Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Keesokan paginya, suasana di dapur rumah minimalis itu sudah sibuk sejak pukul empat subuh.
Suara ulekan batu yang beradu dengan rempah-rempah menjadi musik pagi yang menenangkan.
Kinan, dengan gerakan yang kini jauh lebih mantap, menyiapkan sarapan untuk suaminya sekaligus menata pesanan sepuluh porsi cumi hitam milik Ustadz Yusuf ke dalam tas besar yang rapi.
Adnan turun dengan wajah yang tampak lebih segar.
Luka di pelipisnya mulai mengering, dan binar matanya menunjukkan semangat baru.
"Masya Allah, aromanya benar-benar menggugah selera, Sayang," puji Adnan sambil mengecup kening istrinya singkat sebelum duduk di meja makan.
"Ini sepuluh porsinya sudah siap di dalam tas, Mas. Nasi gurihnya juga sudah aku pisahkan agar tidak cepat basi," sahut Kinan sambil menyodorkan sepiring nasi uduk hangat untuk sarapan suaminya.
Sesampainya di pondok pesantren milik Tuan Aris, Adnan disambut riuh oleh para pengajar.
Begitu ia menyerahkan tas berisi pesanan itu kepada Ustadz Yusuf di kantor guru, aroma tinta cumi yang gurih langsung menyeruak.
"Ini dia yang dinanti-nanti!" seru Ustadz Yusuf dengan wajah berseri.
Ia segera membagikan kotak-kotak itu kepada rekan-rekan yang sudah menitip sejak kemarin.
Begitu suapan pertama masuk ke mulut mereka, suasana kantor yang tadinya bising mendadak senyap.
Hanya terdengar decakan lidah dan gumaman kepuasan.
"Ustadz Adnan, ini benar-benar tidak masuk akal. Bumbunya meresap sampai ke serat cuminya, dan rasa pedasnya.pas sekali!" ujar salah satu ustadz muda sambil menyeka keringat di dahinya.
Ustadz Yusuf, yang sudah menghabiskan setengah porsinya dalam sekejap, menatap Adnan dengan tatapan serius.
"Ustadz Adnan, kebetulan hari Minggu besok keluarga besar saya ada acara tahlilan dan syukuran di rumah. Saya tadinya bingung mau pesan katering di mana," Ustadz Yusuf menjeda kalimatnya, lalu mendekat.
"Ustadz, saya pesan lima puluh porsi untuk hari Minggu, apa bisa?" tanya Ustadz Yusuf penuh harap.
Adnan tertegun. Lima puluh porsi? Itu lompatan yang sangat besar.
Ia membayangkan Kinan yang juga harus membagi waktu dengan asisten desain perhiasannya.
"Lima puluh porsi itu jumlah yang banyak, Ustadz Yusuf. Saya harus bicarakan dulu dengan istri saya. Takutnya dia kewalahan karena jadwal desainnya juga sedang padat," jawab Adnan hati-hati.
"Tolong usahakan ya, Ustadz. Harganya silakan tentukan sendiri, saya tahu kualitas tangan istri Anda tidak main-main. Keluarga saya pasti akan sangat senang jika hidangannya seistimewa ini."
Sore harinya, saat Adnan pulang dan menyampaikan berita pesanan lima puluh porsi itu, Kinan sempat terdiam di depan meja gambarnya. Pensil di tangannya terhenti.
"Lima puluh porsi, Mas?" tanya Kinan memastikan.
"Iya, Sayang. Tapi Mas sudah bilang kalau kamu keberatan, jangan dipaksakan. Mas tidak mau kamu jatuh sakit lagi," ucap Adnan lembut sambil mengusap bahu istrinya.
Kinan menatap ke arah dua asistennya, Mbak Siska dan Mbak Tia, yang ternyata ikut mendengarkan.
"Bu Kinan, kalau soal tenaga, jangan khawatir. Kami siap bantu lagi di dapur seperti kemarin," sahut Mbak Siska dengan semangat.
"Hitung-hitung kami belajar resep rahasia Ibu."
Kinan tersenyum kecil. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya.
Dulu, ia adalah orang yang kehadirannya ditolak di meja makan, namun kini, masakannya justru dinanti oleh lima puluh orang dalam sebuah acara syukuran keluarga yang terhormat.
"Baiklah, Mas. Katakan pada Ustadz Yusuf, pesanan lima puluh porsi untuk hari Minggu... Kinan sanggup," jawab Kinan dengan nada mantap.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah bayangan hitam mengintai dari kejauhan.
Di sebuah warung internet dekat pesantren lama, Fauziah sedang menatap layar monitor dengan tatapan penuh kebencian.
Ia baru saja melihat unggahan media sosial salah satu ustadz di pondok baru Adnan yang memuji-muji katering cumi hitam buatan "Istri Ustadz Adnan".
"Jadi sekarang dia mau jadi koki dan desainer?" desis Fauziah.
Jari-jarinya mengetikkan sesuatu di mesin pencarian, mencari kontak lama yang pernah ia dengar berhubungan dengan masa lalu Kinan di klub malam.
"Kita lihat, apakah para ustadz itu masih mau memakan masakanmu jika mereka tahu tanganmu pernah memegang botol minuman keras dan melayani lelaki hidung belang," gumamnya dengan senyum licik yang mengerikan.
Malam yang pekat menyelimuti jalur setapak di belakang pesantren.
Fauziah, dengan napas memburu dan hati yang dipenuhi dendam, nekat melompati pagar belakang.
Ia menanggalkan jilbab panjangnya, menggantinya dengan jaket hoodie gelap untuk menyamarkan identitasnya.
Tujuannya hanya satu: menghancurkan Kinan sehancur-hancurnya.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam menuju pusat kota, ia berdiri di depan sebuah bangunan dengan lampu neon berkedip-kedip: Club Red Velvet.
Tempat yang sangat asing dan mengerikan bagi seorang santriwati seperti dirinya.
Suara musik dentum-dentum memekakkan telinga menyambutnya saat ia masuk ke dalam.
Di sudut ruangan yang remang dan penuh asap, ia melihat pria yang dicarinya. Tony. Lelaki dengan tato di leher dan tatapan predator, mantan mucikari yang dulu menguasai tempat itu.
"Siapa ini? Seorang gadis suci tersesat di neraka?" sindir Tony sambil menyesap minumannya.
Fauziah memberanikan diri duduk di depannya. "Aku mencari informasi tentang Kinan. Aku tahu dia dulu bekerja untukmu."
Tony tertawa renyah, namun matanya tetap dingin.
"Kinan? Maksudmu si 'Bintang Utama' yang kabur itu? Dia berhutang banyak padaku karena pergi begitu saja."
"Berikan aku bukti masa lalunya. Foto, catatan, apa saja yang bisa membuktikan dia wanita kotor," tuntut Fauziah tanpa basa-basi.
Tony menyeringai licik. Ia merogoh laci di bawah meja dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Di dalamnya terdapat lembaran foto-foto lama Kinan—saat ia masih memakai pakaian minim di atas panggung klub, dikelilingi botol minuman dan tangan-tangan lelaki.
"Ini rahasia Kinan. Tapi, ini tidak gratis," ucap Tony dengan suara rendah yang mengancam.
"Aku akan membayarmu! Sebutkan saja berapa," jawab Fauziah gemetar.
Tony berdiri, perlahan berjalan memutar ke belakang kursi Fauziah.
"Aku tidak butuh uang kecilmu, Manis. Aku lebih suka bayaran yang... lebih terasa."
Seketika, tangan kasar Tony langsung menarik pinggang Fauziah dengan sentakan kuat, memaksanya merapat ke tubuh pria itu.
"Tolong!!" jerit Fauziah tertahan. Suaranya tenggelam di balik dentuman musik EDM yang keras.
"Jangan berteriak, Sayang. Bukankah kamu sendiri yang datang ke kandang serigala demi kebencianmu? Sekarang, bayar harganya," bisik Tony tepat di telinga Fauziah, sementara tangannya mencengkeram lengan gadis itu hingga terasa sakit.
Fauziah terisak, menyadari bahwa harga yang harus ia bayar untuk menghancurkan Kinan ternyata jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan. Ia terjebak dalam lubang hitam yang ia gali sendiri.
Sementara itu, di rumah yang tenang, Kinan baru saja menyelesaikan sketsa desain antingnya.
Ia menoleh ke arah jendela, merasa hatinya mendadak tidak tenang.
"Mas, perasaanku tidak enak," ucap Kinan pada Adnan yang sedang membaca kitab di sampingnya.
Adnan menutup kitabnya, lalu menggenggam tangan Kinan.
"Mungkin kamu hanya lelah karena memikirkan pesanan lima puluh porsi itu. Tenanglah, ada Mas di sini."
Kinan mencoba tersenyum, namun bayangan masa lalu seolah sedang mengetuk pintu rumah mereka dengan sangat keras.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅