NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinyal Pertama

Keesokan paginya, suasana di meja sarapan lebih dingin dari biasanya.

Bukan karena pendingin ruangan yang terlalu rendah, melainkan karena berita yang sudah lebih dulu menyebar sebelum matahari terbit.

Judul artikel ekonomi terpampang jelas di layar tablet milik ibu Arsen.

“Altera Group Menunda Investasi pada Proyek Internasional Wijaya Group.”

Tanpa perlu membaca isinya, semua orang sudah tahu dampaknya.

Ibu Arsen meletakkan tablet itu perlahan di atas meja. “Menarik,” katanya pelan. “Penundaan mendadak seperti ini biasanya bukan tanpa alasan.”

Arsen duduk di kursinya dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca. Ia mengenakan kemeja putih rapi, lengan digulung sedikit, seperti biasa tenang di luar, mungkin bergejolak di dalam.

Alina duduk di sampingnya, wajahnya netral.

“Pasar akan bereaksi,” lanjut ibu Arsen. “Saham bisa turun.”

“Sudah turun dua persen saat pembukaan,” jawab Arsen datar. “Masih terkendali.”

“Masih,” ulang wanita itu pelan.

Tatapannya beralih pada Alina. Tidak ada kata-kata, tapi pesan itu jelas—sejak kau datang, masalah ikut masuk.

Alina menyuapkan sedikit roti ke mulutnya, tenang seperti biasa.

Ia tahu ini bukan serangan.

Ini hanya sinyal.

Sinyal kecil dari dewan Altera untuk melihat bagaimana Arsen bergerak ketika pijakannya digoyang.

Dan sejauh ini, Arsen tidak panik.

Itu menarik.

Di kantor, suasana jauh lebih tegang.

Direktur keuangan mondar-mandir di ruang rapat kecil, berbicara cepat dengan timnya. Grafik di layar menunjukkan fluktuasi saham yang naik-turun seperti detak jantung tak stabil.

Arsen berdiri di ujung meja, kedua tangannya bertumpu pada permukaan kayu gelap.

“Kita butuh kepastian,” kata salah satu direktur. “Jika Altera benar-benar mundur, kita harus mencari pengganti sekarang.”

“Bukan mundur,” koreksi Arsen singkat. “Menunda.”

“Itu tetap sinyal negatif.”

Alina duduk di kursi sudut ruangan, diam. Ia tidak diundang secara resmi ke rapat itu, tapi tidak ada yang berani memintanya keluar.

Semua orang sudah menyadari satu hal sejak kemarin.

Ia bukan sekadar istri pajangan.

“Hubungi semua calon investor alternatif,” lanjut Arsen. “Kita siapkan rencana B dan C.”

“Dan jika mereka membaca situasi ini sebagai risiko?” tanya direktur lain.

Arsen tidak langsung menjawab.

Alina bisa melihat garis tipis muncul di antara alisnya tanda ia sedang berpikir cepat.

Sebelum ia sempat bicara, ponsel Arsen bergetar di meja.

Nomor tak dikenal.

Ia menatap layar sebentar sebelum mengangkatnya.

“Ya.”

Suara di seberang terdengar cukup keras hingga Alina bisa menangkap beberapa kata.

“...perwakilan Altera ingin bertemu… malam ini… diskusi informal…”

Arsen melirik Alina tanpa sadar.

“Di mana?” tanyanya singkat.

Ia mendengarkan beberapa detik lagi, lalu menutup telepon.

“Pertemuan pribadi,” katanya pada ruangan itu. “Malam ini.”

Para direktur saling pandang.

“Dengan siapa?” tanya salah satu dari mereka.

“Perwakilan dewan Altera.”

Alina menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi yang hampir lolos dari kendalinya.

Ia tahu siapa yang mengatur pertemuan itu.

Dan ia tahu, itu bukan kebetulan.

Sore itu, ketika mereka kembali ke rumah untuk berganti pakaian sebelum pertemuan, Arsen memecah keheningan di dalam mobil.

“Kau ikut.”

Alina menoleh. “Aku?”

“Ya.”

“Kenapa?”

Arsen memandang lurus ke depan, tangannya mantap di setir. “Karena sejak kau datang, setiap keputusan mereka terasa… terlalu terhubung.”

Alina tersenyum tipis. “Kau pikir aku punya hubungan dengan Altera?”

“Aku tidak tahu,” jawab Arsen jujur. “Tapi aku ingin melihat reaksimu.”

Ia tidak menuduh.

Ia mengamati.

Dan itu membuat permainan ini jauh lebih menarik.

Restoran tempat pertemuan berlangsung terletak di lantai tertinggi sebuah gedung tua bergaya kolonial. Suasananya eksklusif, pencahayaan redup, dengan jendela besar yang memperlihatkan gemerlap kota di malam hari.

Seorang pria tua sudah menunggu di meja sudut.

Rambutnya memutih sempurna, jasnya sederhana tapi jelas mahal. Wajahnya tenang, matanya tajam di balik kacamata tipis.

Alina mengenalnya dengan sangat baik.

Tuan Adrian.

Anggota senior dewan Altera.

Begitu mereka mendekat, pria itu berdiri.

“Tuan Wijaya,” sapanya dengan senyum sopan. “Dan ini pasti istri Anda.”

Tatapannya singgah pada Alina sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.

Arsen menangkap itu.

“Benar,” jawabnya singkat.

Mereka duduk.

Percakapan dimulai dengan basa-basi ringan tentang kondisi pasar global, suku bunga, dan ketidakpastian ekonomi. Tapi semua orang di meja itu tahu inti pertemuan bukan itu.

“Kami hanya ingin memastikan,” ujar Adrian akhirnya, suaranya lembut namun penuh bobot, “bahwa proyek ini berada di tangan yang tepat.”

Arsen menatapnya langsung. “Kami memiliki rekam jejak yang jelas.”

“Rekam jejak bisa berubah,” jawab Adrian ringan.

Alina menyesap airnya pelan, berusaha menjaga wajahnya tetap netral.

Adrian meliriknya lagi.

“Bagaimana menurut Anda, Nyonya Wijaya?” tanyanya tiba-tiba.

Arsen sedikit menegang.

Alina meletakkan gelasnya dengan tenang. “Saya percaya stabilitas tidak ditentukan oleh situasi, tapi oleh cara seseorang menghadapinya.”

Adrian tersenyum samar. “Jawaban yang diplomatis.”

“Yang realistis,” tambah Alina.

Hening sejenak.

Arsen memperhatikan setiap gerakan kecil di antara mereka.

Tatapan. Jeda. Cara Adrian mengangguk halus seolah menghargai sesuatu yang lebih dari sekadar jawaban.

“Kami tidak menutup kemungkinan melanjutkan investasi,” ujar Adrian akhirnya. “Tapi kami ingin melihat komitmen yang lebih kuat.”

“Seperti apa?” tanya Arsen.

“Risiko pribadi.”

Kata itu menggantung di udara.

Arsen menyipitkan mata sedikit. “Maksud Anda?”

“Jika Anda benar-benar yakin dengan proyek ini, buktikan dengan meningkatkan kepemilikan pribadi Anda di dalamnya.”

Artinya jelas.

Arsen harus mempertaruhkan lebih banyak saham pribadinya sebagai jaminan.

Itu langkah besar.

Dan berbahaya.

Arsen terdiam beberapa detik.

Alina tahu dewan memang ingin menguji batas keberaniannya.

Tapi ia tidak menyangka mereka akan mendorong sejauh ini.

“Baik,” ucap Arsen akhirnya.

Alina menoleh cepat.

“Arsen—”

Ia berhenti.

Ini bukan perannya.

Arsen menatap Adrian tanpa ragu. “Saya akan tingkatkan kepemilikan pribadi saya sepuluh persen.”

Adrian tersenyum tipis. “Itu menunjukkan kepercayaan diri.”

“Karena saya yakin proyek ini akan berhasil,” jawab Arsen.

Tatapan Adrian beralih pada Alina sekali lagi.

“Keputusan yang berani,” katanya lembut.

Pertemuan berakhir tak lama setelah itu.

Di dalam mobil, suasana lebih sunyi dari biasanya.

“Kau hampir mengatakan sesuatu tadi,” kata Arsen tanpa menoleh.

Alina menghela napas pelan. “Itu langkah berisiko.”

“Bisnis memang berisiko.”

“Kau mempertaruhkan saham pribadimu.”

“Aku tidak pernah bermain setengah-setengah.”

Alina menatapnya dalam gelap kabin mobil.

Ia menyadari sesuatu malam itu.

Arsen bukan pria yang hanya bergantung pada kekuatan keluarga.

Ia berani berdiri sendiri.

Dan itu… berbahaya.

Karena semakin ia mengenal pria ini, semakin sulit baginya untuk menjaga jarak.

Ponselnya bergetar pelan di dalam tas.

Pesan singkat dari Adrian.

“Apakah kami lanjutkan sesuai rencana, Nona?”

Alina menatap layar itu beberapa detik.

Arsen mempertaruhkan saham pribadinya tanpa ragu.

Tanpa tahu bahwa permainan ini sebagian berada di tangannya.

Ia mengetik balasan singkat.

“Lanjutkan. Tapi perlambat tekanan.”

Ia mengunci layar.

Permainan memang dimulai untuk menguji.

Tapi sekarang… ada sesuatu yang berubah.

Dan untuk pertama kalinya, Alina mulai bertanya pada dirinya sendiri

Jika permainan ini semakin dalam, siapa yang akan lebih dulu terjebak?

(BERSAMBUNG)

1
Laskar Bintang
tolong untuk semua fans dukung novel ini yaa dan baca sampe tamat terimakasih 🙏
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!