NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Dua — Kota Ceria

Selamat membaca ceritaku semoga kalian menyukainya!

Kota Ceria tidak lagi sunyi.

Hari demi hari, semakin banyak orang berdatangan, ada yang muncul dari hutan, ada yang keluar dari kota-kota kosong, ada pula yang selama ini bersembunyi di sudut-sudut Kota Abadi tanpa pernah tersentuh vaksin ataupun eksperimen.

Sebagian dari mereka adalah keluarga tentara.

Orang-orang yang sejak awal menolak kebijakan pemerintah lama. Mereka dicap pembangkang, diburu, dipaksa tunduk namun berhasil bertahan.

Kini mereka datang dengan wajah lelah… tapi penuh harapan. Tidak ada gerbang besi tinggi menyambut mereka, tidak ada senjata diarahkan ke kepala, hanya meja kayu panjang di bawah balai sederhana.

Di sana, Vino duduk dengan buku besar terbuka dan pena di tangan. “Nama?” tanyanya ramah. Satu per satu mereka menyebutkan identitas. Nama itu dicatat. Bukan untuk eksperimen, bukan untuk pengawasan rahasia, melainkan untuk kejelasan.

Transparansi.

Setiap orang yang masuk mendapat kartu menetap–kartu sederhana dari kayu tipis yang diberi ukiran Kota Ceria. Di belakangnya tertulis nama, jumlah anggota keluar, dan tanggal kedatangan. “Supaya tidak ada yang hilang tanpa jejak lagi,” ujar Vino suatu kali saat menjelaskan sistem itu.

Data itu bukan alat kekuasaan. Melainkan bentuk tanggung jawab. Jay memastikan aturan kota dibacakan terbuka di balai setiap minggu. Tidak ada keputusan sepihak. Semua boleh menyampaikan pendapat.

Max membantu membuat papan pengumuman besar di tengah kota. Semua informasi—hasil panen, jadwal ronda, persediaan makanan ditulis jelas. Tidak ada ruang kontrol tersembunyi, maupun sektor steril.

Anak - anak keluarga tentara mulai bermain bersama anak-anak yang dulu menjadi korban eksperimen. Awalnya canggung, namun tawa selalu lebih cepat menyatukan daripada trauma memisahkan.

Arsya berdiri di sisi balai, memperhatikan wajah-wajah baru itu. Ia teringat bagaimana dulu nama hanya berarti nomor uji coba. Kini, nama adalah identitas, nama adalah sebuah harapan dan Kota Ceria terus tumbuh. Bukan karena ambisi satu orang, tapi karena keberanian banyak orang yang memilih hidup dengan cara berbeda.

Disaat Kota Ceria bangkit, di sisi lain Kota Abadi dalam gedung lantai 4, ada sebuah ruangan rahasia di dalamnya. Seorang pria pakaian rapi berdiri di ruangannya yang gelap. Cahaya monitor CCTV memantul di wajahnya yang mengeras. Di layar, Kota Abadi terbakar. Sistemnya runtuh. Eksperimennya lepas kendali.

Ia mengkerut kesal.

“Heh.. ini belum berakhir,” gumamnya pelan. “Aku bisa mengejar kalian lagi.”

BRAK!

Pintu ruangannya hancur seketika, debu berjatuhan dari langit-langit. Di ambang pintu berdiri sosok Kanihu Alpha. Tegak dan diam. Tatapannya datar tanpa emosi.

Pria itu mendengus meremehkan. “Kau ingin apa?” ujarnya santai, meski jarinya perlahan bergerak ke bawah meja. “Kau tidak bisa melawanku. Di dalam otakmu ada chip yang kubuat. Kau akan selalu tunduk.”

Ia menekan tombol di mejanya.

Sekali

Dua kali.

Tiga kali.

Tak ada reaksi, keringat dingin mulai merayap di pelipisnya. Alpha tetap diam. Lalu melangkah masuk. “Kau…” suara Alpha terdengar berat, namun jelas. Pria itu membelalak. “Tidak mungkin..”

“Berakhir.” satu kata itu jatuh seperti palu. Alpha membuka telapak tangannya. Di sana tergeletak sebuah chip kecil, berlumur darah kering. “Apa—bagaimana bisa—” Alpha tersenyum tipis.

Senyum yang bukan lagi milik makhluk percobaan. Melainkan manusia yang merebut kembali kehendaknya. “Selamat tinggal, kawan lama.”

Ia mengeluarkan dengungan rendah dari tenggorokannya panggilan yang hanya dipahami satu jenis makhluk.

Senyap.

Sosok Kanihu dengan gerakan hampir tak terlihat muncul di belakang pria itu.

SREK!!

Dalam satu gerakan cepat, tangan bercakar menembus dada. Menggenggam jantung yang masih berdetak, tubuh pria itu runtuh bahkan sebelum sempat berteriak.

Sunyi.

Hanya suara detak mesin dan alarm yang belum sempat dimatikan. Alpha berjalan ke meja kontrol, menatap semua layar. Semua data, semua rencana cadanga. Tanpa ragu, ia menekan tombol utama.

HAPUS SEMUA DATA.

Satu per satu layar menjadi hitam. Proyek itu mati bersama penciptanya. Alpha berdiri di tengah ruangan yang kini gelap. Tangannya menyentuh kalung di lehernya, kalung sederhana. Dengan foto kecil terselip di dalamnya.

Seorang gadis kecil.

Senyumnya polos.

Cahaya terakhir yang ia ingat sebelum hidupnya direnggut. “Aku akan menjalani hidupku… versi baruku,” bisiknya.

Tatapannya melembut. Bukan lagi tatapan makhluk yang dipaksa menjadi senjata, melainkan seorang pria yang akhirnya bebas. “Terima kasih..”

Ia melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan masa lalu yang penuh darah, menuju dunia yang, untuk pertama kalinya bisa ia pilih sendiri.

Ia tidak pergi sendirian.

Alpha kembali ke halaman pusat Kota Abadi, yang kini sunyi dipenuhi puing dan sisa-sisa ambisi manusia. Dengan suara dengungan rendah yang menggema panjang, ia memanggil mereka.

Makhluk-makhluk yang senasib dengannya.

Yang setengah tubuhnya direnggut.

Yang hidupnya dipaksa berubah.

Yang tak lagi diterima manusia, namun juga tak sepenuhnya kehilangan kemanusiaan.

Satu persatu mereka muncul dari bayangan gedung.

Kanihu liar yang kini tenang.

Kanihu senyap yang bergerak tanpa suara.

Para raksasa yang dulu menjadi penjaga paksa.

Alpha berdiri di depan mereka. “Kita tidak lagi jadi senjata,” ucapnya berat namun tegas. “Kita tidak lagi jadi eksperimen.”

Tak semua bisa berbicara, tapi semua mengerti.

Ia mengangkat tangannya ke arah gerbang besar Kota Abadi. “Kota ini… milik kita sekarang.”

Bukan untuk balas dendam, maupun memburu manusia. Melainkan sebagai tempat terakhir mereka. Tempat yang tidak akan lagi mengurung atau menyiksa, mereka menutup seluruh akses menuju Kota Abadi, jalan-jalan diruntuhkan. Jembatan dipatahkan. Terowongan ditimbun. Tidak ada lagi yang bisa masuk tanpa seizin mereka.

Kanihu senyap ditempatkan di gerbang utama, menjadi penjaga bayangan. Tak terlihat, tak terdengar namun selalu ada.

Alpha memisahkan wilayah. Kota-kota lain yang sebelumnya dihancurkan oleh kanihu liar yang kini sudah bersih ditinggalkan sepenuhnya untuk manusia yang ingin membangun ulang. Ia tidak menginginkan perang baru.

Ia sudah menghancurkan Alpha-Alpha lain sebelum tiba di sini, mereka yang memilih tetap tunduk pada chip cadangan dan naluri buas. Tidak ada lagi pemimpin selain dirinya. Dan ia tidak berniat menjadi tiran.

Di sisinya berdiri lima raksasa. Tubuh besar mereka masih terasa nyeri di sendi—hasil modifikasi kejam manusia. Gerakan mereka tak selalu halus, kadang terdengar bunyi retakan kecil ketika mereka berjalan. Namun mereka tetap berdiri.

Setia.

Bukan karena dikendalikan, tapi karena mereka memilih. Alpha menatap langit Kota Abadi yang kini bersih dari drone dan kamera. “Aku tidak akan mengejar mereka,” gumamnya pelan, teringat Kota Ceria di kejauhan. “Dunia cukup luas untuk kita berbagi.”

Angin berhembus melewati gedung kosong. Kota Abadi benar-benar sunyi, bukan karena pengawasan, bukan karena ketakutan namun karena sebuah pilihan. Dan di tengah kota itu, para makhluk yang dulu disebut kegagalan, akhirnya menemukan tempat untuk hidup tanpa diburu.

Terima kasih sudah membaca jangan lupa beri support untukku dengan meninggalkan jejak tanda like dan vote..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!