Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mereka memilih penginapan terbaik di distrik kultivator elit Kota Kekaisaran: Menara Api Surgawi. Bangunan setinggi dua puluh lantai itu dibangun dari batu obsidian hitam yang dipoles hingga berkilau seperti lava yang membeku, setiap kamar dilengkapi formasi api murni yang menjaga suhu dan qi tetap optimal. Lin Feng memesan suite teratas, lantai paling atas dengan pemandangan kota malam yang gemerlap dan balkon pribadi menghadap langit berbintang.
Begitu pintu kamar tertutup, Ye Qingyu langsung menempel pada Lin Feng seperti magnet. Bibirnya mencari bibir pria itu dengan rakus, tangannya sudah membuka ikatan jubah Lin Feng sambil mendorongnya mundur ke arah ranjang besar yang ditutupi seprai sutra merah.
“Kau tahu kan,” bisiknya di sela ciuman, napasnya panas di telinga Lin Feng, “sejak tadi di gang aku belum puas. Aku ingin kau ambil aku lagi… lebih ganas.”
Lin Feng mengangkat tubuh Ye Qingyu dengan mudah, melemparkannya pelan ke ranjang. Gadis itu mendarat dengan anggun, jubah hitamnya terbuka lebar memperlihatkan tubuh nya yang sempurna di bawahnya. Dua Puncak Kembarnya yang montok naik-turun seiring napas cepat, puncak merah mudanya sudah tegak sempurna. Pinggang rampingnya melengkung indah, perut rata dengan garis otot halus dari kultivasi bayangan, lalu pinggul lebar yang menggoda dan paha panjang jenjang yang terbuka lebar menyambutnya.
Lin Feng menatapnya seperti predator yang lapar. Ia melepas jubahnya sendiri, memperlihatkan tubuh berotot keras yang terpahat sempurna oleh api abadi, dada bidang, perut six-pack yang tegas, dan tombak penghancurnya yang besar yang sudah tegak keras, urat-uratnya berdenyut panas seperti bara hidup.
“Kau ingin ganas?” tanyanya serak, suaranya rendah dan menggoda.
Ye Qingyu mengangguk, menggigit bibir bawahnya sambil merangkak ke arah Lin Feng di atas ranjang. Ia menarik pria itu turun, membalik posisi hingga ia berada di atas. Kedua puncak kembarnya yang besar menekan dada Lin Feng, pucuknya bergesekan dengan kulit pria itu membuat keduanya mendesah bersamaan.
“Aku ingin kau ambil kendali,” bisiknya, lalu menurunkan tubuhnya perlahan, memasukkan tombak pengancur Lin Feng ke dalam dirinya dengan gerakan lambat yang menyiksa. Ia menggoyang pinggulnya pelan dulu, membiarkan sensasi penuh itu meresap, lalu semakin cepat. Tubuh bagian belakangnya yang montok naik-turun dengan ritme yang sempurna, setiap gerakan membuat kedua puncak kembarnya bergoyang liar di depan wajah Lin Feng.
Lin Feng meraih kedua puncak kembar itu, meremas kuat sambil memilin kuncupnya. “Kau terlalu indah saat begini,” geramnya, lalu tiba-tiba membalik posisi lagi. Ia menekan Ye Qingyu ke bawah, mengangkat kedua kakinya yang panjang jenjang ke bahunya, membuat tubuh gadis itu terbuka lebar sepenuhnya.
Dengan satu dorongan kuat, ia masuk dalam-dalam hingga Ye Qingyu menjerit manja. Lin Feng mulai bergerak ganas—setiap hantaman keras membuat ranjang berderit, payudara Ye Qingyu melonjak-lonjak, pinggulnya terangkat menyambut setiap dorongan. Tangan Lin Feng turun ke bokongnya yang bulat, meremas dan menampar pelan hingga kulit putih itu memerah indah.
“Ahh… Lin Feng… lebih dalam… hancurkan aku…” desah Ye Qingyu, kuku-jarinya mencakar punggung pria itu, meninggalkan goresan merah yang langsung sembuh karena api abadi.
Lin Feng mempercepat ritme, tubuh mereka basah keringat, suara kulit bertemu kulit bergema di kamar mewah itu. Ye Qingyu mencapai puncak pertama—tubuhnya kejang hebat, cairan hangat membanjiri tombak penghancur Lin Feng, tapi pria itu tidak berhenti. Ia menarik Ye Qingyu ke posisi menungging lagi, memegang pinggul rampingnya dari belakang sambil menghantam dengan kekuatan penuh.
Kedua puncak kembarnya bergoyang liar di bawah, bokong montoknya memantul setiap kali Lin Feng masuk. Ye Qingyu menjerit lagi, puncak kedua datang lebih cepat, tubuhnya gemetar tak berdaya. Lin Feng akhirnya mencapai puncak, ia menarik keluar di detik terakhir, memenuhi punggung dan bokong Ye Qingyu dengan panas api murni yang membuat kulit gadis itu bergetar karena kenikmatan ekstra.
Mereka ambruk bersama di ranjang, napas tersengal. Ye Qingyu memeluk Lin Feng erat, wajahnya bersembunyi di leher pria itu, bibirnya mencium pelan kulit yang masih panas.
“Kau… membuatku tak bisa berhenti,” bisiknya sambil tersenyum manja. “Setiap kali kita bersama… rasanya seperti api dan bayangan menyatu jadi satu.”
Lin Feng membelai rambut hitam panjangnya, jari-jarinya menyusuri punggung mulus yang masih basah keringat. “Kau milikku sekarang, Qingyu. Sepenuhnya.”
Ye Qingyu mengangkat wajah, mencium bibir Lin Feng lembut tapi dalam. “Dan kau milikku. Jangan pernah lepaskan aku… meski dunia ini membencimu.”
Mereka berbaring saling peluk lama, tubuh telanjang mereka menempel tanpa celah. Api unggun kecil yang Lin Feng ciptakan di balkon menyala pelan di luar jendela, menyinari kota malam yang gemerlap. Di bawah sana, Pameran Artefak Besar akan dibuka besok pagi—tempat di mana kekuatan, rahasia, dan musuh baru menanti.
Tapi malam ini, di kamar suite Menara Api Surgawi, hanya ada mereka berdua. Api yang dulu lahir dari dendam kini membara untuk satu orang—dan Ye Qingyu, bayangan yang dulu hidup dalam kegelapan, kini menemukan cahaya di pelukan pria itu.
Mereka tertidur dengan senyum kecil di bibir, tubuh saling melingkar, siap menghadapi apa pun yang datang besok… selama mereka bersama.