Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Hans yang Sebenarnya?
Di Peaceful Medical Centre, Hans dan pria bermata satu masih minum ketika HPnya tiba-tiba berdering.
“Halo, Hans! Nona Rasheed dalam bahaya! Cepat ke sini, kami butuh bantuan kamu!” teriak Rachel begitu sambungan tersambung.
“Bahaya? Maksudnya apa?” Hans mengernyit.
“Semua gara-gara kamu! Nona Rasheed khawatir sama keselamatan kamu, jadi dia sendiri yang datang ke Tuan Langodai buat negosiasi. Sampai sekarang dia belum keluar. Aku takut dia kenapa-kenapa!” suara Rachel terdengar panik.
“Apa yang dia pikirin? Aku udah bilang ini bukan urusannya. Kenapa dia malah cari masalah?” Wajah Hans mengeras.
“Hans Rinaldi! Kamu masih punya hati gak sih? Nona Rasheed berusaha nyelametin kamu!” bentak Rachel marah.
“Dia di mana?”
“Di Rumble Group!”
“Aku ke sana sekarang.”
Tanpa bicara lagi, Hans menutup telepon dan langsung bergegas pergi.
Pada saat yang sama, di kantor Rumble Group.
Tiffany terkulai di sofa, kepalanya terasa berat. Keringat membasahi wajahnya. Efek alkohol mulai menyerang. Tangan dan kakinya lemas, tubuhnya sulit dikendalikan.
Yang lebih buruk, tas dan HPnya sudah disita begitu ia masuk ke kantor. Ia bahkan tak bisa meminta bantuan.
Apa yang harus ia lakukan?
Saat ia berusaha memikirkan jalan keluar, pintu kantor terbuka. Bimbo masuk dengan mengenakan jubah mandi.
“Kenapa kamu masih berpakaian? Mau aku yang turun tangan?” tatapannya menyapu tubuh Tiffany tanpa malu-malu.
Di matanya, Tiffany begitu memikat. Ada pesona berbeda yang membuatnya ingin segera memilikinya.
“Tuan Langodai, sebaiknya Anda jangan bertindak gegabah. Semua sudah saya atur. Bawahan saya akan menelepon polisi kalau saya tidak keluar dalam setengah jam. Polisi pasti segera datang,” ancam Tiffany berusaha tegar.
“Apa? Kamu mau nakut-nakutin aku?” Bimbo tertawa kering. “Kamu pikir gimana caranya aku bisa sampai di posisi ini? Aku jujur aja, banyak orang di kantor polisi itu anak buah aku. Kamu kira mereka berani sentuh aku?”
“Apa?”
Wajah Tiffany memucat. Ia sempat merasa punya pegangan karena sudah menyiapkan rencana cadangan. Ia tak menyangka Bimbo sama sekali tak gentar.
“Udah. Berhenti melawan. Gak ada yang bisa nolongin kamu hari ini. Nurut aja kalau kamu gak mau mati!” Bimbo melangkah mendekat.
“Jangan dekat-dekat!”
Tiffany tiba-tiba meraih gunting di atas meja, berusaha mempertahankan diri untuk terakhir kalinya.
“Sialan! Dasar gak tahu diri!” Bimbo murka. Ia menghantam Tiffany dengan tinjunya hingga wanita itu terjatuh dan tak sadarkan diri.
Tubuh besarnya langsung menindih Tiffany. Dengan kasar ia merobek pakaian wanita itu, menyingkap paha putih dan pinggang rampingnya.
Saat tangannya hendak menjelajah lebih jauh, terdengar dentuman keras. Pintu ditendang hingga terbuka.
Seorang pria tampan masuk dengan wajah dipenuhi niat membunuh. Tatapannya tajam dan dingin.
“Siapa kamu? Berani-beraninya ganggu urusan aku!” Bimbo berdiri kesal.
Hans tak berkata apa-apa. Ia hanya melepas jaketnya dan menutupi tubuh Tiffany.
Dalam setengah sadar, Tiffany sempat mencium aroma yang begitu dikenalnya. Rasa aman menyelimutinya.
“Tuan Langodai, ya? Aku orang yang bikin anak kamu cacat. Ada pesan terakhir?” Hans menatap Bimbo seolah pria itu sudah menjadi mayat.
“Jadi kamu orangnya!” Bimbo tertawa sinis. “Harusnya kamu bisa hidup tenang, tapi malah milih jalan ke neraka! Berani banget kamu masuk ke wilayah aku sendirian. kamu pengin mati!”
Ia menekan tombol di bawah meja.
Alarm memekakkan telinga langsung berbunyi. Keributan pun pecah.
Sekelompok pria berlari memenuhi lorong dan berkumpul di depan kantor. Dalam waktu singkat, lorong itu penuh sesak. Dari kejauhan terlihat gelap oleh lautan manusia, setidaknya ratusan orang. Dan jumlahnya masih terus bertambah.
“Bocah, aku dengar kamu jago berantem,” ujar Bimbo sambil tertawa. “Kalau kamu bisa ngalahin sepuluh atau dua puluh orang, terus kenapa? Di sini ada lebih dari dua ratus orang. Coba aku lihat gimana kamu lawan mereka!”
Sehebat apa pun Hans, mustahil ia melawan sebanyak itu.
“Lumayan siap juga kamu.” Hans melirik kerumunan itu dengan tenang. “Tapi gak ada yang bisa hentikan aku buat bunuh kamu.”
“Berani juga kamu! Serang!”
Begitu perintah keluar, semua orang langsung menyerbu Hans.
“Berhenti!”
Tiba-tiba terdengar teriakan keras, disusul beberapa letusan tembakan.
Semua orang terkejut dan otomatis menyingkir.
Seorang pria tua berambut putih melangkah masuk dengan setelan jas rapi. Di belakangnya berdiri beberapa pria bersenjata dengan tatapan garang.
“Tuan Palumbo? Kenapa Anda ke sini?”
Melihat Andy, Bimbo langsung tersenyum dan menghampirinya.
Semua orang tahu Andy adalah presiden Jakarta Group, salah satu dari Tiga Very Crazy Rich. Sekali ia bergerak, seluruh Jakarta bisa bergetar.
“Enyahlah!”
Tanpa memedulikan Bimbo, Andy langsung berjalan ke arah Hans. Dengan wajah cemas ia bertanya, “Tuan Rinaldi, Anda tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik aja. Kenapa kamu ke sini?” Hans sedikit terkejut.
“Aku dengar Anda dalam bahaya, jadi langsung datang. Syukurlah masih sempat!” Andy mengusap keringat di dahinya. Kalau sampai sesuatu terjadi pada Hans di wilayahnya, ia juga tamat.
“Tuan Palumbo, Anda kenal dia?” Mata Bimbo membelalak bingung.
“Bajingan!” Andy naik pitam. Ia langsung menampar Bimbo keras-keras. “Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya cari gara-gara sama Tuan Rinaldi? Kamu pengin mati?”
“Hah?” Bimbo tertegun. Ia tak percaya. Berdasarkan penyelidikannya, Hans hanyalah orang biasa tanpa latar belakang.
Kenapa Andy terlihat begitu gugup?
Apa selama ini Hans menyembunyikan identitasnya?