa di Dalam Pedang Patah
Udara di bagian tengah dinding Jurang Abu Api dipenuhi kabut belerang pekat yang sanggup melelehkan paru-paru manusia biasa dalam tiga tarikan napas. Namun bagi Lin Xuan, setiap hirupan napas melalui teknik Napas Abu Nirwana justru mengubah uap beracun itu menjadi aliran energi hangat yang memperkuat otot dan tulangnya.
Desisss!
Dari balik celah batu karang merah di depannya, sepasang mata kuning menyala tiba-tiba melesat keluar. Seekor Ular Api Ekor Besi sepanjang tiga tombak membuka rahangnya lebar-lebar, menyemburkan kabut racun merah tua sambil mengibaskan ekor besinya yang setajam tombak ke arah kepala Lin Xuan.
Binatang Roh Tingkat Satu Lapis Lima—setara dengan kultivator Alam Pemurnian Tubuh Lapis Lima!
Di masa lalu, bahkan saat masih memiliki Akar Spiritual Emas, Lin Xuan membutuhkan puluhan jurus untuk menaklukkan binatang buas dengan kulit sekeras baja ini. Namun kali ini, ia bahkan tidak mundur selangkah pun.
"Jurus Pertama Pedang Abu: Jejak Tanpa Bayangan!"
Lin Xuan menggeser kakinya setengah langkah di atas pijakan tebing yang sempit. Tubuhnya bergerak bagai kepulan asap kelabu yang tertiup angin, lolos dari sabetan ekor besi hanya dengan selisih sehelai rambut. Pada saat yang bersamaan, pedang hitam patah di tangannya bergetar hebat, diselimuti lapisan tipis Qi berwarna abu-abu suram.
Slash!
Tidak ada kilatan cahaya pedang yang mencolok. Pedang patah itu menebas tepat di bagian bawah leher sang ular dengan gerakan yang tampak sederhana namun tak terelakkan.
Begitu Qi Abu menyentuh sisik keras Ular Api, pertahanan alami binatang itu langsung rapuh bagaikan kayu lapuk yang terbakar dari dalam. Kepala ular raksasa itu terpenggal seketika, menyemburkan darah panas ke dinding tebing sebelum tubuhnya jatuh menghantam bebatuan.
"Luar biasa!" seru suara Tetua Gu dari dalam pedang hitam. "Sifat Qi Abu-mu mengandung unsur pelapukan dan penghancuran murni. Kultivator pada tingkatan yang sama tidak akan sanggup menahan tebasan pedangmu secara langsung!"
Lin Xuan tidak cepat puas. Ia segera membelah perut ular tersebut dan mengambil kantong racun merah menyala beserta sebutir kristal inti darah seukuran kelereng.
"Bagi kultivator biasa, kantong racun dan inti darah binatang roh mengandung energi ganas yang bisa merusak meridian jika ditelan langsung," ujar Tetua Gu menginstruksikan. "Tetapi coba masukkan keduanya ke dalam proyeksi Tungku Abu Takdir milikmu!"
Lin Xuan mengangguk. Ia duduk bersila di ceruk tebing, memusatkan pikirannya, dan mengalirkan kesadarannya ke dalam Dantian. Seketika, kantong racun dan inti darah di telapak tangannya lenyap terhisap oleh pusaran energi kelabu, masuk ke dalam Tungku Abu Takdir.
Boom!
Api abu-abu kuno berkobar di dalam tungku. Dalam hitungan sepuluh napas, seluruh unsur racun mematikan dan hawa buas binatang di dalam inti darah itu terbakar habis. Yang tersisa di dasar tungku hanyalah sebutir mutiara cairan berwarna perak keabu-abuan yang memancarkan aroma harum menyegarkan!
"Kemurnian seratus persen tanpa ampas racun sedikit pun?!" Tetua Gu menjerit tertahan, suaranya bergetar hebat. "Bahkan alkemis tingkat suci pun paling tinggi hanya mampu memurnikan bahan obat hingga sembilan puluh persen! Tungku ini... benar-benar melanggar hukum langit!"
Lin Xuan menelan cairan murni hasil pemurnian tungku tersebut. Seketika, gelombang energi yang luar biasa dahsyat meledak di dalam perutnya dan mengalir deras ke seluruh meridian barunya.
Pemurnian Tubuh Lapis Lima!
Lapis Lima Puncak!
Hanya dari satu ekor Ular Api Ekor Besi, kultivasinya melesat naik satu lapisan penuh tanpa hambatan sedikit pun.
Lin Xuan membuka matanya yang kini memancarkan kilatan tajam di tengah kegelapan jurang. Ia menatap ke arah deretan sarang Ular Api yang membentang di sepanjang dinding tebing menuju puncak jurang. Di mata kultivator lain, tebing itu adalah sarang maut. Namun di mata Lin Xuan saat ini, seluruh tebing itu adalah ladang obat hidup yang siap memuluskan jalannya kembali ke Kota Awan Merah.
Dengan pedang patah di tangan kanan, pemuda berjubah compang-camping itu melesat naik menembus kabut api.