NovelToon NovelToon
Sajadah Di Empat Benua

Sajadah Di Empat Benua

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Baja di Meja Jenewa

Keputusan telah diambil. Adam Al-Fatih menyadari bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi di balik ketenangan Menteng atau kabut Parahyangan sementara imperium bisnis dan martabatnya dipertaruhkan di panggung internasional. Gugatan paman Isabelle atas panti asuhan di Paris bukan sekadar sengketa lahan; itu adalah upaya sistematis untuk memutus mata rantai warisan filantropi Al-Fatih Group di Eropa dan mempermalukan Adam di mata hukum internasional. Dengan restu dan doa Khadijah yang tetap kokoh sebagai pilar kekuatannya, Adam memutuskan untuk terbang menuju Jenewa, Swiss, tempat di mana sengketa arbitrase internasional akan diputuskan.

Kali ini, Adam berangkat dengan formasi lengkap. Ia membawa tim hukum terbaiknya, namun yang paling mengejutkan adalah ia membawa Isabelle sebagai saksi kunci dan Aisha sebagai arsitek yang memegang cetak biru asli panti asuhan tersebut. Kehadiran mereka di sisi Adam bukan lagi sebagai pelarian, melainkan sebagai barisan pejuang keadilan. Di Jenewa, udara musim dingin yang tajam menyambut mereka, seolah mencerminkan dinginnya persaingan kekuasaan yang akan mereka hadapi.

Pertemuan berlangsung di sebuah gedung megah dengan arsitektur klasik yang menghadap ke Danau Jenewa. Di sana, paman Isabelle, Monsieur Philippe, sudah menunggu dengan barisan pengacara mahal yang nampak arogan. Philippe adalah pria paruh baya yang haus kekuasaan, orang yang percaya bahwa uang dan koneksi politik di Eropa bisa melindas idealisme seorang pengusaha muslim dari Asia.

"Monsieur Adam," Philippe menyapa dengan nada meremehkan saat mereka bertemu di lorong sidang. "Anda membawa dua wanita cantik sekaligus. Apakah Anda sedang membangun harem di sela-sela urusan hukum kita? Paris sedang menertawakan foto-foto Anda."

Adam berhenti melangkah, menatap Philippe dengan mata yang tajam dan tenang—tatapan yang biasa ia gunakan saat menegosiasikan kontrak baja bernilai triliunan rupiah. "Monsieur Philippe, di negeri saya, kami diajarkan untuk menghormati wanita sebagai martabat, bukan sebagai bahan tertawaan. Saya di sini bukan untuk berdebat soal foto, tapi untuk mempertahankan hak anak-anak yatim yang ingin Anda gusur demi sebuah kasino. Baja saya mungkin keras, tapi hati saya lebih keras jika menyangkut keadilan."

Sidang arbitrase dimulai dengan tensi yang sangat tinggi. Tim hukum Philippe mencoba membatalkan akta hibah kakek Adam dengan alasan cacat prosedur dan tuduhan bahwa Al-Fatih Group menggunakan dana ilegal untuk mendanai kegiatan di Paris. Mereka mencoba memojokkan Isabelle, menuduhnya telah mencuri dokumen rahasia keluarga.

Isabelle nampak gemetar saat harus memberikan kesaksian di depan panel hakim internasional. Namun, Adam yang duduk di baris depan, memberikan tatapan penguatan. Adam tahu, kekuatan Isabelle adalah kunci. Saat itulah, kejutan pertama terjadi. Adam meminta izin untuk memutar sebuah rekaman audio yang didapatkan oleh tim IT Reza.

Rekaman itu berisi percakapan rahasia antara Philippe dengan seorang makelar tanah yang merencanakan penghancuran panti asuhan tersebut bahkan sebelum kakek Adam wafat. Philippe nampak pucat. Ia tidak menyangka bahwa Adam memiliki akses sejauh itu. Namun, Philippe belum menyerah. Ia mengeluarkan kartu asnya: ancaman untuk memboikot seluruh distribusi produk baja Al-Fatih di Uni Eropa jika Adam tidak segera menyerahkan lahan tersebut.

"Ini adalah perang ekonomi, Monsieur Adam. Anda mungkin punya kebenaran, tapi saya punya pasar," ancam Philippe di meja perundingan.

Adam berdiri. Sosoknya yang atletis dan gagah nampak mendominasi ruangan. Ia melangkah menuju peta distribusi global yang terpajang di layar besar. "Anda salah, Philippe. Anda pikir Eropa adalah satu-satunya pelabuhan saya? Selama perjalanan saya di nusantara kemarin, saya telah menandatangani kesepakatan baru dengan konsorsium Asia dan Afrika. Jika Anda menutup pintu Eropa, maka dunia lain akan membuka gerbangnya untuk saya. Saya tidak butuh pasar yang dibangun di atas air mata anak yatim."

Di tengah kebuntuan itu, Sarah, pengacara korporasi dingin dari New York yang selama ini menjadi musuh dalam selimut, tiba-tiba masuk ke ruang sidang. Kehadirannya mengejutkan semua orang. Sarah membawa sebuah koper perak berisi dokumen asli yang ternyata selama ini ia simpan. Sarah telah melihat bagaimana Adam memperlakukan Isabelle dan Aisha dengan hormat selama konflik di Paris dan Istanbul—sebuah sikap yang sangat kontras dengan rekan-rekan bisnisnya di Amerika yang hanya melihat wanita sebagai objek.

"Monsieur Philippe," Sarah berucap dengan suara yang tajam dan tegas. "Saya adalah perwakilan legal dari pemegang saham minoritas di perusahaan Anda. Saya memiliki bukti bahwa Anda telah melakukan penggelapan dana perusahaan untuk membiayai gugatan palsu ini. Jika Anda tidak mencabut gugatan ini sekarang, saya akan memastikan Anda menghabiskan sisa hidup Anda di penjara Federal."

Ruang sidang mendadak sunyi. Adam menatap Sarah dengan rasa syukur yang mendalam. Ia menyadari bahwa kejujurannya dan martabat yang ia jaga selama ini telah menyentuh hati Sarah, wanita yang tadinya sangat skeptis terhadap agama dan integritasnya.

Philippe, yang kini terdesak tanpa pembelaan, akhirnya menyerah. Dengan tangan gemetar, ia menandatangani surat pencabutan gugatan dan penyerahan hak sepenuhnya lahan panti asuhan kepada yayasan Al-Fatih secara permanen. Kemenangan mutlak berada di tangan Adam.

Namun, penyelesaian masalah internasional ini bukan hanya soal dokumen. Di luar ruang sidang, di bawah rintik salju yang mulai turun di Jenewa, Isabelle mendekati Adam. "Anda telah memberikan saya hidup baru, Adam. Bukan hanya karena lahan panti itu selamat, tapi karena Anda menunjukkan bahwa masih ada pria yang bisa dipercaya di dunia ini."

Aisha pun mendekat, matanya berbinar bangga. "Istanbul akan merayakan kemenangan ini, Mas. Masjid kita akan menjadi simbol bahwa kebenaran tidak bisa dibeli dengan euro atau dolar."

Adam menatap kedua wanita itu, lalu menatap Sarah yang berdiri agak jauh. Ia menyadari bahwa konflik internasional ini telah membawa tiga wanita ini masuk ke dalam lingkaran hidupnya secara mendalam. Namun, di tengah kemenangan besar ini, Adam teringat pada Khadijah di Jakarta. Ia segera meraih ponselnya dan melakukan panggilan video.

"Dijah... kita menang," ucap Adam saat wajah istrinya muncul di layar.

Khadijah menangis haru. "Alhamdulillah, Mas. Aku sudah tahu kau akan menang. Karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang sedang berjihad dijatuhkan oleh kemungkaran."

"Aku akan segera pulang, Dijah. Tapi ada sesuatu yang ingin kukatakan," Adam menjeda, menatap Isabelle, Aisha, dan Sarah secara bergantian. "Mereka semua luar biasa. Tapi kemenangan ini adalah milikmu, karena doamu adalah pondasi dari semua keberhasilan ini."

Masalah internasional di Paris dan Istanbul telah selesai secara hukum, namun masalah "hati" baru saja dimulai. Adam berhasil mempertahankan hartanya, namun ia kini dihadapkan pada janji dan rencana Khadijah di Jakarta. Kembalinya Adam dari Jenewa bukan hanya membawa kemenangan bisnis, tapi membawa beban tanggung jawab untuk menyatukan wanita-wanita dari berbagai benua ini ke dalam satu payung perlindungan yang bermartabat.

Di atas pesawat menuju Jakarta, Adam merenung. Perang baja di Jenewa telah ia menangkan dengan kecerdasan dan integritas. Kini, ia harus memenangkan perang di dalam dirinya sendiri—perang untuk menjadi adil bagi Khadijah, dan calon-calon pendamping yang telah disiapkan takdir untuknya. Ia menatap awan dari jendela pesawat, menyadari bahwa "Sajadah di Empat Benua" bukan lagi sekadar kiasan, melainkan realitas hidup yang harus ia jalani dengan penuh kegagahan dan ketakwaan.

Adam Al-Fatih, sang penakluk pasar baja dunia, kini sedang pulang untuk menghadapi penaklukan yang paling sulit: menata sebuah keluarga besar yang melampaui batas budaya dan geografi, di bawah bimbingan Khadijah, sang ratu di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!