EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Kecil
Fajar menyingsing dengan warna keemasan yang tidak biasa bagi Zunaira.
Meskipun semalam tidurnya hanya berlangsung kurang dari satu jam, matanya sama sekali tidak terasa berat.
Ada sebuah resonansi yang bergetar di dalam dadanya yaitu sebuah kesadaran baru yang membuatnya merasa seolah-olah bumi yang ia pijak telah berubah menjadi lebih kokoh.
Di bawah bantalnya Kitab Tafsir Jalalain kuno itu tersembunyi dengan aman, namun hangatnya doa Gus Azlan semalam seolah masih membekas di ubun-ubunnya.
Pagi ini statusnya telah berubah di mata langit, ia bukan lagi seorang ustadzah yang berdiri sebatang kara.
Ia adalah istri dari putra sang pemilik pesantren, namun saat ia melangkah keluar kamar menuju dapur asrama untuk mengambil jatah sarapan, realita segera menghantamnya.
"Ustadzah Zunaira, wajahmu segar sekali hari ini? Habis shalat tahajud berapa rakaat sampai berseri begitu?" tegur Ustadzah Sarah sambil mengaduk teh manis di meja kayu panjang.
Zunaira tersentak dan hampir saja menjatuhkan piring plastiknya, ia menunduk dan merapatkan jilbabnya.
"Mungkin karena cuaca pagi ini cukup sejuk Ustadzah Sarah." jawabnya sekenanya dan berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.
"Ah masa? Atau jangan-jangan karena kemarin dikasih kain sutra sama Ning Syifa? Hati-hati lho Zu, biasanya pemberian orang besar itu ada buntutnya." lanjut Sarah dengan nada yang separuh bergurau separuh menyelidik.
Zunaira hanya tersenyum tipis, ustadzah Sarah tidak tahu bahwa kebahagiaannya pagi ini justru lahir dari penolakan halusnya terhadap segala kemewahan duniawi demi sebuah ikatan yang sunyi namun suci.
Tepat pukul delapan Zunaira berjalan menuju gedung administrasi, di koridor ia berpapasan dengan rombongan santriwati yang hendak menuju madrasah.
Mereka membungkuk takzim dan mencium tangannya, di antara mereka ada santriwati kecil yang merupakan murid kesayangannya.
"Ustadzah, hari ini kita belajar Nahwu lagi kan?" tanya si kecil itu.
"Insya Allah Nak, siapkan kitab Jurumiyah-mu ya." jawab Zunaira lembut.
Namun fokusnya terpecah saat melihat sosok pria yang berjalan dari arah ndalem menuju kantor yang sama.
Gus Azlan, pria itu nampak sangat rapi dengan koko putih bersih dan sarung bermotif minimalis.
Surban hijaunya tersampir di bahu dengan wibawa yang membuat siapapun segan menatapnya langsung.
Jantung Zunaira berpacu hebat, ini adalah pertama kalinya ia akan berinteraksi dengan suaminya secara profesional setelah akad semalam.
Ia teringat kembali gema surat Ar-Rahman di sepertiga malam tadi, bagaimana ia harus memanggilnya sekarang? Bagaimana ia harus menatap mata itu?
Kantor kurikulum pagi itu masih sepi dan hanya ada hembusan angin dari jendela yang menghadap ke kebun jeruk.
Saat Zunaira sedang merapikan berkas jadwal ujian, pintu terbuka dan Gus Azlan masuk dengan langkah yang biasanya tenang, namun kali ini ada sedikit keterburuan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang mengenalnya dekat.
Azlan menutup pintu perlahan, matanya langsung mencari sosok Zunaira.
Begitu pandangan mereka bertemu, ada kilatan rindu dan kelegaan yang membuncah.
"Assalamu’alaikum Ustadzah Zunaira." sapa Gus Azlan.
Suaranya rendah dan bariton yang semalam membacakan ayat suci itu kini terdengar begitu dekat.
Zunaira meletakkan bolpoinnya dan tangannya mendadak dingin.
"Wa’alaikumussalam... Gus." jawabnya. Lidahnya hampir saja mengucap Mas, namun ia segera mengeremnya.
Gus Azlan mendekat ke meja kerja Zunaira, ia berdiri di sisi lain meja dengan jarak yang cukup dekat untuk mencium aroma parfum kayu gaharu yang khas.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah masih demam?" tanya Gus Azlan.
Suaranya kini berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhatian yang selama ini ia tahan.
"Sudah jauh lebih baik... Mas." bisik Zunaira, akhirnya memberanikan diri menggunakan panggilan itu saat keadaan dirasa benar-benar aman.
Gus Azlan tersenyum, senyum yang begitu tulus hingga membuat matanya menyipit.
"Terima kasih sudah bertahan semalam, perjalanan pulangmu... tidak ada yang melihat?" tanya Gus Azlan.
"Alhamdulillah selamat sampai kamar, Mas Haidar menjaga saya dengan sangat baik." jawab Zunaira.
Gus Azlan mengangguk, ia menjangkau sebuah berkas di atas meja dan berpura-pura sedang memeriksa data namun jemarinya sengaja menyentuh jemari Zunaira yang sedang memegang map.
Sentuhan itu singkat hanya sekejap namun seperti sengatan listrik yang membuat Zunaira menahan napas.
"Aku ingin menyapamu lebih dari ini." bisik Gus Azlan lirih, matanya menatap tajam ke manik mata Zunaira.
"Aku ingin menanyakan bagaimana tidurmu, apakah mimpi indah, atau apakah kau merindukanku saat fajar tiba, tapi..."
Kalimat Gus Azlan terputus, suara riuh langkah kaki dan tawa santri terdengar mendekat ke arah kantor.
Secara refleks Gus Azlan menarik tangannya dan mundur dua langkah, berdiri dengan sikap tegak dan formal kembali.
Zunaira pun langsung menunduk dan. berpura-pura sibuk mencatat sesuatu.
Pintu terbuka lebar, dua orang santri senior masuk membawa tumpukan laporan bulanan.
"Gus Azlan! Maaf mengganggu, ini laporan dari asrama putra yang diminta kemarin." ujar salah satu santri.
Azlan berdehem, wajahnya kembali menjadi ekspresi Gus yang berwibawa dan dingin.
"Nggih, letakkan saja di sana. Ustadzah Zunaira tolong bantu verifikasi data ini segera dan pastikan tidak ada jadwal yang bentrok dengan kunjungan tamu minggu depan." ucap Gus Azlan tegas.
Zunaira menjawab dengan nada yang tak kalah formal.
"Nggih Gus, akan segera saya kerjakan." jawab Zunaira.
Para santri itu keluar tanpa curiga sedikit pun, begitu pintu tertutup Gus Azlan menghela napas panjang dan pundaknya sedikit meluruh.
"Menjadi aktor ternyata lebih melelahkan daripada menghafal kitab Alfiyah, Zu." seru Gus Azlan.
Zunaira tertawa kecil dengan senyum yang begitu manis sekali dan sebuah tawa yang renyah dan menenangkan.
"Bukankah ini bagian dari jihad kita Mas? Menjaga kesucian ikatan dalam kesabaran." ujar Zunaira.
Siang harinya saat istirahat shalat Dzuhur, Ning Arifa tiba-tiba muncul di depan kantor kurikulum sambil menggandeng Naura.
Gadis kecil itu nampak cantik dengan jilbab bunga-bunganya yang begitu menggemaskan.
"Mbak Zu! Eh Ustadzah Zu!" Arifa meralat panggilannya dengan cepat sambil mengerling ke arah Gus Azlan yang masih ada di dalam ruangan.
"Ini ada titipan dari Ummi, katanya Mbak Zu jangan lupa makan siang." seru Ning Arifa.
Arifa menyerahkan sebuah kotak bekal kayu yang harum masakan rumahan.
Di dalamnya Zunaira tahu pasti ada lauk kesukaan Gus Azlan juga yang sengaja disisipkan Ummi agar mereka bisa makan bersama meski dalam sekat rahasia.
Naura berlari masuk dan memeluk kaki Gus Azlan.
"Paman Azlan, tadi Naura lihat Mbak Arifa masukin surat kecil ke dalam kotak makan itu. Surat apa sih?" tanya bocah kecil itu.
Wajah Arifa langsung memerah, Gus Azlan berdehem keras dan mencoba mengalihkan perhatian.
"Mungkin itu daftar belanjaan Ummi, Naura. Ayo, Naura ikut Paman ke ndalem dulu yuk, biar Ustadzah Zu bisa makan." ajak Gus Azlan.
Zunaira menerima kotak itu dengan haru, saat ia membukanya nanti di ruang guru yang sepi ia menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan Azlan yang diselipkan Ummi.
"Makanlah yang banyak Istriku, tenagamu dibutuhkan untuk mengajar para santri dan doamu dibutuhkan untuk menjaga hatiku, teringat hadis Nabi SAW.
'Sesungguhnya makanan yang kau suapkan ke mulut istrimu adalah sedekah bagimu.'
Maaf, kali ini baru bisa lewat kotak bekal ini."
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...