Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Larut Dalam Memori Masa Lalu
Kamar hotel itu kini tak lagi menjadi tempat pengungsian yang tenang bagi Erian, melainkan sebuah kawah vulkanik yang siap meledak. Pengaruh wine vintage yang keras itu telah bekerja sempurna, mengalir melalui pembuluh darah mereka, membakar habis keraguan dan menyisakan hanya insting purba yang menuntut pelepasan.
Erian, yang selama ini dikenal sebagai pria yang sanggup mengontrol diri, kini merasa benteng pertahanannya runtuh berkeping-keping. Rasa penat karena terhimpit masalah korupsi di kantor, pengusiran oleh Nadya di rumah, serta aroma tubuh Clarissa yang begitu intimidatif, menciptakan badai emosional yang tak terbendung. Di depannya, Clarissa bukan sekadar rekan kerja atau sahabat lama; ia adalah personifikasi dari masa lalu yang belum usai, sebuah pintu menuju pelarian dari kenyataan hidupnya yang pahit.
Entah siapa yang memulai, namun di tengah remangnya lampu nakas, tarikan gravitasi itu tak lagi tertahankan. Dalam satu gerakan yang didorong oleh gairah yang membara, bibir keduanya berpagut hebat.
Suara napas yang memburu memenuhi ruangan yang kedap suara itu. Ciuman mereka bukan lagi sekadar sentuhan lembut, melainkan sebuah peperangan antara rasa rindu dan hasrat yang tertahan selama lima tahun. Mereka saling membelit dan menghisap dengan rakus, seolah-olah oksigen di dunia ini hanya tersisa di antara bibir mereka. Di dalam rongga mulut masing-masing, lidah mereka saling bertautan, menari dalam irama yang liar dan tak beraturan, bertukar rasa pahit manisnya wine dan hangatnya saliva yang memabukkan.
Tangan kekar Erian yang tadinya ragu, kini mencengkeram pinggang ramping Clarissa yang hanya terbalut rok mini tipis, menarik tubuh wanita itu hingga tak ada lagi celah udara di antara dada mereka. Clarissa membalasnya dengan melingkarkan lengannya yang halus ke leher Erian, jemarinya meremas rambut hitam Erian dengan penuh tuntutan.
"Aku mencintaimu Er..... aku sangat mencintaimu...." bisik Clarissa parau dan serak tepat di sela-sela pagutan hebat mereka.
Suara Clarissa yang bergetar itu seperti siraman bensin ke dalam api yang sudah menyala-nyala di dada Erian. Pengakuan itu bukan sekadar kata-kata; itu adalah pembenaran bagi Erian untuk melupakan sejenak dunia luar, melupakan Nadya yang sedang menangis, dan melupakan Marlon yang sedang tertawa di balik layar. Di kamar ini, hanya ada dia dan wanita yang seharusnya ia miliki bertahun-tahun yang lalu.
Pagutan itu semakin dalam dan semakin menuntut. Erian bisa merasakan detak jantung Clarissa yang berdegup kencang menembus tank top tipisnya, beradu dengan detak jantungnya sendiri yang sudah tak beraturan. Darah mereka benar-benar sudah menjadi panas, mendidih oleh kombinasi alkohol dan gairah masa lalu yang kembali mekar dengan sangat liar.
Di tengah kamar hotel yang pengap oleh uap wine dan aroma rosella yang memabukkan, Clarissa seolah berubah menjadi sosok siren yang tak membiarkan mangsanya lepas. Kalimatnya yang berbisik parau itu bukan sekadar pernyataan cinta, melainkan sebuah tawaran racun yang manis bagi jiwa Erian yang sedang sekarat dihantam pengkhianatan di rumah dan di kantor.
"Jika aku tidak bisa memilikimu secara utuh... setidaknya, jadikan aku kekasih penatmu... yang akan menghiburmu saat kau penat, Er..." bisik Clarissa tepat di bibir Erian, deru napasnya yang panas menerpa permukaan kulit wajah Erian yang sudah memerah.
Kata-kata itu meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanan moral Erian. Ia merasa sangat lelah menjadi "Erian yang sempurna"—suami yang setia namun dituduh berzina, dan karyawan jujur yang dituduh korupsi. Tawaran Clarissa untuk menjadi "tempat pelarian" terasa seperti oasis di tengah padang pasir penderitaannya.
Hisapan bibir Clarissa bertambah kuat, lebih menuntut, dan penuh dengan teknik yang memabukkan. Ia tidak memberikan ruang bagi Erian untuk berpikir jernih. Lidahnya menyapu rongga mulut Erian dengan lihai, menghisap dan membelit lidah Erian hingga pria itu mengerang tertahan.
Sambil tetap mempagut bibir Erian dengan gairah yang membara, kedua tangan Clarissa bergerak cepat dan lincah melucuti t-shirt yang dikenakan Erian. Ia menarik kain itu ke atas, melewati kepala Erian, dan mencampakkannya begitu saja ke lantai marmer yang dingin. Kini, tubuh bagian atas Erian yang atletis dan berotot terpampang nyata, bersentuhan langsung dengan kulit lembut Clarissa yang hanya terhalang tank top putih tipisnya.
Erian bisa merasakan jemari Clarissa yang dingin merayap di atas otot dadanya, mencengkeram bahunya yang bidang, sementara dadanya yang kencang bergesekan dengan dada Clarissa yang kenyal. Panas dari wine keras itu kini telah menyatu dengan panas gairah dari masa lalu.
Erian tak lagi mampu menahan tangannya. Ia membalas dengan mencengkeram pinggang ramping Clarissa, menariknya hingga wanita itu terduduk di pangkuannya di atas ranjang. Di balik celana boxer-nya, "tongkat sakti" Erian yang sudah menegang hebat kini berdenyut kencang, menekan langsung ke arah paha mulus Clarissa yang terekspos oleh rok mininya.
"Clar... kau akan menghancurkanku..." gumam Erian di sela pagutan mereka, suaranya sudah serak oleh nafsu.
"Biarkan aku menghancurkanmu malam ini, agar besok aku bisa menyusunmu kembali," sahut Clarissa dengan tatapan matanya yang biru jernih namun penuh api.
Suasana di dalam kamar hotel itu kini telah melampaui batas kewarasan. Logika angka, laporan keuangan yang memuakkan, dan ancaman pemecatan dari tim audit seolah menguap bersama uap wine yang tumpah. Di bawah temaram lampu nakas yang keemasan, dunia luar benar-benar telah mati.
Gelas kristal yang tadi dipegang Erian terlepas, jatuh menghantam lantai marmer dengan denting tajam dan pecah berkeping-keping. Botol wine vintage yang masih tersisa separuh pun terguling, menumpahkan cairan merah pekat yang merembes ke karpet seperti noda darah. Bahkan laptop Clarissa yang masih menyala—menampilkan grafik-grafik pengkhianatan Marlon—tergeser kasar hingga jatuh berdebam ke lantai. Mereka tidak peduli. Rusak pun masa bodoh. Fokus mereka hanya satu: api yang menyala di antara dua tubuh yang sudah terlalu lama menahan rindu.
Clarissa mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, memberikan akses sepenuhnya bagi Erian. Dengan napas yang memburu dan tangan yang sedikit gemetar karena gairah yang memuncak, Erian menarik ujung tank-top putih tipis itu ke atas. Begitu kain itu terlepas dan dilemparkan ke sembarang arah, sebuah pemandangan luar biasa terpampang nyata di depan mata Erian.
Clarissa benar-benar tidak mengenakan apa-apa di baliknya.
Erian terpaku, matanya menatap tajam dengan pupil yang melebar penuh hasrat. Di hadapannya, dua gundukan mulus, bulat, dan kencang terlihat begitu sempurna. Kulitnya yang putih porselen dengan rona kemerahan khas keturunan Eropa tampak sangat terawat, kencang karena kedisiplinan kebugaran yang dijaga ketat oleh pemiliknya. Puncak kembarnya yang berwarna merah muda kecokelatan seolah menantang Erian untuk segera menyentuhnya.
"Belum pernah ada yang menyentuhnya kecuali tanganmu, Erian... saat kita kuliah dulu..." bisik Clarissa dengan nada yang serak dan berat. Air mata mulai menggenang di mata birunya yang indah, membuat tatapannya terlihat semakin rapuh. "Sejak saat itu... belum tersentuh lagi oleh pria lain... sampai malam ini..."
Suara isakan kecil lolos dari bibir Clarissa. Air mata itu mengalir jatuh, membasahi pipinya yang mulus. Erian merasa dadanya sesak oleh rasa bersalah yang bercampur dengan nafsu. Ia mengulurkan jemarinya, mengusap air mata Clarissa dengan gerakan yang sangat lembut, seolah takut akan melukai kulit sensitif wanita itu.
"Jangan menangis, Clar... maafkan aku dulu yang tidak menunggumu pulang dari Eropa," bisik Erian parau. Ia menatap wajah Clarissa dengan penuh penyesalan. "Nadya... Nadya saat itu sangat mencintaiku. Dia ingin aku segera menikahinya... aku tidak bisa menolaknya..."
Mendengar nama istri sahabatnya disebut, Clarissa justru menempelkan jari telunjuknya yang lentik ke bibir Erian, membungkam pria itu secara halus.
"Sssstttt... sudah, Er. Jangan kau salahkan dirimu," bisik Clarissa sambil mengusap sisa air matanya sendiri. "Aku juga tak menyalahkan Nadya. Jangan salahkan dia... Nadya wanita yang baik. Dia memang pantas untukmu. Kalian pasangan serasi."
Clarissa tersenyum pahit, sebuah senyum yang menyimpan luka mendalam dari masa lalu mereka di kampus. "Semua teman kuliah kita tahu, Nadya menyukaimu sudah sangat lama... sejak kita pertama masuk kuliah. Aku tahu betapa dia memuja setiap langkahmu, Er."
Keheningan sejenak menyergap mereka. Kenangan masa-masa kuliah saat mereka bertiga masih berteman akrab seolah berputar kembali. Nadya yang pemalu, Clarissa yang populer, dan Erian yang menjadi rebutan. Namun, malam ini, persahabatan itu telah terbakar oleh pengkhianatan dan gairah yang tak semestinya.
Clarissa menarik napas panjang, dadanya yang indah naik turun dengan kencang, tepat di depan wajah Erian yang kini hanya berjarak beberapa senti. "Malam ini saja, Er... biarkan aku egois. Biarkan aku menjadi tempatmu bersembunyi dari semua kekacauan ini. Aku tidak minta kamu meninggalkan Nadya... aku hanya ingin kita yang dulu, meski hanya untuk beberapa jam."
Erian menelan ludah. Aroma tubuh Clarissa yang kini menyatu dengan aroma wine dan air mata membuatnya kehilangan kendali sepenuhnya. Ia tidak lagi mampu menahan tangannya. Perlahan namun pasti, Erian menangkupkan kedua telapak tangannya pada keindahan yang ditawarkan Clarissa, merasakan kehangatan dan kekenyalan yang selama bertahun-tahun ini hanya ada dalam mimpinya.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭