Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinginnya fajar di ambang dosa
Marco masuk ke kamar, tampil rapi dengan setelan jas gelap. Ia menatap Laura dari pantulan cermin, mengagumi hasil "karya" cuci otak yang mereka lakukan selama dua bulan terakhir.
"Dunia luar masih mengira kau hilang di hutan itu, Laura," bisik Marco, tangannya mengelus bahu Laura yang dingin.
"Mereka menangisimu, sementara kau di sini... lahir kembali."
Laura memoles bibirnya dengan gincu merah gelap, hampir sewarna darah. "Biarkan mereka menangis. Air mata mereka adalah bukti betapa lemahnya dunia yang dulu mengurungku. Jadi, ke mana kita malam ini?"
Elena muncul di ambang pintu, memegang dua gelas kristal berisi minuman berwarna ungu elektrik. Ia tersenyum lebar, melihat "murid" terbaiknya kini telah bertransformasi total.
"Malam ini kita ke Oriental klub. Klub paling eksklusif di kota. Pemiliknya adalah salah satu saudara kita. Di sana, kau tidak perlu berpura-pura menjadi siswi lugu. Kau bisa menjadi siapa pun yang kau mau."
Laura menyesap minumannya tanpa ragu. "Aku ingin melihat bagaimana rasanya berada di antara manusia-manusia 'normal' itu tanpa mereka tahu siapa aku sebenarnya. aku ingin melihat kekosongan di mata mereka."
"Itulah kebebasan yang kami janjikan, Laura. Tanpa aturan sekolah, tanpa jam malam dari Oma, dan tanpa rasa takut akan dosa. Malam ini, kau adalah penguasa klub itu.
Laura terkekeh dingin.
"Dosa? Kata itu terdengar sangat kuno sekarang. ayo, aku sudah bosan dengan kesunyian perpustakaan ini. aku ingin mendengar musik yang berdentum sekeras detak jantungku.
Sesampainya di klub malam, dentuman bass yang berat menyambut mereka. Bau alkohol, asap rokok, dan parfum mahal bercampur menjadi satu. Laura berjalan menembus kerumunan dengan dagu terangkat. Orang-orang menyingkir memberinya jalan, entah karena kecantikannya yang mistis atau karena aura gelap yang kini terpancar kuat dari dirinya.
Beberapa anggota Satanik muda lainnya sudah menunggu di meja VIP yang terletak di area paling tinggi, mengawasi manusia di bawah mereka.
"Lihatlah Sang Pusaka kita! Kau tampak luar biasa, Laura. Bagaimana rasanya menghirup udara kebebasan?"
Laura duduk di sofa beludru, menatap kerumunan di lantai dansa dengan tatapan merendahkan "Rasanya memabukkan. Melihat mereka semua berdansa seperti domba yang tidak tahu bahwa serigala ada di antara mereka... itu sangat menghibur."
"Gunakan malam ini untuk merayakan dirimu, Laura. Sebelum Minggu depan kau harus memakai kembali topeng lugumu untuk masuk ke rumah bayi itu." kata Elena
Laura menyesap minumannya lagi, matanya berkilat emas di bawah lampu strobe yang berkedip liar. Ia tertawa lepas, sebuah tawa yang tidak lagi memiliki kemurnian. Ia benar-benar telah melupakan rumah majikan Oma, buku pelajaran yang tertumpuk, dan gadis kecil yang dulu takut pada kegelapan.
Lampu strobe berwarna merah darah membelah kabut asap rokok dan uap alkohol di Oriental klub . Dentuman techno yang berat terasa bergetar hingga ke tulang rusuk Laura, seolah mencoba meruntuhkan sisa-sisa pertahanan di dalam jiwanya. Di meja VIP yang eksklusif, dikelilingi oleh para anggota Satanik yang tertawa elegan sambil menyesap wine mahal, Laura duduk seperti seorang ratu yang baru dinobatkan.
Paradoks di Tengah Kesenangan
Meskipun tangannya memegang gelas kristal dan tubuhnya dibalut gaun yang memamerkan kemewahan duniawi, ada satu titik kecil di sudut hatinya yang tetap beku. Pikirannya boleh saja terus dijejali doktrin "kebebasan tanpa batas", namun nuraninya—yang selama belasan tahun dipupuk dengan doa-doa lembut Oma—ternyata tidak semudah itu menguap bersama asap.
Keanggunan yang Dingin.
Laura menyesap minumannya, namun matanya terus mengawasi kerumunan di lantai dansa dengan tatapan yang sangat jernih. Ia tidak mabuk. Ia justru merasa sangat sadar, seolah-olah ia sedang menonton sebuah pertunjukan sandiwara yang menyedihkan.
Marco mendekat, membisikkan sesuatu di telinganya. "Lihat mereka, Laura. Mereka semua budak dari keinginan mereka sendiri. Hanya kita yang tahu cara menguasai keinginan itu."
Percakapan di Balik Dentuman Musik
Di tengah hiruk pikuk itu, Elena menyodorkan sebuah pil kecil berwarna ungu kepada Laura.
"Ambil ini, Sayang. Ini akan melepaskan sisa-sisa 'beban' yang kau rasakan. Kau masih terlihat terlalu banyak berpikir."
Laura menatap pil itu dengan ragu, lalu menatap Elena
"Aku tidak butuh itu, Elena. Aku ingin melihat semua ini dengan mata telanjang. Aku ingin tahu seberapa jauh 'kebebasan' ini bisa membawaku."
Elena terkekeh
"Kau memang keras kepala. Tapi itulah yang membuat darahmu berharga."
Laura memalingkan wajah ke arah lantai dansa. Di sana, ia melihat seorang gadis yang tampak seumuran dengannya, tertawa lepas bersama teman-temannya. Untuk sesaat, memori tentang kantin sekolah, tawa bersama teman sekelas, dan bau roti hangat di dapur Oma muncul di kepalanya seperti kilatan petir.
Keseimbangan yang Rapuh
Nurani Laura mulai berbisik di tengah kebisingan.
"Apakah ini benar-benar kebebasan? Atau hanya penjara baru yang lebih mewah? "Mereka memberiku segalanya,"
batin Laura sambil memperhatikan pendar emas di jemarinya yang kini terasa lebih berat.
"Tapi kenapa setiap kali mereka menyebut tentang 'darah murni' dan 'bayi' itu, ada sesuatu di dalam diriku yang memberontak?"
Saat Marco menatapnya lagi, Laura segera memasang senyum dinginnya yang baru. Ia tahu ia harus menjaga keseimbangan ini. Jika ia terlihat terlalu "putih", mereka akan kembali mencuci otaknya. Jika ia terlalu "hitam", ia akan kehilangan jati dirinya sepenuhnya.
"Aku baik-baik saja, Marco," ucap Laura lantang melawan suara musik.
"Aku hanya sedang menikmati pemandangan... betapa mudahnya manusia dihancurkan oleh kesenangan."
Dentuman musik techno semakin beringas, seolah detak jantung klub Oriental sedang dipacu hingga batas maksimal. Cahaya laser hijau dan merah menyapu ruangan yang dipenuhi asap, menciptakan siluet manusia-manusia yang bergerak tanpa kendali di lantai dansa. Di sudut meja VIP, Laura masih duduk tenang, dikelilingi oleh beberapa wanita penghibur berpakaian minim yang terus tertawa dan menuangkan minuman.
Meskipun pikiran Laura telah terpapar doktrin gelap, ketenangan nuraninya membuatnya tampak seperti batu karang di tengah badai syahwat. Ia hanya menatap gelasnya, membiarkan pendar emas di jemarinya bermain dengan pantulan lampu diskotik.
Dari kejauhan, Marco berdiri bersandar pada pilar hitam. Matanya tidak pernah sedetik pun lepas dari Laura. Ia mengamati setiap gerak-gerik gadis itu, memastikan tidak ada "kontaminasi" nurani yang bangkit kembali. Baginya, Laura adalah aset yang terlalu berharga untuk dibiarkan "rusak" oleh kesenangan duniawi yang murahan.
Marco melangkah membelah kerumunan, auranya yang dominan membuat para ladies di sekitar Laura mendadak terdiam dan memberi jalan.
Marco membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Laura. Bau parfum maskulin yang tajam bercampur aroma tembakau mahal segera memenuhi indra penciuman Laura.
Marco: "Sudah cukup untuk malam ini, Laura. Waktunya kembali ke kenyataan."
Laura menoleh perlahan dengan tatapan dingin yang dipelajarinya dari Elena
"Kenapa? Aku baru saja mulai menikmati 'kebebasan' yang kau janjikan, Marco. Bukankah ini yang kalian inginkan? Melihatku menjadi bagian dari kegilaan ini?"
Cengkeraman tangan Marco di sandaran kursi mengeras
"Kebebasan bukan berarti kehilangan kendali. Malam semakin larut, dan tubuhmu butuh istirahat untuk tugas besar besok pagi. Kau punya peran sebagai baby sitter yang harus dijalankan dengan sempurna. Kau tidak boleh terlihat seperti wanita klub saat mengetuk pintu rumah itu."
Laura Terkekeh hambar, meletakkan gelas kristalnya dengan bunyi denting yang tajam "Pengasuh anak... aku hampir lupa. Jadi, pesta ini hanya hadiah sebelum aku melakukan pekerjaan kotor untuk kalian?"
"Ini bukan pekerjaan kotor, ini adalah takdirmu. ayo, mobil sudah menunggu di depan. Jangan biarkan Pimpinan melihatmu dalam kondisi lelah seperti ini.
Marco menarik tangan Laura dengan tegas namun tetap protektif. Saat mereka berjalan keluar melewati lorong yang remang-remang menuju pintu keluar, suara musik perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian udara malam yang dingin.
Laura Berhenti sejenak di depan pintu keluar, menghirup udara malam.
"Dunia di luar sini terasa sangat sunyi setelah kegaduhan di dalam tadi. Rasanya seperti baru saja keluar dari neraka yang indah."
"Dunia memang sunyi bagi mereka yang memiliki kekuatan, Laura. Jangan biarkan gemerlap tadi menipu nuranimu yang sedang bertumbuh. Ingatlah mantra yang kau pelajari: Hanya darah murni yang bisa membebaskan kita."
Laura terdiam, menatap langit malam yang tak berbintang. Ia mengikuti Marco masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa malam ini adalah pesta terakhirnya sebelum ia benar-benar harus mencelupkan tangannya ke dalam dosa yang tak bisa diampuni.