Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.
Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.
Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.
.
.
.
.
terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
.
.
.
Langit sore itu tampak redup, tertutup lapisan awan tipis yang membuat cahaya matahari terlihat lembut, hampir pucat. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah yang samar seolah hujan baru saja turun di tempat yang tidak terlalu jauh.
Bella tidak benar-benar merencanakan untuk keluar hari ini.
Namun pikirannya terlalu penuh untuk diabaikan.
Terlalu banyak suara di kepalanya.
Terlalu banyak peringatan yang berulang.
Terlalu banyak pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti.
Ia memutuskan berjalan tanpa tujuan yang jelas, hanya mengikuti jalan setapak yang jarang ia lewati sebelumnya. Jalan itu lebih sepi dari pusat kota, dipenuhi pepohonan tua yang cabangnya saling bertaut di atas kepala, menciptakan bayangan yang bergerak perlahan mengikuti arah angin.
Langkah Bella tidak terlalu cepat.
Ia hanya ingin menenangkan pikirannya.
Namun semakin lama ia berjalan—
Semakin jelas bahwa pikirannya tidak benar-benar ingin tenang.
Karena setiap kali ia mencoba memikirkan hal lain—
Satu nama itu selalu kembali.
Melvin Blastorios.
Bella menghembuskan napas pelan.
Ia bahkan tidak tahu apakah ia ingin bertemu pria itu lagi atau justru menghindarinya.
Tapi takdir… terkadang memiliki cara yang aneh untuk menjawab keraguan.
Langkah Bella melambat ketika ia melihat seseorang berdiri tidak jauh di depan.
Sosok tinggi dengan pakaian gelap yang terlalu mudah dikenali.
Ia berhenti.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Seolah tubuhnya mengenali kehadiran itu lebih dulu daripada pikirannya.
Melvin berdiri di tepi jalan kecil, tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel panjangnya. Ia tampak seperti sedang menunggu seseorang… atau mungkin hanya menikmati kesunyian.
Bella tidak yakin.
Namun saat ia hendak berbalik—
Pria itu sudah menoleh lebih dulu.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada keterkejutan di wajah Melvin.
Seolah ia sudah tahu Bella akan datang.
“Kebetulan yang menarik,” katanya tenang.
Bella mendekat beberapa langkah, berusaha terlihat biasa saja meskipun pikirannya langsung terasa kacau.
“Kota ini tidak terlalu kecil,” jawabnya ringan.
Melvin tersenyum tipis.
“Tapi kita tetap terus bertemu.”
Nada suaranya terdengar santai.
Namun entah kenapa… kalimat itu terasa memiliki makna lain.
Bella menatapnya sejenak.
Ia menyadari sesuatu.
Ia tidak ingin percakapan ini terasa terlalu nyaman.
Tidak setelah semua yang ia dengar.
“Apakah Anda selalu berjalan sendirian di tempat seperti ini?” tanya Bella.
“Apakah Anda khawatir?” balas Melvin tanpa langsung menjawab.
Bella mengangkat alis sedikit.
“Saya tidak yakin apakah saya seharusnya khawatir… atau justru orang lain yang seharusnya khawatir.”
Melvin mengamati wajahnya beberapa detik lebih lama.
Seolah mencoba membaca sesuatu di balik kalimat itu.
“Kedengarannya,” katanya pelan,
“seseorang telah banyak berbicara kepada Anda.”
Bella tidak langsung menyangkal.
Karena memang itu yang terjadi.
“Orang selalu berbicara,” jawabnya akhirnya.
“Terutama ketika mereka merasa takut.”
“Takut?” ulang Melvin.
Nada suaranya terdengar hampir seperti pertanyaan retoris.
Bella menatapnya lurus.
“Mereka mengatakan banyak hal tentang Anda.”
Melvin tidak terlihat terkejut.
Ia justru tampak… sudah menduga.
“Dan Anda memutuskan untuk mempercayai mereka?” tanyanya santai.
Bella terdiam sejenak.
“Apa saya tidak seharusnya?”
Melvin tertawa kecil.
Sangat pelan.
“Jika semua orang mempercayai semua cerita yang mereka dengar… dunia ini akan menjadi tempat yang sangat aneh.”
Bella menyilangkan tangannya perlahan.
“Beberapa cerita terdengar terlalu konsisten untuk diabaikan.”
Melvin memiringkan kepalanya sedikit.
“Contohnya?”
Bella ragu sejenak.
Namun akhirnya ia tetap berkata,
“Mereka mengatakan Anda kejam.”
Hening sejenak.
Angin bergerak pelan di antara pepohonan.
Melvin tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Bella… cukup lama untuk membuat Bella hampir menyesali pertanyaannya sendiri.
“Apa Anda merasa saya kejam?” tanyanya akhirnya.
Pertanyaan itu terasa terlalu langsung.
Bella menelan ludah pelan.
“Ada sisi dari Anda yang… sulit dipahami.”
Melvin tersenyum kecil.
“Itu bukan jawaban.”
Bella menghela napas pelan.
“Baik.”
Ia menatapnya lebih serius.
“Saya melihat Anda membuat keputusan tanpa ragu.”
“Tanpa terlihat… mempertimbangkan perasaan orang lain.”
Melvin tampak berpikir sejenak.
“Perasaan seringkali membuat keputusan menjadi tidak efisien.”
Bella sedikit mengernyit.
“Tidak semua hal harus efisien.”
“Banyak hal yang seharusnya… manusiawi.”
Tatapan Melvin berubah sedikit.
Lebih tajam.
“Manusia sering menggunakan kata ‘perasaan’ untuk membenarkan kesalahan mereka.”
Bella langsung membalas,
“Dan beberapa orang menggunakan kata ‘logika’ untuk membenarkan kekejaman mereka.”
Hening.
Ketegangan muncul begitu saja di antara mereka.
Tidak ada suara lain.
Hanya angin yang bergerak pelan.
Melvin menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Apakah Anda sedang menilai saya, Nona Winston?”
Bella tidak mengalihkan pandangannya.
“Saya hanya mencoba memahami.”
Melvin melangkah satu langkah mendekat.
“Dan apa kesimpulan Anda sejauh ini?”
Bella tidak menjawab segera.
Karena sejujurnya—
Ia memang belum memiliki kesimpulan.
“Itu masalahnya,” katanya pelan.
“Saya tidak tahu mana yang harus saya percaya.”
Melvin menatapnya lebih lama.
“Kisah orang lain… atau pengalaman Anda sendiri?”
Bella terdiam.
Kalimat itu tepat mengenai inti pikirannya.
Ia tidak menyangka Melvin akan mengatakannya dengan begitu langsung.
“Mungkin keduanya,” jawabnya akhirnya.
Melvin menggeleng kecil.
“Itu biasanya berarti Anda tidak sepenuhnya mempercayai salah satunya.”
Bella tersenyum tipis.
“Atau mungkin… saya cukup berhati-hati untuk tidak mempercayai sepenuhnya siapa pun.”
Melvin tampak sedikit terkejut.
Hanya sedikit.
Namun cukup untuk membuat Bella menyadarinya.
“Termasuk saya?” tanyanya.
Bella tidak langsung menjawab.
Ia menatapnya sejenak.
Lalu berkata jujur,
“Terutama Anda.”
Keheningan kembali muncul.
Namun kali ini—
Tidak terasa canggung.
Hanya… lebih dalam.
Melvin tidak terlihat tersinggung.
Ia justru tampak memikirkan sesuatu.
“Itu pilihan yang bijak,” katanya akhirnya.
Bella sedikit terkejut.
“Anda tidak keberatan?”
“Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diminta,” jawabnya tenang.
“Itu sesuatu yang harus diputuskan sendiri.”
Bella memperhatikan wajahnya.
Mencoba mencari tanda bahwa pria itu sedang bermain kata.
Namun ia tidak menemukan apa pun.
Tidak ada nada manipulatif.
Tidak ada tekanan.
Hanya… pernyataan sederhana.
“Lalu kenapa Anda tetap berbicara dengan saya?” tanya Bella pelan.
“Bukankah lebih mudah menjaga jarak?”
Melvin tersenyum tipis.
“Banyak hal yang lebih mudah dilakukan.”
“Tapi tidak semua yang mudah… menarik.”
Bella tidak bisa menahan senyum kecil.
Kalimat itu terdengar terlalu jujur.
Terlalu langsung.
Dan entah kenapa—
Membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Anda terdengar seperti seseorang yang tidak terlalu peduli pada pendapat orang lain,” katanya.
Melvin mengangkat bahu ringan.
“Pendapat orang lain sering berubah terlalu cepat.”
Bella tertawa pelan.
“Itu tidak sepenuhnya salah.”
Melvin menatapnya sejenak.
“Kecuali pendapat Anda.”
Bella sedikit terdiam.
“Apa maksud Anda?”
Melvin menjawab dengan nada santai,
“Anda tampaknya berusaha keras untuk tetap objektif.”
“Tidak langsung mempercayai cerita yang terlalu mudah.”
Bella tidak tahu harus merasa tersanjung atau justru waspada.
“Anda tidak mengenal saya cukup lama untuk menilai hal itu,” katanya.
Melvin tersenyum kecil.
“Mungkin.”
“Tapi saya cukup yakin Anda tidak suka diperlakukan seperti orang bodoh.”
Bella hampir tertawa.
“Tidak banyak orang yang suka diperlakukan seperti itu.”
“Benar,” kata Melvin pelan.
“Tapi tidak semua orang berani menolaknya.”
Angin kembali bergerak pelan.
Membawa keheningan yang terasa lebih ringan.
Perdebatan kecil itu—
Tidak sepenuhnya menyelesaikan apa pun.
Namun juga tidak membuat mereka semakin jauh.
Justru sebaliknya.
Bella menyadari sesuatu.
Semakin ia mencoba menjaga jarak—
Semakin percakapan mereka terasa… berarti.
Dan itu justru membuatnya semakin bingung.
Karena ia masih tidak tahu apakah ia seharusnya melangkah maju—
Atau mundur sebelum semuanya menjadi terlalu rumit.
Namun saat ia menatap pria di depannya—
Ia tahu satu hal.
Hubungan ini—
Bukan sesuatu yang bisa ia abaikan begitu saja.
Dan mungkin—
Itulah yang paling berbahaya dari semuanya.
..... aku dapat cerita ini dari toktok😍😍