NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 3 - CH 13 : Buaya Kosong

Panas terik Kota X di siang bolong memang tidak pernah punya belas kasihan. Hawa panas memantul dari aspal jalanan, bercampur dengan debu dan asap knalpot angkot yang ugal-ugalan.

Namun, di dalam Toko Besi Makmur Jaya, suhu udaranya terasa jauh lebih panas berkat urat leher Bara yang hampir putus karena adu mekanik tawar-menawar.

"Ko Aseng, ini plat aluminium sisa potongan! Liat nih, ujungnya bengkok! Masa sekilo harganya tetep tujuh puluh ribu?! Turunin lima puluh lah, Ko! Sama glasswool peredam panasnya sekalian gue borong dua meter!"

Bara menggebrak tumpukan plat logam tipis di depannya. Matanya melotot tajam mengintimidasi pria paruh baya bertubuh tambun di balik etalase yang sedang mengipasi dada pakai kalender.

"Aiyaaa, Lu kira ini pasar loak?! Itu aluminium tebel, Koki! Kalau lu mau murah, pakai seng atap aja sana! Bikin roti kok pakai plat besi, lu mau manggang roti apa manggang dosa?!" balas Ko Aseng tak kalah ngegas.

Lintang, yang berdiri di belakang Bara sambil menutupi hidungnya dengan tisu, menarik-narik ujung flanel Bara. "Mas... udah elah, beda dua puluh ribu doang. Gue nggak kuat bau tiner di sini. Skincare gue luntur kena uap karat!"

"Diem, Tang. Dua puluh ribu itu bisa buat beli ragi instan tiga sachet," desis Bara tanpa menoleh. Dia menatap Ko Aseng lagi. "Enam puluh ribu. Harga pas. Tambahin paku keling seons, kawat loket satu meter, lem tahan panas, sama blowtorch portabel. Gue bayar cash sekarang."

Mendengar kata 'bayar cash', mata sipit Ko Aseng langsung berbinar. "Deal! Tapi jangan bawa-bawa owe kalau ruko lu kebakaran ya!"

Tiga puluh menit kemudian, mereka kembali ke Bara's Kitchen dengan Si Putih yang mengangkut material bangunan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia kuliner.

Lantai dua ruko itu sekarang tidak lagi terlihat seperti dapur bakery estetik yang ada di Pinterest. Pemandangannya lebih mirip bengkel modifikasi motor underground.

"Den Bara... Abah teh bingung," Mang Ojak menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memegang gunting seng raksasa. "Oven kita kan panjangnya cuma delapan puluh sentimeter. Ini pesenan buayanya dua meter. Terus mau disambungin pakai plat ini teh gimana caranya? Digulung kayak lemper?"

Bara sedang berjongkok di lantai, menggambar sketsa konstruksi dengan spidol hitam tepat di atas ubin keramik putihnya. Jiwa desainnya sedang menyala terang. Ini bukan lagi soal resep, ini soal arsitektur ruang.

"Gini, Mang," Bara menunjuk gambar blue print kasarnya di lantai. "Oven kita pintu depannya gue copot. Plat aluminium ini kita tekuk jadi bentuk lorong panjang, seukuran sama lubang oven. Lorong ini jadi semacam lorong extension alias perpanjangan ovennya."

Lintang yang sedang mengaduk es teh manis di pojokan melongo. "Lorong? Terus manasin lorong depannya pake apa, Mas? Panas ovennya kan nggak nyampe ujung!"

Bara menyeringai, memamerkan blowtorch portabel di tangan kirinya. "Pake ini. Lorong ekstensinya bakal gue kasih lubang-lubang kecil di bagian bawah. Gue bakal tembak api manual dari luar lorong selama proses baking biar suhunya rata. Sistem heating chamber manual."

"Gila..." Lintang menggeleng pelan. "Mas, lo tuh koki apa tukang las sih sebenernya? Otak lo jalan terus kalau udah dipepet duit haram."

"Ini namanya adaptasi lingkungan, Tang. Hukum alam di Kota X: Kalau lo nggak bisa modifikasi, lo mati terinjak," Bara bangkit berdiri. "Mang Ojak! Potong aluminiumnya sesuai garis yang gue spidolin! Lintang! Naik ke meja adonan! Kita butuh terigu protein tinggi delapan kilo, ragi tiga ons, mentega dua kilo, dan tenaga kuli buat ngulenin!"

Operasi Frankenstein dimulai.

Suara dentingan logam beradu dengan palu terdengar bersahut-sahutan dengan deru mixer roti berkapasitas besar. Percikan api sesekali muncul saat Bara memaku keling plat aluminium itu. Hawa dapur berubah menjadi neraka bocor.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika oven Frankenstein itu akhirnya berdiri tegak (meski agak miring sedikit). Bentuknya mengerikan. Oven standar yang moncongnya disambung dengan lorong panjang dari plat aluminium, dibalut glasswool peredam panas yang diikat pakai kawat kencang-kencang agar suhunya tidak bocor. Mirip seperti terowongan waktu di film fiksi ilmiah berbudget rendah.

"Sekarang, eksekusi paling vital," Bara mengelap keringat di dahinya yang bercampur noda hitam bekas logam. Dia beralih ke meja stainless raksasa di tengah dapur.

Di atas meja itu, tergeletak adonan roti raksasa seberat belasan kilogram. Warnanya kuning pucat, elastis, dan mengembang sempurna. Lintang tertidur dalam posisi berdiri sambil bersandar di kulkas dua pintu, lengannya berkedut-kedut karena kram menguleni sisa adonan yang tidak muat di mixer.

Bara menatap adonan itu. Permintaan Bang Kobra terngiang di kepalanya: 'Di dalem perut buaya itu, kosongin. Biarin kopong. Gue punya isian sendiri.'

"Mang Ojak, bawa kawat loket yang tadi kita beli," perintah Bara.

Mang Ojak membawa gulungan kawat ram berbentuk kotak-kotak kecil yang biasa dipakai untuk kandang ayam.

Bara tidak akan membuat roti buaya biasa. Jika dia memanggang roti raksasa ini tanpa struktur, bagian tengahnya akan bantat, padat, dan tidak mungkin kopong. Roti butuh ruang untuk mengembang. Kalau mau kopong sempurna seperti pipa, dia butuh "tulang".

Dengan tangkas, Bara memotong kawat loket itu dan menggulungnya membentuk silinder panjang yang melengkung di bagian tengah persis seperti bentuk lambung buaya raksasa. Dia lalu membungkus kerangka kawat itu berlapis-lapis menggunakan aluminium foil tebal, lalu mengolesinya dengan mentega dan minyak secara brutal sampai licin.

"Ini buat apa, Den?" tanya Mang Ojak takjub melihat kerajinan tangan Bara.

"Ini cetakan dalemnya, Mang," jawab Bara sambil memipihkan adonan roti raksasa itu dengan rolling pin segede tongkat baseball. "Kita bungkus kerangka kawat ini pakai adonan. Pas masuk oven, rotinya bakal mengembang ngebentuk perut. Karena kawat ini dilapis aluminium sama minyak, adonannya nggak bakal nempel. Begitu rotinya matang dan keras... kita tarik kerangka kawatnya keluar dari lubang belakang. Boom. Buaya kopong tanpa cacat."

"Anjay..." Lintang yang mendadak melek kembali, bergumam kagum. "Mas, sumpah. Kalau lo nggak buka toko kue, lo cocok buka jasa bikin candi semalam. Otak arsitektur lo kepake banget."

"Kerja, Tang. Jangan muji doang. Bikin moncongnya, kasih gigi yang tajem. Pakai gunting dapur buat motong adonannya biar sisiknya keliatan naik," perintah Bara. "Matanya pake apa?"

"Kismis, Den?" usul Mang Ojak.

Bara menggeleng. "Kismis kurang seram. Bang Kobra minta matanya merah menyala. Tang, ambil permen pelega tenggorokan warna merah yang ada di laci meja gue. Yang sisa kembalian dari minimarket."

Lintang melongo. "Permen pedes, Mas?! Buat mata buaya?!"

"Biarin aja. Kalo dimakan pedes, biarin. Yang penting merah terang dan meleleh estetik pas dipanggang."

Mereka bertiga berkolaborasi seperti dokter bedah hewan yang sedang merekonstruksi dinosaurus. Mang Ojak membentuk ekor yang meliuk tajam, Lintang fokus menggunting punggung adonan untuk membuat efek sisik 3D, dan Bara dengan presisi dewa membungkus kerangka kawat tadi dengan adonan di bagian tengah, memastikan tidak ada ruang udara yang terjebak.

Jam sembilan malam.

Sang Monster akhirnya tercipta. Di atas loyang raksasa yang disambung-sambung (juga karya las Bara), terbaring adonan roti buaya sepanjang dua meter lebih. Mulutnya menganga memamerkan deretan gigi tajam berantakan yang digunting satu per satu. Sisiknya berbaris garang. Dan sepasang mata merah menyala (dari permen pelega tenggorokan) menatap kosong ke langit-langit dapur.

Bara berdiri bertolak pinggang, menghela napas panjang. Punggungnya serasa mau patah jadi dua.

"Mas... ini gede banget. Emang muat masuk ke oven mutan lo itu?" Lintang menelan ludah.

"Harus muat. Kalau nggak muat, ruko kita yang bakal dimasukin alat berat besok pagi sama Bang Kobra," Bara menatap tajam ke arah Mang Ojak. "Mang, angkat ujung ekor. Gue angkat kepalanya. Hitungan ketiga, dorong pelan-pelan ke dalam lorong oven."

Mereka mengangkat loyang baja itu dengan hati-hati.

Satu. Dua. Tiga.

Loyang panjang itu masuk perlahan ke dalam moncong oven, melewati ruang pembakaran asli, lalu meluncur masuk ke dalam lorong aluminium tambahan. Ujung moncong buaya berhenti tepat lima sentimeter sebelum pintu asli oven. Muat! Presisi hitungan Bara tidak meleset sedikitmilimeter pun.

Bara menutup pintu oven rapat-rapat, menguncinya, lalu memutar kenop suhu di panel utama ke angka 180 derajat Celcius.

"Oven utama nyala. Suhu stabil," Bara melapor bak kapten kapal selam. Dia lalu berjalan ke bagian samping lorong aluminium. Di tangan kanannya, blowtorch portabel siap sedia.

"Tang, cek thermometer tembak! Suhu lorong ini harus sama dengan suhu oven asli. Kalau gue tembak gas ini terlalu panas, rotinya gosong. Kalau kurang panas, rotinya bantat, kawatnya nggak bisa dicabut."

"Siap, Mas!" Lintang menodongkan termometer laser ke arah lorong. "Sekarang masih 50 derajat!"

ZRRRASHHH!

Bara menyalakan blowtorch. Api biru yang panas menyembur dari moncong alat itu, menghantam bagian bawah plat aluminium. Suara deru api bersahut-sahutan dengan desis gas dari oven utama.

Dapur itu kini terasa seperti ruang mesin kapal Titanic. Suhu ruangan melonjak tajam. Peluh membasahi seluruh tubuh mereka. Bara duduk di bangku kecil, matanya fokus menembakkan api sambil terus bergerak menyusuri lorong aluminium layaknya sedang mengecat mobil.

"Suhu naik, Mas! 120... 150... 180! Tahan di situ, Mas!" jerit Lintang melawan suara deru api.

Bara mengatur katup blowtorch, menstabilkan semburan apinya. "Sip. Kita tahan kondisi ini selama empat puluh lima menit. Mang Ojak, siapin lap basah, kalau-kalau kawat glasswool-nya meleleh."

Proses baking teraneh dan paling berbahaya dalam sejarah Bara's Kitchen sedang berlangsung. Di dalam lorong logam yang disembur api biru itu, seekor monster adonan perlahan-lahan mengeras, mengembang, mengunci sebuah ruang rahasia di dalam perutnya.

Bara menatap nyala api birunya. Pikirannya melayang.

Isian sendiri. Kata-kata Bang Kobra kembali terngiang. Buaya sepanjang dua meter dengan lambung yang sepenuhnya kosong. Ruang yang cukup besar untuk memasukkan belasan balok emas, atau ribuan pil terlarang, atau...

Bara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir imajinasi liar yang tidak menghasilkan uang.

"Mas..." Lintang memanggil pelan dari dekat kulkas. Suaranya terdengar ragu.

"Apa, Tang? Suhu turun?" Bara masih fokus pada blowtorch-nya.

"Bukan... tapi... lo sadar nggak sih?" Lintang menelan ludah, wajahnya memucat di bawah sorotan lampu neon dapur. "Kalau Bang Kobra mesen buaya kopong... dan besok pagi dia ambil pesenannya buat diisi 'sesuatu'..."

Lintang berhenti sejenak, membuat Bara menoleh dengan kening berkerut.

"...Bukannya itu artinya ruko kita secara teknis bakal dijadiin tempat transit barang ilegal? Kalau besok pagi pas dia masukin barangnya terus digerebek polisi..." Lintang menunjuk dadanya sendiri dengan jari bergetar. "...Kita bertiga masuk sel jalur accomplice (kaki tangan), Mas."

Api blowtorch di tangan Bara mendadak terasa jauh lebih dingin daripada ancaman nyata yang baru saja Lintang sadari.

Bara menatap lorong aluminium raksasa itu. Di dalam sana, bukan cuma roti yang sedang dipanggang. Tapi juga tiket VIP menuju penjara Kota X.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!