NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Etalase

Luka Di Balik Etalase

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan yang Sempurna

Kehadiran Nadia memberikan dimensi baru pada karakter Arka. Sekarang Laras tahu kenapa Arka begitu takut pada komitmen emosional yang nyata.

Ruang kerja Jenderal Baskoro adalah sebuah kuil bagi kekuasaan. Dindingnya dilapisi kayu jati gelap, rak-raknya penuh dengan buku taktik militer, dan di atas meja besarnya, sebuah asbak kristal menampung cerutu yang masih berasap. Arka dan Laras berdiri di depannya seperti dua prajurit yang sedang melaporkan kekalahan di medan perang.

Arka meletakkan amplop putih dari klinik Nadia di atas meja dengan tangan yang dipaksa tetap stabil. "Ini hasil pemeriksaan awal kami, Pa. Dokter menyarankan kami untuk melakukan terapi dan menghindari stres selama enam bulan ke depan. Ada... gangguan hormonal yang perlu ditangani."

Baskoro tidak langsung mengambil amplop itu. Ia menyesap cerutunya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke arah mereka. Matanya yang tajam menyisir wajah Arka, seolah bisa mencium bau kebohongan dari jarak satu meter.

"Gangguan hormonal?" Baskoro akhirnya membuka amplop itu, membacanya dengan kecepatan yang membuat jantung Arka berpacu. "Dokter Nadia? Kenapa kliniknya sekecil ini? Papa punya kenalan kepala rumah sakit pusat yang jauh lebih kompeten."

"Kami ingin privasi, Pa," sahut Arka cepat.

"Privasi adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan kebohongan, Arka," Baskoro membanting berkas itu kembali ke meja. Suaranya rendah tapi bergetar karena amarah yang tertahan. "Papa tidak bodoh. Masalah medis yang muncul tepat setelah Papa menuntut ahli waris? Ini terlalu kebetulan."

Baskoro berdiri, berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Arka. "Atau mungkin masalahnya bukan pada hormon, tapi pada nyalimu sebagai laki-laki? Apakah kamu sedang mencoba mensabotase garis keturunanmu sendiri hanya untuk menghukum Papa?"

Arka terdiam. Rahangnya mengeras. Bayangan Nadia dan trauma masa lalunya mulai merangkak naik, mencekik tenggorokannya. Ia kehilangan kata-kata. Saat itulah, Laras mengambil langkah ekstrem.

Laras tiba-tiba terduduk di kursi tamu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya mulai berguncang hebat. Bukan ledakan amarah, tapi isak tangis yang terdengar begitu tulus dan menyayat hati.

"Cukup, Pak Baskoro... tolong, cukup," suara Laras terdengar parau di balik telapak tangannya.

Baskoro dan Arka sama-sama terpaku. Arka menoleh, terkejut melihat "kerapuhan" Laras yang mendadak.

"Laras?" gumam Arka.

Laras menurunkan tangannya, memperlihatkan mata yang sudah memerah (hasil dari dia tidak berkedip selama tiga menit sebelumnya). "Bapak pikir saya tidak ingin punya anak? Bapak pikir saya senang didiagnosis seperti ini? Setiap malam saya menangis, merasa gagal menjadi seorang istri... dan sekarang Bapak menuduh kami berbohong?"

Laras berdiri dengan kaki yang sengaja dibuat sedikit gemetar. Ia menatap Baskoro dengan tatapan "hancur" yang paling meyakinkan sepanjang sejarah sandiwara mereka.

"Silakan, Pak. Bawa saya ke dokter mana pun yang Bapak mau. Telanjangi saya dengan pemeriksaan medis apa pun. Tapi tolong... jangan injak-injak harga diri saya lebih dalam lagi dengan tuduhan ini. Saya sudah cukup menderita menghadapi kenyataan bahwa rahim saya... sedang bermasalah."

Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Jenderal Baskoro, pria yang bisa menghadapi barisan tank tanpa berkedip, tampak kikuk menghadapi tangisan menantunya. Baginya, logika bisa dilawan dengan logika, tapi emosi wanita adalah labirin yang tidak punya peta.

"Laras... Papa tidak bermaksud"

"Saya butuh udara segar," potong Laras sambil terisak kecil. Ia langsung berbalik dan lari keluar ruangan, meninggalkan Arka yang masih berdiri termangu.

Arka segera sadar. Ini adalah bagian dari rencana atau setidaknya, ini adalah celah yang dibuat Laras untuk mereka melarikan diri. "Maaf Pa, Laras sedang sangat sensitif. Sebaiknya saya mengejarnya."

Arka menyambar amplop medis itu dan bergegas keluar. Begitu mereka sampai di dalam mobil dan menjauh dari gerbang rumah Baskoro, isak tangis Laras berhenti seketika. Ia menyeka matanya dengan tisu dan menghela napas panjang seolah baru saja menyelesaikan lari maraton.

"Gila... itu tadi hampir saja," gumam Laras, suaranya kembali normal dan tegas.

Arka menatap Laras dengan pandangan tidak percaya. "Kamu... kamu belajar akting di mana? Aku hampir saja ikut menangis tadi karena mengira kamu benar-benar hancur."

"Di lapangan konstruksi, ka. Kadang kamu harus menangis di depan kontraktor agar mereka mau menurunkan harga atau mempercepat pengiriman semen," Laras tersenyum tipis, meski matanya masih merah. "Tapi serius, ayahmu itu mengerikan. Dia hampir saja tahu kalau surat itu hanya formalitas."

Arka terdiam, lalu ia tertawa pendek tawa lega yang langka. "Kamu baru saja membungkam seorang Jenderal dengan air mata, Laras. Aku berhutang besar padamu."

"Simpan hutangmu, Ka. Kita baru saja membeli waktu enam bulan. Tapi ingat, Jenderal nggak akan lupa. Dia cuma sedang 'mundur satu langkah' karena merasa bersalah."

Laras menoleh ke arah jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang berlari melewatinya. "Tapi satu hal, Ka. Saat aku akting tadi... ada bagian dari diriku yang merasa itu bukan sekadar akting. Aku benar-benar merasa sesak karena kita harus berbohong soal hal semasif ini."

Arka mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Laras di atas dasbor mobil. Kali ini, genggamannya lebih erat, lebih lama. "Kita berbohong agar kita tidak perlu benar-benar hancur, Laras. Itu bedanya."

Malam itu, "Kebohongan yang Sempurna" berhasil menyelamatkan mereka. Namun, mereka tahu bahwa mereka baru saja menggali lubang yang lebih dalam. Karena di balik kebohongan medis itu, ada perasaan yang mulai jujur tumbuh di antara mereka sebuah perasaan yang tidak tercantum dalam pasal mana pun di kontrak pernikahan mereka.

Laras menunjukkan kelasnya sebagai "aktris" taktis. Sekarang mereka punya waktu 6 bulan, tapi Jenderal pasti akan mengawasi mereka lebih ketat dengan cara "perhatian" yang berlebihan (mengirim makanan, dokter pribadi, dll).

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!