Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: NADA YANG TERTINGGAL
Pagi di Oakhaven tidak pernah membawa cahaya yang menyilaukan. Alih-alih matahari yang terbit dengan gagah, yang ada hanyalah pergeseran perlahan dari kegelapan pekat menuju abu-abu pucat. Kai terbangun sebelum alarm di ponselnya sempat berbunyi—sebenarnya, ia tidak pernah benar-benar tidur nyenyak. Tidurnya hanyalah serangkaian fragmentasi gambar yang tidak koheren; kilasan lampu mobil, suara decit rem yang memilukan, dan rasa dingin yang merayap di ujung jemarinya.
Ia bangkit dari kasur tipisnya, merasakan tulang punggungnya berderit. Ruangan itu terasa seperti peti es. Pemanas ruangan tua di pojok kamar hanya mengeluarkan suara dengkur kasar tanpa benar-benar memberikan kehangatan. Kai berjalan menuju dapur kecilnya, menyalakan keran, dan membiarkan air dingin membasuh wajahnya. Air itu terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk kulitnya, namun itu membantunya untuk tetap terjaga di dunia nyata.
Sambil menunggu air di teko mendidih, mata Kai beralih pada sketsa yang ia buat semalam. Gambar piano di tengah badai itu. Di bawah cahaya pagi yang redup, garis-garis arang itu tampak lebih hidup, namun juga lebih menakutkan. Ada sesuatu tentang kursi kosong di depan piano itu yang membuatnya merasa sesak. Kursi itu bukan sekadar objek; itu adalah simbol dari segala sesuatu yang hilang dari hidupnya.
"Siapa dia?" gumamnya pelan, suaranya hilang ditelan suara uap teko yang mulai melengking.
Ingatannya kembali pada wanita di kafe 'The Last Note'. Ia mencoba mengingat detail wajahnya, namun ingatannya seolah-olah tertutup kabut. Ia hanya ingat matanya—sepasang mata yang seolah-olah telah melihat seluruh kesedihan dunia dan memutuskan untuk menyimpannya sendiri. Pandangan itu terus menghantuinya sepanjang ia meminum teh pahitnya.
Kai tahu ia tidak bisa hanya diam di apartemennya hari ini. Rasa penasaran itu, sebuah emosi yang sudah lama ia kubur, mulai tumbuh seperti gulma di sela-sela retakan hatinya. Ia harus kembali ke sana. Bukan karena ia menginginkan kopi, tapi karena ia butuh jawaban mengapa musik wanita itu bisa menembus dinding pertahanan yang ia bangun selama tiga tahun ini.
Ia mengenakan mantel panjangnya yang berwarna kelabu tua, melilitkan syal rajutan ibunya yang sudah mulai menipis di beberapa bagian, dan melangkah keluar.
Jalanan Oakhaven pagi ini terasa lebih sibuk, namun tetap sunyi dengan caranya sendiri. Orang-orang berjalan terburu-buru dengan kepala tertunduk, berlindung di balik payung atau kerah jaket yang tinggi. Tidak ada yang saling menyapa. Di kota ini, setiap orang adalah pulau yang terisolasi oleh dinginnya udara.
Kai berjalan melewati taman kota yang pepohonannya kini hanya tinggal ranting-ranting hitam yang merana tanpa daun. Ia berhenti sejenak, melihat sekelompok anak kecil yang mencoba membuat boneka salju. Tawa mereka terdengar murni, sebuah kontras yang tajam dengan kesuraman di sekeliling mereka. Kai merasa seperti hantu yang mengamati kehidupan dari balik tabir kaca. Ia ada di sana, tapi ia bukan bagian dari mereka.
Sesampainya di depan 'The Last Note', Kai ragu-ragu sejenak. Tangannya tertahan di gagang pintu. Apakah ini ide yang bagus? Bagaimana jika ia hanya membayangkan koneksi itu? Bagaimana jika wanita itu hanyalah orang asing biasa yang kebetulan sedang sedih?
ting!!!!
Lonceng pintu berbunyi saat ia akhirnya mendorongnya masuk. Kafe itu jauh lebih sepi di pagi hari. Aroma biji kopi panggang menyambutnya, memberikan sensasi hangat yang instan. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kursi piano itu kosong.
"Kau kembali lagi," suara barista kemarin mengejutkannya. Gadis itu sedang mengelap meja counter. "Kopi hitam tanpa gula lagi?"
Kai mengangguk kaku. "Ya."
"Aku Maya," ucap gadis itu sambil mulai menyiapkan pesanan Kai. "Kau terlihat sedikit lebih 'hidup' hari ini dibanding semalam. Mungkin salju semalam memberimu inspirasi?"
Kai tidak menanggapi keramahan itu. Ia menunjuk ke arah piano di sudut. "Wanita yang bermain piano semalam... apakah dia bekerja di sini?"
Maya berhenti sejenak, menatap piano itu lalu kembali menatap Kai dengan senyum kecil yang misterius. "Oh, maksudmu Elara? Tidak, dia tidak bekerja di sini. Dia hanya datang saat hatinya sedang... katakanlah, sedang ingin bicara. Kami membiarkannya bermain karena musiknya membuat kopi kami terasa lebih jujur."
"Elara," Kai mengulang nama itu di dalam hati. Nama itu terasa seperti bisikan angin di telinganya. "Apakah dia sering datang pagi begini?"
"Tidak menentu," jawab Maya sambil menyodorkan cup kopi panas. "Elara itu seperti kabut. Dia muncul saat cuaca sedang paling mendung, dan menghilang saat matahari mencoba mengintip. Tapi biasanya dia ada di perpustakaan kota di jam-jam seperti ini. Dia terobsesi dengan partitur musik tua."
Kai mengambil kopinya, memberikan gumaman terima kasih yang singkat, dan langsung berbalik pergi. Ia tidak tahu mengapa ia merasa terburu-buru. Ada dorongan aneh di dadanya, sebuah urgensi yang sudah lama mati.
Perpustakaan kota Oakhaven adalah bangunan tua bergaya gotik dengan langit-langit tinggi dan rak-rak kayu yang menjulang hingga ke atap. Di dalamnya, suara langkah kaki Kai bergema di atas lantai marmer yang dingin. Bau kertas tua dan debu menyambutnya, sebuah aroma yang selalu memberikan ketenangan tersendiri baginya.
Ia menyusuri rak-rak bagian musik. Matanya memindai punggung buku yang berdebu. Dan di sana, di ujung lorong yang paling gelap, ia melihatnya.
Wanita itu, Elara, sedang duduk di lantai, dikelilingi oleh tumpukan buku besar yang terbuka. Ia mengenakan sweater rajut berwarna krem yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap tergerai menutupi sebagian wajahnya saat ia menunduk membaca sebuah lembaran kertas musik.
Kai mematung. Ia merasa seperti seorang penyusup. Ia seharusnya pergi, namun kakinya seolah terpaku pada lantai.
Tiba-tiba, Elara mengangkat kepalanya. Ia tidak terkejut melihat Kai di sana. Sebaliknya, ia menutup buku di pangkuannya dengan perlahan dan menatap Kai dengan tatapan intens yang sama seperti semalam.
"Kau orang dari kafe itu," ucap Elara. Suaranya rendah dan memiliki getaran yang menenangkan, seperti suara cello di malam hari.
"Aku... aku tidak bermaksud mengganggumu," ujar Kai canggung. Ia merasa bodoh berdiri di sana dengan cup kopi yang sudah mulai mendingin di tangannya.
Elara tersenyum tipis. Kali ini, senyum itu sedikit lebih hangat. "Kau tidak mengganggu. Ruangan ini cukup besar untuk kita berdua yang sedang melarikan diri dari dunia luar."
Ia menepuk lantai di sampingnya yang kosong. "Duduklah. Kecuali kau lebih suka berdiri di sana seperti patung yang sedang menghakimi rak buku."
Kai ragu sejenak, lalu ia mendekat dan duduk di lantai dengan jarak yang cukup aman. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit, namun anehnya, itu bukan keheningan yang menyesakkan. Itu adalah keheningan yang penuh pemahaman.
"Kenapa kau mencariku?" tanya Elara tanpa basa-basi, matanya masih terpaku pada partitur di tangannya.
"Musikmu," jawab Kai jujur. "Lagu yang kau mainkan semalam... aku mengenalnya. Bukan melodinya, tapi rasanya. Rasanya seperti... seperti melihat langit dari dasar sumur yang dalam."
Elara meletakkan kertas musiknya dan menatap lurus ke mata Kai. Untuk pertama kalinya, Kai melihat ada kilatan luka yang sama di sana. "Itu karena aku tidak memainkannya dengan jari, tapi dengan apa yang tersisa dari ingatanku. Namanya 'The Frozen Echo'. Aku menggubahnya saat aku menyadari bahwa beberapa hal dalam hidup ini memang tidak ditakdirkan untuk diperbaiki."
Kai menelan ludah. "Aku seorang pelukis. Atau setidaknya, dulu aku begitu. Sekarang aku hanya bisa menggambar dengan arang. Semua warna di kepalaku mati saat kecelakaan itu terjadi."
"Kecelakaan," gumam Elara. "Kata yang singkat untuk sesuatu yang bisa mengubah seluruh garis tangan seseorang selamanya."
"Bagaimana denganmu?" tanya Kai, memberanikan diri. "Apa yang membuatmu bermain piano seolah-olah kau sedang meminta maaf pada dunia?"
Elara terdiam cukup lama. Ia membelai sampul buku tua di sampingnya. "Aku kehilangan suaraku, Kai. Bukan secara fisik, tapi aku tidak bisa lagi menyanyi. Aku adalah seorang penyanyi opera sebelum... sebelum keheningan mengambil alih. Sekarang, piano adalah satu-satunya caraku untuk berteriak tanpa harus mengeluarkan suara."
Mendengar itu, Kai merasakan sesuatu di dadanya retak. Ia tidak sendirian. Di kota yang beku ini, ia menemukan jiwa lain yang juga sedang mengumpulkan serpihan-serpihan dirinya sendiri.
"Aku menggambarmu semalam," ucap Kai tiba-tiba, membuat Elara menoleh dengan alis terangkat. "Maksudku, bukan wajahmu. Tapi sebuah piano di tengah badai. Itu adalah hal pertama yang ingin kugambar dalam bertahun-tahun."
Mata Elara melembut. "Boleh aku melihatnya suatu hari nanti?"
"Mungkin," jawab Kai. "Jika aku bisa menyelesaikannya tanpa merusaknya lebih dulu."
Mereka menghabiskan sisa pagi itu di perpustakaan tanpa banyak bicara lagi. Elara kembali pada bukunya, dan Kai hanya duduk di sana, menyesap kopinya yang kini benar-benar dingin, sambil sesekali mencuri pandang pada wanita di sampingnya. Untuk pertama kalinya, langit abu-abu di luar jendela perpustakaan tidak terasa begitu mengancam.
Saat mereka akhirnya keluar dari perpustakaan, salju mulai turun kembali. Elara merapatkan mantelnya dan menatap ke arah Kai.
"Besok," ucapnya singkat. "Di kafe. Jam delapan malam."
Kai mengangguk. "Aku akan di sana."
Ia memperhatikan Elara berjalan menjauh, sosoknya perlahan menghilang ditelan kabut salju yang tebal. Kai berdiri sendirian di tangga perpustakaan, menengadahkan kepalanya seperti yang biasa ia lakukan. Namun kali ini, ia tidak mencari pelarian. Ia sedang mencoba mengingat melodi piano semalam, menyelaraskannya dengan detak jantungnya yang kini terasa sedikit lebih nyata.
Ia berjalan pulang dengan langkah yang berbeda. Di dalam sakunya, jemarinya meraba sebatang arang kecil yang selalu ia bawa. Ia merasa ingin menggambar lagi. Bukan gambar yang penuh dengan kesedihan, tapi gambar tentang dua orang asing yang duduk di lantai perpustakaan, dikelilingi oleh debu dan harapan-harapan kecil yang mulai tumbuh di tengah musim dingin.
Malam itu, di apartemennya, Kai tidak menyalakan lampu. Ia membiarkan cahaya bulan yang pucat masuk melalui celah gorden. Ia mengambil kertas baru, memejamkan mata, dan membiarkan tangannya bergerak.
Kali ini, di kursi piano yang kosong dalam sketsanya, ia mulai memberikan garis-garis halus. Sebuah siluet seseorang yang sedang duduk. Belum jelas, belum sempurna, tapi sudah tidak lagi sendirian.
Kai menyadari satu hal malam itu: Mungkin warna tidak akan kembali dalam waktu dekat. Namun, selama ada nada yang bisa ia dengar, dan selama ada seseorang yang mengerti bahasa keheningannya, mungkin abu-abu saja sudah cukup untuk sementara waktu.
Ia tertidur dengan perasaan yang aneh—perasaan yang hampir menyerupai kedamaian. Di luar, badai salju Oakhaven mengamuk, namun di dalam kamar kecil itu, untuk pertama kalinya, api kecil mulai menyala di dalam dada seorang pria bernama Kai.