NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA MINGGU KEMUDIAN

​Pagi itu, sinar matahari baru saja mengintip malu-malu di balik jendela dapur, namun Yasmin sudah berada di sana dengan senyum yang menyapa hangat.

​"Saya bantu ya, Mbok," ucap Yasmin lembut sembari meraih pisau dan talenan.

​Mbok Sari yang sedang mengaduk santan di atas kompor menoleh, lalu terkekeh pelan. "Aduh, Non Yasmin ini. Padahal Mbok sudah bilang berkali-kali, Non istirahat saja. Ini sudah jadi tugas Mbok."

​Yasmin hanya membalasnya dengan gelengan pelan. Tangannya dengan cekatan mulai mengiris sayuran dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa. "Saya nggak bisa diam saja, Mbok. Lagipula, kalau saya diam... saya khawatir Tante Maura marah."

​Mbok Sari membisu sesaat. Tangannya yang sedang memegang sutil tertahan di udara, matanya menatap nanar punggung Yasmin yang mulai sibuk mengambil alih mengiris sayuran. Ada rasa sesak yang menghimpit dada wanita tua itu, namun ia tak punya kuasa untuk bicara lebih jauh. Ia tahu persis siapa majikannya dan bagaimana lidah wanita itu bisa lebih tajam daripada pisau yang sedang dipegang Yasmin.

​Dua minggu sudah Yasmin menetap di kediaman megah milik Arya—sebuah tempat yang seharusnya menjadi perlindungan badai panjang kemarin. Namun, bagi Yasmin, kemegahan rumah ini perlahan mulai terasa seperti sangkar berlapis emas yang menyesakkan.

​Di depan Arya, Maura adalah sosok wanita yang dingin dan enggan peduli lagi dengan semua yang Yasmin lakukan di rumah ini, semenjak perdebatan yang terjadi beberapa minggu lalu. Namun, lambat laun, begitu deru mobil Arya selalu menghilang di balik gerbang tinggi itu, topeng dingin itu berubah menjadi wanita yang lebih menyakitkan dari sekedar diam.

Ternyata, ​Maura memiliki ribuan cara untuk membuat Yasmin merasa rendah. Ia tidak lagi memperlakukan Yasmin layak maupun ada, melainkan sebagai tenaga kerja tambahan yang tidak dibayar. Dari menyikat lantai kamar mandi yang sebenarnya sudah bersih, hingga memilah ribuan butir beras. Maura memastikan Yasmin tidak punya waktu sedetik pun untuk menghela napas.

​Yasmin menelan ludah, mencoba mengusir rasa perih ketika mengingat itu semua. Ia tidak ingin mengadu. Ia terlalu takut jika kejujurannya justru akan memicu pertengkaran lagi antara Arya dan satu-satunya keluarga yang tersisa bagi pria itu.

Drrrrrrt.

Sebuah getaran halus dari ponsel di atas meja makan Yang dingin mengejutkan Yasmin, memutus lamunan singkatnya tentang tumpukan cucian yang sudah menunggu di belakang. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia meraih benda tipis itu.

​"Mbok, saya ke belakang dulu ya," pamit Yasmin pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam riuh rendah suara penggorengan.

​Mbok Sari mengangguk, menatap punggung Yasmin dengan tatapan iba yang berusaha ia sembunyikan. "Iya, Non. Tapi pesan Simbok satu saja..." Langkah Yasmin terhenti sejenak. "Non Yasmin nggak usah terlalu capek. Jangan dipaksa semua-mua dikerjakan sendiri. Lagipula, di belakang sudah ada Bik Erna yang bantu Simbok."

​Yasmin hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. Ia tahu Mbok Sari mencemaskannya, namun ia juga tahu bahwa Bik Erna tak akan bisa berbuat apa-apa jika Maura sudah mulai menitahkan tugas-tugas khusus untuknya. ​"Nggak apa-apa, Mbok. Biar saya ada kerjaan saja," sahutnya getir.

"Iya, dong!"

Tensi di dapur yang semula hangat mendadak berubah dingin saat derap langkah kaki yang kasar mendekat. Sesosok wanita paruh baya dengan wajah yang senantiasa tertekuk masam muncul dari balik pintu selasar.

​Itu adalah Bik Erna. Penampilannya kontras dengan Mbok Sari yang teduh. Wanita berusia terpaut lebih tua dari Yasmin itu memiliki sorot mata tajam yang selalu menyelidik, seolah mencari celah kesalahan orang lain. Bibirnya yang tipis sering kali mencebik, dan ia memiliki kebiasaan berkacak pinggang yang membuat auranya terasa dominan sekaligus tidak menyenangkan di depan Yasmin. Sana seperti Mbok Sari, sebagai orang lama di rumah itu yang sangat setia pada Maura, ia merasa memiliki "kedaulatan" lebih tinggi dibandingkan penghuni baru manapun.

​"Dia itu emang harus seperti kita!" timpal Bik Erna dengan nada tinggi yang menyentak. Ia melangkah mendekat, sengaja menaruh tumpukan piring kotor ke bak cuci dengan dentang yang keras.

​Ia melirik Yasmin dari sudut mata, penuh penghinaan. "Mbak Yasmin itu emang harus bekerja di sini. Wanita yang tiba-tiba datang dan langsung mau jadi bagian dari keluarga terpandang ini... masa mau tinggal seenaknya gitu aja? Enak bener hidupnya gak ada perjuangan!"

​Mendengar ucapan yang begitu merendahkan, lagi-lagi wajah Mbok Sari memerah. Ia meletakkan sodetnya dengan kasar di pinggiran wajan.

​"Jaga mulutmu, Erna!" bentak Mbok Sari, suaranya bergetar karena amarah yang jarang ia perlihatkan. "Non Yasmin ini tamu Den Arya! Dia tamu terhormat di rumah ini, bukan pembantu seperti kita. Kamu nggak punya hak bicara sekasar itu!"

​Bik Erna justru tertawa sinis, tidak merasa gentar sedikit pun. "Halah, Mbok. tamu terhormat atau bukan, kalau asalnya nggak jelas ya tetap saja harus tahu diri. Jangan sampai rumah ini jadi tempat penampungan orang yang cuma modal tampang."

​Rasa tidak suka Bik Erna pada Yasmin memang sudah mendarah daging sejak hari pertama. Baginya, Yasmin hanyalah "benalu" yang mengancam posisinya dan posisi Maura. Sungguh, Ia menikmati setiap detik saat melihat Yasmin kelelahan, karena baginya, itu adalah cara untuk "menguji" apakah wanita itu cukup kuat bertahan di bawah tekanan.

​Yasmin masih terdiam. Meski, dadanya kembali merasa sesak, seolah pasokan udara di dapur itu tiba-tiba menghilang. Namun, lagi, ia tidak membalas. Ia tidak ingin memperkeruh suasana atau membuat Mbok Sari semakin terlibat dalam masalahnya.

​Dengan jemari yang meremas ujung bajunya, Yasmin memaksakan sebuah senyum tipis—senyum yang lebih mirip dengan sebuah luka yang disembunyikan.

​"Nggak apa-apa, Mbok. Bik Erna benar, saya memang harus banyak belajar di sini," ucap Yasmin dengan suara yang tetap tenang meski hatinya hancur. "Saya permisi ke belakang dulu ya, Mbok. Masih banyak yang harus saya selesaikan."

​"Baguslah kalau sadar diri." Gumam Erna.

Mbok Sari hanya menggeleng, lalu mengambil sutil itu lagi.

Pletak!

"Auuuuu." Ringis Bik Erna.

Ujung sutil itu mendarat telak di punggung tangan Bik Erna yang sedang berkacak pinggang dengan angkuh. Ia melonjak kaget, memegangi tangannya yang mendadak terasa panas dan memerah. "Mbok! Apa-apaan sih? Kok saya dipukul? Sakit, tahu!"

"Masih beruntung di tangan." Balas Mbok Sari. "Coba kalau di mulutmu yang panas kayak setrikaan! Non Yasmin itu orang yang baik, tulus. Gak pantas diperlakukan seperti itu. Dia layak tinggal disini!"

Mbok Sari melangkah satu gerak. "Ingat. Kamu itu digaji buat kerja, bukan buat jadi hakim atas hidup orang lain. Kalau Den Arya dengar kamu bicara begitu tentang calon istrinya, kamu pikir kamu masih bisa injak lantai marmer ini besok pagi?"

​Bik Erna mendengus, meski matanya menyiratkan rasa takut yang mulai merayap. Ia mengusap tangannya yang berdenyut.

"APAAAA?! CALON ISTRI?!"

Mbok Sari dan Bik Erna tersentak hebat. Jantung mereka seakan melompat ke tenggorokan. Keduanya menoleh serempak dan mendapati sosok yang sudah berdiri di sana.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!