NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sepuluh — Alpha Memancing

Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka ya...

Matahari belum terlalu tinggi. Langita masih berwarna kelabu pucat, cahaya fajar menyelinap tipis di antara bangunan-bangunan kosong. Udara pagi terasa lebih dingin–dan lebih jujur.

Inilah waktu terbaik untuk bergerak.

Jay sudah bersiap lebih dulu. Pakaian yang ia kenakan kini berbeda–lebih gelap, lebih ringan, dan tidak menyimpan bau lama. Sepasang sarung tangan tipis melindungi telapak tangannya.

Arsya dan Niki melakukan hal yang sama.

Pakaian basah dan penuh keringat yang mereka kenakan kemarin tidak bisa dipakai lagi. Bau tubuh adalah pengkhianat paling cepat di dunia yang dipenuhi makhluk dengan insting tajam seperti Kanihu.

Niki mengambil gunting kecil dari dalam tasnya. “Daripada ditinggal utuh dan dikenali,” gumamnya pelan. Kain-kain itu digunting menjadi potongan kecil. Arsya membantu mengumpulkannya, sementara Jay memastikan tidak ada serpihan yang tertinggal.

Mereka lalu turun sebentar ke halaman belakang rumah kosong itu. Dengan hati-hati, Jay menggali tanah menggunakan batang besi berkarat yang ia temukan. Tidak terlalu dalam tapi cukup untuk menimbun jejak aroma.

Potongan pakaian dikuburkan. Tanah diratakan kembali. Arsya menatap bekas galian itu sesaat. Seolah mereka sedang mengubur bagian dari diri mereka yang lama—yang masih hidup normal sebelum semua ini terjadi.

“Kita tidak boleh kembali ke sini lagi,” ucap Jay pelan.

Niki mengangguk pelan, “kalau Alpha benar bisa membaca pola, dia akan tahu kita pernah singgah.”

Aroma mereka akan terpecah, terseret menjauh, tidak terkonsentrasi di satu titik. Arsya mengencangkan tali tas hitam di punggungya. Tongkat baseball kini tergantung di sisi kanan, siap digunakan kapan saja.

“Gedung Akasia,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Jay menatap ke arah timur, mengamati jalur atap yang akan mereka lalui. “Lewat atas lagi,” putusnya. “Minim suara. Minim kontak.”

Niki menyeringai tipis. “Dan minim drama, semoga.”

Langit mulai memucat perlahan.

Mereka berdiri dalam diam, memastikan setiap perlengkapan berada di tempatnya. Bukan untuk berlari. Bukan untuk sembunyi tanpa arah.

Hari ini mereka bergerak dengan kesadaran penuh. Persiapan mereka cukup matang. Senjata seadanya sudah siap di tangan–tongkat baseball milik Arsya, tongkat golf di genggaman Niki, dan pisau lipat yang terselip rapi di balik jaket Jay. bukan untuk menyerang membabi buta, melainkan untuk menjaga jarak.

Strateginya sederhana. Menghindar sejauh mungkin, namun jika ada yang terlalu dekat—mereka tidak akan ragu. Serangan cepat, tepat, dan tanpa suara.

Jay memberi isyarat dengan dua jari, menunjukan formasi ia tetap di depan sebagai pengamat jalur. Arsya di tengah, membawa dokumen penting dalam tas hitamnya. Niki di belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti.

“Jangan terpancing,” bisik Jay rendah. “Satu langkah salah bisa memanggil yang lain.” Arsya mengangguk. Jantungnya berdetak cepat, tapi kali ini bukan karena panik. Lebih karena fokus.

Niki memutar bahunya sebentar, menguji keseimbangan tongkatnya. “Kalau satu datang, selesai dalam hitungan detik.”

Angin pagi kembali membantu mereka. Bau kota yang lembab, bercampur besi dan debu, menyamarkan aroma manusia yang masih hangat. Mereka mulai bergerak dari atap ke atap. Langkah mereka tetap ringan dan terukur.

Di bawah sana, beberapa Kanihu sudah berkeliaran dengan gerakan patah-patah. Kepala mereka sesekali mendongak, seolah mendengar sesuatu yang samar. Namun tidak ada yang cukup dekat.

Belum.

Hari itu tentang bertahan dengan cerdas, dan jika Gedung Akasia benar-benar menjadi tujuan berikutnya— maka apapun yang menunggu di sana, mereka sudah siap untuk menghadapinya.

Tak butuh waktu lama hingga mereka mencapai atap yang lebih rendah dari bangunan sebelumnya. Jarak hanya perlu satu lompatan pendek. Jay mendarat lebih dulu, Arsya menyusul dan Niki terakhir, menahan suara saat sepatunya menyentuh permukaan semen yang retak.

Namun sebelum mereka sempat bergerak lebih jauh–Suara terdengar. Bukan derap patah khas Kanihu melainkan bisik kasar. Tawa tertahan dan dentingan botol. Mereka serempak merunduk.

Di bawah, melalui ventilasi atap yang terbuka sebagian, terlihat satu ruangan dengan lampu redup menyala. Sekelompok pria bertubuh kekar berkumpul di sana. Wajah-wajah keras. Pakaian acak-acakan, beberapa memegang senjata tajam. Ada yang sedang membersihkan parang dan ada juga yang duduk sambil merokok santai.

Preman.

Bukan kanihu, melainkan manusia.

Jay perlahan mengangkat jari telunjuk ke depan mulut. “Jangan bersuara,” bisiknya tanpa suara. Arsya menahan nafas. Niki menyipitkan mata, mengamati situasi. “Mereka bukan sekedar bertahan hidup,” gumamnya nyaris tak terdengar. “Mereka terlihat… nyaman.”

Di sudut ruangan terlihat beberapa kardus makanan dan galon air. Bahkan ada satu orang yang berjaga di dekat pintu, membawa pistol. Jay mengerutkan kening. Ini lebih berbahaya dari Kanihu. Manusia dengan niat buruk jauh lebih tak terduga.

Salah satu dari preman itu berdiri dan berjalan mendekati jendela yang sedikit terbuka. Ia meludah ke luar, tepat di bawah posisi atap tempat mereka bersembunyi. Arsya reflek mencengkram tongkatnya. Jay perlahan menggeleng.

Bukan target.

Bukan ancaman langsung–-selama mereka tidak terlihat. Angin pagi berhembus, membawa aroma rokok ke arah mereka. Salah satu preman berkata pelan, “Alpha makin sering bunyi akhir-akhir ini. Artinya mangsa banyak.”

Jay dan Niki saling pandang.

Mereka tahu, tentang Alpha.

Preman yang berjaga menguap. “Selama kita di atas, aman. Yang penting jangan turun ke bawah aja.”  Jay menarik nafas perlahan, mereka akan mundur, memutar jalan–menjauh dari ventilasi. Tanpa suara dan tanpa jejak.

Tanpa banyak isyarat, ketiganya mundur perlahan dari tepi ventilasi. Jay yang memimpin, menemukan tangga darurat besi di sisi gedung. Tangga itu berkarat, beberapa pijakannya sedikit longgar namun masih cukup kuat untuk dinaiki.

Satu persatu mereka naik. Besi berdecit pelan saat menahan beban tubuh mereka, membuat ketiganya berhenti sesaat setiap kali bunyi itu muncul. Setelah memastikan aman, mereka melanjutkan hingga mencapai atap yang lebih tinggi—gedung apartemen yang menjulang di atas bangunan rendah tadi.

Angin di atas lebih kencang. Pandangan mereka lebih luas.

Dari posisi itu, bangunan rendah tempat para preman berkumpul terlihat jelas. Namun kini terdengar suara lain dari arah samping bangunan tersebut—bukan tawa, bukan percakapan. Melainkan suara benturan.

Di bawah sana, dibangunan kecil yang tadi mereka tinggalkan–pintu sampingnya terbuka dengan kasar. Seorang preman keluar, tubuhnya besar, kaosnya penuh noda. Parang masih tergenggam di tangan kanan. Nafasnya memburu, wajahnya tegang.

Ia berdiri di ambang pintu, memindai sekitar. Matanya bergerak cepat. Kanan. Kiri. lalu berhenti. Tatapannya mengarah ke salah satu jalanan di sisi bangunan–jalanan yang tadi sempat mereka lihat dari atap. Penuh.

Puluhan Kanihu memenuhi ruas itu. Namun anehnya.. Mereka tidak bergerak liar. Mereka berdiri. Diam. beberapa kepala terangkat perlahan, gerakan patah-patah namun serempak. Seolah menunggu.

Preman itu menelan ludah. “Apa lagi ini…” gumamnya.

Jay menatap salah satu Kanihu di jalanan itu melangkah maju satu langkah lalu berhenti, dan yang lain mengikuti langkahnya. Jay berbisik lirih, “mereka mengepung.” preman itu mundur satu langkah tanpa sadar. Dan tepat saat itu kanihu lain berjalan lebih tegak dan stabil. Gerakannya tidak se-patah yang lain, Alpha.

Atmosfer berubah.

Preman itu akhirnya menyadari, parang yang ia genggam terangkat gemetar. Namun ia terlalu lambat. Dan teriakan kasar terdengar dari belakang preman itu. “Anjing—! Tutup pintunya!”

Lalu suara yang lebih familiar. Gerakan patah, benturan tubuh, serta jeritan yang kali ini tidak tertahan.

Niki menyipitkan mata. “Alpha memancing.”

Terima kasih sudah membaca, kita lanjut besok lagi ya.. setiap jam 10 pagi dan 16 sore akan update sendiri. Jangan lupa beri tanda like dan Votenya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!