NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 35) Hari Minggu di Sao Paulo

Pagi itu datang dengan tenang, seperti akhir pekan yang malas untuk bergerak terlalu cepat. Cahaya matahari telah tinggi, menembus sela tirai kamar yang setengah terbuka dan membiarkan garis-garis keemasan jatuh di atas lantai kayu. Namun di dalam kamar tersebut, suasana masih terjebak dalam kantuk panjang. Laila yang terbaring di ranjang besar belum sepenuhnya terbangun sampai suara ketukan pelan di pintu terdengar dari luar.

Tok… tok… tok…

"Nyonya… apa Anda baik-baik saja?" suara Mia terdengar ragu dari balik pintu. "Ini sudah mah jam satu siang."

Ucapan itu seperti lonceng yang memukul kesadaran Laila. Kedua matanya langsung terbuka lebar, napasnya tertahan sesaat karena terkejut. Ia memandang langit-langit kamar beberapa detik, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tersisa di dunia mimpi.

Laila menoleh perlahan ke samping tempat tidur. Tangannya bergerak mencari ponsel di meja kecil, lalu matanya membelalak ketika melihat angka di layar.

Benar. Hampir pukul satu siang.

Ia pun menghela napas panjang dan menenangkan dirinya. Untung saja ini adalah hari Minggu. Jadi tidak ada kantor ataupun pekerjaan yang menumpuk.

Setelahnya, pandangan Laila menurun. Dan di sebelahnya ada David. Pria itu masih tertidur pulas dalam pelukannya, seakan dunia di luar kamar tidak ada artinya sama sekali. Wajah tampannya tampak damai, berbeda jauh dari ekspresi dingin dan dominan yang biasanya ia tunjukkan. Rambut hitamnya sedikit berantakan, jatuh di keningnya dengan cara yang justru membuatnya terlihat lebih berkilau.

Yang membuat Laila tercekat adalah posisi mereka. David menenggelamkan wajahnya tepat di dada Laila, seperti seseorang yang menemukan tempat ternyaman di dunia.

Laila mematung beberapa detik. Kemudian wajahnya perlahan memerah.

"Astaga... Dia ini benar-benar," gumamnya pelan. Tetapi alih-alih mendorong pria itu menjauh, tangannya malah bergerak perlahan ke kening David. Jemarinya yang halus menyentuh kulit pria itu dengan hati-hati, takut membangunkannya.

Ia menunggu beberapa detik, dan tidak lama menghembus nafas lega. "Syukurlah... panasnya sudah turun," bisiknya pelan.

Kenangan semalam langsung menyeruak ke dalam pikiran Laila bagaikan potongan film yang diputar kembali.

Kemarin malam sebenarnya terlihat damai dan tentram. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas ketika Laila memutuskan untuk tidur. Rumah besar itu hampir sepenuhnya sunyi, hanya suara angin malam yang sesekali menyentuh jendela.

Namun tepat ketika ia baru saja mematikan lampu kamar, ketukan pelan terdengar di pintu.

Laila langsung mengerutkan kening. "Siapa sih malam-malam ngetuk pintu begini?" gumamnya kesal.

Ia sempat berpikir untuk mengabaikannya. Tetapi ketukan itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih lemah, seolah orang di luar sana tidak punya banyak tenaga tersisa.

Akhirnya Laila bangkit dari ranjang. Langkahnya malas ketika berjalan ke arah pintu. Tangannya membuka gagang pintu dengan sedikit rasa jengkel.

Tapi saat pintu terbuka, Laila terlonjak kaget. "Dev??"

David berdiri di depan pintu dengan keadaan yang sangat tidak biasa. Jas mahalnya masih melekat di tubuhnya, tetapi kancing kemejanya sedikit terbuka dan napasnya terdengar berat.

Sebelum Laila sempat mengatakan apa pun, tiba-tiba tubuh pria itu jatuh memeluknya dan seketika menjadi lemas.

Laila membelalakkan mata. "Ehhh?!!"

Tubuh pria itu berat sekali. Keseimbangannya hampir goyah karena berat badan David yang bersandar penuh padanya. Dengan refleks, Laila menguatkan kakinya dan segera merangkul pria itu agar tidak jatuh ke lantai.

"Hei... Dev!!" Laila terkejut bukan main. Bau aneh tercium dari tubuh pria itu.

Laila menegang. "Ini… seperti bau darah…" Bulu kuduknya sempat meremang.

Namun saat tangannya menyentuh leher David, ia justru tersentak lagi. Panas di tubuh pria itu benar-benar tidak normal.

"Jangan-jangan…" Laila menyipitkan mata. "Apa Anda tidak sengaja meminum racun perangsang lagi?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Meski dalam situasi seperti demikian, nada kesalnya masih terdengar.

David yang setengah sadar dibuat tersenyum lemah oleh perkataan Laila. Matanya sayu. Dan dengan suara sengau ia menjawab singkat. "Tidak… Laila."

Saat itu juga, Laila akhirnya menyadari bahwa David mengalami demam.

"Astaga…" Laila menghela napas panjang. Tanpa membuang waktu lagi, ia sontak memapah David masuk ke dalam kamar. Perjuangannya cukup berat karena tubuh pria itu jauh lebih tinggi dan besar darinya. Tetapi syukurlah ia berhasil membaringkan David di ranjangnya.

Satu per satu, Laila melepaskan jas pria itu, kemudian kaus kaki mahalnya, lalu melipat lengan kemejanya agar lebih nyaman.

David tidak melawan sama sekali. Ia benar-benar tidak punya tenaga. Setelah menyelimutinya, Laila segera keluar kamar sebentar.

Laila kembali beberapa menit kemudian dengan baskom air, kain kecil, serta obat demam dan segelas air minum.

Dengan susah payah ia membantu David duduk. "Minumlah obat ini," kata Laila tegas. "Biar cepat sembuh."

Tetapi reaksi David diluar dugaan. Ia malah memalingkan mukanya. Tanda jelas. Ia tidak mau.

Laila terdiam dua detik. Lalu wajahnya berubah kesal. "David!"

Pria itu langsung tersentak seperti anak kecil yang dimarahi. Tanpa protes, ia membuka mulutnya.

Laila memasukkan obat itu dengan cepat, lalu memberinya air. David menelan obat tersebut meski dengan ekspresi yang sedikit menderita. Setelah itu ia kembali terbaring. Napasnya terengah-engah. Wajahnya memerah karena demam. Dan untuk pertama kalinya Laila melihat David tampak begitu rapuh.

Laila menatapnya lama. Dalam hatinya ia bergulat dengan dirinya sendiri. "Entah apa yang baru saja dia alami di luar sana hingga bau darah tercium pekat dari badannya..."

"Yang jelas…"

"Aku tidak menduga kalau orang sekejam dia bisa kena demam juga."

Laila hendak bangkit dari ranjang. Namun mendadak, tangan David meraih pergelangan tangannya. Dalam satu gerakan lemah tetapi cepat, pria itu menariknya.

"Kyaa!" Laila menjerit kaget. Tubuhnya jatuh ke atas kasur. Dan sebelum ia sempat bangun, David sudah memeluknya erat.

"Jangan… pergi," lenguh pria itu dengan suara parau.

Laila yang awalnya ingin marah akhirnya hanya menghela napas panjang. Dan entah sejak kapan, ia pun tertidur di sana.

Kenangan itu membuat Laila menghela napas panjang.

"Benar-benar merepotkan…" gumamnya pelan. Ia kembali menatap sejenak wajah David yang masih terlelap.

Perlahan, Laila mencoba bangkit dari ranjang. Tapi tepat saat ia duduk, tangan David melingkari pinggangnya.

"Ehh?" Laila terperanjat.

David yang tadi tampak tertidur ternyata sudah membuka mata. Masih dalam posisi rebah, pria itu menahan pinggang Laila agar tidak pergi.

"Dev… lepaskan," kata Laila sedikit panik. "Ini sudah siang."

David mendongak. Rambutnya masih berantakan. Matanya sedikit sayu. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa wajahnya yang baru bangun itu terlihat sangat tampan.

Kemudian, dengan suara lirih yang hampir seperti bisikan David berkata, "Aku mencintaimu, Laila."

Deg.

Laila terhentak. Tubuhnya langsung mematung kaku. benar-benar tidak bergerak selama beberapa detik.

Pikirannya kosong. Jantungnya berdetak terlalu keras. Lalu ia menelan ludah. Dalam hatinya ia bergumam panik. "Apa dia sedang mengigau?"

Ia sontak menoleh ke arah David. Pria itu nampak masih menatapnya dengan tatapan serius. Tidak terlihat seperti orang yang sedang setengah sadar.

Jantung Laila mulai berdetak tidak karuan. Pipinya perlahan memerah tanpa ia sadari.

Laila menggigit bibirnya sedikit. "Dasar…" batinnya. "Mengapa pula dia berbicara begitu dengan wajah seperti itu?"

"Dia ini benar-benar..."

"Selalu saja membuat orang berdebar tanpa sebab."

***********

Di sisi lain, langit di atas Sao Paulo tampak semakin mengumbarkan terik ketika sebuah pesawat besar perlahan menurunkan kecepatannya. Suara roda yang bergesekan dengan landasan terdengar keras, diikuti getaran halus yang merambat hingga ke kursi para penumpang.

Pesawat yang ditumpangi Dio akhirnya mendarat dengan sempurna setelah menempuh perjalanan panjang melintasi samudra dan benua. Dari balik jendela oval di samping kursinya, Dio menatap hamparan kota yang tampak luas, gedung-gedung menjulang tinggi seperti hutan beton yang tidak berujung.

Ketika pesawat berhenti sepenuhnya dan tanda sabuk pengaman dimatikan, para penumpang mulai berdiri dan mengambil barang mereka. Suasana di dalam kabin menjadi riuh oleh suara koper yang ditarik dan percakapan dalam berbagai bahasa.

Dio tetap duduk beberapa saat, menatap lurus ke depan dengan napas yang perlahan memburu. Ia menutup mata sejenak, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri setelah perjalanan panjang yang menguras tenaga. Namun jauh di dalam hatinya, gelombang emosi justru semakin kuat bergulung.

Begitu kedua kakinya benar-benar menjejak tanah bandara, Dio berhenti sejenak. Ia mengangkat wajahnya, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan udara kota itu memenuhi paru-parunya.

Sesudah berjuang keras, keinginannya untuk pergi ke Brazil tercapai jua.

Dalam hati ia lantas menguntaikan tekadnya. "Laila... Aku datang."

Nama itu melintas di benaknya seperti kilatan cahaya di tengah malam. Wajah Laila muncul begitu jelas dalam ingatannya. Tidak lama, pikirannya yang sedang tenggelam dalam kenangan tiba-tiba terputus.

"Kak." Suara lembut dari samping membuat Dio terhentak kecil. Ia menoleh dan mendapati Aini berdiri di sana sambil menenteng tas selempang kecil. Wajah gadis itu tampak sedikit lelah setelah perjalanan panjang, tetapi sorot matanya tidak goyah.

"Ayo," lanjut Aini singkat.

Dio mengangguk pelan, seolah baru tersadar dari lamunannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua mulai melangkah menuju pintu keluar terminal.

Sementara itu, Aini yang berjalan beberapa langkah di belakang Dio, tiba-tiba merasa ada yang menggelembung dalam hatinya.

"Haah…" batinnya menghela napas pelan. "Entah mengapa setelah Kak Dio yang mendapat kesempatan ke Brazil bersamaku dan Bu CEO… perasaanku jadi tidak enak," gumamnya dalam hati.

"Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."

"Apalagi yang berkaitan dengan Laila. Pokoknya mereka jangan sampai berpapasan. Bisa-bisa, kedok Laila akan terbongkar."

Raut Aini mendadak murung. "Sudah lama sekali ya, sejak terakhir aku dan Laila berbicara."

Dalam hati ia berdoa, "Laila... Dimana pun kau berada, semoga dirimu bahagia."

1
M
/Determined/
Wssshh🐳: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Masha 235
maaf ya author yg nulis cerita ini ..maaf kalo sekiranya ada kata kataku yg menyinggung🙏🙏ini secara tidak langsung cerita ini kn perselingkuhan ,1 wanita punya 2 suami..maaf nggak repect🙏🙏
M: yaudah kan tinggal gausah baca kak🙏 novel modelan begini juga banyak kali😂 anda datang-datang cuma ngasih komen begini. ngotorin karya orang aja😍🙏 pelit like dan cuma numpang baca aja banyak omong😍 hargai author. minimal sebagai pembaca ada etikanya🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!