Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Arena yang Terbakar
Sejak kekalahannya di ajang LKIR tingkat provinsi, setiap sudut SMP Super Internasional terasa seperti pengingat akan kegagalannya. Memasuki pertengahan semester satu di kelas dua SMP ini, ambisi Bima sudah mencapai titik didih. Baginya, Senara bukan lagi sekedar saingan dari sekolah seberang, dia adalah anomali yang harus dihapuskan dari puncak klasemen prestasi regional.
Pagi itu, suasana aula utama SMP Super Internasional tampak berbeda. Bukan hanya siswa sekolah elit saja yang hadir, tapi juga perwakilan dari SMP Negeri 12, dan beberapa SMP Negeri lainnya. Dinas Pendidikan kota baru saja meluncurkan program “Elite Public Collaboration”, sebuah proyek riset dan organisasi gabungan yang akan menjadi portofolio paling bergengsi untuk pendaftaran SMA Garuda Nusantara tahun depan.
Bima berdiri di barisan depan, jemarinya mengetuk-ngetuk paha dengan ritme yang tidak sabar. Ia mengenakan seragam yang disetrika sangat licin, lengkap dengan lencana prestasi yang berderet di dadanya. Di seberang ruangan, ia melihat Senara. Gadis itu tampak kontras, seragam putih birunya sudah mulai menguning di bagian kerah, dan ia hanya membawa satu buku catatan tebal yang pinggirannya sudah melengkung. Tapi matanya, mata itu masih memiliki kilat tajam yang sama yang menghancurkan kepercayaan diri Bima beberapa bulan lalu.
"Proyek ini hanya membutuhkan satu orang Ketua Koordinator Regional," suara Darmono, koordinator gabungan, menggema. "Tugasnya adalah memimpin riset sains terapan sekaligus mengatur manajerial kegiatan. Ini adalah jabatan kelas berat."
Bima langsung maju sebelum instruksi selesai. "Saya mencalonkan diri. Saya memiliki draf rencana kerja yang sudah terintegrasi dengan sistem digital untuk memantau efisiensi setiap divisi."
Darmono mengangguk puas. Namun, dari sudut ruangan, sebuah suara datar namun tegas menyela.
"Saya juga mencalonkan diri," ucap Senara. Ia berjalan maju, tidak gentar dengan ratusan pasang mata anak-anak kaya yang menatapnya dengan pandangan meremehkan. "Rencana kerja bukan soal seberapa canggih sistemnya, tapi seberapa paham pemimpinnya terhadap kendala teknis di lapangan. Saya punya data tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan sekolah-sekolah di wilayah ini."
Suasana aula mendadak tegang, amarah Bima tersulut seketika. Ia menoleh ke arah Senara dengan senyum sinis yang tertahan. "Memahami lapangan bukan berarti kamu bisa memimpin, Senara. Ini proyek besar dengan anggaran jutaan rupiah. Satu kesalahan kecil dalam logika manajerialmu, dan kita semua akan tenggelam."
"Anggaran besar adalah tanggung jawab, Bima, bukan alat untuk pamer," balas Senara telak. "Kamu terlalu sibuk melihat angka, sampai kamu lupa melihat manusia yang akan menjalankan proyek ini."
Debat pemilihan ketua koordinator itu berlangsung selama tiga jam yang melelahkan. Ini bukan lagi sekadar diskusi organisasi, ini adalah perang ideologi. Bima membedah teori-teori manajemen modern yang ia pelajari dari buku-buku impor miliknya, mencoba menunjukkan bahwa kapasitas intelektualnya berada di level yang berbeda. Ia menggunakan istilah-istilah kompleks, memojokkan Senara dengan pertanyaan tentang skala ekonomi dan efisiensi operasional.
Namun, Senara adalah lawan yang keras kepala. Ia tidak menyerang dengan teori, melainkan dengan logika praktis yang tak terbantahkan. Setiap kali Bima mengajukan sistem yang mahal, Senara mematahkan argumen itu dengan solusi yang jauh lebih murah namun memiliki hasil yang sama.
"Kamu ingin menggunakan sensor karbon impor untuk riset kualitas udara?" tanya Senara di depan mimbar. "Itu akan memakan delapan puluh persen anggaran hanya untuk alat. Kenapa kita tidak menggunakan metode titrasi kimiawi yang bisa dikerjakan di setiap lab sekolah? Hasilnya valid, dan kita bisa melibatkan lebih banyak siswa."
"Itu kuno, Senara! Kita sedang membangun masa depan, bukan mengulang sejarah!" bentak Bima, mulai kehilangan kendali atas emosinya.
"Masa depan tidak akan ada jika kamu meninggalkan orang-orang yang tidak mampu membeli alatmu, Bima!" balas Senara dengan volume yang sama tinggi.
Dendam di antara mereka terlihat sangat nyata. Para siswa lain hanya bisa terdiam, menyaksikan dua orang paling jenius di angkatan mereka saling melempar argumen seperti peluru. Tidak ada ruang untuk kompromi. Bagi Bima, menang dari Senara adalah harga mati untuk mengembalikan kehormatannya di depan ayahnya. Bagi Senara, menjatuhkan Bima adalah satu-satunya cara agar ia tidak lagi diinjak-injak oleh kesombongan kelas atas.
Saat pemungutan suara tiba, ketegangan memuncak. Siswa dari SMP Internasional tentu saja mendukung Bima, namun banyak siswa dari sekolah lain yang merasa ide Senara lebih masuk akal bagi kondisi mereka.
Hasilnya diumumkan di layar proyektor besar.
Bima Arkana Adhikara Wijaya: 49% Suara
Senara Zafira Atmaja: 51% Suara
Aula itu mendadak sunyi sesaat, sebelum akhirnya tepuk tangan riuh pecah dari barisan siswa sekolah negeri. Bima membeku di tempatnya berdiri. Kalah lagi. Di rumahnya sendiri, dengan selisih hanya dua suara.
Darah Bima seolah mendidih, ia merasa setiap pasang mata di ruangan itu sedang menertawakannya. Ia melihat Senara yang sedang dikerubungi teman-temannya, namun mata gadis itu tetap tertuju pada Bima, sebuah tatapan yang seolah berkata, “Sudah kubilang, uangmu tidak bisa membeli segalanya.”
Bima berjalan mendekati Senara setelah kerumunan sedikit merenggang. Wajahnya merah padam, tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya.
"Kamu pikir kamu menang?" desis Bima, suaranya sangat rendah dan penuh ancaman. "Jabatan ini adalah beban, Senara. Dan aku akan berada tepat di bawahmu sebagai Wakil Koordinator. Aku akan memastikan setiap keputusan yang kamu buat akan aku bedah sampai kamu terlihat seperti orang bodoh di depan dinas pendidikan."
Senara tidak mundur selangkah pun. Ia justru memajukan wajahnya, menatap Bima dengan amarah yang sama besarnya. "Silakan, Bima. Aku tidak butuh orang yang memujiku. Aku butuh orang yang cukup pintar untuk menyadari bahwa ideku jauh lebih baik. Kalau kamu mau jadi bayang-bayangku, lakukanlah. Tapi jangan harap aku akan memberimu ruang untuk bernapas."
"Aku tidak butuh ruang untuk bernapas," balas Bima dingin. "Aku hanya butuh satu kesalahan darimu untuk menggulingkanmu dari takhta ini. Nikmati kemenangan kecilmu, karena semester ini akan menjadi neraka bagimu."
Malam itu, Bima tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang belajarnya, mengelilingi dirinya dengan tumpukan buku referensi sains dan manajemen. Ia mulai menyusun rencana. Jika Senara ingin menggunakan metode rakyat dan praktis, maka Bima akan mencari setiap celah kegagalan dari metode tersebut secara ilmiah. Ia akan mengumpulkan data yang begitu akurat sehingga Senara tidak akan punya jawaban saat presentasi bulanan nanti.
Dendam ini telah berubah menjadi sebuah misi pribadi. Bima mulai mencatat setiap detail tentang proyek yang akan mereka jalankan. Ia tidak lagi peduli pada nilai rapornya sendiri, ia hanya peduli pada bagaimana cara membuat Senara mengakui keunggulannya di depan umum.
Di tempat lain, Senara juga sedang terjaga di bawah cahaya lampu neon yang berkedip. Ia menatap buku catatannya yang penuh dengan rencana anggaran. Ia tahu Bima tidak akan tinggal diam, laki-laki itu seperti predator yang sedang menunggu mangsanya terpeleset.
Senara mencoret salah satu rencana anggarannya. "Akan aku tunjukkan, Bima, bahwa otak yang diasah oleh penderitaan jauh lebih tajam daripada otak yang diasah oleh fasilitas."
Pertarungan di kelas dua SMP ini baru saja dimulai. Mereka kini terikat dalam satu proyek yang sama, dipaksa bekerja sama namun di hati mereka masing-masing hanya ada satu tujuan. Menghancurkan satu sama lain. Arena sudah terbakar, dan hanya satu dari mereka yang akan keluar sebagai pemenang mutlak di akhir semester nanti. Persaingan ini bukan lagi soal siapa yang paling pintar, tapi soal siapa yang paling tahan banting dalam mengelola kebencian mereka sendiri.