(🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️)
"Aku tidak mau menceraikan Alexa Ma!" pekik Stevan, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu.
"Mama tidak meminta kamu untuk menceraikan Alexa! Tapi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan, Stevan! Karena saat ini, Emily tengah mengandung anak kamu!"
Duar!
Perkataan Nyonya Eta Raven, ibu kandung Stevan sekaligus ibu mertua Alexa bagaikan petir yang menyambar Alexa di pagi hari. Alexa mematung di tempat menatap pertengkaran mereka tanpa mengeluarkan suara. Jantungnya terus berdetak kencang tanpa henti, membuat Alexa tiba-tiba merasakan sesak nafas. Pandangannya pun perlahan kabur dan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon medusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~14.
...🔥🔥🔥🔥...
...(Keesokan paginya)...
...Saat semua orang tengah asik menikmati sarapan kecuali Alexa, tiba-tiba seorang pelayan menghampiri Nyonya Eta sambil membawa sebuah kotak paket berukuran besar....
"Siapa yang mengirimnya?" tanya Nyonya Eta fokus menyantap roti bakar.
"Entahlah Nyonya, tidak ada nama dari pengirimnya disini," jawab pelayan mencari sekitar sisi kotak, tapi tidak menemukan apapun.
...Nyonya Eta menghela nafas berat mencoba mengabaikan kotak itu dan fokus sarapan, tetapi ukuran kotak yang cukup besar membuat rasa penasarannya seketika meronta....
"Taru disitu, dan bawahan gunting untukku," perintah Nyonya Eta bangkit dari duduknya.
"Baik, Nyonya."
...Pelayan itu segera berbalik pergi menuju dapur. Dari jarak tak jauh, Tristan terus menyantap roti milik dengan santai sambil menyeruput teh hangat, seolah tidak mengetahui apa-apa. Tak lama pelayan itu pun kembali dari dapur sembari membawa gunting yang diminta oleh Nyonya Eta....
"Ini Nyonya," ucap pelayan menyerahkan gunting kepada Nyonya Eta.
...Nyonya Eta segera meraih gunting itu, lalu membuka paketnya dengan tergesa-gesa. Saat kotak itu terbuka, bau menyengat langsung menyambut mereka dan menyebar di setiap isi ruangan, membuat Tuan Josep yang sedang sarapan menjadi marah menatap Nyonya Eta....
"Apa kau tidak bisa membukanya diluar?" cibir Tuan Josep kesal.
"Ma-maaf suamiku," kata Nyonya Eta segera memerintah pelayan itu membawa kotak itu keluar dari dalam rumah.
...Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan histeris Nyonya Eta sambil berlari masuk dengan ketakutan. Mengejutkan semua orang yang sedang sarapan....
"Ada apa?!" pekik Tuan Josep marah.
"Argh...! Papa, ada kepala! Ada kepala manusia di kotak itu!" jerit Nyonya Eta berlari ke arah Tuan Josep.
"Kepala?" gumam mereka serempak kecuali Tristan.
...Mereka semua beramai-ramai pergi meninggalkan meja begitu dengan Tristan. Diluar, Emily, Stevan dan Tuan Josep dibuat ketakutan melihat dua kepala manusia tersebut yang sudah mulai membusuk....
"Pa, cepat telfon polisi," pinta Stevan.
"Baik."
...Tuan Josep segera melakukan panggilan pada nomor kepolisian, akan tetapi mobil sebuah mobil polisi sudah berada di depan pintu gerbang. ...
"Polisi sekarang cepat sekali ya?" gumam Emily bingung.
"Apakah mereka sudah mengintai rumah ini?" tebak Stevan ikut bingung menatap mobil polisi itu.
"Apakah itu artinya Mama akan di tangkap...? Pa, bagaimana dong sekarang?" rengek Nyonya Eta panik, mengguncang lengan Tuan Josep.
"Kalian tenang dulu, biarkan polisi itu masuk dan lakukan tugasnya," ucap Tuan Josep memberi izin melalui lambaian tangan kepada sang sekuriti yang sedang berdiskusi dengan polisi tersebut.
...Akhirnya pintu gerbang terbuka dan mobil polisi itu pun masuk dan berhenti tepat dihadapan mereka, tiba-tiba pintu mobil belakang polisi terbuka dan turunlah Nyonya Nadine sambil menangis menatap mereka semua dengan marah....
"Dimana Alexa?!" teriak Nyonya Nadine histeris.
"Nyonya, ada apa ini?" Tuan Josep menjadi kebingungan melihat aksi Nyonya Nadine.
"Gara-gara dia! Pria kesayangannya semalam datang ke rumahku seperti perampok, lalu masuk tanpa izin dan menganiaya suamiku hingga tak bisa berjalan!" jerit Nyonya Nadine.
Semua orang melirik ke arah Tristan.
"Iya semalam aku. Aku melakukan itu karena mereka lebih dulu menganiaya calon istriku, lalu mengurungnya di dalam gudang," ungkap Tristan.
"Tapi kenapa kamu membawa senjata?!" raung Nyonya Nadine."Kau mengancam Putriku, suamiku mengunakan senjata tepat di kepala kami! Aku tidak terima. Pak, tangkap dia!"
"Cih! Senjata semalam, adalah senjata mainan," desis Tristan sinis.
"Bohong! Senjata semalam adalah senjata asli, aku bisa merasakan dinginnya besi baja!" sentak Nyonya Nadine.
"Tristan, apakah itu benar?" tanya Tuan Josep memastikan.
"Kalau kalian tidak percaya, silahkan cek di garasi. Aku mengunakan cara itu demi menyelamatkan kekasihku dari mereka, karena mereka sempat tidak mau mengaku," ucap Tristan santai sambil menunjuk ke arah garasi mobil.
Nyonya Nadine terdiam menatap pintu garasi."Kalau benar semalam itu hanya senjata mainan? Itu artinya aku tidak bisa menuntut dia dan mendapatkan uan," batin Nyonya Nadine mulai gelisah.
"Pak, apakah boleh kami mengeceknya?" ucap salah satu polisi meminta izin.
"Iya, silahkan saja Pak, dan jangan lupa urus kepala itu juga," tunjuk Tuan Josep ke arah kedua kepala manusia yang tergeletak begitu saja diatas tanah.
"Apa...? Kepala...?" Nyonya Nadine dengan tubuh gemetar menoleh ke arah tunjuk Tuan Josep."Argh...! Kepala!" teriaknya melompat masuk kembali ke dalam mobil polisi dan menutup pintu mobil.
...Bukannya mengurus tempat kejadian, polisi itu segera menelfon tim back up menangkap mereka semua, dan membawa mereka semua ke kantor polisi untuk melakukan pemeriksaan....
...Tiga jam diperiksa, mereka pun dinyatakan bersih dan senjata itu memang senjata mainan. Karena sebelumnya, senjata itu sudah dibeli terlebih dahulu oleh Tristan sebelum mereka beraksi, karena ia tau hal ini akan terjadi. Tetapi akibat Tuan Viktor sudah masuk rumah sakit, terpaksa Tristan hanya membayar biaya pengobatan sebagai hukuman, membuat Nyonya Nadine marah dan menaruh dendam kepada Alexa....
...(Bersambung)...