NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 - TAMU YANG MEMBUAT AYAH TAKUT

Lily berdiri di halaman dengan jarak tiga meter antara dia dan teras depan.

Cukup dekat untuk melihat wajah ayahnya dengan jelas. Dan yang Lily lihat di sana membuat sesuatu di perutnya bergerak dengan cara yang tidak nyaman. Bukan karena dia peduli pada ketakutan ayahnya, tapi karena orang yang sudah bertahun-tahun memegang kendali atas hidupnya tiba-tiba kelihatan seperti seseorang yang tidak memegang kendali atas apa pun.

Itu artinya orang yang berdiri di teras itu punya sesuatu yang lebih besar dari yang ayahnya punya.

Dan sesuatu yang lebih besar dari ayahnya berarti sesuatu yang perlu Lily waspadai lebih dari Tante Sari, lebih dari Nindi, lebih dari semua yang sudah ada di petanya sejauh ini.

Laki-laki itu masih senyum. Menunggu...

Lily melangkah ke teras.

"Selamat sore," katanya. Netral. Tidak ramah, tidak dingin ... cukup untuk terdengar wajar.

"Selamat sore, Lily." Laki-laki itu mengulurkan tangan. "Nama saya Reinaldo, teman lama ayahmu."

Lily menyambut tangannya. Genggamannya kuat tapi tidak berlebihan, seperti genggaman yang sudah dipelajari untuk tidak memberikan terlalu banyak informasi tentang orangnya.

"Dari mana, Pak?" tanya Lily.

"Jakarta." Dia melepas tangannya. "Lama tidak ke sini. Ayahmu sudah cerita banyak soal kamu."

Lily tersenyum tipis ke ayahnya ... pertanyaan tanpa suara. 'sejak kapan?'

Ayahnya tidak menjawab secara verbal. Tapi ada pergeseran kecil di posisi tubuhnya... bahu yang sedikit turun, tangan yang masuk ke saku. Gestur orang yang ingin menghilang dari tempat dia berdiri tapi tidak bisa.

"Kebetulan saya mampir," kata Reinaldo. "Tidak lama. Ada urusan di kota ini sampai besok."

"Silakan masuk, Pak," kata Lily. "Biar saya siapkan minum."

Di dapur, Lily menyiapkan teh dengan gerakan yang lambat dan teratur ... sengaja. Bukan karena butuh waktu untuk teh itu, tapi karena butuh waktu untuk mendengar.

Ruang tamu dan dapur di rumah ini dipisahkan oleh dinding yang tidak terlalu tebal, dan kalau kamu berdiri di posisi yang tepat di dekat rak piring, suara dari ruang tamu masuk dengan cukup jelas. Terutama kalau yang bicara tidak terlalu menahan volume suaranya.

Reinaldo tidak menahan volume suaranya.

"Jadi bagaimana perkembangannya?" suaranya terdengar dari ruang tamu. Bukan pertanyaan orang yang baru tiba dan sedang basa-basi. Tapi pertanyaan orang yang melanjutkan percakapan yang sudah punya konteks.

Ayahnya menjawab sesuatu yang tidak cukup keras untuk sampai ke dapur.

"Hm." Reinaldo. "Kalau begitu harus lebih cepat. Deadline-nya tidak berubah."

Lagi suara ayahnya, lebih keras sedikit kali ini. Lily menangkap dua kata, 'sudah diurus.'

"Yang mana yang sudah diurus? Yang pengacara itu?"

Suara ayahnya lagi, pendek.

"Satu tidak cukup. Aku bilang dua jalur dari awal." Reinaldo bicara dengan nada seseorang yang sudah pernah mengatakan ini sebelumnya dan tidak menikmati pengulangan. "Kalau satu bocor dan itu selalu kemungkinannya, yang satu lagi harus sudah siap menutup."

Teh sudah jadi. Lily mengatur gelas-gelas di atas nampan dengan tenang.

Deadline. Dua jalur. Bocor.

Bukan percakapan orang yang bertemu untuk nostalgia.

Ini percakapan orang yang sedang mengelola sesuatu yang sedang berjalan, tapi ternyata tidak sesuai rencana.

Lily membawa nampan ke ruang tamu.

Reinaldo dan ayahnya duduk berhadapan. Waktu Lily masuk, percakapan berhenti dengan cara yang terlalu rapi untuk tidak disengaja.

Lily meletakkan teh di depan keduanya tanpa berkomentar, lalu berdiri hendak kembali ke dapur.

"Duduk sebentar, Lily," kata Reinaldo.

Bukan permintaan yang bisa ditolak dengan sopan tanpa terlihat aneh. Lily duduk di kursi yang paling jauh. Tidak berada di antara mereka ... di sisi agak ke belakang, posisi yang memberikannya pandangan ke keduanya tanpa kelihatan seperti sedang mengamati.

"Ayahmu bilang kamu belakangan ini banyak keluar," kata Reinaldo. Santai, seperti pertanyaan biasa.

"Keperluan rumah," jawab Lily.

"Tentu." Dia minum tehnya sedikit. "Kamu sudah lama di rumah ini?"

"Lahir di sini."

"Pernah keluar? Kuliah, kerja, tinggal di tempat lain?"

"Tidak sempat kuliah." Lily menatapnya langsung. "Tinggal di sini sampai sekarang."

Reinaldo mengangguk seperti informasi itu menarik. "Rencana ke depannya?"

"Masih dipikirkan."

"Bagus." Dia meletakkan gelasnya. "Orang yang masih memikirkan rencananya biasanya lebih mudah diajak bicara soal kemungkinan-kemungkinan yang ada."

Lily tidak langsung menjawab. Kalimat itu terasa seperti pintu yang sengaja dibiarkan terbuka untuk melihat apakah Lily akan masuk atau berpura-pura tidak melihat pintunya.

"Kemungkinan seperti apa, Pak?"

Reinaldo senyum lagi... lebih lebar kali ini, tapi tidak lebih hangat. "Nanti kita bicarakan. Hari ini saya cuma mampir." Dia berdiri, merapikan kemejanya. "Besok sore saya masih di kota. Mungkin bisa ketemu lagi dalam suasana yang lebih santai."

Dia menyodorkan kartu namanya ke Lily, bukan ke ayahnya.

Lily mengambilnya.

Reinaldo Mahendra. Direktur Utama. PT Langit Nusantara Properti.

Lily menyimpan kartu itu di saku.

Ayahnya mengantar Reinaldo ke pintu. Lily membereskan gelas-gelas di ruang tamu dan tidak berpura-pura tidak mendengar percakapan singkat di depan. Suara keduanya lebih pelan sekarang, tapi Lily menangkap satu kalimat terakhir dari Reinaldo sebelum pintu ditutup.

"Pastikan dia tidak kemana-mana dulu. Kita belum siap kalau dia mulai bergerak ke arah yang salah."

Pintu ditutup.

Lily meletakkan nampan di meja dan berdiri sebentar.

Pastikan dia tidak kemana-mana.

Dia sudah kemana-mana. Dia sudah bergerak. Dan sekarang ada satu orang lagi yang masuk ke papan permainan ini. Orang yang punya cukup pengaruh untuk membuat ayahnya ketakutan, orang yang sudah punya rencana dengan deadline, orang yang menyebut dua jalur seperti berbicara soal strategi yang sudah dipikirkan matang.

Reinaldo Mahendra. PT Langit Nusantara Properti.

Lily mengingat nama perusahaan itu. Pernah dia dengar? Dia rasa tidak ... tapi mungkin pernah lewat di percakapan yang tidak dia perhatikan karena waktu itu tidak ada alasan untuk memperhatikan.

Ayahnya kembali ke ruang keluarga dengan wajah yang sudah dikembalikan ke mode normalnya ... datar, tidak menunjukkan apa-apa. Tapi Lily sudah tahu sekarang cara membaca apa yang ada di balik datar itu.

"Siapa beliau sebenarnya, Yah?" tanya Lily.

"Sudah aku bilang, teman lama."

"Teman lama yang mampir hari Minggu sore dengan mobil plat luar kota dan bicara soal deadline."

Ayahnya menatapnya. Sesuatu di matanya berubah ... bukan marah, bukan terkejut. Lebih seperti orang yang baru menyadari bahwa garis yang selama ini dia pikir aman ternyata sudah bergeser.

"Itu urusan orang dewasa, Lily."

"Aku sudah dua puluh dua tahun, Yah."

"Masuk ke kamar."

Lily mengangguk. Mengambil nampan dan berjalan ke dapur, tapi tidak ke kamar. Dia ke gudang.

Di ruang rahasia, Lily duduk di depan cermin dan meletakkan kartu nama Reinaldo di meja.

"Reinaldo Mahendra," katanya. "PT Langit Nusantara Properti. Kamu tahu siapa ini?"

Cermin beriak.

Gambar yang muncul bukan wajah Reinaldo, tapi dokumen. Lembar-lembar yang terlalu cepat berganti untuk dibaca detail, tapi Lily menangkap nama perusahaan yang sama muncul berulang di beberapa dokumen berbeda. Termasuk satu dokumen yang formatnya Lily kenal, format yang sama dengan dokumen perusahaan yang pernah ayahnya tandatangani di depan Tante Sari di gambar yang ditunjukkan cermin beberapa malam lalu.

Lalu gambar berhenti di satu halaman. Satu nama di bagian atas.

Bukan nama perusahaan.

Nama orang.

Wulan Dewi Paramita.

Nama Mama. Di dokumen perusahaan Reinaldo.

Lily mendekat ke cermin. "Apa hubungannya?"

Kalimat muncul di sudut cermin, pelan seperti biasanya.

Perusahaan ini yang pertama kali mengklaim tanah atas nama ibumu. Dua belas tahun lalu. Sebelum ada yang tahu kamu ada.

Lily duduk tegak.

Dua belas tahun lalu. Setahun setelah Mama meninggal.

Bukan Tante Sari yang memulai. Bukan ayahnya.

Reinaldo yang memulai.

Dan semua yang terjadi setelahnya. Tante Sari yang masuk, pernikahan yang direncanakan, saham yang diblokir, warisan yang ditahan. Mungkin bukan rencana yang berbeda-beda. Mungkin itu semua rencana yang sama. Dari satu titik yang sama.

Dari orang yang baru saja duduk di ruang tamunya dan memberikan kartu namanya langsung ke Lily dengan senyum yang terlalu tenang untuk orang yang tidak tahu apa yang sedang dia hadapi.

Atau terlalu tenang karena dia pikir dia yang pegang kendali.

Ponsel Lily bergetar di kantongnya. Hendra.[Lily. Aku dapat sesuatu soal inisial S. Kamu perlu dengar ini malam ini. Bisa keluar?]

Lily menatap kartu nama Reinaldo yang masih ada di meja.

Lalu mengetik balas.

[Tidak bisa keluar malam ini. Ada yang lebih besar dari S, Om. Besok pagi kita bicara. Aku kirim nama dulu sekarang, Reinaldo Mahendra. Cari semua yang bisa dicari.]

Dia kirim. Lalu mematikan layar ponselnya.

Di cermin di depannya, cahaya ruang itu bergerak ... bukan meredup, tapi berkonsentrasi, seperti api yang dikecilkan bukan karena hampir padam tapi karena sedang menyiapkan diri untuk menyala lebih panas.

Lily merasakan hal yang sama di dadanya.

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!