NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Gerhana Di Kota Bercahaya

Seminggu setelah lampu busur karbon pertama menyala di puncak menara Kendal, kota itu bertransformasi menjadi sebuah bengkel raksasa yang tidak pernah tidur. Di bawah cahaya buatan yang kebiruan, para pandai besi dan tukang kayu bekerja dalam giliran shift—sebuah konsep manajemen waktu yang diperkenalkan Jatmika untuk memaksimalkan produktivitas. Suara mesin bubut yang digerakkan oleh motor listrik sederhana mulai menggantikan suara jangkrik di malam hari.

Jatmika berdiri di balkon bekas kantor Residen, menatap kabel-kabel tembaga yang menjuntai di sepanjang jalan utama. Kabel itu disolasi dengan getah perca—karet alami dari hutan tropis yang ia proses secara kimiawi agar tahan cuaca. Baginya, setiap pendar lampu di rumah warga adalah sebuah kemenangan akal budi atas kegelapan.

Namun, di balik kegemilangan teknologi itu, sebuah racun sedang menyebar.

Raden Mas Danu tidak tinggal diam melihat kekuasaannya digerogoti oleh "ilmu sihir" Jatmika. Di sebuah rumah joglo besar di pinggiran kota, ia mengumpulkan para tuan tanah dan pimpinan milisi tradisional yang merasa tidak nyaman dengan disiplin militer Jatmika yang kaku.

"Lihatlah anak muda itu," Mas Danu menghasut sambil mengunyah sirih. "Dia bilang kita semua sama. Dia menyuruh putra-putra kalian bekerja di bengkel, mengotori tangan dengan minyak dan arang, seolah-olah mereka adalah kuli rendahan. Di mana kehormatan darah biru kita? Di mana wibawa para leluhur jika seorang anak nelayan bisa memerintah kita seperti kerbau?"

"Tapi dia memberi kita cahaya, Raden Mas," celetuk salah satu lurah dengan ragu. "Dan Belanda tidak berani mendekat."

"Cahaya itu adalah umpan!" bentak Mas Danu. "Dia mengundang iblis dari seberang lautan. Aku sudah mendapat kabar melalui kurir rahasia. Kapal-kapal Inggris dan Perancis sedang menuju kemari. Mereka tidak akan menyerang jika kita menyerahkan Jatmika. Mereka hanya ingin perdagangan kembali normal. Jatmika-lah yang menjadi penghalang bagi kedamaian kita."

Hasutan itu mulai membuahkan hasil. Sebuah rencana sabotase disusun. Targetnya sederhana namun vital: Bendungan PLTA di hulu sungai. Tanpa listrik, mesin-mesin Jatmika akan mati, lampu kota akan padam, dan moral rakyat akan runtuh saat kegelapan kembali mencekam.

Malam itu, hujan turun rintik-rintik. Jatmika sedang berada di pusat kendali, sebuah ruangan yang dipenuhi dengan galvanometer jarum dan sakelar pisau besar yang ia rakit sendiri. Tiba-tiba, jarum penunjuk tegangan di dinding bergetar hebat sebelum akhirnya jatuh ke angka nol.

KLIK.

Seluruh kota Kendal mendadak gelap gulita. Keheningan yang mengerikan menyelimuti jalanan yang biasanya bising.

"Jatmika! Sesuatu terjadi di bendungan!" teriak Suro yang masuk dengan obor di tangan. "Laporannya, ada sekelompok orang bersenjata golok menyerang para penjaga teknisi kita. Mereka menutup pintu air secara paksa!"

Jatmika tidak terkejut. Ia sudah lama mencium aroma ketidakpuasan dari faksi Mas Danu. Ia mengambil senapan runduknya dan sebuah alat yang tampak seperti kotak kayu dengan lensa besar di depannya—sebuah Lampu Sorot Portabel bertenaga baterai sel volta yang ia simpan untuk keadaan darurat.

"Mereka ingin kegelapan? Kita beri mereka cahaya yang menyakitkan," desis Jatmika.

Jatmika dan pasukan elitnya bergerak menuju bendungan melalui jalur rahasia di pinggir tebing. Saat mereka tiba, mereka melihat Mas Danu berdiri di atas tanggul, dikelilingi oleh puluhan milisi tradisional yang membawa obor. Mereka sedang mencoba menghancurkan turbin kayu berlapis tembaga milik Jatmika dengan kapak.

"Berhenti!" suara Jatmika menggelegar melalui megafon seng.

"Mundur, Jatmika!" teriak Mas Danu sombong. "Kembalikan kota ini kepada pemilik sahnya! Kami tidak butuh mesin-mesin kotor ini! Kami butuh ketenangan dan adat istiadat!"

Jatmika tidak membalas dengan kata-kata. Ia menyalakan lampu sorot portabelnya. Sebuah berkas cahaya putih yang sangat fokus dan menyilaukan menghantam mata Mas Danu dan para pengikutnya.

"AAAAA! Mataku!" teriak mereka, menjatuhkan senjata karena kebutaan sesaat.

Dalam kebingungan itu, pasukan Suro bergerak cepat. Mereka tidak menggunakan peluru tajam, melainkan Peluru Karet mentah yang keras. Suara plak-plak terdengar saat milisi Mas Danu bertumbangan satu per satu, merintih kesakitan namun tidak tewas.

Jatmika berjalan mendekati Mas Danu yang sedang tersungkur, menutup matanya yang perih.

"Adat istiadat tidak akan melindungimu dari meriam kapal Inggris yang sedang menuju kemari, Mas Danu," ucap Jatmika dengan nada dingin yang menusuk. "Kamu bicara tentang kehormatan darah, tapi kamu siap menjual tanah ini kembali kepada penjajah hanya agar kamu bisa duduk santai di kursi empukmu lagi."

Jatmika memerintahkan Suro untuk menahan Mas Danu di dalam sel bawah tanah benteng. Namun, saat ia kembali ke pusat kendali dan menyalakan kembali aliran listrik, sebuah pesan telegraf nirkabel masuk dengan kode darurat dari pos pengintai pantai.

TIT-TIT-TUT... TIT-TIT-TUT...

"Raden! Kapal uap raksasa terlihat di cakrawala!" lapor petugas operator telegraf dengan suara bergetar. "Bukan hanya kapal Belanda. Ada bendera Inggris... dan Perancis. Mereka membawa kapal induk meriam!"

Jatmika menatap lampu yang kembali menyala di langit-langit ruangannya. Ia tahu, sabotase Mas Danu hanyalah gangguan kecil dibandingkan badai yang baru saja tiba. Kekuatan imperialis dunia telah bersatu untuk memadamkan "Cahaya Asia" sebelum ia sempat menyebar ke wilayah lain.

"Suro, aktifkan protokol Garis Pantai Statis," perintah Jatmika. "Kita tidak akan membiarkan satu sekoci pun menyentuh pasir pantai kita. Siapkan Meriam Rel (Railgun) Magnetik tahap awal."

Jatmika telah bereksperimen dengan elektromagnetisme untuk melontarkan proyektil baja tanpa bubuk mesiu. Meski masih dalam tahap prototipe dan membutuhkan energi listrik yang masif dari PLTA, ini adalah satu-satunya harapan untuk menghadapi kapal lapis baja yang tidak mempan oleh meriam konvensional.

Pertempuran untuk kedaulatan Kendal bukan lagi sekadar perang kemerdekaan, melainkan perang untuk mempertahankan masa depan peradaban manusia dari tangan-tangan serakah para penguasa lama.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!