Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Liana menatap Adrian yang tertunduk lesu di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sosok produser yang sombong, melainkan seorang pria yang sedang berada di titik terendahnya.
Hati Liana yang keras perlahan-lahan mencair, terkikis oleh kejujuran Adrian dan fakta bahwa pria itu rela mengorbankan kariernya demi menghormati prinsip Liana.
Liana meletakkan sendoknya, lalu menarik napas panjang.
"Pak Adrian..."
Adrian mendongak, matanya yang sayu menatap Liana dengan penuh harap.
"Aku akan membantumu," ucap Liana pelan namun pasti.
"Aku akan menari untukmu. Tapi ingat, ini hanya untuk satu proyek besar ini saja. Setelah proyek ini selesai, aku akan kembali ke pasarku, dan kita tidak punya urusan lagi. Setuju?"
Mendengar kata-kata itu, beban berat yang menghimpit pundak Adrian seolah menguap seketika. Matanya berbinar dengan kegembiraan yang meluap-luap. Tanpa pikir panjang dan didorong oleh rasa syukur yang luar biasa, Adrian langsung merengkuh bahu Liana dan memeluknya erat.
"Terima kasih, Liana! Terima kasih banyak!" seru Adrian.
Dalam euforia yang tak terbendung, Adrian menarik wajahnya sedikit dan mengecup pipi Liana dengan lembut namun penuh perasaan.
Cup.
Waktu seolah berhenti berputar di pinggir jalan yang bising itu. Aroma bakso dan debu jalanan mendadak hilang, digantikan oleh detak jantung Liana yang berpacu kencang. Liana terpaku, tubuhnya kaku seperti patung. Matanya mengerjap berkali-kali, menatap kosong ke arah gerobak bakso di depannya.
Ini adalah pertama kalinya seorang pria menciumnya.
Sentuhan bibir Adrian yang hangat di kulit pipinya meninggalkan sensasi aneh yang menjalar hingga ke ujung jarinya—sebuah perasaan yang asing, menakutkan, namun sekaligus membuat perutnya terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu.
Adrian yang menyadari tindakannya baru saja melampaui batas, perlahan melepaskan pelukannya. Wajahnya memerah karena malu.
"Maaf, maafkan aku, Liana. Aku hanya terlalu senang."
Liana masih terdiam, tangannya tanpa sadar meraba pipi yang baru saja dicium oleh Adrian.
Ia tidak marah, namun ada sesuatu yang berubah dalam cara ia memandang pria di hadapannya itu.
Liana perlahan melepaskan tangannya dari pipi yang masih terasa hangat.
Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila, berusaha kembali bersikap profesional meski wajahnya kini sewarna dengan sambal di mangkuk bakso mereka.
"Lalu., aku tinggal di mana?" tanya Liana pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Aku tidak mungkin bolak-balik dari Yogyakarta ke lokasi latihan Jakarta setiap hari. Jaraknya terlalu jauh, dan Mama tidak bisa ditinggal sendirian di toko."
Adrian langsung menegakkan duduknya. Wajah melasnya kini berganti dengan sorot mata produser yang kembali sigap, seolah seluruh tenaganya pulih dalam sekejap karena jawaban "ya" dari Liana.
"Jangan khawatirkan itu, Liana. Aku akan menyiapkan semuanya untukmu," ujar Adrian dengan nada yakin.
"Aku akan menyewa apartemen yang dekat dengan studio latihan. Fasilitasnya lengkap, keamanan terjamin, dan aku akan membayar orang untuk membantu Mamamu di toko selama kamu tidak ada. Kamu hanya perlu fokus pada latihanmu."
Liana menunduk, menatap jari-jarinya yang kasar karena pekerjaan pasar.
Hidup di apartemen mewah terdengar seperti mimpi yang menakutkan baginya.
"Ingat, Liana," tambah Adrian, suaranya melunak seolah bisa membaca keraguan di mata wanita itu.
"Proyek ini hanya sampai tiga bulan saja. Hanya tiga bulan kamu memberikan jiwamu untuk film ini, setelah itu, aku berjanji akan mengembalikanmu ke kehidupanmu semula tanpa gangguan lagi."
"Tiga bulan," gumam Liana pelan, mengulangi kata-kata itu seolah sedang menandatangani kontrak tak kasat mata di udara.
"Hanya tiga bulan."
Adrian tersenyum, kali ini sebuah senyum yang penuh kemenangan namun terselip rasa sayang yang mulai tumbuh secara tidak sengaja.
Ia tidak menyadari bahwa di belahan bumi lain, Arum sedang menghitung hari untuk kembali, sementara di sini, ia baru saja menjanjikan tiga bulan yang akan mengubah hidup Liana—dan hidupnya sendiri—selamanya.
Setelah menghabiskan bakso di pinggir jalan, Adrian mengantarkan Liana pulang dengan mobil mewahnya.
Suasana di dalam kabin mobil terasa jauh lebih hangat dibandingkan sebelumnya, meski Liana lebih banyak terdiam, masih teringat kecupan singkat di pipinya tadi.
Sesampainya di rumah sederhana itu, Mama Liana menyambut mereka dengan wajah kaget sekaligus heran melihat Adrian kembali lagi, apalagi kali ini bersama putrinya.
"Masuk, Pak Adrian. Silakan duduk," ucap Mama sambil mempersilakan Adrian duduk di kursi kayu ruang tamu yang sempit.
Adrian duduk dengan sikap yang sangat sopan, jauh dari kesan bos besar yang angkuh.
Ia menatap Mama Liana dengan sungguh-sungguh.
"Ibu, saya datang ke sini untuk meminta izin secara resmi," buka Adrian dengan nada rendah yang berwibawa.
"Liana sudah setuju untuk membantu proyek film saya. Ini adalah proyek besar yang hanya akan berjalan selama tiga bulan."
Mama menoleh ke arah Liana yang berdiri di ambang pintu dapur, seolah meminta konfirmasi.
Liana hanya mengangguk pelan, memberikan tanda bahwa ia sudah memikirkannya matang-matang.
"Tiga bulan saja, Bu," lanjut Adrian.
"Selama waktu itu, saya ingin Liana tinggal di apartemen yang sudah saya siapkan dekat studio agar latihannya maksimal. Saya menjamin keamanan dan kenyamanan Liana. Selain itu..."
Adrian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal, meletakkannya dengan sopan di atas meja.
"Ini adalah biaya kompensasi awal karena Liana harus meninggalkan toko. Saya juga sudah menyiapkan orang profesional untuk membantu Ibu menjaga dan mengelola toko daster selama Liana pergi, jadi Ibu tidak akan kelelahan sendirian."
Mama Liana tertegun melihat amplop itu, namun ia lebih tertegun melihat perubahan sikap Adrian.
Ia bisa merasakan bahwa pria ini tidak lagi hanya bicara soal bisnis, tapi ada rasa hormat yang besar kepada putrinya.
"Pak Adrian, ini terlalu banyak," ucap Mama pelan.
"Tidak, Bu. Bakat Liana jauh lebih berharga dari ini," balas Adrian sambil melirik Liana yang masih terpaku.
"Saya hanya ingin memberikan yang terbaik agar Liana bisa menari dengan tenang."
Mama Liana menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan putrinya.
"Kalau Liana sudah setuju, Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik. Tapi tolong, Pak Adrian, jaga putri saya baik-baik. Dia adalah satu-satunya harta yang Mama punya."
Adrian mengangguk mantap. "Saya berjanji dengan nyawa saya, Bu. Saya akan menjaga Liana."
Matahari sore yang mulai meredup memberikan semburat jingga di langit saat Liana memasukkan pakaian-pakaian sederhananya ke dalam koper tua.
Perasaannya campur aduk; ada sesak di dada saat memeluk Mamanya erat-erat di ambang pintu rumah mereka.
"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Ingat pesan Mama," bisik Mama sambil mengusap punggung Liana.
"Liana berangkat dulu, Ma. Mama jangan capek-capek di toko," jawab Liana dengan mata berkaca-kaca.
Adrian membantu mengangkat koper itu ke dalam bagasi mobil mewahnya.
Perjalanan menuju Jakarta selama lima jam terasa sunyi.
Gedung-gedung pencakar langit mulai mendominasi pandangan, sangat kontras dengan gang sempit tempat tinggal Liana. Namun, saat mobil itu berhenti di depan sebuah gedung apartemen paling eksklusif di jantung kota, jantung Liana berdegup kencang.
Mereka naik ke lantai paling atas menggunakan lift pribadi.
Begitu pintu lift terbuka, Liana disambut oleh ruang tamu yang luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota.
Liana terpaku di ambang pintu. Ia menyadari sesuatu yang aneh.
"Pak Adrian, kenapa apartemen ini terasa seperti rumah seseorang? Kenapa bukan apartemen lain yang Bapak janjikan?"
Adrian meletakkan koper Liana di dekat sofa beludru.
Ia melonggarkan sedikit kerah bajunya, lalu menatap Liana dengan tenang.
"Karena ini memang tempat tinggalku, Liana. Ini apartemenku."
"Apa?!" Liana tersentak mundur satu langkah.
"Bapak bilang saya akan tinggal di apartemen yang disiapkan, bukan tinggal bersama Bapak!"
Adrian berjalan menuju sebuah pintu kayu besar di sisi kanan ruang tengah, lalu membukanya.
"Tenanglah. Apartemen ini sangat luas. Kamu akan tinggal di kamar lainnya yang sudah kusiapkan dengan fasilitas lengkap, dan kamarku ada di sebelah sana," ucap Adrian sambil menunjuk pintu di ujung lorong yang berlawanan.
"Tapi ini tidak benar, Pak. Bagaimana kalau orang tahu? Bagaimana kalau ada yang salah paham?" suara Liana meninggi karena panik.
Adrian mendekat, suaranya merendah namun terdengar sangat protektif.
"Di sini adalah tempat paling aman di kota ini. Tidak akan ada wartawan atau orang asing yang bisa masuk tanpa seizinku. Aku ingin kamu ada di sini agar aku bisa memantau latihanmu secara langsung setiap saat. Ingat, kita hanya punya waktu tiga bulan, Liana. Setiap detik sangat berharga."
Liana menatap ruangan mewah itu dengan perasaan asing.
Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas. Ia tidak tahu bahwa di kamar sebelah, Adrian telah menyiapkan segala kebutuhan pribadinya, namun ia juga tidak tahu bahwa rahasia ini bisa menjadi bom waktu jika Arum tiba-tiba muncul lebih awal dari Paris.
Malam pertama di apartemen itu terasa sangat sunyi, hanya suara sistem pendingin ruangan yang halus memecah keheningan.
Liana duduk di kursi makan berbahan beludru, menatap deretan peralatan makan perak yang mengilat di bawah lampu gantung kristal.
Di depannya, berbagai hidangan mewah tersaji, namun selera makannya hilang tertutup rasa canggung yang luar biasa.
"Pak..." Liana akhirnya bersuara, memecah kesunyian.
"Besok tolong carikan saya kos-kosan saja. Yang kecil juga tidak apa-apa, asalkan dekat studio. Saya merasa tidak pantas tinggal di sini. Ini terlalu berlebihan."
Adrian yang sedang memotong steaknya dengan tenang, mendongak.
Ia menggelengkan kepalanya perlahan tanpa ragu sedikit pun.
"Tidak, Liana. Keputusanku sudah bulat. Kita akan berangkat ke studio bersama-sama setiap pagi. Aku tidak mau membuang waktu menjemputmu ke gang-gang sempit atau khawatir kamu terlambat karena macet," jawab Adrian tegas.
Liana meremas ujung serbet di pangkuannya, wajahnya menunjukkan ketakutan yang nyata.
Pikirannya melayang ke mana-mana—tentang privasi, tentang apa yang mungkin terjadi di dalam apartemen seluas ini hanya dengan mereka berdua.
Melihat ekspresi Liana yang pucat pasi dan bahunya yang tegang, Adrian tiba-tiba meletakkan pisau dan garpunya.
Ia menatap Liana lurus-lurus, lalu sebuah seringai jahil muncul di wajahnya.
"Astaga, Liana, buang jauh-jauh pikiran burukmu itu," ucap Adrian dengan nada meremehkan yang dibuat-buat.
"Jangan takut, aku tidak akan memperkosamu atau macam-macam. Kamu tenang saja, kamu itu sama sekali bukan tipeku!"
Sesaat setelah kalimat itu keluar, Adrian tidak tahan lagi.
Ia tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema di seluruh ruangan mewah yang biasanya kaku itu.
Ia merasa lucu melihat gadis pasar yang pemberani itu mendadak jadi sepreti kelinci yang ketakutan.
Rasa takut Liana seketika berubah menjadi jengkel yang luar biasa.
Ucapan "bukan tipeku" itu entah kenapa terasa sedikit menyengat harga dirinya, meski ia memang tidak mau diapa-apakan.
Dengan spontan, Liana berdiri dan melangkah mendekat, lalu mencubit lengan Adrian dengan sangat keras.
"Aduh! Sakit, Liana!" pekik Adrian sambil memegangi lengannya yang memerah, namun ia masih tertawa.
"Makanya jangan sombong! Siapa juga yang mau jadi tipe Bapak!" ketus Liana sambil mengerucutkan bibirnya.
Kejadian itu tanpa sadar mencairkan ketegangan di antara mereka.
Meski status mereka adalah produser dan penari, di meja makan itu, mereka mulai terlihat seperti dua orang yang mulai merasa nyaman dengan kehadiran satu sama lain—setidaknya untuk malam ini.
ditunggu crazy upnya