Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Kematian
Perjalanan menuju kediaman Nathaniel terasa lebih hening dari biasanya. Alessia duduk di kursi belakang, menatap deretan pepohonan yang berlalu di balik jendela mobil. Pikirannya melayang pada sosok mentornya yang selalu tampak tak tergoyahkan. Baru kali ini ia melihat Nathaniel meminta izin pulang lebih awal, sebuah pemandangan langka bagi pria yang biasanya menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor.
"Ayah, apa Kak Nathan sering begini setiap tahun?" tanya Alessia memecah kesunyian.
William mengangguk pelan, tatapannya menerawang. "Setiap tahun, Alessia. Tanggal ini adalah hari yang paling berat baginya. Dia mungkin terlihat kuat di depan kita, tapi kehilangan adik satu-satunya di usia semuda itu meninggalkan luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh."
Rosetta mengusap tangan Alessia lembut. "Itulah sebabnya kita harus ada di sana. Nathaniel sudah menjaga kita seperti keluarganya sendiri, sekarang giliran kita menemaninya di saat dia merasa paling sendirian."
Mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis yang asri namun terasa sangat sunyi. Tidak ada keramaian, hanya ada beberapa pasang sepatu di depan pintu. Begitu masuk, aroma hio dan bunga sedap malam yang menenangkan menyambut mereka.
Di sudut ruang tengah yang tertata sangat rapi, Nathaniel sedang berlutut di depan sebuah meja kecil. Di atas meja itu terdapat bingkai foto seorang gadis remaja yang memiliki senyum sangat mirip dengan Nathaniel, hangat dan tulus, jenis senyum yang jarang Nathaniel tunjukkan di kantor. Ada beberapa piring kecil berisi buah-buahan dan makanan kesukaan sang adik yang tertata manis.
Nathaniel yang mendengar langkah kaki menoleh. Ia tampak terkejut melihat kehadiran keluarga Sinclair lengkap dengan pakaian hitam mereka. Ia segera berdiri, meskipun matanya tampak sedikit sembab dan lelah.
"Tuan... Nyonya... Alessia? Kalian tidak peril repot-repot datang ke sini," ucap Nathaniel, suaranya sedikit serak, jauh dari nada baritonnya yang biasanya tegas.
"Jangan panggil Tuan dan Nyonya di rumah ini, Nathan," potong William sambil memeluk bahu Nathaniel dengan erat. "Kami datang untuk menemui putra kami dan mendoakan adiknya."
Rosetta meletakkan keranjang buah yang mereka bawa di meja peringatan, lalu membelai rambut Nathaniel layaknya seorang ibu. "Kamu sudah bekerja keras sepanjang tahun, Nathan. Hari ini, biarkan kami yang menjagamu."
Alessia berdiri mematung di belakang ibunya. Ia menatap foto adik Nathaniel, lalu beralih menatap Nathaniel yang kini tampak begitu rapuh tanpa zirah jas kantornya. Ia hanya mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung, terlihat sangat manusiawi dan jauh dari kesan "tembok berjalan".
"Kak..." bisik Alessia mendekat. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi ia hanya mengulurkan sebuah kotak kecil berisi kue cokelat yang sempat ia beli tadi. "Aku tahu ini tidak seberapa, tapi aku ingat Kakak pernah bilang kalau dia suka makanan manis."
Nathaniel menerima kotak itu, jemarinya bersentuhan dengan jemari Alessia sejenak. Ia menatap Alessia dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa terima kasih yang mendalam di sana.
"Terima kasih, Alessia. Dia pasti akan sangat senang," jawab Nathaniel dengan senyum tipis yang tulus, senyum yang kali ini tidak disembunyikan di balik protokol bisnis.
———
Alessia mendengus pelan, matanya menyapu isi kulkas Nathaniel yang lebih mirip pameran teknologi pendingin daripada tempat penyimpanan makanan. Hanya ada beberapa botol air mineral dan satu kotak susu yang masa kedaluwarsanya tinggal menghitung hari.
"Kak... kulkasnya kosong begini. Besok sepulang kantor kita harus belanja bulanan ya! Setidaknya ada telur lah, atau paling minim mie instan kalau Kakak malas keluar," kata Alessia sambil menoleh ke arah Nathaniel yang berdiri di dekat meja makan.
Nathaniel mengusap tengkuknya, tampak sedikit canggung karena privasi "dapur"-nya dibongkar begitu saja. "Aku jarang memasak, jadi aku biarkan kosong. Biasanya aku makan di kantin kantor atau pesan sesuatu yang praktis di perjalanan pulang," jawab Nathaniel datar, seolah hal itu sangat wajar bagi pria lajang sesibuk dirinya.
"Tapi Kak, ini rumah, bukan hotel!" seru Alessia gemas. Ia terdiam sejenak, lalu menatap Nathaniel dengan binar mata yang tiba-tiba cerah. "Begini saja... bagaimana kalau Kakak pindah saja ke rumah kami? Kamar tamu di sayap kanan selalu kosong, dan Ibu pasti senang sekali kalau meja makan tidak sepi."
Mendengar itu, wajah Rosetta seketika berbinar. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, menatap Nathaniel dengan penuh harap. Ia sudah lama ingin Nathaniel benar-benar menjadi bagian dari keseharian mereka, bukan hanya sekadar "kakak angkat" yang datang dan pergi sesuai jam kantor.
Nathaniel tertegun. Ia menatap tiga pasang mata yang menunggunya dengan penuh kehangatan. Namun, rasa sungkan yang sudah mendarah daging di dalam dirinya segera membentengi hatinya.
"Tidak... aku sudah banyak menyusahkan keluarga Sinclair. Mana mungkin aku tinggal di sana lagi. Aku harus belajar mandiri dan menjaga batasan profesional," jawab Nathaniel dengan nada halus namun sangat tegas. Ia tidak ingin menjadi beban lebih besar bagi orang-orang yang telah menyelamatkannya sepuluh tahun lalu.
William, yang melihat perubahan ekspresi Nathaniel, segera menepuk bahu putrinya dengan lembut. Ia mengerti bahwa bagi pria seperti Nathaniel, harga diri dan kemandirian adalah segalanya.
"Sudah Alessia, jangan bebankan kakakmu dengan permintaan itu. Nathaniel sudah dewasa, dia punya hak untuk menentukan ruang pribadinya sendiri," ungkap William bijak, mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.
Nathaniel memberikan anggukan penuh rasa terima kasih kepada William. "Terima kasih, Ayah. Tapi aku berjanji, besok sepulang kantor aku akan menemani Alessia belanja bulanan seperti permintaannya. Aku tidak ingin dia mengomel setiap kali membuka kulkasku."
Alessia akhirnya menyerah, meski bibirnya sedikit dikerucutkan. "Awas ya kalau lupa! Jam lima teng kita harus sudah ada di supermaket!"
Malam peringatan itu pun berakhir dengan suasana yang jauh lebih ringan. Meskipun Nathaniel menolak untuk tinggal bersama, kehadiran keluarga Sinclair di rumahnya malam itu telah mengisi kekosongan yang selama ini ia rasakan di sudut hatinya.
Suasana di ruang tamu yang tenang itu mendadak berubah menjadi lebih intim. William menyesap teh hangatnya, matanya menatap tajam namun penuh kasih ke arah Nathaniel. Ia tahu, di balik dedikasi tanpa batas pria ini terhadap Sinclair, ada kehidupan pribadi yang seolah sengaja ditelantarkan.
"Kamu masih belum mau menikah?" tanya William tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat merayap.
Nathaniel tertegun sejenak. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan pelan, mencoba mencari jawaban yang paling aman.
"Belum, Ayah... Sepertinya aku juga tidak sempat memikirkan kencan. Jadwal kantor dan mengawasi renovasi sudah menyita seluruh waktuku."
William menghela napas panjang, ia meletakkan tangannya di bahu Nathaniel. "Jika memang kamu butuh waktu untuk berkencan, katakan saja. Ayah akan siapkan waktunya, kapan pun. Kamu bisa ambil cuti seminggu, sebulan, atau sesukamu untuk urusan itu."
Nathaniel tersenyum tipis, sebuah senyum hambar yang menyiratkan bahwa hatinya memang belum terbuka untuk siapa pun, atau mungkin, sudah terkunci untuk seseorang yang tak mungkin ia miliki.
"Iya, Ayah... Terima kasih. Lagipula, kurasa tidak masalah jika aku tidak menikah. Hidupku sudah cukup lengkap dengan mengabdi pada keluarga ini," ungkap Nathaniel jujur. Baginya, melihat Alessia aman dan bisnis Sinclair stabil sudah lebih dari cukup.
Namun, wajah William berubah serius. Tatapannya tidak lagi jenaka, melainkan penuh kekhawatiran seorang orang tua.
"Kamu harus menikah, Nathan. Selain Alessia, kamu adalah orang yang paling Ayah khawatirkan di dunia ini," kata William dengan suara rendah yang bergetar.
"Ayah tidak mau saat Ayah dan Rosetta sudah tidak ada nanti, kamu tetap sendirian di rumah sepi ini tanpa ada seseorang yang menyambutmu pulang atau mengurusmu saat sakit."
Rosetta yang duduk di samping Alessia ikut mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Benar, Nathan. Kami ingin melihatmu memiliki kebahagiaanmu sendiri, bukan hanya menjadi bayangan bagi kebahagiaan kami."
Alessia terdiam seribu bahasa. Ia menatap Nathaniel yang kini tertunduk, memandangi karpet di bawah kakinya. Ada rasa sesak yang aneh di dada Alessia mendengar ayahnya mendesak Nathaniel untuk menikah. Tiba-tiba, bayangan Nathaniel bersanding dengan wanita lain di pelaminan terasa sangat... salah di matanya.
"Ayah jangan menekan Kak Nathan terus," gumam Alessia pelan, meski suaranya terdengar tidak yakin.
Nathaniel mendongak, menatap William dengan tulus. "Akan aku pikirkan, Ayah. Tapi untuk sekarang, memikirkan stok telur di kulkas untuk besok pagi jauh lebih mendesak daripada memikirkan calon istri."
Candaan kecil itu berhasil mencairkan suasana, meski William tahu bahwa Nathaniel hanya sedang mencoba mengalihkan pembicaraan.