Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Udara pagi di Jakarta Selatan terasa lebih dingin dari biasanya, seolah mendukung suasana hati Alisa yang masih belum menentu sejak perdebatan mereka di balkon semalam. Pukul lima pagi, alarm di kamar Alisa berbunyi, namun ia sudah terjaga sejak satu jam yang lalu. Ia mendengar derap langkah sepatu bot yang berat di koridor—suara yang kini ia kenali sebagai tanda bahwa "si robot" sedang bersiap untuk misi.
Alisa keluar dari kamarnya dengan piyama satin biru tua, rambutnya sedikit berantakan. Ia mendapati Davino sudah berdiri di ruang tengah, sedang memeriksa kembali magasin senjatanya sebelum dimasukkan ke dalam tas taktis hitam yang besar. Pria itu sudah mengenakan seragam lapangan serba hitam, lengkap dengan rompi anti-peluru yang membuatnya tampak dua kali lebih lebar dan mengintimidasi.
"Jadi berangkat sekarang?" tanya Alisa pelan, bersandar pada pilar pintu.
Davino menoleh singkat. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Iya. Tim sudah menunggu di titik kumpul dalam tiga puluh menit."
"Dua hari, kan?" Alisa mencoba memastikan. Meskipun mereka sering berdebat, ada rasa was-was yang merayap di dada Alisa setiap kali ia melihat Davino berpakaian lengkap seperti ini. Baginya, pakaian itu adalah pengingat bahwa pria di depannya ini setiap saat bisa saja pulang dalam keadaan tidak bernyawa.
"Bisa lebih, bisa kurang. Tergantung situasi di lapangan," jawab Davino datar. Ia menyampirkan tas berat itu di bahunya, lalu menoleh ke arah kamar Maura. "Maura sudah bangun?"
Tepat saat itu, pintu kamar Maura terbuka. Gadis itu keluar sambil mengucek matanya, mengenakan kaos kebesaran. "Bang Vino? Sudah mau berangkat?"
Davino mengangguk. "Jaga rumah. Jangan biarkan Alisa pulang terlalu larut, dan pastikan sistem keamanan selalu aktif."
Maura mendekat, wajahnya yang mengantuk berubah menjadi sedikit sedih. Ia selalu cemas setiap kali kakaknya berangkat tugas luar kota. "Bang, janji ya pulang tanpa luka? Aku tidak mau melihat Alisa menangis lagi karena kamu terluka."
Alisa sedikit tersentak mendengar kalimat Maura. Menangis karena dia? Alisa tidak pernah melakukannya, tapi ia tahu Maura sedang berusaha membangun narasi "istri yang peduli" di antara mereka.
Davino terdiam sejenak. Ia melirik Alisa, lalu kembali menatap adiknya. Sebuah ide terlintas di kepalanya untuk menenangkan Maura—dan mungkin untuk menegaskan dominasinya sebagai "suami" dalam sandiwara ini.
"Kemari, Alisa," perintah Davino dengan suara yang mendadak melembut, namun tetap penuh otoritas.
Alisa mengerutkan kening, namun ia melangkah mendekat. Ia mengira Davino ingin membisikkan instruksi keamanan rahasia. Namun, saat ia sudah berdiri tepat di depan pria itu, Davino justru meletakkan tangan besarnya di pundak Alisa.
"Mas...?" bisik Alisa bingung.
Tanpa peringatan, Davino merunduk sedikit. Ia mengecup kening Alisa dengan perlahan. Kecupan itu singkat, namun tekanannya sangat terasa di kulit Alisa. Ini adalah kedua kalinya Davino melakukannya sejak kecupan formal saat akad nikah mereka beberapa bulan lalu. Aroma parfum kayu cendana dan bau samar dari pelumas senjata yang menempel di tubuh Davino menyerbu indra penciuman Alisa.
Alisa membeku. Jantungnya berpacu, bukan karena cinta, melainkan karena syok yang luar biasa. Matanya membelalak menatap dada Davino yang tertutup rompi taktis.
"Jaga diri baik-baik di rumah sakit. Jangan terlalu lelah," ucap Davino dengan nada yang sangat romantis, sebuah akting yang sangat sempurna hingga hampir membuat Alisa percaya jika ia tidak tahu betapa dinginnya pria ini semalam. "Aku akan segera pulang kepadamu."
Maura yang melihat pemandangan itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berbinar-binar. "Duh, pagi-pagi sudah dapet asupan gula! Ya sudah, Bang, berangkat gih! Biar kak Alisa aku yang jaga."
Davino melepaskan tangannya dari bahu Alisa. Begitu ia berbalik membelakangi Maura, ekspresi lembut di wajahnya hilang seketika, kembali menjadi topeng es yang kaku. Ia menatap Alisa dengan tatapan "ini-hanya-tugas" yang sangat jelas.
"Aku berangkat," kata Davino, kali ini dengan suara aslinya yang berat.
Alisa hanya bisa mengangguk kaku, tangannya tanpa sadar menyentuh keningnya yang baru saja dikecup. Ia memperhatikan punggung lebar itu menghilang di balik pintu depan, disusul oleh suara deru mesin mobil taktis yang menjauh dari halaman rumah.
"Cieee... yang keningnya baru dicium suami tercinta," goda Maura sambil menyenggol lengan Alisa. "Wajahnya merah banget loh kak! Ternyata Bang Vino bisa romantis juga ya kalau mau berangkat tugas."
Alisa memaksakan tawa kecil yang terdengar sangat palsu di telinganya sendiri. "Dia... dia cuma pamit, Ra. Sudah, sana mandi. Katanya ada kuliah jam delapan?"
"Iya, iya! Tapi serius kak, kalian itu pasangan paling aneh tapi paling manis yang pernah aku lihat. Kadang berantem sampai tembok getar, kadang romantis sampai aku yang jomblo ini pengen menghilang," celetuk Maura sebelum masuk kembali ke kamarnya dengan ceria.
Setelah Maura hilang dari pandangan, Alisa terduduk di sofa. Sentuhan bibir Davino di keningnya masih terasa meninggalkan sensasi hangat yang menjengkelkan. Ia benci bagaimana Davino bisa memanipulasi situasi seolah-olah mereka adalah pasangan yang saling mencintai hanya untuk menenangkan Maura atau untuk menjaga citra pernikahan mereka.
"Dasar polisi gila," gumam Alisa. Ia merasa dipermainkan. Ia ingin marah, tapi tidak ada subjek yang bisa dimarahi karena Davino sudah pergi menuju bahaya yang nyata.
Pukul sepuluh pagi, Alisa sudah berada di rumah sakit. Meskipun fisiknya ada di ruang poliklinik, pikirannya terus melayang ke perbatasan. Ia membayangkan Davino sedang merayap di hutan atau melakukan penggerebekan di tempat kumuh.
"Dok? Dokter Alisa?"
Alisa tersentak. Pasien di depannya, seorang ibu yang mengeluhkan nyeri perut, menatapnya dengan bingung.
"Ah, maaf Bu. Tadi saya sedang... berpikir tentang dosis obat Ibu. Jadi, ngerinya terasa tajam atau tumpul?" Alisa berusaha kembali profesional, namun fokusnya benar-benar hancur.
Saat jam makan siang, Fani mendatangi meja Alisa dengan wajah penuh selidik. "Al, kamu aneh hari ini. Tadi perawat bilang kamu hampir salah menulis resep."
"Aku cuma kurang tidur, Fan," kilah Alisa.
"Atau karena suamimu berangkat luar kota lagi?" Fani duduk di sampingnya, menyesap teh melati. "Aku lihat di berita, ada pergerakan pasukan besar-besaran ke arah perbatasan pagi tadi. Katanya terkait dengan pengejaran sisa-sisa sindikat narkoba internasional. Itu timnya Davino, kan?"
Alisa mengangguk lesu. "Dia tidak bilang detailnya. Cuma bilang 'luar kota'."
"Al, jujur padaku. Kalian sudah... ya tahu lah, lebih dari sekadar kontrak?"
"Maksudmu?"
"Kamu terlihat cemas berlebihan. Seperti istri yang takut suaminya tidak kembali. Padahal biasanya kamu yang paling skeptis kalau soal Davino."
Alisa terdiam. Benarkah ia cemas berlebihan? Ataukah itu hanya insting kemanusiaan karena ia tahu Davino menuju tempat berbahaya? "Dia mengecup keningku tadi pagi, Fan," bisik Alisa tiba-tiba.
Mata Fani hampir keluar dari kelopaknya. "Apa?! Serius? Si robot es itu?"
"Di depan Maura. Dia melakukannya hanya untuk akting," Alisa buru-buru menambahkan.
"Akting atau bukan, kening itu aset pribadi, Al! Kenapa kamu biarkan?"
"Aku kaget! Dia melakukannya begitu saja. Dan dia bilang... dia akan segera pulang kepadaku dengan nada yang sangat... ugh, aku bahkan geli mengingatnya."
Fani tertawa terbahak-bahak sampai beberapa rekan dokter lain menoleh ke arah mereka. "Hati-hati, Alisa. Garis antara akting dan kenyataan itu tipis sekali. Apalagi kalau kalian tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan menghadapi bahaya yang sama. Jangan sampai kamu yang jatuh cinta duluan sementara dia tetap jadi robot."
"Tidak akan," sahut Alisa mantap. "Aku tidak akan jatuh cinta pada pria yang menganggap nyawa orang seperti angka di laporan statistiknya."
Sore harinya, saat Alisa sedang memeriksa hasil lab pasien di ruangannya, sebuah berita di televisi ruang tunggu menarik perhatiannya.
"Breaking News: Kontak senjata terjadi di perbatasan sektor utara antara tim Satgas Anti-Teror dengan kelompok penyelundup bersenjata. Dilaporkan ada korban luka dari pihak kepolisian..."
Jantung Alisa seolah berhenti berdetak. Ia berdiri dan berjalan mendekati televisi. Layar menampilkan gambar kabur dari kamera ponsel seorang warga yang memperlihatkan kepulan asap di tengah hutan dan suara tembakan yang bertubi-tubi.
"Alisa?" suara Alvin terdengar dari arah pintu. Pria itu tampak terengah-engah, seragamnya kotor.
Alisa menoleh dengan wajah pucat. "Alvin? Kenapa kamu di sini? Bukankah kamu harusnya bersama Mas Davino?"
Alvin mendekat, napasnya belum stabil. "Aku dikirim kembali untuk mengawal logistik medis tambahan. Davino... timnya terjepit di zona merah, Alisa."
"Apa dia terluka?" suara Alisa bergetar.
Alvin menggeleng ragu. "Aku tidak tahu pasti. Kontak radio terakhir terputus lima belas menit yang lalu. Davino memerintahkan aku untuk memastikan kamu dan Maura aman sebelum aku kembali ke sana dengan bala bantuan."
"Katakan yang sebenarnya, Alvin!" tuntut Alisa, ia mencengkeram lengan seragam Alvin. "Apa dia baik-baik saja?"
"Dia Kapten terbaik yang kita punya, Alisa. Dia tidak akan mati semudah itu," Alvin berusaha menenangkan, namun matanya memancarkan kecemasan yang sama. "Aku harus pergi sekarang. Jangan tinggalkan rumah sakit sampai aku atau tim pengawal menjemputmu."
Alisa menatap kepergian Alvin dengan rasa hampa. Kecupan di kening tadi pagi yang tadinya ia anggap sebagai sandiwara yang menjengkelkan, kini berubah menjadi beban yang sangat berat di dadanya. Kalimat Davino—Aku akan segera pulang kepadamu—terus bergema di kepalanya, kini terdengar lebih seperti janji yang harus ditepati daripada sekadar naskah drama.
Di bawah lampu koridor rumah sakit yang dingin, Alisa menyadari satu hal: ia tetap benci pada sikap kaku Davino, ia tetap benci pada kontrak mereka, namun ia jauh lebih benci pada pemikiran bahwa pria itu mungkin tidak akan pernah kembali untuk menjelaskan mengapa ia mengecup keningnya tadi pagi.
Malam itu, Jakarta terasa sangat sunyi, sementara di suatu tempat yang jauh di sana, api dan peluru sedang menguji apakah kecupan di ambang pintu itu akan menjadi kenangan terakhir ataukah sebuah awal dari sesuatu yang lebih rumit.
Bersambung