NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecanggungan Pasca-Piknik

Bus jemputan kantor yang membawa rombongan karyawan kembali ke Jakarta terasa jauh lebih sunyi daripada saat keberangkatan pagi tadi. Deru mesin bus dan AC yang berembus konstan menjadi satu-satunya latar suara bagi pikiran-pikiran yang berkecamuk. Sinta menyandarkan kepalanya di jendela kaca yang dingin, menatap lampu-lampu jalanan tol Jagorawi yang melesat cepat seperti sisa-sisa kekacauan harinya.

Di sampingnya, Adrian tertidur lelap—atau setidaknya berpura-pura tidur. Tangan pria itu masih sesekali bergerak reflek, seolah ingin menggenggam tangan Sinta, namun Sinta selalu menarik jemarinya lebih dulu dengan alasan ingin membetulkan posisi duduk. Sinta merasa seperti seorang pengkhianat yang sedang diadili oleh hati nuraninya sendiri. Bayangan wajah Jeng Lastri yang melotot dan ucapan Jingga yang ketus terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak.

“Pria tadi... cara dia menatap Sinta itu bukan tatapan bos ke anak buah. Itu tatapan pria yang ingin memiliki.”

Kata-kata ibu mertuanya itu menghantam Sinta lebih keras daripada kenyataan bahwa dia hampir ketahuan. Apakah benar Adrian menatapnya seperti itu? Dan jika benar, kenapa Sinta justru merasa terbebani alih-alih senang? Bukankah Adrian adalah sosok pria idaman yang selama ini ia bayangkan? Tampan, mapan, dan sangat perhatian. Sangat kontras dengan pria kaku yang sekarang duduk tiga baris di belakangnya.

Di baris belakang, suasana tak kalah tegang. Jingga duduk tegak, matanya menatap lurus ke sandaran kursi di depannya, namun pikirannya tertuju pada satu titik: punggung kepala Sinta yang terlihat di sela-sela kursi barisan depan. Ia bisa melihat bayangan Sinta dari pantulan kaca spion dalam bus.

"Jingga?" suara lembut Luna memecah lamunannya.

Jingga menoleh sedikit, memberikan gumaman pelan sebagai respons.

"Kamu oke? Punggung kamu masih gatal? Tadi di bus aku lihat kamu gelisah terus," tanya Luna sambil menyentuh lengan Jingga dengan penuh perhatian.

"Hanya gerah, Lun. AC bus ini sepertinya tidak maksimal," bual Jingga. Ia melepaskan tangan Luna dari lengannya dengan gerakan yang halus namun tegas, lalu berpura-pura sibuk memeriksa ponselnya yang sebenarnya tidak menampilkan notifikasi apa pun.

Luna terdiam. Ia bukan wanita bodoh. Ia menyadari ada sesuatu yang berubah sejak pertemuan singkat dengan "Tante jauh" Jingga di Kebun Raya tadi. Jingga yang biasanya acuh tak acuh, kini tampak lebih... waspada. Dan setiap kali Sinta tertawa karena candaan Adrian di barisan depan, Luna bisa merasakan tubuh Jingga menegang di sampingnya.

"Tante Lastri tadi... beliau benar-benar kenalan Sinta ya?" Luna memancing, suaranya tetap tenang namun matanya menatap tajam ke arah Jingga.

Jingga tidak langsung menjawab. Ia menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Iya. Kan tadi Sinta sudah bilang, Beliau calon nasabah prioritas. Sinta memang sangat rajin mengejar target nasabah besar, kamu tahu sendiri kan dia ambisius di kantor?"

"Iya, aku tahu Sinta ambisius," gumam Luna. "Tapi aneh ya. Tante itu tadi kelihatan kaget banget lihat kalian berdua 'barengan'. Padahal kalau dia tahu kamu kerja di sana dan Sinta juga kerja di sana, bukannya hal biasa kalau kalian ada di acara yang sama?"

"Mungkin karena Beliau tidak menyangka kami ada di area yang sama pada waktu yang sama. Kebun Raya itu luas, Lun," jawab Jingga cepat, terlalu cepat hingga terdengar seperti pembelaan diri yang sudah disiapkan.

Luna hanya mengangguk pelan, namun di dalam benaknya, kepingan-kepingan kecurigaan mulai membentuk sebuah pola. Ia teringat bagaimana Sinta memanggil wanita itu "Tante" dengan nada yang sangat emosional, seolah ada kedekatan personal yang dalam. Ia juga teringat bagaimana Jingga dan Sinta saling melempar pandang setelah wanita itu pergi—pandangan yang bukan berisi kebencian, melainkan sebuah rahasia besar yang dibagi bersama.

Senin pagi di kantor Divisi Kredit menjadi medan perang berikutnya bagi Sinta. Ia masuk ke ruangan dengan langkah yang disengaja lebih ceria dari biasanya. Ia membawakan kopi untuk Adrian dan menyapa rekan kerja lainnya dengan semangat yang meluap-luap—sebuah tameng untuk menutupi rasa canggung yang masih membekas.

"Pagi, Mas Adrian! Ini kopi tanpa gulanya," ucap Sinta sambil meletakkan paper cup di meja Adrian.

Adrian mendongak dari tumpukan dokumennya. Senyumnya muncul, namun tidak sampai ke mata. "Pagi, Sinta. Terima kasih. Oh ya, soal kejadian di Bogor kemarin... kamu sudah hubungi Tante Lastri lagi untuk urusan pembukaan rekeningnya?"

Sinta tertegun sejenak. Ia lupa bahwa ia sudah mengarang cerita tentang "nasabah prioritas". "Oh... itu... sudah, Mas. Beliau bilang sedang di luar kota untuk urusan bisnis, mungkin minggu depan baru bisa kita atur pertemuannya."

"Baguslah. Saya tertarik untuk ikut dalam pertemuan itu nanti. Nasabah seperti Beliau sangat potensial untuk portofolio divisi kita," sahut Adrian santai, namun matanya terus mengunci mata Sinta.

Sinta merasa jantungnya mencelos. Ikut pertemuan? Itu artinya ia harus menyewa aktor untuk berperan jadi Jeng Lastri, atau memohon pada ibu mertuanya untuk ikut dalam sandiwara gila ini. "Tentu, Mas. Nanti aku atur jadwalnya."

Sinta segera berbalik menuju kubikelnya, merasa seperti baru saja lolos dari lubang jarum pertama. Namun, kejutan belum berakhir. Di pantry kantor, ia bertemu dengan Luna yang sedang menyeduh teh.

"Pagi, Sinta. Udah baikan pusingnya?" tanya Luna dengan nada manis yang entah kenapa terdengar sedikit berbeda di telinga Sinta.

"Pagi, Lun. Sudah, sudah jauh lebih baik. Mungkin kemarin cuma karena panas matahari saja," jawab Sinta sambil mencoba menyibukkan diri dengan mengambil air mineral.

Luna bersandar pada meja pantry, matanya menatap Sinta dengan lekat. "Kemarin itu lucu ya. Ternyata dunianya sempit banget. Kamu kenal sama tantenya Jingga."

Sinta tertawa kaku. "Iya, benar-benar nggak disangka. Namanya juga takdir, Lun."

"Iya, takdir," Luna mengulangi kata itu dengan penekanan yang aneh. "Tahu nggak, Sin? Semalam Jingga gelisah banget di bus. Aku tanya kenapa, katanya gerah. Tapi menurutku, dia bukan gerah karena AC. Dia kelihatan kayak orang yang lagi nyembunyiin sesuatu yang besar."

Sinta mencoba tetap tenang, meski tangannya yang memegang botol air sedikit gemetar. "Jingga memang orangnya aneh, Lun. Kamu kan tahu sendiri dia kaku begitu. Mungkin dia cuma capek."

"Mungkin," Luna melangkah mendekat, suaranya kini hampir berbisik. "Tapi yang lebih aneh lagi... pas Tante Lastri bilang kalian 'barengan', kalian berdua sama-sama pucat. Kayak lagi ketangkep basah ngelakuin sesuatu yang dilarang."

Sinta menatap Luna, mencoba mencari celah dalam tatapan gadis itu. Luna tidak lagi terlihat polos. Ada kilat kecurigaan yang tajam di sana—tatapan seorang wanita yang merasa teritorinya sedang diancam oleh sesuatu yang tidak terlihat.

"Kamu terlalu banyak nonton drama, Lun," Sinta mencoba bercanda, meski suaranya terdengar sedikit serak. "Aku dan Jingga itu kayak air dan minyak. Mana mungkin ada apa-apa? Kamu lihat sendiri kan betapa ketusnya dia ke aku?"

"Justru itu, Sin," jawab Luna lirih. "Terkadang orang bersikap terlalu ketus untuk menutupi sesuatu yang terlalu dalam. Aku harap aku salah, ya."

Luna memberikan tepukan ringan di bahu Sinta sebelum melenggang pergi dari pantry, meninggalkan Sinta yang terpaku di depan dispenser. Sinta menyadari satu hal: topeng mereka mulai retak. Dan yang paling menakutkan adalah, ia tidak tahu bagian mana dari kebohongan mereka yang akan runtuh lebih dulu.

Sinta kembali ke kubikelnya dengan perasaan waswas. Dari kejauhan, ia melihat Jingga sedang berbicara dengan seorang kolega, namun pandangan Jingga sesekali beralih ke arahnya. Bukan tatapan tajam seperti biasanya, melainkan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran yang sama.

Mereka terjebak. Bukan lagi hanya dalam pernikahan rahasia yang dipaksakan orang tua, tapi dalam labirin kebohongan yang mereka bangun sendiri di depan orang-orang yang mulai menaruh hati pada mereka.

Sinta menarik napas panjang, mencoba fokus pada layar komputernya. Namun, setiap kali ia mendengar suara langkah kaki mendekat, ia merasa seolah-olah Jeng Lastri akan muncul lagi dan meneriakkan kebenaran di tengah ruangan kantor yang sibuk itu. Piknik di Bogor mungkin sudah berakhir, tapi badai yang sebenarnya baru saja akan dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!