Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Ryland Kalindra
Sion tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekat. Raina mundur satu langkah. “Sion, jangan.”
“Sion.” Dan sebelum Raina sempat menghindar, kedua lengan Sion sudah melingkari pinggangnya dari belakang.
Tubuh Raina seketika menegang. “Lepaskan aku.”
“Tidak.”
Jawaban itu begitu tenang hingga membuat Raina semakin kesal. “Kau ini—”
Sion menyandarkan dagunya di bahu Raina. “Aku hanya ingin memelukmu.”
Raina terdiam, pipi yang sebelumnya sudah merah kini semakin panas. “Kau pikir setelah membuatku kesal dan malu seperti tadi, kau boleh seenaknya memelukku?”
“Boleh.”
“Siapa yang memberimu izin?”
Sion berpikir sejenak. “Tidak ada.”
“Kalau begitu lepaskan.”
“Tidak mau.”
Raina mendengus kesal. Namun ketika ia hendak melepaskan tangan Sion dari pinggangnya, pelukan itu justru mengerat. “Sion...”
Pria itu menundukkan kepala sedikit. “Aku minta maaf.”
Kalimat sederhana itu membuat gerakan Raina terhenti. Untuk beberapa detik, tidak ada suara di antara mereka. Di sisi lain kamar, Sean dan Shia masih tertidur pulas, sama sekali tidak mengetahui keributan kecil yang terjadi di dekat pintu.
Raina menatap kedua anaknya. Lalu menghela napas. “Kau selalu seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Membuatku marah... kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa terus marah.”
Sion tersenyum tipis. “Berarti itu cukup berhasil.”
Raina langsung menoleh. “Jangan senang dulu.”
Sion hanya memeluknya lebih erat. Dan kali ini, Raina tidak lagi berusaha melepaskan diri. Meski wajahnya masih merah karena malu, ia membiarkan dirinya diam dalam pelukan pria yang seharusnya sudah menjadi bagian dari masa lalunya. Masalahnya... hatinya sendiri sepertinya tidak benar-benar menganggap Sion sebagai masa lalu.
“Ayo, tidur! Ini sudah sangat larut,” ujar Raina.
“Mm, kita tidur di sini bersama anak-anak,” balas Sion.
“Ya, mereka pasti akan sangat senang jika terbangun nanti Papah dan Mamahnya ada disamping mereka.”
Raina bisa dengan jelas membayangkan bagaimana wajah bahagia Sean dan Shia saat terbangun dan mendapati kedua orang tuanya mendekap lembut tubuh mereka.
...****************...
Sementara di bagian benua lain. Ryland Kalindra, seorang Ceo Kalindra Group yang khusus memproduksi senjata berteknologi canggih yang diakui oleh seluruh dunia. Bahkan semua senjatanya selalu diperebutkan oleh pihak militer pemerintah, para klan mafia dan gangster lainnya.
Ryland menurunkan ponselnya perlahan. Panggilan itu baru saja berakhir, tetapi suara Raina masih terngiang jelas di kepalanya.
"Semuanya berjalan lancar."
Hanya itu… tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada cerita tentang bagaimana kekacauan itu terjadi. Raina bahkan tidak terdengar seperti seseorang yang baru saja menggagalkan pernikahan mantan suaminya.
Namun Ryland mengenal kakaknya dengan baik. Kalau Raina mengatakan semuanya berjalan lancar, itu berarti keadaan benar-benar sudah berada di bawah kendalinya. Ryland mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Jadi kalian benar-benar berhasil..."
Dia bisa membayangkan wajah Sion saat mengetahui pernikahannya dengan Laura berantakan. Pria itu mungkin tetap memasang ekspresi dinginnya, seolah dunia baru saja runtuh di hadapannya tanpa sedikit pun memengaruhinya.
Tapi Ryland tahu lebih baik. Sion bukan pria yang mudah kehilangan kendali. Dan jika sampai Raina, Sean, dan Shia berhasil menggagalkan pernikahan itu lalu kembali ke Mansion utama Maximillian tanpa terluka, maka ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.
Ryland mengambil ponselnya lagi. Ada satu pesan dari Hayden Serrano, salah satu orang kepercayaannya sekaligus sahabat baiknya yang berisi, Mereka sudah aman di mansion utama kediaman Maximillian.
Ryland membaca pesan itu sekali. Lalu sekali lagi… Mansion utama Maximillian. Tempat yang selama ini menjadi pusat kekuasaan keluarga itu. Tempat yang, dalam keadaan normal, seharusnya menjadi lokasi paling berbahaya bagi Raina dan kedua anaknya. Dan tempat dimana Raina pernah terjebak sebagai istri yang diabaikan oleh Sion selama tiga tahun. Namun sekarang justru di sanalah mereka berada.
Ryland terkekeh pelan. "Baiklah, Kak." Tatapannya berubah serius. "Kalau begitu, sekarang giliranku."
Ia berdiri dari kursinya. Sudah terlalu lama ia berada di belakang layar. Selama ini, Ryland bertugas memastikan segala sesuatu yang dibutuhkan Raina tersedia tanpa pernah benar-benar muncul di hadapannya. Informasi, jalur keluar, orang-orang yang bisa dipercaya, bahkan beberapa masalah yang tidak pernah diketahui Raina telah ia selesaikan jauh sebelum masalah itu menyentuh kakaknya.
Tapi kali ini berbeda. Raina sudah masuk ke sarang singa. Sean dan Shia juga ada bersamanya. Dan Ryland tidak akan membiarkan kakaknya menghadapi keluarga Maximillian sendirian.
Ia berjalan menuju meja di sudut ruangan dan mengambil sebuah map hitam yang sejak beberapa hari lalu sudah disiapkannya. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen, foto, alamat, serta nama-nama yang seharusnya tidak pernah jatuh ke tangan orang yang salah.
Ryland menutup map itu. "Kalau Sion berani memperlakukan Kakakku seperti dulu lagi," gumamnya, "maka aku akan memastikan dia tahu bahwa Raina tidak datang sendirian."
Ponselnya kembali bergetar. Nama Raina muncul di layar. Senyuman bahagia pun segera terukur di wajahnya. Padahal belum satu hari Raina bersama Sean dan Shia pergi, tetapi Ryland sudah sangat merindukan mereka.
Ryland mengangkatnya. "Kenapa?"
Suara Raina terdengar dari seberang, sedikit lelah tetapi jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. "Kau belum berangkat, kan?"
Ryland tersenyum. "Belum."
"Ryland..."
"Aku tahu." Ia mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Kau ingin aku tetap di sini, bukan?"
Hening beberapa detik. "Aku cuma tidak ingin kau ikut terseret ke dalam masalah ini."
Ryland berhenti memasukkan ponselnya ke saku. Untuk sesaat, ekspresinya melunak. Itulah Raina, Kakak perempuannya. Bahkan setelah menggagalkan pernikahan mantan suaminya, membawa dua anak mereka masuk ke mansion keluarga mafia, dan mungkin sedang duduk di tengah sarang musuhnya, wanita itu masih memikirkan keselamatannya.
"Kak." Suara Ryland terdengar tenang. "Sudah terlambat untuk mengatakan itu."
"Ryland—"
"Aku sudah tahu semuanya. " Ia tersenyum tipis. "Dan kau juga tahu aku tidak akan membiarkanmu menghadapi para bajingan sialan itu sendirian."
Di seberang sana, Raina tidak menjawab. Ryland dapat membayangkan kakaknya sedang menghela napas. Kemudian suara Raina terdengar pelan. "Kalau begitu hati-hati."
Senyum Ryland melebar. "Selalu, Kak!"
Panggilan berakhir. Ryland memasukkan ponselnya ke saku jas, lalu mengambil kunci mobil. Sebelum meninggalkan ruangan, ia berhenti sejenak dan menatap sebuah foto yang terletak di atas meja. Foto lama dirinya bersama Raina. Saat mereka masih kecil. Saat dunia belum mengenal nama Maximillian, mafia, pengkhianatan, atau pernikahan yang berakhir dengan kekacauan.
Ryland mengambil foto itu dan menyimpannya di laci. "Jangan khawatir, Kak." Tatapannya menjadi dingin. "Kalau mereka memilih menjadikan kakak sebagai permainan..."
Ia membuka pintu. "...maka aku akan memastikan mereka menyesal sudah memulai dan melukaimu dulu, Kak! Aku akan memastikan mereka membayar mahal atas semuanya yang kau lalui selama ini."
Bersambung….