"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
"Astaga!"
"Kecelakaan!"
"Tolongin Mbaknya!"
Jena terduduk di aspal, kepalanya berdenyut, tangannya terasa perih.
Seorang ibu membantunya berdiri, lalu memapahnya ke tepian.
"Mbak, nggak apa-apa?"
Jena menggeleng. Jantungnya masih berdegup kencang karena syok. Lututnya gemetar, matanya tertuju pada gerobak yang terguling. Motornya juga di pinggirkan oleh warga lain.
Seorang laki-laki muda memandangi gerobaknya yang terguling, wajahnya pucat. Ia mengenakan kaus hitam sederhana dan celana jeans. Usianya tampak tidak jauh dari Jena. Ia Lalu memandang Jena yang sekarang duduk di trotoar.
"Mbak..." Nada suaranya terdengar tertahan. "Gerobak saya."
Jena masih pusing, menatap laki-laki tersebut.
Laki-laki itu menunjuk gerobak. "Rusak."
"Terus?"
"Ya... ganti rugi."
Mata Jena langsung membesar. "Kenapa saya yang ganti?"
Beberapa orang langsung menoleh, laki-laki itu mengernyit.
"Mbak yang nabrak."
"Gerobak kamu kenapa mangkal di pinggir jalan?"
Suasana mendadak hening.
Laki-laki itu menatapnya tidak percaya. "Karena saya jualan."
"Ya jualan di tempat yang benar!"
Beberapa warga mulai berbisik.
"Waduh..."
"Yang nabrak malah marah."
Laki-laki itu menarik napas. "Mbak, saya cuma minta tanggung jawab."
Jena semakin emosi. "Saya juga jatuh! Kamu gak lihat, baju saya kotor, tangan saya juga berdarah." Menunjukkan telapak tangannya yang lecet.
"Iya, saya lihat."
"Motor saya juga rusak!" lanjut Jena.
Laki-laki itu menunjuk gerobaknya. "Gerobak saya juga rusak."
Jena terdiam, namun gengsinya membuatnya tetap membela diri. "Pokoknya saya nggak mau ganti!"
Seorang bapak yang berdiri di dekat sana langsung berseru. "Lho, Mbak! Jangan begitu! Kasihan itu orang jualan! Gerobaknya buat cari makan! Setiap hari memang disini mangkalnya."
"Betul Mbak, salah kok gak mau tanggung jawab."
Suara warga semakin ramai. Jena mulai panik.
"Eh... jangan pada ikut campur!" seru Jena.
Bukannya mereda, suara mereka justru semakin keras.
"Yang salah ya harus tanggung jawab!"
"Kalau nggak mau tanggung jawab, jangan naik motor!"
"Bawa aja motornya Bud, sita. Anggap ganti rugi."
Jena melotot, wajahnya pucat. Untuk pertama kalinya, keberaniannya menghilang. Ia melihat begitu banyak orang mengelilinginya. Tidak ada satu pun yang membelanya. Tangannya mulai dingin. Jena takut.
"Sudah..." Suaranya mengecil, bergetar. "Sa, saya ganti."
Laki-laki pemilik gerobak yang bernama Budi menatapnya. "Serius?"
"Iya." Jena menghela napas berat. "Saya ganti."
Ia membuka tas, tapi setelah diobok-obok, dompetnya tidak ada. Sepertinya dompetnya tertinggal di rumah. "Berapa?"
Budi memikirkan nominal yang sesuai.
Orang-orang disana mulai membantu mengambil barang-barang yang bisa diselamatkan, seperti roti yang masih terbungkus plastik, dan berbagai macam toping yang aman di dalam kotaknya masing-masing.
"Isinya gak usah diganti, mungkin sebagian masih bisa diselamatkan. Ganti gerobaknya saja. 3 juta."
Mata Jena membulat sempurnakan. "Segitu?"
"Kacanya hancur Mbak. Segitu cuma untuk renovasi. Kalau beli baru, harganya 5 juta. Belum lagi, gara-gara Mbak, saya gak bisa jualan, rugi berapa coba?"
Jena menyentuh pipi yang terasa perih. Ia melihat ada darah di tangannya. Ternyata pipinya terluka. Pantesan sakit sekali. Hari ini benar-benar sial. Ia menatap motor yang dipinjamnya.
"Gimana Mbak, 3 juta."
"Ya udah, tapi nanti, saya kelupaan bawa dompet."
"Halah, jangan alasan Mbak." Celetuk seorang ibu-ibu. "Bilang aja itu trik buat kabur. Palingan di sembunyikan di dalam tas." Ibu itu masih saja tak percaya.
"Heh Bu, lihat ini!" Jena membuka tasnya yang kotor, yang hanya berisi make up dan kipas angin mini.
"Transfer aja," ujar Budi. "Bawa HP kan?"
HP! Jena langsung teringat benda itu. Ia kembali mengecek shoulder bag nya, mengacak-acak isinya. "Ponselku! Ponselku gak ada." Ia panik. Tadi saat di rumah Melisa, ponselnya masih ada, berarti tidak ketinggalan di rumah. Tas nya tadi terjatuh, baru beberapa saat kemudian, ada yang menyerahkan padanya. Jangan-jangan... apa mungkin dompetnya juga bukan ketinggalan, tapi dimaling orang beserta HP nya.
Budi garuk-garuk kepala, membuang nafas kasar. "Drama apa lagi ini, Mbak?"
"Aku gak drama, ponsel dan dompetku hilang...'
"Tadi katanya ketinggalan di rumah dompetnya." Budi ikutan pusing.
"Ambil aja motornya Bud, buat jaminan." Ide seorang laki-laki yang ada di lokasi.
Jena panik, itu bukan motornya. "Jangan! itu bukan punya saya."
"Tuh kan, Mbak nya emang gak ada niat ganti rugi. Dari tadi ngeles mulu." Budi berdecak.
"Beneran, bukan punyaku."
"Ya Allah Mbak, cantik-cantik tapi tukang tipu." Celetuk ibu yang tadi memapah Jena.
"Heh, saya bukan tukang tipu!" Jena mendelik tak terima.
"Ya kalau emang gitu, kasih motornya ke Budi buat jaminan." Orang-orang itu sesama penjual kaki lima, mereka saling kenal.
"Ya sudah." Jena akhirnya mengalah. "Bawa aja motornya."
Sejak tadi, Budi memperhatikan wajah Jena, rasanya seperti tidak asing. Jenara, nama itu muncul di benaknya. Mungkinkah itu dia? Wajahnya sudah banyak berubah, terlihat makin cantik. Ah, mungkin orang lain.
"Bapak Ibu, bubar aja. Biar masalah ini, saya selesaikan berdua dengan Mbak nya." Budi menatap Jena cukup lama. Setelah semua orang bubar, ia mendekati Jena, duduk di sampingnya. "Mbak, surat motornya mana?"
Jena hanya tersenyum kecut.
"STNK."
"E..."
Budi menatapnya curiga. "Mbak, lihat STNK nya." Ia juga ingin memastikan, apa benar namanya Jenara.
Jena tersenyum semakin lebar. "Kan aku tadi bilang, itu bukan punyaku. Gak ada STNK nya."
"Mbak, aku nanya serius." Budi menatap kedua mata Jena, ada ekspresi kesal disana.
Jena membuang nafas berat. "Aku juga serius." Ia melotot, kembali garang setelah semua orang pergi. "Itu bukan motorku. Kamu jangan natap aku seperti itu dong. Bukan hanya kamu korban disini, aku juga. Kamu cuma rugi 3 juta, tapi aku 30 juta."
"Hah. Kok bisa?"
"I phone dan dompetku hilang!" Jena berteriak frustasi. "Mana tubuhku sakit ketimpa motor. Telapak tangan lecet. Ini juga." Ia meringis, menyentuh pipinya yang perih.
Ia lalu menangis. Bukan hanya karena sakit, tapi karena hari sial tak ada dalam kalender. Semua berawal dari undangan pernikahan Raka, grup chat alumni yang bikin naik darah, dan saudara yang menyebalkan. Semua ini, gara-gara nikah. Ia benci kata itu.
"Mbak, kok malah nangis? Disini saya korbannya."
"Sakit tauk!" bentak Jena.
Budi terdiam, syok. Ia jadi bingung, disini siapa korbannya.
bukan karena cerita orang lain tapi dia mengalami sendiri, dan melihat ibunya tersakiti karena perbuatan bapaknya😭