NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Wisma Lavender & Oma Rosa

Lantai marmer itu terasa dingin menyentuh telapak kaki Arka yang hanya beralaskan kaos kaki tipis berlubang di bagian jempol. Ia sengaja meninggalkan sepatunya yang berdebu di teras, merasa tidak pantas mengotori kemilau ubin yang tampak seperti cermin itu. Wisma Lavender dari dalam terasa jauh lebih luas daripada penampakannya dari luar. Plafonnya tinggi, dihiasi lampu kristal gantung yang mungkin harganya cukup untuk membiayai kuliah Arka sampai jenjang profesor.

Harum kayu manis dan lavender yang menenangkan memenuhi udara, menyamarkan aroma keringat Arka yang sudah seharian terpapar polusi Jakarta. Arka berjalan mengekor di belakang Oma Rosa, yang meski sudah berusia tujuh puluh tahun, cara berjalannya masih begitu tegak dan anggun. Nenek itu terus menatap layar ponselnya, jempolnya lincah menggeser video-video pendek dengan suara musik latar yang riuh.

"Duduk, Le. Jangan kaku begitu, kayak habis ditagih pinjol saja," celetuk Oma Rosa tanpa menoleh. Ia menunjuk sebuah sofa beludru berwarna merah marun yang terlihat sangat empuk.

Arka duduk dengan sangat hati-hati, takut berat badannya akan merusak pegas sofa mewah tersebut. Di depannya, sebuah meja kayu jati dengan ukiran jepara yang rumit berdiri kokoh. Di atas meja itu, terdapat sebuah vas bunga kristal berisi bunga lavender segar yang aromanya langsung menusuk hidung.

"Terima kasih, Oma," suara Arka terdengar serak di telinganya sendiri. Ia merasa seperti masuk ke dalam set film sejarah tentang bangsawan kolonial, bukan sedang mencari kos-kosan murah.

Oma Rosa akhirnya meletakkan ponselnya. Ia melepas kacamata hitam besarnya, menampakkan mata yang masih jernih namun menyimpan binar nakal yang sulit diartikan. Ia menatap Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai kualitas barang antik.

"Nama kamu Arka, kan? Mahasiswa akhir?"

Arka mengangguk cepat. "Iya, Oma. Teknik Informatika. Sedang... yah, sedang berjuang dengan skripsi."

"Teknik Informatika?" Oma Rosa menaikkan satu alisnya. "Bisa benerin HP kalau layarnya tiba-tiba berubah jadi warna pelangi?"

"Bisa, Oma. Sedikit banyak saya paham perangkat keras dan lunak."

"Bagus," Oma Rosa tersenyum penuh arti. Senyum yang entah kenapa membuat Arka merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Wisma Lavender ini butuh orang seperti kamu. Anak-anak di sini, aduh, pakai laptop cuma tahu cara buka Instagram sama belanja online. Kalau sudah error dikit, teriaknya kayak ada perampok."

Arka hanya tersenyum canggung. Ia masih tidak percaya bahwa tempat semewah ini disewakan seharga dua ratus ribu rupiah. "Maaf sebelumnya, Oma. Saya agak bingung. Fasilitas yang Oma tulis di iklan... apa tidak salah? Dua ratus ribu itu sebulan?"

Oma Rosa tertawa renyah. Suaranya mengisi ruangan besar itu. "Kamu ini, dikasih murah malah curiga. Iya, dua ratus ribu. Sudah termasuk makan pagi dan malam. Listrik, air, dan itu... WiFi yang cepatnya kayak kilat. Oma butuh internet cepat buat live TikTok tahu."

Arka menelan ludah. Ia merasa ini adalah keberuntungan terbesar dalam hidupnya, atau mungkin awal dari penipuan kelas kakap. Namun, mengingat ia tidak punya apa-apa lagi untuk dirampok selain sebuah laptop tua dan rice cooker yang kabelnya harus digoyang-goyang dulu baru nyala, ia merasa tidak ada ruginya.

"Tapi ada syaratnya, Le," lanjut Oma Rosa. Ia merogoh laci meja dan mengeluarkan selembar kertas bermaterai sepuluh ribu. "Kamu harus tanda tangan kontrak ini. Isinya sederhana saja. Kamu tinggal di sini selama satu tahun, tidak boleh pindah sebelum kontrak habis, dan kamu harus... bersedia membantu urusan rumah tangga kalau Oma atau penghuni lain butuh bantuan."

Arka menerima kertas itu. Ia membacanya dengan teliti. Di sana tertulis poin-poin standar, namun ada satu poin yang ditulis dengan huruf tebal: Penyewa bersedia menjadi penengah dan pembantu umum di lingkungan Wisma Lavender tanpa biaya tambahan.

"Pembantu umum?" tanya Arka.

"Maksudnya kalau ada keran bocor, lampu mati, atau... yah, kalau ada kecoa masuk kamar, kamu yang maju paling depan. Makanya syaratnya 'Berani'. Kamu berani sama kecoa, kan?"

Arka terkekeh. "Kalau cuma kecoa sih saya berani, Oma."

"Bagus. Tanda tangan di sini," Oma Rosa menyodorkan sebuah pulpen emas yang terasa berat di tangan Arka. Tanpa pikir panjang, didorong oleh bayangan tidur di trotoar dan keinginan mencicipi internet satu giga, Arka membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Begitu tinta mengering, Oma Rosa langsung menyambar kertas itu dengan kecepatan yang tidak wajar untuk orang seusianya.

"Selesai! Selamat bergabung di Wisma Lavender, Arka. Sekarang, mari Oma antar ke kamarmu. Kamu di lantai dua, paling pojok. Itu satu-satunya kamar yang tersisa."

Arka memanggul kardus bukunya lagi, mengikuti langkah Oma Rosa menaiki tangga kayu yang melingkar. Setiap anak tangga mengeluarkan suara derit halus yang menambah kesan antik. Di lantai dua, koridor memanjang dengan deretan pintu kayu yang tertutup rapat. Arka melihat ada beberapa pasang sepatu flat, sandal bulu, dan sneakers wanita yang diletakkan sembarangan di depan pintu-pintu tersebut.

"Ini kamarmu," Oma Rosa membuka sebuah pintu di ujung lorong.

Kamar itu cukup luas, jauh lebih luas dari kontrakannya dulu. Ada sebuah tempat tidur single dengan kasur empuk, sebuah meja belajar kayu yang besar, lemari pakaian, dan yang paling penting: sebuah router WiFi dengan antena yang berdiri gagah di sudut ruangan.

"Coba cek internetnya," perintah Oma Rosa.

Arka meletakkan kardusnya, mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah retak seribu, dan menyambungkannya ke sinyal bernama 'Lavender_High_Speed'. Matanya hampir keluar saat melakukan speed test. Jarumnya melesat melewati angka 900 Mbps.

"Gila..." gumam Arka. "Ini beneran nyata."

"Nyata banget, Le. Oh iya, satu hal lagi," Oma Rosa berdiri di ambang pintu, bersiap pergi. "Jam makan malam jam tujuh tepat di ruang makan bawah. Jangan telat, atau kamu cuma dapat sisa kuah. Dan... jangan kaget kalau nanti ada suara berisik. Penghuni lain baru pulang jam segini."

"Iya, Oma. Terima kasih banyak."

Setelah Oma Rosa pergi, Arka merebahkan dirinya di kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran gypsum yang cantik. Ia merasa seperti memenangkan lotre. Dua ratus ribu untuk istana ini? Arka memejamkan mata sejenak, membayangkan betapa cepatnya ia bisa mengunggah revisi skripsinya nanti.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekitar lima belas menit. Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari arah tangga. Suara tawa yang melengking, derap langkah kaki yang berlarian, dan bunyi pintu-pintu yang dibuka tutup dengan kasar.

"Eh, katanya ada penghuni baru ya?" suara seorang gadis terdengar jelas dari balik dinding.

"Cowok? Seriusan Oma nerima cowok?" suara lain menyahut, terdengar lebih skeptis dan dingin.

"Ganteng nggak? Kalau kayak aktor drakor sih gue maafin meskipun dia bau matahari."

Arka terduduk tegak di kasurnya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia teringat rak sepatu di lantai bawah dan sandal-sandal di depan pintu. Ia teringat aroma parfum yang beragam di koridor.

"Tunggu dulu..." Arka bergumam, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Penghuni lain... semuanya perempuan?" Ia berjalan pelan menuju pintu kamarnya, membukanya sedikit saja untuk mengintip. Di koridor, ia melihat tiga orang gadis sedang berdiri mengelilingi sebuah kotak kiriman paket. Satu orang memakai baju olahraga ketat, satu orang lagi memegang kuas makeup, dan yang satunya lagi sedang asyik menatap layar ponsel dengan headphone telinga kucing yang menyala-nyala. Arka segera menutup pintu kembali. Ia bersandar di balik pintu, napasnya memburu. Ia teringat poin kontrak tadi: Pembantu umum... penengah konflik...

"Oma Rosa..." Arka merintih pelan. "Ini bukan kos-kosan biasa. Ini jebakan." Dua ratus ribu rupiah. Sekarang Arka tahu kenapa harganya semurah itu. Ia tidak hanya menyewa kamar, ia baru saja menjual ketenangannya untuk menjadi satu-satunya laki-laki di tengah sarang lebah yang sangat cantik, namun sangat berbahaya.

Arka menatap ke arah router WiFi-nya yang masih berkedip hijau dengan tenang, seolah mengejeknya. "Satu giga per detik," bisiknya pada diri sendiri. "Demi internet satu giga, gue harus bertahan hidup."

Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul 18.55. Arka tahu, dalam lima menit ke depan, ia harus turun ke ruang makan dan menghadapi lima belas pasang mata yang siap menguliti keberadaannya. Ia merapikan kaosnya yang kusut, menarik napas panjang, dan bersiap untuk "makan malam paling menegangkan" dalam sejarah hidupnya.

Kontrak itu sudah ditandatangani, dan di Wisma Lavender, tidak ada jalan untuk kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!