Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin- Ayana 2
"Papa membutuhkannya lebih cepat Sayang. Kalau memang kamu tak bisa memberikannya tidak apa-apa sayang. Aku mengerti kok, maafkan aku ya sayang karena terlalu banyak meminta dan menuntut," ujar Vania dengan sedikit kecewa, bahkan dia melonggarkan pelukan di tangan Gavin.
Gavin terlihat berfikir dan menimbang keputusannya saat ini. Dia tak bisa melihat Vania bersedih seperti itu. Tapi jika dia memberikan uang itu sebelum pernikahan, maka kedua orang tuanya akan sangat marah. Permintaan mahar yang sangat besar selain perhiasan membuat mereka keberatan. Tapi karena cinta Gavin yang sangat besar kepada Vania, membuat Gavin menyanggupinya. apalagi sekarang melihat Vania terlihat kecewa padanya. Mana tega dia melihat hal itu.
"Cakra!" panggil Gavin. Cakra memang duduk agak jauh dari mereka.
"Iya pak!" jawab Cakra sopan.
"Tolong kamu transfer uang dua miliar kepada ayah mertuaku," ujar Gavin membuat Cakra kaget bukan main.
Cakra hanya bisa mengusap dada pelan melihat kebucinan atasannya. Lebih tepatnya sih bulol alias bucin to-lol karena mau saja di manfaatkan wanita itu. Cinta memang buta, semua orang sudah mengatakan dia bukan wanita baik-baik, tetap saja Gavin tak percaya. Pintar di kantor masalah pekerjaan bukan berarti pintar dalam memilih pasangan.
"Apa anda serius, Pak? Jika melakukan transferan pribadi sebesar itu, saya perlu mengkonfirmasi dulu kepada Pak Evan," jawab Cakra.
Dia tak mau gegabah, walau itu perintah atasannya. Tapi ada yang lebih berpengaruh selain Gavin, yaitu ayahnya. Bisa runyam urusannya kalau sampai dia tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu. Apalagi nominal yang sangat besar dan untuk calon mertua yang belum sah menjadi mertua.
"Apa kamu sedang membantahku Cakra?" emosi Gavin.
"Silahkan anda hubungi Pak Evan lebih dahulu, jika sudah mendapatkan ACC saya akan trelanfer sekarang juga. Saya tak berani jika tanpa persetujuan beliau. Apalagi ini bukan uang untuk bisnis perusahaan," jawab Cakra kemudian undur diri dan kembali ke meja sebelumnya.
"Tidak apa-apa sayang, tidak usah. Aku tahu jika kedua orang tuamu tak pernah menyukaiku dan keluargaku. Mungkin karena aku bukanlah anak seorang pengusaha besar sepertimu. Mungkin karena kita beda kasta, aku hanya berasal dari keluarga biasa. Apalagi pekerjaanku juga selalu di permasalahkan oleh Mamimu. Apa salah aku berasal dari keluarga sederhana? Apa salah aku bekerja sebagai model?" Ucap Vania kemudian menangis membuat Gavin tak tega hati.
"Tidak sayang, tak ada yang salah denganmu atau keluargamu. Setelah menikah nanti, kamu cobalah lebih dekat dengan mami. Sebenarnya mami adalah orang yang sangat lembut dan baik. Setelah itu kamu bisa mendapatkan kasih sayang dan cinta dari mami. Aku yakin kamu kan menjadi menantu kesayangan mami nantinya. Untuk masalah uang akan aku usahakan secepatnya di transfer ya. Sudah, jangan menangis lagi. Aku tak tega melihat kamu bersedih seperti ini," ucap Gavin mengusap lembut air mata Vania.
"Uang itu kami butuhkan besok sayang," jawab Vania sesegukan masih berusaha untuk memaksa Gavin secara lembut mengirimkan uang pada keluarganya.
"Iya, akan aku pastikan kalian mendapatkan uangnya besok. Apalagi kita akan menikah beberapa hari lagi. Jangan sampai kamu sakit sayang," jawab Gavin.
"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu," jawab Vania memeluk erat Gavin.
Gavin pamit, Vania tak ingin di antarkan karena akan bertemu dengan teman-temannya. Sedangkan Gavin pulang di antarkan oleh Cakra.
"Apa kamu yakin akan mengirimkan uang itu besok? Aku yakin Pak Evan dan Bu Tanisa akan menolak! Tolonglah fikirkan lagi, cinta boleh tapi bo-doh jangan, Gavin! " tanya Cakra dengan sedikit kesal.
"Aku nggak habis fikir dengan pemikiran kedua orang tuaku! Kenapa mereka sampai saat ini tidak suka kepada Vania. Mereka selalu menuduh jika Vania dan keluarganya matre. Padahal selama ini Vania tak pernah meminta apapun padaku. Dan sudah menjadi kewajiban aku memberikan uang kepada keluarganya. Apalagi kami akan menikah," jawab Gavin kesal dan mengabaikan ucapan temannya tadi.
"Orang tua tidak setuju dengan pilihanmu artinya ada sesuatu yang tidak sreg dengan hati mereka. Perasaan orang tua itu sangat tajam, mereka bisa merasakan baik buruk untuk anak-anaknya. Jangan ngeyel deh jadi anak, nanti kamu yang akan menyesal," jawab Cakra.
"Tapi wanita yang aku cintai adalah Vania, Cak! Aku sangat mencintai dia dan menikah dengan dia adalah tujuanku. Aku yakin seiring berjalannya waktu kedua orang tuaku pasti akan menyukai dan menerima Vania. Aku akan mendekatkan mereka setelah menikah nanti. Vania tak seburuk yang mereka dan orang-orang termasuk kmu lihat! Dia sangat baik dan lembut, cocok untuk di jadikan istri dan calon ibu anak-anakku nantinya," jelas Gavin, Cakra malas menjawab karena percuma tak akan di dengar Gavin.
Gavin sudah merencanakan banyak hal untuk masa depannya bersama dengan Vania. Walau kedua orang tuanya tak begitu merestui keputusannya. Tapi, Gavin yakin lambat laun mereka akan menerima Vania. Pemikiran buruk mereka tentang Vania dan keluarganya akan terbukti salah.
"Pak bangun! Mau kerja apa mau bolos?" Ayana membangunkan Gavin dengan mengguncang tubuh atasannya itu. Begitulah cara Ayana membangunkan Gavin. Membuat Gavin terkadang kesal sekali dengan kelakuan asisten pribadinya.
"Bisa pelan nggak! Aku bukan benda ma-ti yang kamu guncang seperti itu!" Kesal Gavin sambil membuka selimutnya.
"Halah! Sok-sokan pelan. Kalau pelan mana bisa membangunkan Anda! Yang ada anda malah semakin keras ngoroknya!" jawab Ayana berjalan ke arah lemari pakaian Gavin.
Dengan lincah tangannya mengambil pakaian yang akan di gunakan Gavin hari ini. Apalagi hari ini mereka juga akan ada meeting. Tiga bulan menjadi asisten Gavin membuatnya sudah tak canggung lagi memilih dan mengambilkan semua kebutuhan pribadi Gavin.
"Sorry aku nggak pernah ngorok!" Protes Gavin melempar bantal ke arah Ayana.
Bugh
Ayana bisa menepisnya padahal dia membelakangi Gavin sehingga membuat bantal itu kembali ke atas tempat tidur dengan selamat.
"Nggak pernah tau karena anda tidur! Cepat mandi Pak! kita tak punya banyak waktu, mana mandi anda seperti anak perawan saja, lama sekali!" Ayana tak mau kalah.
"Kau!" Kesal Gavin kepada Ayana.
Seperti itulah setiap hari kehidupan Gavin setelah adanya Ayana menjadi Asisten pribadinya. Wanita kiriman ibunya itu selalu membuat Gavin emosi. Setiap hari mereka akan selalu adu mulut. Hal kecil akan menjadi masalah untuk mereka berdua. Hanya Ayana yang berani kepada Gavin seperti itu. Hanya Ayana yang berani menegur dan memerintahkan Gavin seperti tadi.
"Jangan lemas begitu! Awali hari dengan keceriaan dan semangat!" ujar Ayana saat menyodorkan segelas kopi kepada Gavin yang sudah siap dengan pakaian kerjanya.
Tampan, gagah dan wajah berkarakter dengan portir tubuh yang menjadi idola para wanita, kekar. Pagi ini Gavin terlihat tidak begitu bersemangat seperti biasanya.
"Makan yang banyak, Pak! Anda harus memiliki tenaga ekstra untuk hari ini. Selain ada meeting, anda juga harus bersiap untuk menghadapi amukan dan omelan dari kedua orang tua anda!" Celoteh Ayana menyodorkan roti panggang kepada Gavin.
"Ck, kamu pasti tahu dari si Cakra ya! Ember banget tuh mulut dia! Atau jangan-jangan kalian pacaran?" tanya Gavin menyipitkan matanya.
"Kalau jodoh ya nggak masalah. Selain tampan Pak Cakra juga adalah orang yang baik dan bisa bersikap sopan padaku. Dia juga menghargai aku sebagai seorang perempuan dan partner kerja. Ide yang bagus selain partner kerja bisa juga jadi partner di rumah. Itu juga kalau kedua orang tuanya merestui. Apalagi aku adalah anak yatim piatu yang tak jelas siapa kedua orang tuaku. Karena restu orang tua adalah yang utama untuk kebahagiaan rumah tangga nantinya," ucapan Ayana malah membuat Gavin kesal.
"Kamu sengaja menyindirku?" Kesal Gavin.
"Tidak! Habiskan rotinya, Pak! Jangan sampai nanti anda pingsan dan merepotkan saya. Saya tak akan sanggup menggendong badan kingkong anda!" Ayana melirik tajam ke arah Gavin yang duduk di depannya.
"Merepotkan! Dasar badan kurcaci! Enak saja kamu bilang aku seperti kingkong! Kenapa kamu selalu membuat aku darah tinggi setiap hari! Apa kamu menjampi-jampi ibuku? Hingga membuat dia begitu percaya padamu untuk mengurus semua kebutuhan aku!" tuduh Gavin.
"Aku sudah menolak, bahkan sudah mengajukan pengunduran diri sampai tiga kali karena aku juga malas mengurus bayi kingkong yang tukang marah! Tapi selalu di tolak oleh kedua orang tua anda. Jadi protes saja kepada mereka. Anda fikir saya senang menjadi asisten pribadi anda, Pak? Jawabannya adalah tidak," jawab Ayana membuat Gavin membelalakan matanya.
Tak percaya dengan perkataan Ayana. Apa katanya? Dia bahkan sudah tiga kali mengajukan pengunduran diri? Seharusnya yang meminta dia mundur kepada orang tuanya adalah dirinya, bukan Ayana.