NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:716.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

"Astaga!"

"Kecelakaan!"

"Tolongin Mbaknya!"

Jena terduduk di aspal, kepalanya berdenyut, tangannya terasa perih.

Seorang ibu membantunya berdiri, lalu memapahnya ke tepian.

"Mbak, nggak apa-apa?"

Jena menggeleng. Jantungnya masih berdegup kencang karena syok. Lututnya gemetar, matanya tertuju pada gerobak yang terguling. Motornya juga di pinggirkan oleh warga lain.

Seorang laki-laki muda memandangi gerobaknya yang terguling, wajahnya pucat. Ia mengenakan kaus hitam sederhana dan celana jeans. Usianya tampak tidak jauh dari Jena. Ia Lalu memandang Jena yang sekarang duduk di trotoar.

"Mbak..." Nada suaranya terdengar tertahan. "Gerobak saya."

Jena masih pusing, menatap laki-laki tersebut.

Laki-laki itu menunjuk gerobak. "Rusak."

"Terus?"

"Ya... ganti rugi."

Mata Jena langsung membesar. "Kenapa saya yang ganti?"

Beberapa orang langsung menoleh, laki-laki itu mengernyit.

"Mbak yang nabrak."

"Gerobak kamu kenapa mangkal di pinggir jalan?"

Suasana mendadak hening.

Laki-laki itu menatapnya tidak percaya. "Karena saya jualan."

"Ya jualan di tempat yang benar!"

Beberapa warga mulai berbisik.

"Waduh..."

"Yang nabrak malah marah."

Laki-laki itu menarik napas. "Mbak, saya cuma minta tanggung jawab."

Jena semakin emosi. "Saya juga jatuh! Kamu gak lihat, baju saya kotor, tangan saya juga berdarah." Menunjukkan telapak tangannya yang lecet.

"Iya, saya lihat."

"Motor saya juga rusak!" lanjut Jena.

Laki-laki itu menunjuk gerobaknya. "Gerobak saya juga rusak."

Jena terdiam, namun gengsinya membuatnya tetap membela diri. "Pokoknya saya nggak mau ganti!"

Seorang bapak yang berdiri di dekat sana langsung berseru. "Lho, Mbak! Jangan begitu! Kasihan itu orang jualan! Gerobaknya buat cari makan! Setiap hari memang disini mangkalnya."

"Betul Mbak, salah kok gak mau tanggung jawab."

Suara warga semakin ramai. Jena mulai panik.

"Eh... jangan pada ikut campur!" seru Jena.

Bukannya mereda, suara mereka justru semakin keras.

"Yang salah ya harus tanggung jawab!"

"Kalau nggak mau tanggung jawab, jangan naik motor!"

"Bawa aja motornya Bud, sita. Anggap ganti rugi."

Jena melotot, wajahnya pucat. Untuk pertama kalinya, keberaniannya menghilang. Ia melihat begitu banyak orang mengelilinginya. Tidak ada satu pun yang membelanya. Tangannya mulai dingin. Jena takut.

"Sudah..." Suaranya mengecil, bergetar. "Sa, saya ganti."

Laki-laki pemilik gerobak yang bernama Budi menatapnya. "Serius?"

"Iya." Jena menghela napas berat. "Saya ganti."

Ia membuka tas, tapi setelah diobok-obok, dompetnya tidak ada. Sepertinya dompetnya tertinggal di rumah. "Berapa?"

Budi memikirkan nominal yang sesuai.

Orang-orang disana mulai membantu mengambil barang-barang yang bisa diselamatkan, seperti roti yang masih terbungkus plastik, dan berbagai macam toping yang aman di dalam kotaknya masing-masing.

"Isinya gak usah diganti, mungkin sebagian masih bisa diselamatkan. Ganti gerobaknya saja. 3 juta."

Mata Jena membulat sempurnakan. "Segitu?"

"Kacanya hancur Mbak. Segitu cuma untuk renovasi. Kalau beli baru, harganya 5 juta. Belum lagi, gara-gara Mbak, saya gak bisa jualan, rugi berapa coba?"

Jena menyentuh pipi yang terasa perih. Ia melihat ada darah di tangannya. Ternyata pipinya terluka. Pantesan sakit sekali. Hari ini benar-benar sial. Ia menatap motor yang dipinjamnya.

"Gimana Mbak, 3 juta."

"Ya udah, tapi nanti, saya kelupaan bawa dompet."

"Halah, jangan alasan Mbak." Celetuk seorang ibu-ibu. "Bilang aja itu trik buat kabur. Palingan di sembunyikan di dalam tas." Ibu itu masih saja tak percaya.

"Heh Bu, lihat ini!" Jena membuka tasnya yang kotor, yang hanya berisi make up dan kipas angin mini.

"Transfer aja," ujar Budi. "Bawa HP kan?"

HP! Jena langsung teringat benda itu. Ia kembali mengecek shoulder bag nya, mengacak-acak isinya. "Ponselku! Ponselku gak ada." Ia panik. Tadi saat di rumah Melisa, ponselnya masih ada, berarti tidak ketinggalan di rumah. Tas nya tadi terjatuh, baru beberapa saat kemudian, ada yang menyerahkan padanya. Jangan-jangan... apa mungkin dompetnya juga bukan ketinggalan, tapi dimaling orang beserta HP nya.

Budi garuk-garuk kepala, membuang nafas kasar. "Drama apa lagi ini, Mbak?"

"Aku gak drama, ponsel dan dompetku hilang...'

"Tadi katanya ketinggalan di rumah dompetnya." Budi ikutan pusing.

"Ambil aja motornya Bud, buat jaminan." Ide seorang laki-laki yang ada di lokasi.

Jena panik, itu bukan motornya. "Jangan! itu bukan punya saya."

"Tuh kan, Mbak nya emang gak ada niat ganti rugi. Dari tadi ngeles mulu." Budi berdecak.

"Beneran, bukan punyaku."

"Ya Allah Mbak, cantik-cantik tapi tukang tipu." Celetuk ibu yang tadi memapah Jena.

"Heh, saya bukan tukang tipu!" Jena mendelik tak terima.

"Ya kalau emang gitu, kasih motornya ke Budi buat jaminan." Orang-orang itu sesama penjual kaki lima, mereka saling kenal.

"Ya sudah." Jena akhirnya mengalah. "Bawa aja motornya."

Sejak tadi, Budi memperhatikan wajah Jena, rasanya seperti tidak asing. Jenara, nama itu muncul di benaknya. Mungkinkah itu dia? Wajahnya sudah banyak berubah, terlihat makin cantik. Ah, mungkin orang lain.

"Bapak Ibu, bubar aja. Biar masalah ini, saya selesaikan berdua dengan Mbak nya." Budi menatap Jena cukup lama. Setelah semua orang bubar, ia mendekati Jena, duduk di sampingnya. "Mbak, surat motornya mana?"

Jena hanya tersenyum kecut.

"STNK."

"E..."

Budi menatapnya curiga. "Mbak, lihat STNK nya." Ia juga ingin memastikan, apa benar namanya Jenara.

Jena tersenyum semakin lebar. "Kan aku tadi bilang, itu bukan punyaku. Gak ada STNK nya."

"Mbak, aku nanya serius." Budi menatap kedua mata Jena, ada ekspresi kesal disana.

Jena membuang nafas berat. "Aku juga serius." Ia melotot, kembali garang setelah semua orang pergi. "Itu bukan motorku. Kamu jangan natap aku seperti itu dong. Bukan hanya kamu korban disini, aku juga. Kamu cuma rugi 3 juta, tapi aku 30 juta."

"Hah. Kok bisa?"

"I phone dan dompetku hilang!" Jena berteriak frustasi. "Mana tubuhku sakit ketimpa motor. Telapak tangan lecet. Ini juga." Ia meringis, menyentuh pipinya yang perih.

Ia lalu menangis. Bukan hanya karena sakit, tapi karena hari sial tak ada dalam kalender. Semua berawal dari undangan pernikahan Raka, grup chat alumni yang bikin naik darah, dan saudara yang menyebalkan. Semua ini, gara-gara nikah. Ia benci kata itu.

"Mbak, kok malah nangis? Disini saya korbannya."

"Sakit tauk!" bentak Jena.

Budi terdiam, syok. Ia jadi bingung, disini siapa korbannya.

1
Aidil Kenzie Zie
alah dasar jantan 😝😝 kalo nggak liat si jalang lagi main kuda-kudaan sama dukun palingan y belum cerai 😝😝😝
Nurul Boed
kasih kesempatan kak buat Pak Andika, biarkan mereka menikmati mass tua bersama 😍😍😍
Kar Genjreng
Jena namanya juga rezeki jadi bagi Budi laki laki atau perempuan pasti akan di sayang. nanti kalau punya Anak Budi protektif jangan cemburu ya sama Pak Su
pasti akan sayang banget ,,, apapun jenis kelamin nya karena Budi tipe sayang dengan Anak Anak buktinya dengan Alena kan malah panggil nya Ayah. orang mengira sudah punya Anak termasuk Kamu kan 🤣 ternyata keponakan. mama nya mau nikah lagi tetap saja mau tinggal dengan Nenek dari Budi,,, selamat ya Jena pelan pelan Bu Mil cemburu an ya 😂😂
achi
dia menyesal dan bercerai karena tau kelakuan juwita kalo nggak kayanya tetap begitu terus kan jadi alasan andika mau hidup sama asri ya sebagai ban serep karena sama juwita dah ancur😢
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
pingin di plock2 apa pingin di puk2 jen 😂 bumil satu ini sudah mulai berani minta duluan yaa 😂 sudah tahu ternyata buat anak nikmat yaa jen, jadinya mau lagi dan lagi 😂 sekarang baru tahu kan jen? ternyata menikah tidak semenakutkan dalam bayangan kamu, menikah itu enak pas bagian Buat anaknya 😆🤭
lyani
tenang Bud nanti dapat twins sepasang
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
mau anak kamu laki2 atau perempuan, pada akhirnya semua yang di miliki papa kamu, tetap jatuh ke tangan kamu jen. papa kamu sudah mau pensiun, sudah mau menikmati hari tua dengan momomg cucu 😂 dan masalah Dara tak usah kamu takut dan khawatir jen, Dara bukan seperti Naura. Apalagi Dara sudah berfikir kalau mau masuk pesantren. jadi, belajar lah menerima Dara berdamai lah dengan keadaan, punya saudara cewek itu asyik lhoo jen. Kamu boleh membenci juwita, tapi jangan benci Dara. karena kalian sama, sama2 korban Andika.
Asih Rahmadhani Bohara
kox pengen endingnya Jena baikan ama Dara ya. kayak Yumi sama sani.. lama2 kn mereka akur juga.. bisa d panjangin g Thor. sampai anak mereka besar 😁😁
Turwaty suketi
Nah gini kan enak nurut apa kata mas suami.😍
mimief
mantab..warisan aman🤣🤣
dyah EkaPratiwi
bener kata Budi jen, semangat pak mil bumil
Shee_👚
kalanan ini jalanan mungkin ya kak?
Shee_👚
lah kalau abis tar kalau pengin lagi bagaimana bud🤣🤣
Shee_👚
aamiin
Shee_👚
harus belajar dari pengalaman jena, jangan sampai anakmu merasakan seperti apa yang kamu alami
Shee_👚
betul apa yang di katakan budi, apapun nanti jenis kelaminnya dia tetep anak kamu. dan jangan sampai merasa tak di harapkan
Mamah Nisa
bahagianyaaaa.....mau punya anak....
yg baca juga ikut bahagia....sampe senyum2 sendiri....😍
Fitra Sari
lanjutt kk♥️♥️🙏
Shee_👚
kamu meninggal juwita juga karena Juwita ketahuan lagi maen kuda-kudaan sama laki2 lain. kalau gak ke tahuan busuknya juga masih di pertahankan😏
Shee_👚
ko aku sakit ya mendengar bu asri ngomong begitu😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!